
"Apa ini?" Mata Andrean terbelalak ketika tepat di depan gerbang resort ada beberapa mobil yang menunggu kedatangan mobil mereka. Bagian paling menyebalkan, di luar mobil itu sudah berdiri orang-orang yang mereka kenal.
Briana melambai ketika Andrean menurunkan kaca mobilnya. "Kenapa mereka bisa ke sini?" tanya Rean bingung. Firli menggeleng. Jika ia tahu, ia juga tidak akan terkejut.
Sampai di dalam resort, Andrean masih melipat kedua tangan di depan dada. Punggungnya bersandar ke sandaran sofa dengan kedua kaki bersila di atas tempat duduk empuk itu. "Bagaimana kalian bisa tahu kaki ada di sini?" tanya Andrean.
"Memang kau saja yang ingin liburan? Kami juga," jawab Gama santai. Ia tidak sadar jika darah Andrean sudah bergejolak.
"Kau sebenarnya peka tidak sih saat aku dan Firli bilang kita mau bulan madu?" tekan Andrean.
Gama masih menatap dengan polosnya. "Itu bisa ditunda. Kami ini butuh pelmpiasan akibat stress berkepanjangan," celetuk Gama.
Briana mengangguk. "Lagipula, kalian berduaan di tempat besar seperti ini mau apa?"
Mendengar pertanyaan Briana membuat Andrean dan Firli menunduk malu. "Kami juga butuh waktu khusus berdua. Aku sama Firli gak pernah pacaran," Andrean mengeluarkan gasnya.
Briana menatapnya curiga. "Pacaran apa pacaran? Jangan-jangan kalian berencana melepas kesucian di sini, ya?" todongnya.
Andrean menarik bantal sofa di sampingnya lalu ia lempar tepat ke wajah Briana. Kontan gadis itu berteriak ke sakitan. "Dasar kau!" pekik Briana.
"Ish, kasian dia." Rai mengambil bantal yang sempat terkena ke wajah Briana dan melihat wajah tak bersalah itu untuk memastikan baik-baik saja.
Rean mengangkat sebelah alis. "Ada apa ini? Kamu tidak tergoda janda kakakku, kan?" Rean balas melempar todongan.
"Janda?" Briana merasa murka mendengar kata itu. Dia bangkit dan siap menerkam Andrean, tapi yang bersangkutan langsung berdiri dan lari ke belakang sofa.
Kontan mereka yang kini ada di ruang tamu resort tertawa melihat perilaku mantan adik dan kakak ipar itu. "Kalian bisa duduk saja tidak, aku pusing," ucap Firli sambil memegangi keningnya.
"Kenapa?" tanya Andrean. Ia berdiri di belakang sofa yang Firli duduki lalu memegang kening istrinya yang tiba-tiba panas. "Tadi kamu baik-baik saja, kenapa sekarang panas?" tanya Andrean khawatir. Firli menggeleng. Dia juga bingung.
"Tuh, syukur kami ada di sini. Kalau gak, kamu kalang kabut sendiri menjaga Firli," omel Briana. Gadis itu duduk di samping Firli lalu mengusap punggungnya. "Istirahat sana."
"Gak Bri, aku kalau sakit sendirian malah semakin tidak nyaman," tolak Firli.
Ghea mengangguk sambil membuka bungkus kacang. "Iya, dia memang begitu. Pernah dia sakit dan tidak sekolah malah semakin parah. Pas memaksa masuk besoknya sembuh."
Pernyataan itu diiyakan oleh Elsa dan juga Nana. Andrean mengusap rambut istrinya. Mungkin karena perjalanan dari Bandung ke Banten cukup jauh.
***
Malam hari bintang bertebaran di atas langit. Nyala api unggun menghangatkan udara di pinggir pantai. "Anginnya lumayan baik. Biasanya kalau pinggir pantai malam-malam kuat sekali dia," komentar Misyel. Pria itu menatap Ghea. "Evano masih belum jelas kabarnya?" tanya Misyel. Ghea menggeleng. Ia mengajak pria itu ikut, tapi setelah bilang akan menyusul, tidak ada kabar lagi darinya.
"Bodo amat, dia bukan pacarku ini," tekan Ghea.
"Masih belum jadian juga? Ada apa sih?" tanya Briana penasaran. Ghea menggeleng. "Baguslah, sebaiknya jangan," saran Briana.
Jelas Rean merasa heran, ia tahu Firli sangat suka suka susu. Kadang sehari ia bisa minum satu liter untuk sendiri. "Kamu kok aneh?" tanya Andrean bingung.
"Kalian ada rencana lulus SMA mau kemana? Jujur, aku tidak ingin berpisah," ucap Nana. Ia menatap satu per satu sahabatnya. "Kamu juga, Bri. Walau baru setahun kita kenal, aku sudah anggap kamu bagian kita."
"Aku akan tetap di Indonesia. Meski Ayah dan Bunda menawariku kembali ke Aussie. Aku tidak bisa meninggalkan Papaku," jawab Briana.
"Aku juga di Indo. Otakku tidak sampai kuliah di luar negeri," jawab Ghea polos.
Firli menatap Andrean lalu sahabat-sahabatnya. Ia tahu, Andrean akan tetap berangkat ke Manchester dan ia harus ikut. "Sepertinya hanya aku yang berpisah," ucap Firli sedih.
Andrean mengusap punggung istrinya. "Memang kamu ingin kita LDR lagi?" tanya Andrean. Firli kontan menggeleng. Enam tahu berpisah dari suami bukan hal yang mudah. Itu ia rasakan sendiri selama Andrean sekola asrama di Westminster.
"Kamu sudah diterima masuk MU university?" tanya Gama. Andrean mengangguk sambil meminum susu bekas Firli. Ia sudah terbiasa sepiring dan segelas berdua dengan istrinya.
"Kalau kamu memang tidak usah diragukan lagi. Namun Firli?" tanya Gama sambil melihat wajah istri Andrean.
Firli menggeleng. Bahkan di usaha paling akhir ia masih ragu dengan hasil belajarnya. Firli juga melihat-lihat kampus biasa di Manchester. Namun ia masih mengandalkan peruntungan dan harta keluarga mertuanya.
"Harus usaha, Fir. Helen semakin maju pantang mundur. Kemarin dia pamer sertifikat kelulusan di kampus yang sama," Briana memanasi.
Jelas Andrean langsung mengambil ranting di atas pasir dan melemparnya pada Briana. Firli menunduk sedih kemudian melihat Andrean penuh pengharapan.
"Apa? Kan sudah aku bilang dia bukan tipeku," tekan Andrean.
"Aku harap juga begitu. Mudah-mudahan tidak ada hal yang mengganggu jalanku. Asal dengan kau, tidak kuliah juga tidak apa-apa," ucap Firli.
Andrean mengecup kening Firli. Lengannya langsung memeluk Andrean. Tidak tahu kenapa, tapi mendengar kata lulus SMA rasanya malah perih di hati. Ia akan meninggalkan teman dan juga rumah dalam waktu lama.
"Jangan sedih, ayok jalan-jalan," ajak Gama sambil menarik lengan Nana lalu menuntunnya berjalan menyusuri pantai.
Ghea memilih berlari menyusul mereka sambil meledek dengan memeletkan lidah. Misyel dan Elsa melakukan hal yang sama.
"Ayo!" pinta Firli. Andrean tersenyum. Ia berjongkok di depan istrinya. "Sini aku gendong," tawar Andrean. Meski malu-malu Firli naik juga ke punggung suaminya. Andrean berdiri menggendong istrinya sambil menikmati suasana malam di pinggir pantai.
Teman-temannya sudah jauh di sana. Meninggalkan pasangan suami istri itu berdua. Firli menyandarkan dagu di bahu Andrean. "Kita tidak akan terpisahkan?" tanya Firli.
Andrean mengangguk. "Di Manchester kita akan punya rumah sendiri, hidup sendiri," jawab Andrean. Firli tersenyum.
"Boleh Firli tanya?" Lengan Firli melingkar di leher Andrean. "Sejak kapan Andrean cinta pada Firli?"
Andrean tersenyum. "Waktu TK, waktu SD, waktu kita menikah, waktu aku merindukanmu di London, waktu kita bertemu lagi, waktu kita berciuman pertama kali, waktu malam pertama kita. Sekarang pun, aku juga jatuh cinta lagi padamu, setiap saat semakin bertambah," jawab Andrean.