
Firli hampir tak bisa menahan tangisnya karena Mrs. Charlotte. Disisi lain ia masih memendam amarah. Begitu Pak Bram menepikan mobil, Firli langsung membuka pintu dan membantingnya dengan kasar. Lagi-lagi ia berlari masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan sapaan dari beberapa pelayan. Firli juga menolak ketika salah seorang pelayan menawarkan diri untuk membawakan tasnya.
Satu persatu anak tangga yang memutar ia naiki menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Tangga cantik berwarna putih gading dan berlandaskan lantai marmer itu mengeluarkan suara akibat hentakan kaki Firli. Mrs. Charlotte menggeleng-geleng dari lobi paviliu melihat perilaku Firli yang semakin di luar kendali.
Firli membuka paksa kedua daun pintu kamarnya. Pintu dengan cat keemasan itu terbuka dengan sekali dorongan. Tadinya Firli ingin langsung mengunci pintu dan berbaring di kasur, nyatanya ia malah mendapat kejutan luar biasa. Sejenak tubuhnya seperti dipause melihat ratusan balon menghiasi langit-langit kamarnya. Puluhan boneka Teddy bear dari ukuran kecil hingga besar memenuhi tempat tidurnya. Firli dibuat takjub melihat pemandangan luar biasa ini.
Ayah Abellard berdiri tepat di samping ranjang king size dimana Firli tidur. Dia tersenyum menyambut menantunya yang baru tiba dari sekolah, namun baik alis maupun lengkungan bibirnya menjadi datar ketika melihat wajah menantunya basah oleh air mata.
"Ada apa, Nak?" dari jarak itupun Ayah bisa melihat mata Firli yang berkaca-kaca. Ia menghampiri Firli dan memeluknya. "Duduklah, kita bicara sebentar." Ayah menuntun Firli untuk duduk di sofa tamu merah di kamar Firli.
Mereka duduk bersebelahan. Ayah menepuk-nepuk pundak Firli agar gadis itu merasa baikan. Namun tangis Firli kembali lagi. Air mata kembali mengalir dari matanya.
"Yah, kenapa Firli gak bisa seperti anak lain? Kenapa Firli gak boleh main keluar rumah dengan teman? Firli juga mau nongkrong di cafe, belanja ke mall, ambil foto di tempat wisata sama teman-teman. Jangankan bisa begitu, ikut perjalanan wisata di sekolah saja Firli gak boleh," keluh Firli sambil menangis.
Ayah Abellard mengusap rambutnya lembut. Beberapa kali ia menghapus air mata Firli di pipi dengan tangannya. Namun air mata itu terus saja keluar hingga mata dan hidung Firli memerah.
"Ayah takut kamu celaka. Diluar sana banyak orang yang menjadikan kamu target penculikan. Ayah bukannya melarang kamu ikut karyawisata. Ayah sudah meminta pihak sekolah agar mengizinkan bodyguard kamu bisa ikut. Namun mereka keberatan. Kamu juga tentu tidak mau kan jalan-jalan dengan teman diikuti bodyguard? Kamu kan biasanya jalan-jalan dengan Bunda Anita atau Mrs. Charlotte," Ayah mencoba memberi Firli pengertian.
"Lain, Yah. Bunda sama Mrs. Charlotte kan gak seusia Firli. Firli iri melihat IG teman selalu update foto dengan teman lain di tempat baru. Hanya Firli yang gak bisa begitu."
Ayah Abellard menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Sebenarnya ia mengerti perasaan Firli. Namun lebih dari itu ia harus melindungi anak itu. "Firli tahu, bagi Ayah kamu dan Andrean itu sama?" tanya Ayah lembut.
Wajah Ayah yang terlihat tulus. Kedua tangannya memeluk Firli dan mengelus rambut panjang Firli yang sudah melebihi sikut. "Ayah selalu takut kamu diambil begitu saja dari Ayah. Ayah takut kamu sedih, kekurangan, menderita. Ayah ingin kamu merasa dilindungi. Ayah ingin Firli tahu jika Firli tidak sendiri. Kamu punya Ayah, Bunda dan Andrean," tambah Ayah.
Dalam pelukan Ayah Abellard sedikitnya perasaan Firli merasa tenang. Lain dengan Mrs. Charlotte yang selalu marah-marah, Ayah lebih sabar menghadapi Firli. Ayah mengerti betapa labilnya keadaan Firli. Bukan hanya karena kehilangan kedua orangtuanya diusia yang sangat muda, Firli juga harus menanggung statusnya yang sudah menikah.
Ayah melepas pelukannya. "Kamu tahu dulu Ayah dan Bunda menikah ketika usia berapa tahun?" tanya Ayah.
Firli mengusap air matanya. Ia mengedip-ngedipkan mata berusaha mencari jawabannya. "Dua puluh!" tebaknya.
Ayah tertawa. "Ayah menikah dengan Bunda ketika usia 12 tahun. Kamu beruntung sudah lebih dekat dengan Andrean sebelumnya. Ayah dan Bunda baru kenal. Setahun pernikahan kami hanya penuh dengan pertengkaran. Bukan pertengkaran rumah tangga, tapi pertengkaran anak kecil seperti rebutan remote televisi, makanan sampai siapa yang lebih dulu mandi," ceritanya memancing tawa Firli.
"Bagi Ayah, saat itu Bunda musuh utama. Ayah sering meledeknya tapi lama kelamaan Ayah sadar semakin sayang pada Bunda," tambahnya.
Firli nyengir kuda. "Sampai Ayah mukulin laki-laki yang ngasih bunda bunga?" tanya Firli. Mendengar menantunya tahu hal itu Ayah tersipu malu.
"Tahu darimana?" tanya Ayah sambil berbisik.
Firli tertawa. "Bunda cerita waktu Ayah ke Frankfurt. Waktu itu Firli nemenin Bunda di rumah besar," jawab Firli.
Selama tiga jam mereka mengobrol hingga sore berganti malam. Firli bercerita banyak, ia cerita tentang Ghea yang ditinggal pacarnya, Elsa yang credit card-nya diblokir hingga Nana yang ketahuan mamanya beli tiket konser artis Korea sampai puluhan hanya untuk mendukung artis kesayangannya itu.
Firli senang walau ada perasaan sesak yang masih menyiksa. Ia heran dengan kehidupannya. Mengapa ia bisa begitu nyaman dekat dengan Ayah Abellard dan Bunda Anita yang sebenarnya bukan orang tua kandungnya? Kenapa Ayah Abellard lebih takut kehilangan Firli sementara Bapak meninggalkan Firli begitu saja. Kadang Firli membayangkan jika Bapak dan Mamah yang ada di sana bersamanya.
"Sama Bunda gak?" tanpa Ayah dan Firli sadari rupanya sedari tadi Bunda memerhatikan mereka dari arah pintu. Firli dan Ayah tertawa kemudian Bunda menghampiri keduanya dan memberikan pelukan.
"Makasih Bunda," ucap Firli. Ia menerima kecupan di kedua sisi pipinya, dari Ayah dan Bunda.
⭐⭐⭐
Pukul sepuluh malam lampu di ruang keluarga rumah utama Freiz masih menyala. Ayah Abellard duduk di sofa utama dan Bunda berada di sampingnya. Keduanya duduk menghadap Mrs. Charlotte. Sengaja mereka memanggil Mrs. Charlotte semalam ini agar tak ada yang menguping pembicaraan, apalagi kalau sampai Firli tahu.
"Dia terlihat dekat dengan anak laki-laki itu. Saya memeriksa latar belakangnya, ia putra dari Tuan Abiyapta," jelas Mrs. Charlotte.
Pertemuan ini diadakan karena aduan Pak Bram tentang Firli yang bertengkar dengan Mrs. Charlotte selama perjalanan dari sekolah ke rumah. Ayah sebenarnya juga sudah sering menerima aduan dari para pelayan dengan sikap kelewat tegas Mrs. Charlotte pada Firli.
"Charlotte, Firli itu usianya baru enam belas tahun. Wajar jika ia mulai tertarik lawan jenis. Apalagi dari laporan beberapa orang kalau mereka hanya berteman. Tidak perlu kamu menanggapinya dengan seserius itu," nasehat Ayah.
"Tapi Monsieur, bagaimana jika sampai Monsieur Andrean tahu. Ia akan mengira saya tidak menjaga istrinya." Mrs. Charlotte mencari pembenaran.
Bunda dan Ayah tertawa kecil. "Andrean itu putraku. Aku tahu jelas wataknya seperti apa. Dia dan diriku tak jauh berbeda. Kami bukan orang kolot. Dulu waktu SMA, baik aku ataupun Anita pernah pacaran dengan orang lain. Namun lihat, hubungan kami baik-baik saja. Semakin dewasa baik Andrean maupun Firli akan mengerti sendiri dengan peran mereka dalam keluarga," jelas Ayah.
"Tugas kamu hanya melindungi dan mengajarinya supaya ketika ia dewasa, ia sudah siap menjadi seorang istri. Perlakukan Firli seperti anak perempuanmu. Dia hanya butuh kasih sayang. Hingga sekarang ia masih sering bangun ditengah malam memanggil ibunya," tambah Bunda.
Mrs. Charlotte termenung. Ia sadar apa yang ia lakukan salah. Ia mengingat pertama kali Firli dibawa ke paviliun sebagai menantu keluarga ini, anak itu sering menangis dan sakit. Jauh dalam hatinya Mrs. Charlotte sangat terluka melihatnya. Ia dan suaminya tak memiliki anak sehingga ketika Madame Anita memintanya menjaga Firli, ia sangat senang.
"Saya mengerti Monsieur, Madame. Hanya saja perasaan saya yang menyayanginya seperti darah daging saya sendiri membuat saya terlalu protektif."
Bunda Anita terdiam ia sedikit berpikir. "Mrs. apa kau tahu bagaimana perlakuan siswa di sekolah Firli padanya?" tanya Bunda. Ayah berpaling pada bunda. "Hanya saja ketika aku menyelimutinya, aku menemukan lebam di tangan Firli," ungkap Bunda.
Apa yang diucapkan Bunda tentu membuat kaget Mrs. Charlotte dan Ayah. Selama ini Mrs. Charlotte menganggap keadaan Firli baik-baik saja karena setiap dijemput ia selalu terlihat mengobrol dengan temannya.
"Saya akan mencari tahu tentang itu Madame. Hanya saja saya kesulitan mengawasi karena tidak memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan ketika hari sekolah," jelas Mrs. Charlotte.
Ayah menutup matanya beberapa kali. Tangannya memijat-mijat bagian sisi dahi. Ia curiga jika perilaku Firli yang sering tantrum belakangan disebabkan perlakuan siswa lain.
"Sementara kita lihat perkembangannya. Jika sampai terbukti ada perundungan terhadap Firli terpaksa Ayah ambil keputusan lain," tekan Ayah.
Madame menggenggam tangan Ayah. Matanya memberikan isyarat seakan mendesak Ayah menjelaskan apa yang ia maksud keputusan lain. Ayah balas menggenggam tangan Bunda. "Kita pulangkan Andrean ke sini atau mengirim Firli ke London."