
Cinta pertama itu memang yang paling membekas. Firli juga merasakannya. Meskipun ia sudah meyakinkan dirinya untuk menjauhi Rai, hatinya terus terpaut. Hingga ketika Rai mendekatinya, Firli tak bisa menyembunyikan senyum di wajah.
"Hai! Coklat hari ini!" Rai memberikan Firli sebatang coklat dengan kemasan berwarna biru. Firli menerimanya dengan senang hati, ia memang sangat menyukai coklat.
"Makasih loh!" seru Firli. Rai mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Firli sendiri tak memberikan perlawanan yang berarti. Gadis itu malah senang Rai memperlakukannya seperti dulu.
"Mau kemana?" tanya Rai melihat Firli membawa beberapa buku di tangannya.
"Ouh, ini milik Ghea. Rencananya mau dibalikin," jawab Firli.
Rai mengangguk-angguk. "Gue antar ya?" tanya Rai. Jelas Firli tak bisa menolak. Kapan lagi dia bisa dekat dengan Rai setelah Gladis mendominasinya. Rai membawa buku dari tangan Firli kemudian keduanya berjalan beriringan di atas lantai koridor sekolah.
"Ghea sudah jadian sama Evano?" tanya Rai penasaran. Sejak pacaran dengan Gladis ia jarang mendengar kabar sahabat-sahabat Firli. Firli menggeleng. "Sudah ketebak, biar terlihat benci sebenarnya dia masih suka sama Putra," tebak Rai.
Firli mengangguk. Kasus Ghea mungkin sama seperti dirinya. Bagaimanapun Rai cinta pertamanya dan Putra adalah cinta pertama Ghea. "Gladis mana?" tanya Firli. Rasanya heran melihat Rai tidak ditemani permainsurinya.
"Dia juga butuh yang namanya 'waktu perempuan'," kelakar Rai membuat Firli tertawa kecil. Mereka berbelok dan sempat berpapasan dengan beberapa orang yang menatap keduanya dengan heran. Belakangan memang mereka mendengar kabar hubungan Firli dan Rai yang sempat memburuk tapi tak mendengar kabar jika hubungan itu sudah membaik. "Bagaimana pelajaran kamu?" tanya Rai.
Firli menunduk. Ia masih saja terbentur masalah yang sama, nilai akademik. "Aku sudah belajar mati-matian bahkan Mrs. Charlotte memilihkan aku guru les terbaik. Hasilnya masih saja diangka 8 dan 7," jawab Firli.
Rai mengerutkan dahinya. "Itu sudah lebih baik. Setidaknya di atas nilai minimun, kan?" Rai mencoba memenangkan hati Firli. Namun itu tak cukup membuatnya tenang.
"Ayah ingin aku bisa masuk universitas bergengsi di luar negeri," ucap Firli lirih.
Rai tertawa kecil. "Kau bisa. Uang keluargamu banyak," lagi-lagi ia berkelakar. Kali ini bahkan sampai mencubit gemas pipi Firli.
Mereka akhirnya tiba di kelas Ghea. Firli dan Rai masuk ke dalam mencari gadis tomboy yang sedang bermetamorfosa itu tapi tidak ada. Akhirnya Firli hanya menitipkannya pada teman sekelas Ghea yang masih ada di kelas.
"Sepertinya dia sedang berpetualang mencari gebetan baru atau sedang PDKT dengan evano," komentar Firli sambil memutar bola matanya.
Baik Rai juga Firli akhirnya meninggalkan kelas itu. "Sekarang mau kemana?" tanya Rai. Firli berpikir lumayan lama. Dia tidak lapar juga tak ingin berdiam di taman karena panas.
"Bagaimana kalau kita ke ruang seni dan melihat klub tari latihan?" ide Rai. Melihat klub tari latihan tari tradisional benar-benar menyenangkan. Kadang mereka membuat kesalahan yang lucu tapi jika sedang serius itu sangat terlihat hebat dan memukau.
Firli mengangguk. Tidak hanya klub tari, kadang klub theater juga sering latihan di sana. Keduanya sama-sama menyenangkan untuk ditonton. Setelah mengambil keputusan itu akhirnya mereka berjalan menuju tujuan baru mereka - ruang seni. Letaknya berada di lantai pertama gedung dimana kelas Firli berada. Itu sebuah aula besar yang juga menjadi ruang pertunjukan setiap bulan.
Rai dan Firli berbalik. Lagi-lagi kaki mereka melangkah di atas koridor. Panas di luar memang menyengat. Firli sampai silau dibuatnya. Untung saja Rai begitu manis menarik Firli agar bertukar posisi dengannya. Hal itu membuat Firli tersipu.
"Lho, Rai!" panggil seseorang yang baru keluar dari salah satu kelas yang Rai dan Firli lewati. Itu Gladis yang langsung memasang tampang kesal melihat kekasihnya dengan Firli. "Kalian sudah berbaikan rupanya," ucapnya datar. Firli yakin Gladis sangat tidak menyukai kenyataan itu.
"Kamu bilang katanya ada yang perlu dibahas dengan anggota klub Cheers. Jadi aku pergi sama Firli dulu. Tadi kebetulan bertemu," jelas Rai. Walau hanya sekilas, jelas sekali pandangan sinis Gladis padanya.
Rai menatap Firli dengan bibir yang mengatup. Sepertinya ia merasa tidak enak karena sebelumnya sudah janji untuk menemani Firli. "Tak apa Rai, pergilah. Lagi pula hari ini Firli akan ke perpustakaan saja," dia lebih memilih untuk menyembunyikan perasaannya. Rai mengangguk sementara Gladis tersenyum sinis.
"Aku dan Gladis pamit," ucap Rai sambil berbalik. Ia menuntun tangan Gladis. Mata Firli masih menatap lirih ke arah keduanya. Tiba-tiba Gladis berbalik dan memeletkan lidah untuk mengejek Firli. Ia biarkan saja hal itu terjadi.
Beberapa detik sepeninggal Rai, ponsel Firli bergetar. Ada pesan masuk dalam aplikasi chattingnya. Pesan yang dikirim kontak bernama Husband ❤️. Firli tahu itu dari Andrean kemudian membukanya.
Senang ya meninggalkan suamimu dengan laki-laki itu. Sekarang tahu rasa kau yang ditinggalkan.
Firli membuka rahangannya. Matanya terbelalak membaca pesan itu. Sial! Andrean tahu! Firli mulai kalang kabut. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Andrean nanti.
"Aduh! Gue harus bilang apa sama Rean!" pekik Firli sambil menepuk jidatnya
"Tak perlu, aku lihat semuanya dari awal sampai akhir!" ketus Andrean yang tiba-tiba keluar dari balik tiang penyangga gedung.
Harusnya Firli tahu, pasti suaminya itu akan mencarinya jika bel istitahat berbunyi. Firli mendekat pada Rean kemudian memegang ujung lengan blazer seragam hitam laki-laki itu.
"Memang tak bisa dijelaskan karena aku salah," ucap Firli sambil menunduk kemudian berusaha menempelkan jidatnya di dada suaminya. Namun Andrean menahan jidat Firli dengan jari telunjuk dan mendorongnya menjauh.
"Sana!" usir Andrean kasar membuat Firli mati kutu. Laki-laki itu berbalik dan berjalan meninggalkan Firli, tapi yang ditinggalkan berinisiatif untuk menyusul.
"Ah, Rean!" Firli merengek sambil memeluk Andrean dari belakang. Orang-orang yang melihat pemandangan itu menatap keduanya iri. Namun Andrean tidak merespon. Ia terus saja berjalan hingga Firli yang memeluknya hampir terseret akibat langkah Andrean yang tak bisa Firli imbangi.
Firli melepas pelukannya. Ia berdiri kemudian mengambil napas panjang. "Aku cinta kamu Andrean Petter Freiz!" teriak Firli membuat semua orang yang mendengarnya tertawa melihat mereka. Andrean tersentak kaget, ia berbalik dan menemukan Firli sudah membuat tanda hati di atas kepala dengan kedua lengannya.
"Jangan marah Andrean tampan! Kalau tidak, pintu kamar tak akan terbuka untukmu!" teriak Firli lagi. Mendengar itu kontan Andrean berlari lalu menutup mulut istrinya.
"Kamu apa-apaan sampai bahas masalah kamar? Nanti orang lain memfitnah macam-macam!" nasehat Andrean.
Firli berusaha melepas telapak tangan Andrean dari mulutnya. "Firli senang kamu cemburu. Hanya jangan marah. Firli takut kamu gak meluk Firli pas nanti tidur," celetuknya. Lagi-lagi Andrean berusaha membekap mulut Firli.
"Iya, tapi jangan diulang lagi bahas masalah sensitif begini di sekolah!" omel Andrean. Firli nyengir kuda kemudian memeluk suaminya erat. "Kalau kamu ulangin lagi jalan sama laki-laki itu ...," belum juga Andrean berucap, Firli sudah memotongnya.
"Kamu cium aku!" celetuk Firli membuat Andrean tertawa kemudian mencubit gemas pipinya.
"Sepertinya hubungan Gama dengan Nana akan semakin jelas," Andrean merubah topik pembicaraan.
"Kenapa memang?" tanya Firli heran.