
"Bunda kenapa menelpon?" tanya Andrean bingung. Bagian yang paling mengesalkan, Anita tidak mengangkat telpon ketika Andrean menelpon balik. Akhirnya Andrean semakin dirundung kekhawatiran dan menelpon Firli setelah tiba di rumah.
"Mungkin kangen," jawab Firli pendek. Andrean bisa melihat sisi tempat tidur yang dulu ia tempati di Indonesia. "Baru bangun tidur, sayang?" tanya Andrean. Firli mengangguk.
Syukur ia lekas pulang dari rumah sakit meski masih butuh pantauan dari dokter. Ia memohon pada Bunda agar tidak mengungkap apa yang terjadi siang itu pada Andrean.
"Jam berapa di sana, Pah?" tanya Firli. Andrean terkekeh. Tidak mendengar jawaban suaminya, Firli bertanya lagi. "Aku serius lho!"
"Kurangi 7 jam saja dr sana," jawab Andrean singkat. Ia mengambil sebuah camilan dari dalam tasnya. Ini rumput laut kering kesukaan Firli. "Cepat ke sini? Aku beli sepuluh," godanya sambil mengguncang-guncang bungku camilan di depan layar.
Firli menatap tajam. "Sepertinya di sana kamu harus lebih lama lagi sendiri," ucapnya berusaha sedatar mungkin agar Andrean tidak tahu jika ia sedang sedih.
"Kok?" tanya Andrean kaget. Padahal ia sudah membeli tiket pulang ke Bandung.
"Kata dokter aku cepat lelah karena mengandung dua bayi," jawab Firli. Andrean mengangguk. Meski perih dalam batin, ia harus lebih dewasa menerima keadaan.
"Kan sudah aku bilang, lebih baik aku temani kamu saja di Indo." Jika sudah begini rasanya dia gemas sendiri. Sejak awal sebelum pergi Andrean sudah bisa merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak beres.
"Apalagi anak kita dua, di dalam perut saja sudah kewalahan. Apalagi sudah keluar?" ledek Andrean mencairkan suasana.
Firli tertawa. "Mau beri nama apa bayi kembar kita?" tanyanya.
"Jenis kelaminnya sudah terlihat, ya?" tanyanya.
Firli mengangguk. "Ayah dan Bunda tidak akan rebutan. Satu laki-laki dan satu perempuan," jawab Firli bangga memberikan dua cucu sekaligus.
Mendengar itu tersirat kesedihan di hati Andrean. Ia iri melihat banyak orang berbagi foto bersama Firli selama tiga bulan ini. Sementara Andrean hanya cukup merasa puas melihat perkembangan bayinya melalui video dan foto saja. Ia juga ingin mengusap perut Firli dan mengantarnya memeriksa kandungan.
"Ada satu nama yang aku selalu pikirkan," ucap Andrean sambil mengawang. Firli tidak sabar mendengar apa yang akan Andrean katakan selanjutnya. "Andrevan dan Andrea namanya bagus, kan? Setidaknya ada pengganti Oomnya rumah. Dan nama Andrea tidak jauh beda dengan namaku," lanjut Rean.
Firli tertawa lagi. "Kenapa semuanya tentang kau? Apa tidak ada yang sedikit mirip dengan namaku? Dirli misalnya atau Fira atau Mili," protes Firli.
Andrean menggeleng. "Tunggu saja mereka lahir. Kalau lebih mirip denganku artinya aku pemilik hak patennya," tegas Andrean.
Tiba-tiba Andrean dikagetkan dengan bunyi telpon masuk. "Tunggu sayang, nanti aku ke sini lagi," pamit Andrean.
Firli menatap layar dimana wajah Andrean tidak ada lagi di sana. Ia merasa sedih. Meski sudah mencoba meyakinkan, melihat suaminya mengangkat telpon tidak di depannya membuat Firli takut. Ia menjadi paranoid.
Belum lagi kabar Helen juga kuliah di sana. Tidak lama Andrean kembali. "Telpon dari kampus," ucap Andrean meski tidak ditanya.
"Bukan dari Helen," pancing Firli.
"Papah malu sama anak-anak," kelakar Andrean.
Firli tertawa. "Nanti kalau anak-anak ditanya Papanya kemana, mereka jawab kalau Papanya puber lagi."
Mendengar itu Andrean geli sendiri. Sampai saat ini saja ia masih kaku pada ayah mertuanya akibat masalah "puber lagi".
"Kamu gak mau tanya kenapa kampus menelpon aku?" pancing Andrean.
Firli mengangkat alis. "Aku cuti pulang selama dua minggu," jawab Andrean.
"Masih ada Ayah," celetuk Firli membuat Andrean manyun.
"Ok, kalau begitu jangan salahkan jika kau rindu padaku," ancam Andrean sambil menoleh ke samping pura-pura menakuti Firli.
Firli menurunkan pandangannya. "Kalau begitu pulang, lah. Walau hanya sebentar," pinta Firli. Nada bicaranya tidak tahu mengapa begitu menusuk di batin Andrean.
Tidak lama mereka akhiri panggilan video itu. Andrean masih di sana, menatap layar tablet PC sambil sesekali menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Namun beban di hatinya masih belum juga berkurang.
"Aku tahu, hati kamu sakit. Jangan bohong padaku," ucap Andrean lirih.
Tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Andrean bangkit lalu membuka pintu. "Monsieur, ada tamu," ucap pelayan begitu daun pintu terbuka. Andrean mengangguk. Ia menuju ruang tamu diikuti pelayan di belakangnya.
Brussel, Ed, Tania dan Nichole terlihat duduk di sofa ruang tamu. Melihat kedatangan Andrean membuat mereka langsung tersenyum girang.
"Wow, rumahmu besar sekali. Pantas saja Helen mengejar-ngejarmu terus," puji Ed sambil melihat sekeliling rumah yang letaknya di tengah halaman luas dan tidak jauh dari peternakan. Begitulah Manchester. Kota ini masih memiliki lahan hijau yang luas.
Kekehan terdengar dari mulut Andrean. Pria itu duduk di single sofa. "Ternyata kalian cukup pengertian juga tidak membawa Helen ke sini," kelakar Andrean.
Tawa Ed terdengar renyah. Ia melirik Tania. "Ituloh, ada yang rindu padahal baru bertemu di kampus tadi siang," godanya. Tania tersipu malu. Ia layangkan tinju ke arah Ed.
"Mengarang saja, kau!" protes Tania. Ia langsung menatap Andrean lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku hanya menagih janjimu karena aku dengar kau akan kembali ke Indonesia beberapa minggu," jelas Tania.
Andrean mengangkat sebelah alisnya. "Janji?" tanyanya heran.
Tania mengangguk. "Kau bilang akan memasak rendang untuk kami," jawab Tania.
Andrean menepuk sekali tangannya. "Ouh, maaf aku lupa!" serunya. Ia mengingat sebentar apa bahan yang Anita kirim untuknya masih tersisa banyak. "Diamlah di sini, mengobrol dan bersantailah. Aku akan memasak dulu."
Andrean meninggalkan tamunya di ruang tamu. Tidak lama seorang pelayan membawakan camilan dan juga minuman. Tania masih melirik ke arah Andrean pergi.
"Dia memang calon suami idamanmu, ya?" goda Patricia. Tania merona. Sayangnya Andrean tidak pernah peka. "Kapan kau akan menyatakan perasaanmu?"
Tania menggeleng. "Aku masih takut pada Helen. Ia pasti akan marah jika aku dekat dengan Andrean," jawabnya.
Brussel meraih gelas jus dari meja tamu. "Kalian berdua cocok. Lagipula dibanding dengan Helen, dia lebih dekat denganmu. Positif saja."
Mendengar dukungan dari sahabatnya membuat Tania semakin bersemangat. Ia bangkit dan bertanya mengenai arah dapur pada pelayan yang tidak sengaja ia temui.
"Andrean?" panggil Tania begitu melihat Andrean sedang sibuk memotong daging dari depan pintu.
Andrean berbalik. Melihat Tania ia langsung tersenyum. "Biar aku bantu kamu," tawarnya.
😍😍😍
The Idol and My Baby di WP sudah ada delapan part, lho! Yuk baca!
Dira, penyanyi terkenal yang banyak digilai wanita karena tampan dan bersuara emas. Namun Bia memiliki satu rahasia tentang Dira. Pria itu adalah ayah dari bayinya.