
"Boleh mamah tahu? Diantara kalian, siapa yang membuat Mrs. Davne jatuh ke kolam?" tegur Firli sambil berkacak pinggang.
Sibuk dengan kuliahnya membuat Firli terpaksa meminta seorang pengasuh yang menjaga kedua buah hatinya. Ia sedang menyusun skripsi dan itu membuat pikirannya hanya tertuju pada masalah kuliah. Namun tidak ada satu pun pengasuh yang tahan dengan kedua putranya.
Rio dan Gio saling tunjuk. "Tentu kalian berdua saling bekerja sama. Rio yang berinisiatif dan Gio yang menyusun strategi, benar?" tebak Firli. Karena sudah seringnya, ia tahu benar bagaimana kedua pria kecilnya ini.
"Maaf, mamah," ucap keduanya menyesal sambil menunduk. "Tapi kita punya alasan. Mrs. Davne jahat," jelas mereka.
Firli menggeleng-geleng. Kedua anak ini sangat tidak suka diatur. Tak seorang pun yang memberikan kelas etiket sanggup mendidik mereka. Firli juga bingung kenapa putranya sangat nakal. Ia tahu, sejak mereka satu tahun, ia selalu sibuk kuliah. Hampir sedikit waktu yang ia habiskan dengan mereka. Bunda juga memberikan Firli perngertian jika anak-anak ini sedang mencari perhatian karena dulu Andrean juga melakukan hal yang sama.
"Mamah gak akan hukum kalian kali ini. Biar Papah saja. Hari ini Papah pulang dan kalian jelaskan sendiri padanya," tegas Firli.
Setiap kali bicara pada suaminya tentang kenakalan Rio dan Gio, Andrean selalu saja dengan santai mengatakan itu wajar karena mereka anak-anak dan usinya masih lima tahun. Mudah karena selama empat tahun lebih Andrean tinggal di Paris untuk kuliah. Ia hanya pulang di bulan liburan, itu juga hanya seminggu kemudian pergi lagi. Terhitung dalam setahun, Andrean pulang hanya dua kali.
Tentu anak-anak ini tidak lupa Papahnya pulang hari ini. Mereka berlari ke bawah dan memanggil Pak Bram. "Kakek Bram! Ayok jemput Papah!" seru keduanya. Pak Bram sudah siap di depan teras paviliun sejak beberapa jam lalu. Namun karena insiden Davne yang kedua anak ini dorong ke kolam, membuat rencana menjemput Andrean harus tertunda.
Firli mengikuti dari belakang. Ketiganya duduk di kursi paling belakang. Firli harus selalu mengawasi anak-anak ini. Kalo pun tidak membuat masalah, pasti mereka bertengkar.
"Papah sayang Rio, kan?" tekan Rio sambil melipat tangan di dada.
Gio manyun. Ia sama sekali tidak terima dengan apa yang dikatakan kakaknya. "Papah sayang aku tahu! Aku ini baik, kakak nakal!"
Dimulai saling rebutan siapa yang paling di sayang Papah, akhirnya mereka saling pukul. Firli yang duduk di tengah sampai kewalahan memisahkan mereka.
"Papah lebih sayang Mamah, tahu kenapa? Karena Mamah gak pernah bertengkar!" tekan Firli. Ia memegang erat tangan kedua putranya.
Sementara itu Andrean yang sudah menunggu di ruang tunggu bandara nampak kaget melihat Firli menuntun kedua anaknya dengan cara memegang bagian belakang kerah kedua anak itu. Andrean menggeleng. Sepertinya lima tahun menjadi ibu sama sekali tidak membuat Firli semakin membaik.
"Kenapa ini?" tanya Andrean. Biasanya kedua anak itu akan berlari memeluknya setiap menjemput di bandara. Namun hari ini mereka hanya menunduk takut.
"Apa lagi, hari ini mereka sukses buat aku kesal. Davne mereka dorong ke kolam dan di mobil, mereka adu mulut sampai pukul-pukulan," adu Firli.
Andrean menggeleng. Ia menunduk sambil membuka lengannya. "Gak ada yang mau peluk Papah?" tanya Andrean.
Melihat ekspresi Andrean yang tidak marah, kedua anak itu langsung memeluk Papah mereka. Andrean memeluk mereka bersamaan. "Kenapa bertengkar?" Lain dengan Firli yang marah ketika menginterogasi, Andrean justru bertanya dengan lembut.
"Kak Rio bilang, Papah lebih sayang dia." Gio manyun sambil menunduk kecewa. Rio nyengir kuda.
"Papah sekarang memeluk kalian berdua sama gak?" tanya Andrean. Rio dan Gio mengangguk. "Papah sayangnya juga sama. Tidak lebih sedikit untuk Rio ataupun Gio. Sama. Karena kalian sama-sama anak Papah," jelas Andrean. Kedua anak itu mengangguk.
"Sekarang saling maafan boleh?" pinta Andrean. Keduanya saling mengulurkan tangan.
"Tentang Mrs. Davne, apa yang membuat kalian marah?" tanya Andrean. Anak-anak tidak mungkin menjahili orang dewasa jika tanpa sebab.
Mendengar itu Firli murka. Dia menyesal karena memarahi anaknya. Tahu begitu ia biarkan saja. "Kenapa gak bilang mamah? Kalau tahu, biar mamah saja yang jambak dia!"
"Hush!" Andrean melepas pelukannya pada kedua putra kembarnya. Ia berdiri dan menatap Firli. "Kamu kenapa malah ngucapin hal buruk di depan anak kamu, sih? Lagipula Ayah dan Bunda orangtuaku, malah kamu yang murka."
"Itu sih, wanita-wanita muda yang kerja di rumah banyakan menghalu. Kalau gak kegatelan sama Ayah pasti sama kamu. Tahu gini nanti ambil pelayan yang sudah berumur saja."
"Biar aku bicara dengan Davne nanti." Andrean mengajak keluarganya pulang. Besok ada perayaan besar di rumah Briana. Karena itu Andrean lekas pulang. Syukur karena di Paris, tidak ada perayaan wisuda jadi begitu lulus dan ambil ijazah Andrean langsung pulang.
Rio dan Gio berjalan di depan saling berpegangan tangan. Jika sedang akur, mereka terlihat manis. "Kapan rencana lanjut S2?" tanya Firli.
Andrean menuntun Firli. "Suami baru pulang masa harus di suruh pergi lagi?"
Firli tertawa. Ia harus LDR dengan suaminya karena lagi-lagi tidak lulus di kampus luar negeri.
"Bagaimana skripsi kamu?" tanya Andrean?
"Kalau anak kamu yang dua itu tidak mengganggu harusnya minggu ini juga sudah beres."
Andrean mengecup kening Firli. "Pasti sulit mengasuh mereka sementara aku jauh?" tanya Andrean. Firli mengangguk. Rasanya Andrean lebih hebat dalam mengatur kedua anak itu.
"Selesai kamu wisuda, kita ke Harvard bersama. Anak-anak biar tahu rasanya Amerika," ajak Andrean. Firli melihat wajah suaminya dengan wajah senang. Ia tidak sabar menyelesaikan kuliahnya.
Gio dan Rio sudah duduk di kursi depan mobil dengan Pak Bram. Andrean menyapa supir pribadinya itu. Pak Bram nampak senang, Andrean tidak pernah berubah. Ia selalu saja ramah pada semua pegawainya.
"Papah, Tante cantik beosk nikah?" tanya Rio. Briana itu selalu menekankan pada kedua kembar itu untuk memanggilnya Tante Cantik.
Andrean mengangguk. "Iya kak, sama Oom Ganteng. Oom ganteng yang nolak Mamah," celetuk Gio.
Firli mencubit gemas pipi Gio dari belakang. "Ini gara-gara Briana. Malah sengaja bilang itu sama anak-anak. Habis sudah imageku!"
"Lagipula Briana gak salah!" celetuk Andrean. Ia mendapat pukulan maut dari istrinya. Pak Bram tertawa melihat perilaku keluarga kecil ini.
"Kalau Tante Cantik nikah, kita gagal ganti Mamah, donk!" keluh Rio.
"Apa? Sekali lagi bilang apa?" Firli mengeluarkan teguran keras. Kedua anak itu langsung menutup mata takut kena semprot ibunya lagi. "Abis Mamah galak!"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ini episode terakhir dari kisah utama Highschool Wife ya? Akan ada tiga extra part minggu depan.
Author akan fokus dulu di WP melanjutkan Kisah Bia dan Dira dengan balita mereka, Divan dalam novel "The Idol And My Baby"