Highschool Wife

Highschool Wife
Kesalahan yang seharusnya tak terjadi



Firli mendapat karma beruntun hari ini. Pulang sekolah meski tak melihat Mrs. Charlotte menjemputnya lebih awal, ia malah bertemu dengan Gladis di entrance gedung sekolah. Gladis bersandar pada tiang besar di samping kanan seperti sengaja menunggu Firli keluar dari dalam gedung.


Kedua tangannya menyilang di dada dengan tampang menantang ia tunjukan ke hadapan Firli. Tak lama ia angkat salah satu tangannya dengan jari telunjuk yang dia gerakan ke depan dan belakang.


Ini pertanda kurang baik mengingat wanita ini tak ada bedanya dengan Angie. Firli terpaksa menghampirinya dengan langkah berat. Hingga jarak diantar mereka tersisa 30 cm, akhirnya Gladis menyampaikan maksud dan tujuannya disertai ancaman seperti biasanya.


“Kasih kadonya buat Rai,” tegas Gladis. Dia menunjuk wajah Firli dan berucap dengan nada lumayan tinggi. Ouh, tak lupa matanya yang melotot tajam.


Kado itu sekarang ada di tangan Firli, yang menurut perintah Angie tak boleh sampai di tangan Rai. "Kalau Rai gak terima, lo yang nanggung," ancamnya.


Tak lama Gladis pergi tanpa pamitan layaknya orang yang disekolahkan dimana budi pekerti dan sopan santun diajarkan. Ia lebih memilih melenggang dengan tubuh yang meliuk ke kanan dan ke kiri seakan-akan model di atas cat walk.


Bingunglah Firli! Rasanya seperti berlindung pada singa dari mulut harimau. Maksudnya baik memilih Angie ataupun Gladis, sama saja akhirnya ia yang akan jadi target incaran.


Sepeninggal Gladis cepat-cepat Firli membuang kadonya ke tempat sampah dengan perhitungan Angie memiliki dua rekan seperti Bella dan Arlitha yang sama-sama menakutkan sehingga lebih berbahaya. Akan lebih baik ia meminta perlindungan dengan syarat akan mendekatkan Angie pada Rai.


Kebetulan sekali mobil sampah lewat untuk mengambil isi tong sampah yang sudah lumayan penuh, termasuk membawa kado itu sehingga Firli tak meninggalkan jejak di sana. Firli berdoa mudah-mudahan tak ada yang mengetahui apa yang baru saja ia lakukan.


“Fir!” panggil Rai dari arah pintu gedung sekolah. Firli tersentak sehingga hampir terpeleset akibat kaget melihat Rai ada di sana. Ia harap laki-laki itu tidak


melihat apa yang baru saja ia lakukan. “Sini gue mau nanya!” panggilnya lagi.


Firli mengangguk lalu berlari menghampiri Rai. Ketika mereka berhadapan, Rai memberikan sebatang coklat pada Firli. “Beberapa hari ini lo kelihatan murung.


Makan, nih!” Mendapat hadiah itu Firli merasa terharu. Walaupun bukan hal


pertama yang Rai berikan padanya, Firli merasa bersyukur karena ada seorang


pria yang peduli dengannya. “Jangan sedih lagi! Itu bukan lo banget.” Rai mengusap


kepala Firli dengan lembut.


“Maaf, siapa anda?” tanya seseorang yang memang sangat pandai merusak keaadaan. Mrs. Charlotte tiba-tiba muncul membuat Firli dan Rai sama-sama terdiam.


Rai terlihat bingung. “Sa … Saya teman Firli,” ia gelagapan menghadapi Mrs. Charlotte. Firli tidak heran karena penampilan pengasuhnya itu lebih seperti


petugas dari badan intelijen daripada seorang perawat, diperkuat dengan cara bicaranya yang tegas.


Firli sedikit menarik tangan Mrs. Charlotte agar menjauhi Rai. “Dia cuman teman. Tak usah berlebihan!” Ia berusaha membuat keadaan tidak semakin rumit. “Lebih baik kita pulang!” Firli menarik Mrs. Charlotte menuju mobil sedan hitam dimana Pak Bram menunggu di balik kemudinya. Untung saja Mrs. Charlotte menurut walau matanya masih menusuk ke arah Rai.


Tiba di pintu mobil, Mrs. Charlotte melepaskan tangannya. Ia terlihat sangat marah tapi Firli tak mau kalah. Ia tak ingin Rai disakiti. “Sebaiknya Lady bisa menahan diri. Anda tahu dimana posisi anda. Jika sampai Monsieur Andrean tahu …,” kalimatnya terpotong.


“Jikapun tahu, Andrean tak akan melakukan apapun. Yang ia bisa hanya tinggal di London dengan tenang dan melupakan jika ia mempunyai istri di sini!” ralat Firli. Mrs. Charlotte terdiam, sama sekali ia tak menyangka akan mendapat jawaban menohok dari anak yang ia didik dengan susah payah. AKhirnya Firli malah semakin pintar untuk membangkang. Firli tak memiliki pilihan lain. Tak seharusnya ia terus menurut seperti boneka. Ia memiliki perasaan yang ia berikan pada Rai dan itu memberi Firli kekuatan untuk melindunginya.


Keduanya masuk ke dalam mobil. Percuma berdebat di luar apalagi dengan suara tinggi. Filri takut siswa lain mendengar dan mengetahui status pernikahannya sementara Mrs. Charlotte khawatir itu akan membuat martabat keluarga Freiz jatuh. Selama di perjalan mereka diam.


Pak Bram, supir pribadi Firli beberapa kali mengintip dari spion tengah. Tak seperti biasa dimana Mrs. Charlotte akan memberikan Firli ceramah yang didengarkan gadis itu dengan saksama, kali ini perang dingin terjadi.


Mrs. Charlotte mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri. “Setidaknya anda hargai Monsieur Abellard dan Madame Anita. Mereka sangat menyayangi anda. Jangan biarkan mereka kecewa,” ucap Mrs. Charlotte dengan nada datar.


“Berapa kali aku bilang jika dia hanya teman!” tekan Firli setengah berteriak.


“Apa tidak ada wanita yang bisa Lady temani? Kenapa harus seorang pria?”


Firli menatap Mrs. Charlotte dengan tajam. “Teman wanitaku tak bisa melindungi aku


ketika di bully, tapi dia bisa. Kenapa kau sangat kolot sekali. Lihat wajahku, apa mungkin dia mau pacaran denganku Tanyakan pada Pak Bram, laki-laki hanya


tertarik dengan wanita cantik sementara aku tidak!”


Pak Bram hanya tersenyum mendengar pembelaan Firli. Ia mengenal gadis itu sejak berusia 5 tahun. Karena itu ia tak tega melihat Mrs. Charlotte selalu menekannya.


Tak ada komentar apapun dari Mrs. Charlotte tapi dari ekspresi wajahnya ia masih tetap pada penilaiannya. “Lagipula pria yang harusnya melindungiku tak tahu dimana!” ucap Firli sinis.


“Dia suami anda. Seharusnya Lady mengatakan hal yang sopan ketika membahas Monsieur Andrean,” tegas Mrs. Charlotte. Firli memutar bola matanya. “Alasan Monsieur Andrean melanjutkan pendidikan di London untuk masa depan anda. Dia kan menjadi pemimpin perusahaan Freiz dan anda akan menjadi pendampingnya. Anda akan bangga berada di sampingnya. Ia bahkan rela jauh dari kedua orangtuanya,” jelas Mrs. Charlotte.


“Apa Mrs. bisa menjamin jika di London sana Andrean tidak berteman dengan banyak wanita? Ayolah! Dia laki-laki remaja,” komentar Firli.


“LADY!” Mrs. Charlotte semakin emosi. Kali ini ia berhasil membuat Firli diam. Awalnya Firli bertahan untuk membalas tatapan penuh amarah Mrs. Charlotte tapi akhirnya ia berpaling ke luar jendela mobil.


Rasanya Firli ingin menangis. Bagaimana bisa ia harus melanjutkan hidup dengan pria yang selama enam tahun tak pernah ia temui lagi?Sementara hatinya sudah terpaut pada Rai. Andrean sudah menjadi orang asing di dalam hidup Firli. Tak ada yang bisa mengerti, Firli ingin hidup


normal seperti remaja lainnya. Ia ingin tinggal dengan orang tua kandungnya, bermain sepulang sekolah dan memiliki pacar. Tak akan ada yang mengerti perasan Firli jika yang ia ingin adalah Rai, bukan Andrean.