Highschool Wife

Highschool Wife
komplikasi



"Apa?" tanya Briana begitu ia tiba di salah satu restoran yang tidak jauh dari rumahnya. Rai mengangkat wajah menatap gadis yang sejak tadi ia tunggu. Sedang Briana masih berkacak pinggang sambil membelalakan mata.


"Lama sekali kamu!" protes Rai. Ia hampir merasa muak karena terlalu banyak meneguk minuman agar bisa bertahan menunggu Briana tanpa diusir pegawai restoran.


Briana memalingkan wajah. "Aku sibuk," ucapnya ketus. Rai menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk di sana!" tekan Rai. Briana menurut saja meski wajahnya pura-pura memperlihatkan mimik malas.


"Bahkan kuliah belum dimulai dan sudah sok sibuk. Teman tidak punya, bekerja tidak, lalu apa yang kau lakukan hingga terlambat memenuhi janji?" Rai menginterogasi Briana.


"Memang kita janjian?" Briana mencoba meluruskan kalimat Rai. Pria itu mengangkat dan menurunkan alis beberapa kali. "Aku tidak setuju dengan pertemuan ini, lalu kenapa kau menungguku?" serang Briana.


"Lalu kenapa akhirnya kau datang?" Rai balas melancarkan senjata. Briana meneguk ludahnya karena kalah dalam perdebatan. "Kau ingin makan apa?" tawar Rai setelah keadaan mulai mendingin.


Briana mendengus. "Untuk apa bertanya? Kau ingin menunjukkan padaku kalau kau calon kekasih terbaik?" lagi-lagi Briana menyerang Rai.


Pria itu menggeleng. Ia merasa isi pikiran Briana masih bermasalah. "Memang di dunia ini hanya kekasih yang ditawari makan? Lalu apa gunanya teman, rekan, keluarga, kenalan? Apa setiap mereka aku tawari makan otomatis menjadikan mereka kekasihku?" tepis Rai.


"Jangan banyak tingkah, katakan kau ingin makan apa?" tegas Rai.


Briana mengambil inisiatif memanggil pelayan sendiri dan memesan sendiri. Setelah pelayan mencatat pesanan lalu pergi, Briana menyandarkan punggung di sandara kursi. "Apa hanya kita berdua?" tanya Briana.


Rai mengangguk. "Yang lain sibuk. Lagipula hanya kau yang dekat dengan Firli," jawab Rai.


Briana mulai merasa kecewa. Ia pikir alasan Rai mengundang dirinya hanya untuk berduaan. Alhasil setlaj mendapat telpon Rai, Briana langsung pergi mandi, memilih pakaian hingga berdandan. "Bahkan ia tidak memuji kecantikanku saat ini," keluh Briana dalam hati.


Awal ia kaguk dengan pria ini adalah sikapnya yang sangat peduli dan lebih dari itu, Rai satu-satunya pria yang tidak terpaku akan kecantikan Briana. Namun lama kelamaan sikap cuek Rai akan keindahan yang Briana miliki membuat Briana kesal. Ia merasa seperti gadis bodoh yang mengejar semut dengan menggunakan sehelai benang.


"Kau tahu Firli sedang hamil, kan?" tanya Rai. Briana mengangguk. Ia sangat senang mendengar kabar itu meski akhirnya sedih karena Firli harus hidup terpisah dari Andrean.


"Sekarang ia pasti kesulitan karena Andrean pergi. Karena itu kau harus bertanggung jawab," tekan Rai. Briana sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud pria itu. "Firli itu seperti adikku. Penderitaan dia juga bisa aku rasakan," tutur Rai.


Briana tahu itu, Firli sempat memperlihatkan wajah adik Rai yang mirip dengan Firli. Sehingga pria itu seperti menemukam sosok adiknya hidup kembali dalam diri Firli.


"Aku tahu alasan mengapa ia dan Andrean menikah semuda itu untuk menggantikanmu dengan Andrevan. Jika saja itu tidak terjadi, mungkin ia tidak akan mengalami hal ini," keluh Rai.


Briana mengerucutkan bibirnya. "Memang Firli dinikahkan dengan mafia, ketua OSIS dengan sikap buruk atau psikopat jatuh cinta? Halo, itu Andrean Petter pewaris Freiz finance, apa bagian terburuk dari kisah ini?" kilah Briana.


"Tapi ia harus hamil diusia muda tanpa suami di sampingnya," Rai mencoba menekankan bagian yang salah dari masalah ini.


Briana menggebrak meja. "Memang kau pikir aku ingin menikah muda? Saat itu pikiranku dan Revan ke sana karena kami sama-sama di ujung kematian. Kami tidak tahu apa bisa sampai ke usia menikah atau tidak. Memang kau pikir Revan ingin kembali koma? Kau pikir aku ingin ditinggal mati? Semua orang di dunia ini ingin kisahnya sempurna."


Rai menatap Briana dengan tajam. "Kau ini memang egois, pantas saja kai sulit punya teman," komentarnya.


Briana tertawa lalu mendengus. " Coba saja kau rasakan tinggal di kamar pasien bertahun-tahun. Dunia tempat kau tinggal hanya sebatas kamar dan halaman rumah sakit. Bahkan satu-satunya keinginan hanya ingin hidup."


"Tapi bukan artinya kau menyeret Firli dalam hal ini, kan?" Rai masih tegas pada anggapannya jika nasib Firli sekarang adalah efek dari menggantikan Briana.


Mendengar itu ada Rai mulai goyah. " Aku tahu mendengar bahwa Firli menggantikan posisiku seakan terlihat sepertinya aku ini orang yang jahat. Namun percaya atau tidak, Firli hidup lebih baik karena dalam lindungan Ayah dan Bunda. Satu lagi, ia akan menjadi seorang ibu. Tidak ada ibu yang menganggap anaknya bagian dari nasib buruk," tekan Briana.


Rai menunduk. Ia tahu, ia hanya khawatir dengan Firli. Apalagi seminggu Andrean pergi, Nana dan Elsa bercerita jika gadis itu sering menangis tanpa sebab. Rai mengerti, bagaimanapun Firli merasa kuat, ia tetap butuh sosok seorang suami.


"Apa kau tidak bisa memancing Andrean untuk kembali ke sini?" Nada bicara Rai mulai menurun. Briana juga ingin melakukan itu, tapi kepergian Andrean juga atas keinginan Firli.


"Ayah dan Bunda akan menjaganya dengan baik. Mereka sudah menjaga putra mereka yang sakit selama bertahun-tahun, mana mungkin mereka tidak bisa menjaga wanita hamil." Briana memberi Rai keyakinan. Mata Rai menatap Briana yang sedang mengawang melihat ke luar jendela. "Andrevan pernah bilang, cinta dia padaku tidak sebesar cinta Andrean pada Firli. Karena di saat ia takut kehilanganku, Andrean selalu berani melakukan banyak hal agar tidak kehilangan," ucap Briana lirih.


Ada jeda yang membuat keheningan di meja itu. "Kau masih mengingat pria itu?" tanya Rai. Ia bisa melihat mata Briana berkaca-kaca tatkala mengucap nama Andrevan.


"Hah?" tanya Briana kaget. Ia berpaling menatap Rai. Seketika pandangan mereka bertubrukan. Ada rasa hangat mencoba meringsek masuk ke dalam dada.


"Apa kau tidak berniat melupakan masalalu?" tanya Rai lagi. Briana meneguk ludahnya. Baru ia akan membuka mulut, mereka dikejutkan dengan suara dari ponsel Rai. Pria itu mengambil ponsel dari saku dan mengangkat telpon.


"Gladis?" tanya Rai membuat emosi Briana memuncak seketika. " Kamu yakin akam baik-baik saja. Maksudku, sebaiknya kau banyak berdoa," nasehat Rai.


Rai kemudian mengangguk-angguk mendengar suara Gladis seakan sedang didikte dengan banyak pernyataan. Briana memicingkan matanya. Ia mulai bergejolak.


Tidak lama Rai menuntup telpon dan menyimpan kembali ponsel dalam saku celana. "Nah, intinya aku ingin kau menjaga dan menghibur Firli. Jika ia ngidam, katakan padaku. Biar aku yang membelikannya," tegas Rai.


Briana lagi-lagi manyun. "Kau ini bertindak seperti kau suami Firli saja," komentar Rai.


"Sudahlah, aku akan pergi. Kau makan saja sendirian, aku yang bayar," ucap Rai sambil berdiri baru dua langkah, tangannya di tarik Briana. "Kau mau kemana?" tanya Briana.


"Aku janji akan mengantar Gladis pada ibu kandungnya. Ia sedang bersedih karena masalah keluarga," jawab Rai. Briana bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rai. Adegan selanjutnya membuat Rai mematung dan terkena serangan jantung, Briana meraih pipinya lalu mencium bibir Rai dengan paksa.


Bodohnya Rai hanya diam saja meski ia tahu kejadian itu bukan hanya tidak boleh terjadi dan terjadi di tempat keramaian. Bahkan pengunjung dan pelayan di restoran itu ikut kaget bersamaan dirinya.


Setelah cukup lama, Briana melepaskan bibirnya. "Bri?" tanya Rai syok.


"Lihat, apa kau masih ingin bertemu wanita itu?" goda Briana.


 😁😁😁


 


**yuhu iklan lagi!


Jangan lupa, ya? Baca The Idol And My Baby di wp : digi8saikai_nha.


**Dira, penyanyi terkenal yang banyak digilai wanita karena tampan dan bersuara emas. Namun Bia memiliki satu rahasia tentang Dira. Pria itu adalah ayah dari bayinya.


"The Idol And My Baby****"