
"Aku tidak mau pulang," keluh Firli. Kali ini bukam Ghea yang ia mintai tolong. Briana menjadi korban Firli. "Kamu pasti butuh teman berbagi cerita, 'kan?" pancing Firli.
Briana menggeleng. "Suamimu juga butuh teman. Aku hanya kehilangan kekasih, tapi dia kehilangan kakak yang darah dan dagingnya sama," jelas Briana sambil menepuk pundak Firli.
Briana bangkit mengambil tasnya dan pergi ke luar. Firli mengikuti dari belakang. Ia mengendap takut Andrean sudah menunggu. "Lagi pula, aku menginap di rumah sakit. Papaku akan cuci darah jadi ia harus dirawat sementara waktu," jelas Briana.
Itu artinya ia benar-benar tidak ada tempat untuk kabur. Saat seperti ini tidak tahu kenapa ia mendadak ingin punya orangtua.
Saat menuruni tangga ke lantai bawah, Firli dikagetkan dengan sosok Andrean yang sudah bersiap menaiki tangga. Gadis itu kontan berbalik dan kembali naik. "Fir, mau kemana?" tanya Briana heran melihat Firli tiba-tiba meninggalkannya.
Mendengar suara Briana, Andrean mendongak. Ia sempat melihat Firli kembali ke lantai atas. Bergegas Andrean menyusulnya. Ia sudah cukup kesal karena seharian ini tidak melihat Firli sama sekali. Bahkan ditelpon pun tidak diangkat.
"Hei, Lady!" panggil Andrean sambil berlari. Namun bukannya berbalik, Firli malah ikutan berlari menjauh. Walau pendek larinya cukup kencang. Rean sendiri cukup kewalahan mengejarnya. Gadis itu juga nekat naik ke lantai tiga, melewati murid-murid yang berjalan berlainan arah dengannya lalu masuk ke salah satu kelas kosong dan bersembunyi di bawah meja paling belakang.
Firli menepuk jidatnya. "Memang apa yang terjadi sampai aku semalu ini?" tanya Firli pada dirinya sendiri hingga wajahnya memerah. Tak tahu mengapa. Jangankan melihat Andrean, mendengar suaranya saja rasanya darah Firli bergejolak dan jantung memacu lebih kencang. Panasnya sampai ke ubun-ubun dan mengucek isi perut.
"Firli!" Terdengar suara Andrean membahana sepanjag koridor gedung sayap kanan di lantai tiga. Firli menarik napas panjang. Ia bersandar pada kaki meja sambil memeluk lututnya.
Andrean masih kebingungan. Di depannya jalan sudah buntu dan Firli belum ia temukan. "Dia pasti sembunyi," pikir Andrean. Pria itu berbalik. Ia menemukan satu kejanggalan. Semua ruang kelas tertutup dan hanya satu yang terbuka. Hati-hati dengan langkah yang dibuat agar tidak bersuara, Andrean masuk dan memeriksa isi ruangan.
"Tidak ada orang," batinnya. Andrean menunduk, ia mencoba melihat bagian bawah meja kemudian tersenyum puas melihat sosok dengan blazer hitam dan rok ruffles hitam sedang tersudut di meja paling kanan belakang.
Ia yakin itu Firli. Rean berjalan pelan dan begitu tiba di meja tersebut, Andrean mengusap rambut Firli yang masih menyembunyikan wajah diantara lipatan tangannya di atas lutut.
Sementara itu Firli tertegun. Ia menelan ludah dan merasakan jatungnya berdebar lebih keras. Firli tidak mampu mengangkat wajahnya. Ia tidak sanggup melihat wajah Rean. "Aku salah apa sampai kamu menghidariku seperti ini?" tanya Andrean. Ia menggeser kursi yang menghalanginya lalu duduk di samping Firli.
Istrinya hanya menggeleng. "Andrean tidak salah apa-apa. Hatiku saja yang aneh," pikir Firli.
"Kau marah karena apa yang aku lakukan semalam?" tanya Andrean. Ia berusaha untuk peka dengan keadaan. Ia sudah berjanji akan menahan malam pertama setelah kelulusan. Namun tadi malam ia malah lupa dengan janjinya.
Firli menggeleng lagi. Namun Andrean tidak percaya begitu mudah. Ia tetap berpikir jika Firli keberatan. "Jika kau tidak ingin mengulanginya, tidak masalah. Itu yang terakhir ...," kalimat Andrean belum selesai.
"Aku mau lagi," ucap Firli sambil mengangkat wajahnya menatap Andrean. Setelah mengucapkan hal itu, dia kaget sendiri. Firli menunduk malu, kali ini dia langsung mencoba kabur lagi. Namun baru akan bangun, kepalanya terbentur meja. Firli menyeringis.
"Hati-hati, sayang," ucap Andrean sambil mengusap kepala Firli pelan. Seakan tidak kapok, lagi-lagi Firli mencoba kabur. Sayang, Andrean keburu menarik tangannya dan membawa Firli ke pangkuan.
"Wajahmu kenapa?" tanya Andrean. Ia kaget melihat pipi Firli yang putih berubah merah.
"Aku malu," ucap Firli sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Andrean.
"Karena?"
"Karena tidak pakai baju di depan kamu dan ... itu," jawab Firli terbata-bata. Andrean tertawa mendengarnya.
"Sering?" batin Firli. Ia tak bisa membayangkan bagaimana bisa ia sering melakukan hal seperti itu dengan Andrean.
Andrean menyandarkan kepalanya di kepala Firli. "Kau baik-baik saja? Aku takut kau terluka," ucap Andrean.
Firli mendongak. Ia mulai berani lagi menatap wajah Andrean. "Ada apa?" tanya Firli heran.
"Tadi pagi aku temukan noda darah di atas tempat tidur dan itu bukan dari tubuhku," jawab Andrean.
"Sedikit sakit sih, di sini!" Firli menunjuk arean sensitifnya. "Hanya sedikit, tapi tidak masalah. Buktinya aku bisa berlari," jawab Firli. Ia memang agak sedikit kesulitan saat berjalan tapi bukan hal yang besar. Hanya terasa ada yang mengganjal saja.
"Kita ke dokter mau?" tanya Andrean.
Firli menggeleng. "Tidak, aku tidak mau memberitahu siapa-siapa tentang itu. Aku malu!" protes Firli.
"Aku hanya ingin memastikan asal darah itu. Aku benar-benar takut kamu terluka."
Firli menggaruk kepalanya walau tidak gatal sama sekali. "Pulang saja aku bisa ...," kalimat Firli terpotong karena telpon masuk ke ponsel Andrean.
"Bunda," ucap Andrean melihat layar ponselnya. Ia angkat telpon itu dan menekan tombol speakernya.
"Rean? Apa kamu terluka atau Firli?" tanya Anita langsung menodong.
"Tidak, Bun. Memang kenapa?" tanya Andrean.
"Pelayan bilang di sepraimu ada darah. Kalau kamu dan Firli tidak terluka lalu itu dari mana. Mana mungkin ...." Anita terdiam sejenak. Ia mencoba menelaah kemungkinan yang pas. "Kalian berhubungan?" todong Anita membuat Andrean dan Firli sama-sama menunduk malu.
"Bagaimana bisa Bunda berpikir seperti itu?" tanya Andrean.
Anita menggeleng. "Bunda tidak melarang kalian melakukannya. Hanya saja kalian bilang pada Bunda dulu. Kalau tidak hati-hati Firli bisa hamil. Kamu pikir mudah sementara ia harus ujian masuk kampus nanti?" nasehat Anita.
Andrean manyun. "Memang bisa langsung hamil hanya karena sekali saja?" Andrean terdengar meremehkan.
Firli masih mendengarkan secara seksama. "Bisa saja, darah itu buktinya. Kamu sudah sampai ke dalam rahim itu!" omel Anita.
Firli menepuk jidat. "Cepat pulang, biar Ayahmu ajari kamu cara yang aman. Bunda juga akan ajari Firli," titah Anita. Andrean mengangguk. Tidak lama Anita menutup ponselnya.
Firli mayun dengan wajah sedih. "Firli tidak mau, memalukan!" protes Firli.
Andrean nyengir kuda. "Memang kamu ingin hamil sekarang-sekarang?" tanya Andrean nakal. Firli menggeleng. Ia ingin lulus SMA dan kuliah dulu.
Kalau ada kekurangan tentang novel ini, toling tulis di kolom komentar, ya? 🙏