
Aku dan diriku yang kecewa dengan keadaan.
Bahkan angin tak bisa berbisik saat perih.
Dan jingga tak tercipta dari kuning ataupun merah.
Dan khayalan yang lepas dari mimpi.
Berteriak dalam genangan air.
Aku membunuh harapanku sendiri.
Tiada yang menjadi adalah aku.
Hanya aku aku dan aku.
***************BEGIN*************
SMA Bima sakti yang berdiri di atas tatanan pasundan ini dibangun tahun 1999. Gedungnya bergaya rokoko yang asimetris. Lain dengan gedung-gedung lain di kota ini yang mengiblat ke Belanda, sekolah ini justru mengikuti arsitektur Perancis khas pemerintahan louis XV.
Gedung Bimasakti bukan gedung yang dibuat main-main. Bangunannya memiliki 3 lantai dengan 1 bangunan utama tempat kantor, laboratoriun serta perpustakaan dan 3 bangunan kelas serta 1 lapangan basket indoor. Setiap bangunan di hubungkan koridor dimana setiap sisi koridor dihiasi taman kecil berumput hijau, tanaman teh-tehan serta japanese holy membuat bangunan tua itu terlihat segar jika dilihat dari udara.
Iya, SMA Bimasakti memang luas hingga memiliki lapangan sepak bola dan kolam renang sendiri. Hal itu untuk memfasilitasi lebih dari 600 siswa kaya yang orang tuanya mampu membayar SPP 80 juta pertahun ditambah 50 juta untuk biaya makan dikantin sekolah. Sayangnya seluas apapun sekolah ini tiada artinya bagi Firli. Buktinya setelah berusaha menghindar sejak tiba di sekolah, Firli tetap bertemu dengan iblis di siang hari.
Jam istirahat ke dua yang dimulai ketika kedua jarum jam bertemu secara vertikal memberi kesempatan Angie untuk menemukan Firli. Bukannya tak berusaha menghindar, sejak mendengar kabar dari Nana jika Angie mengincarnya. Firli mencoba waspada sebisa mungkin untuk berlari jika wajah wanita galak itu terlihat.
Faktanya Firli tetap saja tertangkap basah ketika Angie menggerakkan banyak masa. Dari lapangan sepakbola tempat tadi Firli mencari Misyel untuk berlindung, ia di seret ke taman belakang gedung ke dua. Tempat yang sempurna untuk menghilangkan seseorang karena titik buta CCTV dan juga tak adanya akses jalan keluar sekolah dari sini.
Tubuh mungil Firli dihempaskan ke tembok. kekuatan yang cukup hingga punggungnya merasakan nyeri yang luar biasa. Angie membelalakan mata, dengan kedua tangannya ia remas kerah kemeja Firli secara kasar. Seperti itu saja cukup membuat si mungil sulit bernafas.
"Lo sudah gue peringatin kan buat jauhin Si Gladis dari Rai!" semprot Angie langsung pada inti.
Ketakutan meradang dalam diri Firli sehingga ia hanya bisa menengok ke kiri untuk berlari dari sorotan tajam mata Angie. "Gue sudah usaha, Gie! Sekarang malah gue yang disingkirin Gladis. Lo gak liat kejadian tadi malam?"
Firli salah, Angie tak pernah bisa memaklumi apapun. "Gak guna!" Tangan perempuan itu membuat cap di pipi Firli. Sensasinya sangat kuat hingga Firli terjungkal ke depan menghantam poly bag hitam besar yang berisi sampah di dalamnya. Firli berteriak kesakitan. Tak ada sama sekali rasa kasihan atau menyesal yang Angie tunjukan. Dia malah semakin mendekat dan siap-siap memberikan tendanga ke tubuh Firli jika saja ...
"Pak Jonas!" panggil Firli dengan mata tertuju ke sudut di samping kiri belakang Angie sehingga ketiga wanita itu tertegun dan menengok ke belakang. Moment itulah yang Firli manfaatkan untuk lari sekencang-kencangnya.
Sadar dirinya dikelabui, Angie, Arlitha dan Bella kontan mengejar gadis mungil itu. Meskipun kakinya pendek tapi Firli sangat gesit, lain dengan ketiga gadis itu yang sudah terbiasa bergaya sok anggun.
Firli memutari gedung naik ke lantai koridor samping kanan kemudian turun ke halaman tengah yang dikelilingi bangunan gedung. Tubuhnya begitu lincah bergantian bergerak di atas lantai paving, memutari air mancur di tengah taman kemudian mengambil kemudi ke gedung utama tempat dimana ruang guru berada. Dalam pikirannya, hanya orang dewasa yang bisa menolong. Ia tak peduli jika selama perjalanan banyak siswa yang mengeluh karena pakaian Firli bau sampah atau marah karena Firli tabrak.
Ia lagi-lagi tak selamanya selamat. Akhirnya karena terhalang tiang koridor gedung utama yang lebih besar dari tubuhnya, Firli tak melihat ada pria yang berjalan dari samping kiri sedang membawa berkas sehingga ia tabrak. Pria itu baik-baik saja, masih berdiri tegak. Hanya saja berkas di tangannya berserakan di lantai. Sedang Firli sendiri jatuh ke belakang dengan pantat menyentuh lantai dan kepala yang hampir terbentur. Untung saja tangannya cukup kuat menahan.
"Kamu gak apa-apa?" tanya pria yang ia tabrak.
"Ya ampun ganteng!" celetuk Firli melihat wajah segitiga pria itu dan dagunya yang lancip seperti artis korea. Rambutnya ditata modern quiff berwarna coklat yang memiliki warna senada dengan alis lurus yang tak terlalu tebal.
Pria cukup baik, pikir Firli karena tidak terlihat marah justru mengulurkan tangan untuk membantu Firli. Ia juga terlihat biasa saja menanggapi kalimat konyol yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Namun Firli sadar kesalahannya. Ia melihat puluhan lembar kertas di lantai yang sudah tersebar dengan posisi tak karuan.
Firli mencoba meraih salah satu, tapi batal ketika melihat Angie mendekat dari kejauhan. "Bakteri DBD dateng!" sontak Firli bangkit tanpa membalas uluran tangan pria itu. Firli lebih memilih kabur dengan tak bertanggung jawab membiarkan kertas-kertas pria itu berserakan. Dia harus cepat ke ruang guru.
Setidaknya Firli dapat bernafas lega setelah Angie harus berurusan dengan guru BP sementara ia hanya memberikan kesaksian lalu diperbolehkan kembali ke kelas. Bahkan ketika bel pulang berbunyi, dari bisik-bisik teman sekelasnya Firli tahu jika Angie masih mendekam di ruang BP. Setidaknya neskipun siswa di sekolah ini patuh pada Angie, guru di sekolah lebih mendukung Firli akibat embel-embel keluarga Freiz.
"Tapi lo gak apa-apa, kan?" tanya Nana penasaran.
Firli merengut. Seragamnya yang bau sampah dan tubuhnya yang memar tentu dengan jelas menunjukkan jika ia apa-apa. "Dia menganiaya gue, Na! Kalau saja gak lari, mati lah gue."
Diantara keramaian penghubi koridor sore itu Nana menangkap pemandangan mengesalkan. Di halaman tengah dia melihat Gladis dan Rai sedang duduk berdua di atas kursi taman. Memang bukan hanya mereka berdua di sana, hanya saja cara mereka berpegangan tangan dan bermesraan terlihat seperti di zona itu tak ada siapa-siapa.
"Pasangan baru!" sindir Nana sambil menujuk pemandangan yang baru saja ia tangkap. Firli mencari titik yang dimaksud Nana hingga matanya menggambarkan sosok Rai dan Gladis tengah tertawa. Tangan kiri Rai merangkul Gladis yang duduk dengan kepala bersandar ke dadanya. Firli tahu sebaiknya ia biarkan saja seperti itu, karena kebencian Rai padanya kini membuat Firli tak memiliki alasan untuk menyapa.
"Ayo pulang!" Firli menari tangan Nana menuju lubang segi panjang di tengah gedung utama yang menjadi jalan utama untuk ke menuju teras luar tempat dimana ia menunggu jemputan. Ia yakin Mrs. Charlotte sudah berada di sana.
Firli ingin lekas pulang dan mandi bersih jika saja masalah lain tak terjadi. Baru saja melewati lorong menuju keluar bagunan utama Firli menemukan seorang pria tengah berdiri di samping pintu Aston Martin Vantage abu-abu. Firli tertegun bukan karena melihat mobil mahal seharga 3 milyar tetapi melihat pria itu yang hanya melihat ketampanannya sekali saja mampu masuk dalam long-term memory.
"Mati gue!" Firli menepuk jidat dan berbalik badan kembali kembali ke dalam gedung. Nana kebingungan melihat tingkah Firli yang terlihat seperti tikus yang dikejar petani.
"Kenapa?" tanya Nana.
"Itu, lo liat cowok ganteng di depan tadi?" tanya Firli. Sepertinya gara-gara tersita melihat perilaku aneh sahabatnya, Nana tidak fokus jika ada pemandangan indah di luar sana.
"Gue nabrak dia tadi! Mana gue gak bantu beresin berkasnya yang jatuh gara-gara gue lagi. Dia pasti nungguin gue buat diomelin tuh!" tebak Firli yang sepertinya tak jelas juntrungannya.
Nana geleng-geleng. "Mana dia inget kali. Lo itu terlalu biasa untuk diingat. Dia pasti lupa," sanggah Nana.
Firli menggeleng-geleng. "Kata siapa gue biasa. Dia tinggal nanyain cewek chubby pendek yang rambutnya keriting besar dan jelek. Fix, anak-anak pasti nyebut nama gue," berondongnya.
Andai saja jika ia tak mengerti betapa konyolnya sahabatnya itu, Nana tak akan menghiraukannya. "Terus gimana?" tanya Nana.
Firli ingat Nana selalu datang ke sekolah dengan mobil sendiri. "Lo baw mobil lo terus jemput gue lewat pintu samping," idenya. Pintu samping jalan alternatif lain jika 600 siswa sekolah ini memadati area jalan keluar utama.
Firli berlari ke arah kiri gedung menuju pintu samping di bangunan keempat SMA bimasakti sementara Nana tetap keluar lewat pintu utama karena paling dekat dengan parkiran mobil yang berada di sayap kanan.
🎶🎶🎶
**chapter ini sudah sampai di sini dulu ya guys? BTW bagaimana sejauh ini? Sudah cukup greget kah? Apa masih perlu gregetan lagi?
Buat lanjut Author cuman minta hadian like, komen sharenya. Ouh ya, klo sempat vote author juga ya!
Sampai jumpa besok jika lulus review cepat 😁**.