
HOAAAAMM ... Sebenarnya Author lagi mager tingkat kakap gak tahu kenapa tapi greget kepingin ngelanjutin cerita ini. Mau lanjut? Vote dulu donk!
⭐⭐NEXT⭐⭐
Buat kamu baper itu gampang, tinggal bilang sayang. Bilangnya yang sulit.
-Author-
Pipa cahaya menelusuk melalui gorden yang tidak terlalu rapat sehingga memberikan akses masuk gratis. Pipa cahaya itu cukup menganggu kedua mata yang masih terlelap pagi itu. Tubuh Firli terbaring menyamping ke kanan dengan balutan selimut yang menutup tubuhnya hingga ke sikut. Meski matahari sudah mulai menerjang, ia berusaha menahan matanya agar tak terbuka. Ia baru berniat bangun jika alarm berbunyi agar waktu tidurnya tidak terbuang percuma. Hanya saja alarm itu tidak terdengan menganggu padahal sinar matahari sudah muncul dari peraduan.
Penghalangnya untuk tetap tertidur tidak hanya cahaya mentari tapi sesuatu yang menindih lengan kirinya hingga membuat efek pegal dan hampir mati rasa. Benda apa yang kemungkinan seberat ini? Sedari tadi Firli berusaha menyingkirkan benda ini, tak lama ia kembali bahkan semakin erat melingkar sampai ke perut. Dengan salah satu dari sembilan nyawanya Firli berusaha tersadar. Ia membuka kedua matanya setengah hingga melihat sebuah tangan lumayan kekar yang menjadi pelaku penindih lengan kirinya. Lengan siapa ini? Firli hanya mengingat di kamar itu hanya ada dia seorang. Ia memutar badannya ke kiri kemudian melompat kaget hingga terduduk di tas kasur.
Begitu Firli berbalik tadi, membuat wajahnya dan wajah Andrean hanya berjarak satu senti meter. Posisi yang sangat berbahaya apalagi di atas mohon maaf tempat tidur. Tentu Andreanpun ikut terbangun akibat guncangan yang luar biasa yang terjadi pada kasurnya. "Mimpi buruk?" tanya Andrean mengintip ke arah Filri sambil memluk bantalnya seperti anak kucing.
Firli mengusap dada, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tidak karuan seperti suara drum yang dipukul sembarangan. Bahkan baru bangun tidur saja suaminya itu tetap bersinar seperti antares. "Aku belum terbiasa dengan keberadaan Monsieur di sini, Seingatku bukankah kita sedang minum teh tadi malam?"
Andrean mengucek kedua matanya. Ia melempar bantal yang tadi ada di bawah kepalanya sampai ke ujung kaki. Sementara kepalanya menyusup ke pangkuan Firli dengan manja. "Kamu ketiduran," ucapnya malas.
Firli ingat, ia dipeluk Andrean hingga khilaf dan ketiduran. Pelukan yang rasanya seperti mengeloni sehingga Firli nyaman dan tertidur lelap. Firli mengangguk-angguk kemudian ia teringat pada jam alarm di atas nakas. Tiada simbol lonceng di layarnya tanda alarm tidak di set semalam dan waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
⭐⭐NEXT⭐⭐
Keduanya melewatkan waktu sarapan. Bukannya hanya beberapa menit, Firli bahkan terlambat hingga stau jam pelajaran karena harus menyediakan air panas untuk Andrean juga seragamnya. Tentu saja itu ia lakukan karena Andrean sering membawa embel-embel tugas seorang istri. Tahu begitu Firli menyesal terus-terusan mengeluh karena Andrean tak pernah pulang. Lebih baik ia di London saja agar Firli bisa menghabiskan waktu hanya untuk dirinya sendiri lagi.
Bagian yang paling ribet tentu saja saat Firli harus menyuapi Andrean ketika di dalam mobil. Jika alasannya karena Andrean sedang menyetir mungkin tak masalah. Padahal Pak Bram yang membawa mobil sementara keduanya tinggal duduk manis di jok belakang, tetap saja pria ini minta disuapi roti, Firli menurut saja mengingat betapa galaknya laki-laki ini jika sudah marah.
Akhirnya mobil yang ditumpangi Firli berlabuh juga di depan tera gedung sekolah. Firli lekas membuka pintu kemudian menurunkan satu persatu kakinya ke aspal jalan sekolah lalu menaiki satu-persatu tangga teras. Andrean tiba-tiba muncul dari belakang memegang tangannya erat lalu menuntunnya masuk ke dalam gedung. "Biar Rean antar kamu sampai kelas," tawarnya begitu manis. Hanya karena satu ucapan Firli sampai lupa dengan kejengkelan apa yang Andrean perbuat sejak tadi pagi. Laki-laki itu tiba-tiba membuka tas Firli seraya mereka berjalan. Firli sempat menatapnya heran, kemudian ia diam saja melihat Andrean mengambil kotak makan dari sana. Mungkin dia masih lapar pikir Firli sambil terus berjalan di koridor sekolah menuju gedung selatan yang berhadapan langsung dengan gedung utama.
Andrean mengeluarkan selembar roti yang sudah diberi selai coklat dari dalam kotak, kemudian mendekatkannya ke mulut Firli. "Makan, kamu belum sarapan," ucapnya membuat Firli kaget. Ia sempat terdiam sambil menatap Andrean, tak ia sangka Andrean sadar jika Firli belum sarapan akibat harus menyuapinya. Firli menggigit roti itu di salah satu ujungnya. Begitu roti itu habis dikunyah oleh istrinya, Andrean mendekatkan sisa roti ke mulut Firli dan terus hingga habis. Tepat ketika mereka hampir tiba di kelas Firli, roti itu habis.
"Kelas aku di sini!" tunjuk Firli pada pintu kelas yang sebenarnya sudah di tutup. Andrean menepuk-nepuk tangannya yang masih ditempeli remahan roti. Ia tutup kotak bekal kemudian ia masukan kembali ke dalam tas Firli. Tadinya Firli akan menghadapi sendiri amukan gurunya tapi Andrean keburu mengetuk pintu tiga kali dan membukanya. Ada Bu Dewi tengah mengajar bahasa daerah.
"Maaf bu, ini Firli terlambat karena mobilnya mogok tadi," dusta Andrean. Jika itu Firli yang katakan, Bu Dewi pasti akan terus mengomel mengingat dulu Firli sempat terlambat dan tetap mendapat omelan serta hukuman. Tak tahu karena Andrean yang bicara, guru itu hanya tersenyum dan dengan mudah mengatakan tidak apa-apa kemudian meminta Firli masuk. Tak tahu laki-laki ini sebenarnya punya sihir apa, yang jelas melihatnya membuat seisi kelas histeris hingga menunjuk-nunjuk ke arahnya.
Firli hendak masuk ke dalam kelas jika saja Andrean tidak memegang tangannya dan menahannya tetap di sana. "Salam dulu!" titahnya sambil mengasongkan tangan.
Firli menatap tangan Andrean kemudian wajahnya. Dia agak ragu apalagi semua orang di dalam kelas melihat adegan itu, sungguh membuatnya malu. Memangnya ini novel tentang membangun keluarga harmonis? Andrean menggerak-gerakan tangannya. Akhirnya Firli meraih tangan itu kemudian mencium punggung tangannya. Wangi, pikir Firli ketika harum tangan Rean masuk ke hidungnya kemudian Firli melepaskan tangan itu. Ia bisa melihat senyum puas Andrean yang mengerjainya. Laki-laki itu mengelus rambut Firli dengan gemas kemudian berjalan pergi meninggalkan Firli di sana yang bingung bagaimana menjelaskan adegan tersebut pada orang-orang yang melihatnya.