
"Cium dulu!" Pinta Rean saat Firli dan dirinya masih di dalam mobil. Sedan hitam itu menepi tepat di depan teras rumah utama. Beberapa pelayan dan Mrs. Charlote sudah siap menyambut mereka, karena itu Firli lebih memilih mendorong wajah Rean dengan telapak tangannya tanda penolakan.
Firli lalu melepas safety beltnya kemudian turun dari dalam mobil. Andrean melakukan langkah yang sama dengan dirinya tapi dengan wajah kecewa. Laki-laki itu berjalan mengikutu istrinya dari belakang. Melihat keduanya, semua orang yang menyambut kontan tunduk sebagai rasa hormat.
"Selamat siang Monsieur dan Lady," sambut Mrs. Charlotte. Sambutan itu hampir mereka terima setiap mereka pulang sekolah hingga lumayan bosan untuk melihatnya.
"Aku pikir kalian tidak perlu seperti ini," ide Firli tapi Mrs. Charlotte langsung menolak.
"Ini sudah menjadi tradisi keluarga Freiz, Lady. Saya pikir anda sudah
mengetahuinya," tolak Mrs. Charlotte. Ia masih saja kaku seperti dulu. Firli nyengir kuda, dia memang tak seharusnya beradu lidah dengan wanita paruh baya itu.
Andrean tiba-tiba memegang tangan Firli. "Ayo masuk!" serunya sambil menuntun istrinya masuk melewati pintu rumah utama.
"Monsieur Abellard dan Madame Anita menunggu di ruang tamu," ucap Mrs. Charlotte yang berjalan di belakang Andrean dan Firli. Keduanya mengangguk mendengar hal itu.
Pasangan ini berjalan semakin dalam ke rumah utama. Setelah melewati pintu ke dua, mereka berbelok ke kanan tempat dimana ruang tamu berada. Ruangan itu didominasi warna maroon dan beberapa perabotan berwarna keemasan.
Di sana Andrean tertegun melihat seseorang yang duduk di samping Bunda Anita. Orang itu tersenyum melihatnya kemudian berlari dan memeluk Andrean. Jelas itu membuat Firli tercengang.
"Andrean! Aku kangen!" ucap perempuan dengan rambut pendek sebahu dan memakai dress berwarna lemon. Dia terlihat sangat elegan dan jelas sekali bukan dari keluarga biasa. "Kamu kenapa jarang hubungin aku lagi?" Dengan genitnya ia berayun di lengan Andrean.
Tak perlu ditanya lagi bagaimana ekspresi Firli. Jelas gadis itu sangat kesal sampai mengepalkan kedua tangannya. Jika boleh berlebihan, mata Firli sekarang mengeluarkan api kebencian.
"Helen? Kenapa kamu di sini?" tanya Andrean gelagapan.
Filri manyun. "Jadi namanya Helen?" pikir Firli. Saking kesalnya Firli ingin menamai wanita itu Heli.
"Kita sudah lama tak bertemu, kan? Terakhir kali kita bertemu di Moscow, kan?" ungkapnya.
Firli menatap Andrean kesal. "Dia bilang tak pernah bertemu wanita selama di London. Ruapanya mereka bertemu di luar negeri!" gumam Firli.
Andrean mengangguk. Helen menarik tangan Andrean dan memintanya duduk di sofa. Terpaksa Andrean menuruti dengan duduk di samping Helen. Kedudukan Firli dalam sekejap tergeser karena kedatangan Helen. Bahkan Bunda dan Ayah tidak menghentikan Helen yang menguasai Andrean begitu saja.
"Sekarang kamu kurusan," komentarnya yang menghujam jantung Firli seolah-olah sebagai istri Firli tak bisa menjaga suaminya hingga menjadi kurus. Wanita ini terlihat berpendidikan tapi mulutnya tidak.
"Itu karena memang aku ingin menurunkan berat badan," jawab Andrean. Mendengar itu Firli justru kesal karena Andrean malah menimpali perkataan wanita itu.
"Lady, ini Helen. Dia dan Andrean sekolah di SD yang sama. Mereka juga sama-sama sekolah di London. Hanya Helen tinggal di sekolah wanita hingga sekarang," jelas Bunda. Akhirnya ada juga yang menyadari keberadaan Firli di sana.
Firli mengangguk kemudian menunjukan senyuman manis pada Helen. Namun yang bersangkutan malah memberikan tatapan sinis. Dia sedang membunyikan genderang perang sepertinya.
"Dia siapa, Madame Anita?" tanya Helen.
"Istriku," tegas Andrean membuat Helen tertegun sambil menatap Firli dan Andrean bergantian.
Andrean menggeleng. Kami sudah menikah sejak sekolah dasar. Sebelum aku berangkat ke London," jawab Andrean.
Helen menunduk lesu. "Saat itukan kita masih bersama, kenapa tak menikah denganku saja?" tanya Helen.
Jika saja Firli tak tahu manner, ia sudah angkat vas di atas nakas lalu melemparnya ke muka Helen.
Andrean tertawa. "Karena dia yang aku sukai," jawab Andrean. Firli nyengir kuda. Ingin rasanya ia berjingkrak-jingkrak merayakan kemenangan.
Helen mendengus. Lagi-lagi ia menantap Firli dengan sinis. Kali ini Filri tak mau kalah, ia balas dengan perbuatan yang sama. "Memangnya anda dari keluarga mana?" tanya Helen ketus dengan menekan kata 'anda'.
Pertanyaan itu cukup menohok Firli. Ia lupa jika keluarganya bukan dari golongan bangsawan.
"Dia keluargaku," tekan Andrean.
"Huh! Kenapa kau jadi galak, sih?" keluh Helen.
"Karena kamu terlalu galak pada istriku," tekan Andrean.
Akhirnya Helen terdiam. Wanita itu mengambil tas kertas yang ia simpan di atas meja kemudian memberikannya pada Andrean. "Aku baru pulang dari Quebec, ini hadiah untukmu," jelasnya.
Andrean menerima hadiah itu. Tiba-tiba Helen berdiri. "Lady, boleh antar saya ke lavatory?" pintanya. Tak tahu mengapa permintaan itu justru terdengar seperti ajakan perang terbuka.
"Pelayan kami bisa mengantarmu, Nak," tolak Ayah Abellard.
Helen menggeleng. "Aku ingin lebih dekat dengan istri dari sahabatku," tekannya. Firli mendengus kesal. Baginya anak ini sangat manja dan tak sopan. Ia kira rumah ini tempat pengasuhan sehingga segala yang ia inginkan harus dituruti.
Firli mengangguk. Ia bangkit kemudian berbalik. Helen mengikutinya dari belakang. Sambil berjalan ke kamar mandi, jelas sekali ia mendengar langkah kaki Helen yang dihentak-hentakan ke lantai. Keduanya melewati lorong-lorong rumah kemudian berbelok ke kanan di ujung lorong. Di sana ada toilet yang di dominasi warna putih dan biasa digunakan untuk tamu.
"Jadi kamu istrinya Andrea?" tanya Helen. Terlihat jelas sekali ia tak memperlihatkan wajah layaknya orang yang sedang ingin ke toilet.
Firli berkacak pinggang. "Bukankah Andrean sudah tekankan tadi di depan wajahmu?" ucap Firli sinis.
Kedua wanita itu saling bertatapan tajam. "Memangnya kau yakin Andreanku menyukaimu?"
Firli memutar bola mata. "Hei, ralat ucapanmu ya! Andrean itu suamiku. dia milikku! Seenak jidat kau bilang dia Andreanmu!" omel Firli.
Helen memalingkan wajahnya kemudian kembali menatap Firli. Kali ini Firli harus mematikannya dalam sekali kalimat. "Jika dia tak menyukaiku, dia tidak akan menciumku setiap hari. Juga akan menolak tidur di ranjang yang sama. Kami juga tak akan berpelukan selama tidur bersama," Firli sengaja mengucapkan kata ambigu itu agar Helen salah paham.
"Apa maksudmu?" tanyanya kaget. Yakin sekarang hatinya sedang bergejolak.
"Kau lupa ya jika kami suami istri. Tentu melakukan hal itu wajar," tekan Firli sambil memperlihatkan cincin di jari manis tangan kanannya. Helen tertegun. Firli mengibas rambutnya kemudian berbalik dan meninggalkan Helen di sana sendirian.
Jika Andrena bisa begitu posesif pada Firli dan berjuang untuk menyingkirkan Rain, Firli juga sama. Ia akan singkirkan banyak wanita seperti Helen.