
Sebelum baca follow dulu, yuk. Yang belum gabung grup author, yuk gabung biar bisa sharing bareng.
πΏπΏπΏ
"Siang, Pak," sapa seorang wanita dengan pakaian kantoran. Rambutnya panjang bergelombang di bagian ujung, kulitnya putih bersih dan lekukan tubuhnya yang aduhai membuat para pria yang tengah rapat membahas masa depan perusahaan meneguk ludahnya.
"Siang. Sesuai permintaan, ini sample undangan yang diminta Bapak untuk diperbaiki."
Andrean mengambil sample yang diberikan perempuan itu dan memeriksanya. Si Perempuan dengan alasan menunggu masih berdiri di sana sambil sesekali menyibak rambutnya ke belakang agar memperjelas ukuran dadanya.
"Perbaiki lagi, ada kalimat yang rancu. Kamu bekerja sebagai sekretaris di sini melalui proses seleksi, kan? Kenapa pekerjaanmu harus selalu diperbaiki hingga berkali-kali?" tegur Andrean galak.
Salina, perempuan itu menunduk kecewa karena terkena amarah Andrean lagu untuk kesekian kalinya. Sedang staff lain yang juga ada di sana menatap perempuan itu dengan ekspresi kasihan.
"Kalau pekerjaanmu seperti ini, lebih baik aku ganti sekretaris juga staff kepegawaian. Bagaimana mereka ini, cara menyeleksi pegawai sama sekali tidak efektif," keluh Andrean, membuat salah satu direkturnya menunduk malu akibat menyeleksi pegawai hanya dari wajah yang good looking.
"Maaf, Pak. Saya salah," ucap Salina.
"Perlu saya tekankan. Perusahaan ini dibangun sebagai perusahaan di bidang komoditi dan teknologi, bukan agensi artis!" Andrean mengambil salah satu map di atas mejanya lalu menggebrak meja. Ia bangkit dan mengancingkan jasnya lalu berjalan ke luar rapat evaluasi siang itu.
Salina sampai mengusap dada. Mau tidak mau sebagai sekretarisnya, ia harus mengikuti Andrean. "Pak, ada jadwal yang akan saya geser ke jam berikutnya. Bapak ingin langsung melanjutkan pekerjaan atau istirahat sejenak?" tanya Salina.
"Apa ini sudah siang?" tanya Andrean ketus. Salina menggeleng. "Kalau belum pukul dua belas, artinya belum jam istirahat. Kenapa aku harus istirahat?" tanya galak.
Andrean masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. "Katakan pada tamu selanjutnya untuk mengunjungiku sekarang juga, kalau tidak biarkan ia menunggu sampai besok." Pria itu mengangkat layar laptopnya juga memeriksa ponsel.
"Baik, Pak." Salina segera menuju mejanya untuk menelpon orang yang memiliki jadwal pertemuan dengan Andrean dan masih menunggu di ruang tamu.
Andrean tersenyum ketika melihat ponselnya dan melihat sebuah foto berlatar hitam dan gambaran coklat di atasnya. Dia cantik, kan? Pesan di dalamnya membuat Andrean menganggguk. Ia mengetik pesan balasan. Iya, cantik seperti ibunya.
Pintu ruangan diketuk. Salina masuk sambil membawa sebuah amplop. "Pak, tamu yang pertama kali datang hanya perwakilan dari perusahaan finansial di Jakarta. Ia menitipkan dokumen ini."
"Bawa ke sini," titah Andrean. Salina mengangguk lalu memberikan amplop itu pada Andrean.
Lekas Andrean membuka dan membaca isinya. Salina masih di sana berdiri di samping Andrean. Jelas pria itu merasa terganggu. Ia mendelik ke arah Salina. "Ngapain kamu di sini?" tegur Andrean.
Salina tersenyum. Ia menyentuh bahu Andrean. "Bapak kelihatan tegang sekali hari ini. Mau saya pijiti?" tawarnya.
Andrean menepis tangan wanita itu lalu melotot tajam. "Pekerjaanmu sebagai sekretaris saja tidak beres. Kamu masih ingin jadi tukang pijat? Perbaiki dulu undangan itu!" tegasnya galak.
Salina manyun dengan manjanya. "Pak, saya kurang cantik, ya?" tanyanya sambil memainkan kancing paling atas kemejanya. Ia bahkan sempat membuka salah satu hingga memperlihatkan belahan dada.
Andrean menggeleng. Ia mendorong Salina pelan agar sedikit menjauh. "Punya istri saya jauh lebih besar," celetuknya sambil berpaling melihat dokumen.
Salina terlihat kesal. "Saya lebih cantik dan lebih seksi dari istri anda," ucap Salina manja.
"Itukan katamu, kataku dia jauh lebih cantik. Dia imut, manja, manis dan satu lagi. Dia gak suka menggoda suami orang," Andrean memberi penekanan hingga Salina kaget sendiri. Untuk kesekian kalinya, ia gagal menggoda Chairman perusahaannya itu.
"Satu lagi. Dia galak. Jadi lebih baik kamu jangan ganggu aku lagi sebelum dia yang habisi kamu," ancamnya.
πΏπΏπΏ
"Aku nunggu kamu pulang, lama banget!" protes Firli. Ia mendengus lalu melipat tangan di dada.
"Pekerjaanku banyak. Belum Salina, semakin hari semakin membuat uratku naik," keluhnya.
Andrean terkekeh. "Bukan tipeku. Bodohnya saja sudah buat ill feel. Aku suka wanita pintar. Satu-satunya wanita bodoh yang aku suka harus pendek dan pipinya tembam," ralat Andrean.
Firli menunjuk hidungnya dan mendapat anggukan dari suaminya. Lekas Firli mencubit lengan Andrean. "Menyebalkan! Baru pulang malah meledek!"
Andrean mengusap perut Firli yang semakin terlihat jelas gunungnya. "Apa kabar cantik?" sapa Andrean pada bayinya yang sudah terlihat jenis kelaminnya perempuan.
"Jangan panggil begitu. Nanti kayak Gio. Kita pikir perempuan, malah keluar laki-laki."
Mengingat itu Andrean jadi ingin tertawa sendiri. Ia ingat saat Rio dan Gio lahir dan mereka harus dadakan mencari nama agar terdengar mirip.
Firli menutun suaminya ke kamar. "Anak-anak mana?" tanya Andrean sempat melirik ke kanan dan ke kiri tidak mendengar suara putra-putranya yang kini sudah kelas tiga SD.
"Ada di rumah Bunda. Katanya ingin belajar berkebun untuk praktek di sekolah."
Andrean mengangguk. "Menginap?" tanyanya.
Kali ini giliran Firli yang mengangguk. "Mungkin baru akan pulang lusa."
Lengan Andrean melingkar di pinggang istrinya. "Bisa donk malam ini kamu vaksinin aku supaya besok tegar menghadapi staff-staff cantik di kantor?" pintanya.
Firli manyun. "Aku lagi hamil, loh! Jangan kayak kemarin, kamu betah main sampai lupa aku kelelahan. Dokter juga sampai protes tadi."
Tiba di kamar, Firli membuka jas Andrean juga dasinya lalu menyimpan di keranjang cucian yang ada di sudut kamar mereka. Andrean duduk di sofa. Tak lama seorang pelayan membawa teh dan camilan.
"Bi, jangan lupa siapkan air mandi untuk Tuan, ya?" pinta Firli. Pelayan itu mengangguk dan menuju kamar mandi.
Firli memijiti bahu suaminya. Andrean tersenyum. Ia tahu benar tak ada yang lebih pintar memijitinya selain Firli. "Kamu kelihatannya lelah sekali," ucap Firli.
"Pekerjaanku semakin banyak. Hampir semua staff membuat kepalaku pusing. Perusahaan sudah seperti kursi pemerintahan saja banyak nepotisme. Pantas Ayah sering mengeluh soal itu. Lusa akan aku adakan perombakan besar. Mungkin aku akan merekrut direktur personalian dengan turun tangan sendiri."
"Lalu para CEO?" tanya Firli.
"Mereka melakukan perkejaan dengan baik. Namun, salah satu CEO dari perusahaan jaringan tv kabel masih belum memperlihatkan peningkatan yang signifikan dari kinerjanya. Ia masih terlihat kurang tegas. Hanya dibina saja mungkin," jawab Andrean.
Ia tahu, inti dari masalah perusahaan adalah bagian perekrutan pegawai yang adil hanha untuk saudara dan wanita tinggi, seksi, semampai.
"Kau menggantikan posisi Ayah dengan sangat baik."
Andrean memeluk Firli. "Kalau memikirkan ini, aku kadang sering berpikir akan sangat nyaman punya saudara. Kita akan berbagi sama-sama dalam mengawasi perusahaan."
"Kalau iya begitu, kalau jatuhnya kayak Rio dan Gio yang setiap hari ribut kayak angin topan?"
Andrean bergidik. "Mau bagaimana lagi, dari dalam perut saja mereka sudah tercipta begitu," kelakarnya. Ia mencium perut Firli. "Aku harap yang ini bisa jadi wasitnya," celetuk Andrean.
**WARNING! SPOILER!
Menurut kalian, bagaimana perasaan kalau dihamili lalu ditinggal begitu saja?
(Ramekan kolom komentar, yuk!)
Yang belum gabung grup author ayok gabung! ππ**