
"Hari ini ... hari ini kamu kelihatan lain?" tanya Rai pada Gladis. Sejak tadi sore mereka jalan berdua ke mall, Gladis terlihat tidak senang. Ia menjadi lebih sering marah-marah. Bahkan jarang bicara pada Rai. Rain sendiri heran, karena ia merasa tidak berbuat salah apa pun pada gadis itu. Justru Rain lebih sering memaklumi peringai Gladis selama ini. Meskipun ia sering mendengar rumor tentang perilaku Gladis yang tidak baik, Rai mencoba untuk tidak mempercayainya.
"Aku baik-baik saja. Sepertinya kamu saja yang berlebihan," ucap gladis dengan nada sinis. Rai menggelengkan kepala. "Aku dengar aku bertengkar dengan tuan muda Freiz? Bagaimana bisa kamu begitu ceroboh!"
Kedua alis Rai terangkat. Sepertinya kabar itu telah merebak hingga seantero sekolah. "Aku akan meminta maaf padanya nanti. Lagipula itu hanya salah paham," jelas Rai.
Gladis mendengus. "Walau salah paham kau harusnya tahu siapa orang yang kau lawan!" Protes Gladis. Rai menghela nafas lalu membuangnya dengan berat. "Bagaimana sebagai ucapan rasa bersalah mengajaknya untuk kencan ganda?" ide Gladis.
Rai menggeleng. " Bukankah itu memalukan. Orang seperti dia pasti pilih-pilih untuk bergaul. Mereka tidak mudah dekat dengan orang seperti kita," tolak Rai.
"Bukannya kau dekat dengan Firli?" tanya Gladis.
"Jangan melibatkan dia! Bahkan sampai sekarang aku kaget mendengar nya sebagai menantu di keluarga itu. Dia terlalu baik, kenapa harus terjebak dengan pernikahan paksa di usia semuda itu?" komentar Rai.
Gladis menatap Rai heran. "Bukannya Andrean yang terpaksa menikahi Firli? Banyak wanita yang mengejarnya, kenapa dia harus menikah dengan gadis jelek itu?" ledek Gladis.
Rai menatap Gladis dengan kesal. "Kau tahu dia adikku, kan? Kenapa kau menjelekkannya seperti itu? Aku pikir hubungan kalian sudah membaik?" tanya Rai heran.
Lekas Gladis meralat ucapannya. "Maaf aku salah. Aku hanya keceplosan tadi," Gladis berkilah.
Rai memalingkan wajah ke sisi lain. Saat itu mereka bersiap memasuki sebuan cafe yang menjual roti rasa kopi dengan lelehan butter di dalamnya. "Jangan marah aku kan tidak sengaja!" rayu Gladis sambil melingkarkan lengannya di sikut Rai. Barulah emosi pria itu sedikit menurun. "Karena itu, kita adakan kencan ganda agar aku dan Firli semakin dekat. Pasti asyik!" ajak Gladis lagi tidak mau menyerah.
Rai mengangguk, membuat gadis itu tersenyum senang. " aku akan menghubungi Firli dan menentukan tanggalnya. Kamu memang pacar kesayanganku," goda Gladis lagi. Rai tersenyum lalu mencubit gemas pipi gadis itu.
"Ayo! Katanya kamu mau beli roti," ajak Rai. Pria itu masuk ke dalam antrean sementara Gladis berdiri di sampingnya sambil melingkarkan lengan di dada.
"Aku mau satu saja," ucap Gladis. Rai mengangguk.
"Kenapa kamu tidak mencari meja saja? Biar aku yang antre," saran Rai. Gladis mengangguk lalu mencari meja kosong yang dekat dengan kasir.
Sambil berjalan ia terus menggerutu. Jika aku menjadi istri Andrean tentu aku tidak perlu mencari meja sendiri seperti ini!" keluhnya. Gladis menantap Rai. "Aku pikir hanya dia pria terkaya di sekolah! Jika aku tahu ada yang lebih tampan dan kaya akan lebih baik aku mengejar pria itu saja."
Gladis duduk di kuris yang ia pilih. Ia membuka ponsel dan melihat foto Andrean di sana. Pria kulit putih dengan mata coklat dan rahang yang tegas itu menarik perhatiannya setelah foto pria itu tersebar di web khusus murid sekolah.
Sejak awal Gladis memang tertarik begitu melihat wajah Andrean. Namun Ia tidak menyangka jika pria itu adalah suami Firli. Hal itu justru membuat Gladis kesal Bagaimana bisa seorang gadis biasa seperti itu melebihi dirinya di sekolah? Firly mendadak merasa menjadi seorang Ratu. Ia bahkan mulai berani bersikap tidak patuh pada Gladis.
Rai akhirnya kembali membawa sebuah nampan ditangan yang di atasnya ada beberapa roti. RaiĀ menyimpan makanan itu di atas meja yang sudah dipilih Gladis. "Kenapa memilih meja ini?" tanya Rai karena masih ada meja lain yang letaknya lebih enak dan nyaman.
"Jika kau tidak ingin pergi denganku tidak usah memaksakan diri," sindir Rai halus sambil menarik gelas soda ke sisinya. Gladis mendengus mendengar perkataan pria itu barusan.
Bukannya menimpali, Gladis justru lebih memilih menyimpan cermin sakunya lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia memeriksa pesan yang masuk dan menjawab pesan yang dianggap penting baginya.
"Ibuku bertanya tentang kelanjutan hubungan kita," ucap Rai membuka obrolan di antara mereka berdua setelah terjadi jeda beberapa menit.
Gladis hanya mengangkat sebelah alisnya. "Maksudnya tentang pertunangan kita," Rai memberi penegasan.
"Kau bercanda! Kita masih SMA masih butuh waktu lama untuk itu," nada suara Gladis terdengar seolah tidak senang.
"Bukankah selama ini aku sangat senang setiap kali ibuku membahas itu?" timpal Rai.
Benarkan perasaannya selama ini, Gladis benar-benar sudah berubah bahkan hari ini begitu kentara. Tanpa sadar Rai mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia mengungkapkan amarah yang ada dalam dada, tapi takut jika Gladis meninggalkannya. Rai tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja. Gadis ini cinta pertamanya juga kekasih pertama. Kenapa mereka harus bertengkar hanya karena perasaan yang tidak jelas arahnya.
"Selama ini memang kau tidak pernah tahu tentang hubungan Firli dan Andrean?" tanya Gladis tiba-tiba.
Rai menatap gadis itu tajam. "Kenapa kita harus membahas ini? Yang terpenting sekarang bagaimana hubungan kita berdua," tekan Rai.
"Jalani saja seperti biasanya, kau ini kenapa sih?" Gladis terdengar mulai terganggu.
"Kau bersikap dingin padaku beberapa hari ini," ungkap Rai.
"Aku kan sudah bilang itu hanya perasaanmu saja. Kenapa kau sangat berlebihan!" lagi-lagi Gladis berkilah.
Rai memutar kedua bola matanya. "Terserah kau, aku sendiri bingung menghadapi beberapa hari ini," ucap Rai dingin.
Pria itu kembali menyantap roti yang berada di atas piring di depannya. Ia tadi ingin membahas tentang ini terlalu lama. Lagipula sepertinya kekasihnya itu tidak berniat untuk memperbaiki keadaan. Jika seperti ini mendadak membuat Rai ingat pada Firli. Gadis itu begitu lucu, sederhana dan menyenangkan. Lain dengan Gladis yang begitu rumit dan terlalu kaku.
Sama seperti pacarnya, Rai juga lebih memilih mengambil ponsel di sakunya. Ia membuka kunci layar ponsel itu. Lalu mengetik beberapa pesan untuk sahabatnya.
Kamu di rumah, Fir?
Pesan itu ya Kirim ke ponsel milik Firli. Rai menunggu saat-saat Gadis itu membalas pesannya. Namun ia kecewa karena hingga beberapa menit pesan itu tidak dibalas. Rai mematikan layar ponselnya lalu kembali menikmati roti yang baru ya makan seperempatnya. Percuma, dia telah meninggalkan bagian paling berharga dalam hidupnya untuk seseorang yang kini memberikannya kekecewaan.