
Perih yang terasa di perut semakin lama semakin mempengaruhi batin Firli. Tanpa terasa ia kadang sering menangis sendiri di kamar. Kadang keegoisannya muncul, andai jika masih ada seorang suami yang mengusap perutnya setiap kali kontraksi tentu semua ini tidak akan menjadi sulit.
Bahkan waktu tiga bulan tetap tidak bisa membuat Firli terbiasa. Ia masih terbangun di malam hari, muntah lalu menangis memanggil Andrean. Meski dalam keadaan serenta itu, Firli masih berpura-pura tersenyum di depan kedua mertuanya.
"Maaf, Nyonya. Tapi keadaan Lady tidak bisa mendukungnya pergi jauh. Apalagi naik pesawat. Dikhawatirkan guncangannya akan membuat kandungannya dalam bahaya," tolak dokter ketika Firli dan Anita meminta surat izin terbang. Harusnya bulan ini Firli bisa menyusul Andrean ke Manchester.
Firli merasakan perih dalam batinnya. "Saya rindu suami saya dokter," keluh Firli. Tiga bulan ini saja sudah sangat berat. Bagaimana bisa jika ia masih harus bertahan hingga kelahiran. Firli iri melihat Ghea yang sering dituntun Putra kemanapun. Bahkan meski kesulitan denga perut yang semakin berat, ada Putra yang siaga meringankan bebannya. Lalu Firli? Ia hanya bisa melepas rindu dengan wajah Andrean di layar video call.
"Dokter, padahal usia tujuh bulan harusnya kandungan sudah mulai kuat, kan?" tanya Anita.
Dokter mengangguk. "Namun posisi kandungan Lady ini sangat rentan. Mungkin karena usianya terlalu muda. Selain itu juga Lady mengalami stress selama kehamilan. Ini semakin menurunkan kekuatan kandungan. Saya harap Madame bisa mengerti apa yang saya maksud," jelas dokter dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Anita mengangguk. Ia menatap Firli lalu mengusap rambutnya. Firli menggeleng. "Aku butuh suamiku, Bunda," aku Firli. Suaranya lirih, memelas hingga menyentuh batin yang mendengarnya. Anita tentu merasa diserang duri dalam ulu hati.
"Nak, pasti ada jalan lain. Mungkin jika keadaan batinmu semakin baik, kau bisa lebih sehat dan menyusul suamimu," saran Anita. Firli menggeleng. Ia berdiri dari kursi dan bersiap berjalan ke luar. Namun baru sampai pintu, tiba-tiba perutnya merasakan nyeri.
"Firli!" panggil Anita khawatir. Dokter dan Anita langsung menuntun Firli menuju ranjang pasien di ruang pemeriksaan. Dokter terlihat kalut.
"Lady, apa anda sering kontraksi belakangan ini?" tanya dokter.
Firli menggigit ujung bibirnya antara menahan rasa sakit dengan keinginan untuk menutupi keadaannya. Namun begitu serangan perih yang sama melanda akhirnya Firli terpaksa mengangguk. Kulit putih Firli semakin memucat, bahkan bibirnya mulai kehilangan warna. Keringat terus bercucuran hingga Anita semakin tidak tenang.
Akhirnya Firli dipindahkan ke ruang penanganan. Di sana ia terus diobservasi dengan memantau interval kontraksi serta denyut jantung ibu dan bayi. Tubuh mungil Firli menurut dokter kesulitan menahan beban bayinya. Apalagi setelah USG terakhir yang memperlihatkan ada dua janin dalam kandungannya.
"Lady, tenangkan pikiranmu. Ingat, meski Monsieur Andrean tidak di sini, dua bayimu masih ada bersamamu. Demi mereka," nasehat dokter ketika mata Firli sudah mulai sayu. Sepertinya setengah kesadarannya sudah hilang. Syukur perempuan berusia belasan tahun itu tidak mengalami pendarahan.
Sementara itu, Anita di luar sana masih berusaha menelpon suami dan putranya. Bahkan disaat seperti ini Abellard masih sulit dihubungi dan Andrean tidak jauh berbeda. Anita tahu mereka memiliki kesibukan, tapi Firli butuh perhatian dimana semua orang dalam keluarga harus siap siaga.
Jauh di luar negeri sana, Andrean masih berkutat dengan kertas kuisnya. Baru kali ini dia mendapat kesulitan. Hafalan yang susah payah ia hafal semalaman seolah tidak berguna menghadapi soal dari dosennya. Bahkan jawaban yang ia susun langsung ditolak dan dikembalikan. Andrean tersenyum sinis menatap kertas yang masih kosong tanpa ada segores tinta pun di atasnya.
"Profesor Hulbert menjahilimu lagi?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Andrean. Pria itu mengangguk. Ia berpaling pada wanita itu. Syukur bukan Helen yang setiap hari menempel padanya seperti ulat. "Hai, Tania!" sapa Andrean pada perempuan yang sekelas dengannya dan menjadi rekan satu grup dalam matakuliah tertentu.
Mahasiswa di sini memang disarankan membuat sebuah kelompok kerja sebagai praktek bermitra saat di dunia kerja nanti. Lain dengan Helen, Tania sangat lembut dan ramah. Ia bukan tipe wanita centil yang mengejar-ngejar laki-laki. Justru tipe wanita yang hanya memikirkan karir dan pelajaran.
"Kau pasti takut jika Helen yang datang?" tegur Tania. Meski baru tiga bulan mengenal Andrean, ia cukup paham jika pria itu tidak suka dengan Helen. Sayang, pelakunya sendiri justru tidak peka.
"Kau tahu dia," jawab Andrean pendek. Tania tertawa. Ia mengeluarkan buku dari tasnya kemudian bersiap menyelesaikan tugas.
"Profesor memintaku menjelaskan positif dan negatifnya budaya Indonesia dalam pada perekonomian. Aku sempat berpikir tentang nilai-nilai luhur budaya yang mengakibatkan beberapa usaha tidak cocok dilakukan di sana," jelas Andrean.
Tania tertawa. "Profesor memang selalu berpikiran luas," celetuknya.
Wajah heran Andrean langsung terlihat menyusul respon Tania. "Sebenarnya soal ini lebih pada praktek lapangan, kan?" tanya Tania.
Andrean mengangguk. Sering kali teori yang ia pelajari memang bertabrakan dengan praktek yang ada. Contohnya kualitas, akan menarik selera pasar. Namun yang ia temukan lain. Kadang sesuatu yang tidak penting bisa menarik popularitas tinggi di Indonesia.
Anehnya, profesor tersebut hanya memberikan soal seperti ini pada mahasiswa dari Indonesia. Bukan artinya ia benci, hanya saja ia tertarik dengan nilai kultur dan sosial masyarakat di negara kepulauan terbesar itu.
"Aku dengar kau sejak kecil tinggal di London. Mungkin itu yang membuatmu sulit menjawab masalah ini," komentar Tania.
Andrean terkekeh. "Aku pindah ke London di usia sebelas tahun. Anggap saja saat itu aku masih anak-anak yang belum kritis tentang masalah sosial. Sebelum ini aku hanya tinggal setahun lebih di sana. Cukup membuatku mempelajari selera pasar hanya saja tidak seluas yang dibutuhkan," jawab Andrean.
Tania mengangguk. "Bagaimana dengan trend di sana. Budaya itu bukan hanya sekedar nilai adat istiadat saja, kan? Pemikiran dan kebiasaan masyarakat di sana juga termasuk di dalamnya."
Mendengar itu membuat Andrean menemukan sedikit celah. "Wah, kau memang cerdas Tania," puji Andrean. Ia langsung berpikir sejenak lalu mulai mendongeng di atas kertas essainya.
Sementara itu Tania kembali membuka buku di tangannya. Baru beberapa paraghraf, ia sudah beralih perhatian pada pria di sampingnya. Andrean selalu bersikap baik pada mahasiswa lain. Ia bukan orang yang suka membeda-bedakan.
"Kau ingin makan siang bersama?" tawar Tania.
Andrean menggeleng. "Aku ada rencana jam makan siang ini. Maaf," tolak Andrean.
Tania terlihat kecewa. "Kau ini selalu saja makan sendiri. Punya simpanan, ya?" tanyanya bercanda.
Andrean tertawa. Setiap kali makan, ia harus sambil mengirim panggilan video dengan istrinya. Firli baru mau makan melihat suaminya makan. Anggap saja mereka makan bersama meski jaraknya jauh. "Anggap saja begitu," jawab Andrean sambil tersenyum jahil.
😆😆😆😆
Author masih belum bosen ngiklan, nih! 😁 Mungkin ada yang punya apk oren, yuk merapat di wp digi8saikai_nha. Baca novel "The Idol And My Baby"
Dira, penyanyi terkenal yang banyak digilai wanita karena tampan dan bersuara emas. Namun Bia memiliki satu rahasia tentang Dira. Pria itu adalah ayah dari bayinya.