Highschool Wife

Highschool Wife
Apa Yang Kita Bahas Waktu Itu



Firli ada di kamar mandi sore itu. Ia tidak tahu jika sedari tadi ponselnya berdering pesan yang dikirim oleh Rai. Justru seseorang yang tengah duduk di atas sofa merasa terganggu akibat suara ponsel yang berdering. Ia akhirnya bangkit dan meraih ponsel dengan lambang apel yang tergigit di belakang itu.


Dia adalah Andrean Petter Freiz, pria tampan yang menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah akibat ketampanannya yang cetar membahana. Garis matanya yang berbentuk almond dan lingkaran coklat di dalamnya membuat siapa pun tergoda untuk menatap. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia sudah memiliki rahang tegas juga sexy. Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit putih yang bersih juga balutan otot-otot di tulangnya yang lumayan kekar. Sayang, dia suami orang.


Andrean mendengus kesal melihat nama yang tertera dilayar ponsel. Cahaya matahari yang menyorot tepat ke pipinya, menambah kesan merah akibat kesal. Betapa beraninya pria itu mengirim pesan kepada istri tercintanya.


Firli memang tidak terlalu pintar sehingga mudah untuk menemukan pin ponselnya. Itu hanya 6 angka dari tanggal, bulan dan tahun kelahiran Andrean.


Karena kesal Andrean membalas pesan itu. Dia mencoba berpikir, pesan apa yang pantas dikirim pada pria menyebalkan itu, agar tidak lagi mengirim pesan kepada istrinya. Hingga akhirnya Andrean mulai menyusun kalimat.


Tolong jangan kirim pesan pada Firl lagi. Karena Firli merasa tidak enak pada Andrean.


Setelah itu ia hapus pesan dari Rai juga balasan pesan darinya. Syukurlah, ketika ponsel itu kembali diletakkan diatas meja dan Andrean sempat kembali ke sofa, akhirnya Firli baru keluar dari kamar mandi.


Gadis itu sama sekali tidak curiga dengan letak ponselnya yang berubah. Perempuan itu hanya mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu duduk samping suaminya.


"Sudah selesai mandi?" tanya Andrean.


"Masa Firli mengeringkan rambut begini baru selesai masak," sindir Firli. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran tangan sofa sementara telapak kakinya tepat di samping paha suamianya yang tengah duduk di sofa yang sama.


"Apa-apaan ini, tidak sopan!" Andrean menepis kaki Firli hingga gadis itu terjatuh dari sofa. Firli bangkit sambil mengelus bokongnya. "Kenapa kamu?" tanya Andrean kura-kura dalam perahu.


Firli melempar handuk di tangannya ke wajah Andrean. "Jahat banget sih, udah jelas aku terguling!" protes Firli. Andrean tertawa keras. "Kamu sejak tadi masih membaca buku itu?" tanya Firli.


Andrean mengangguk. "Mau ikut baca?" tawarnya.


Firli menggeleng sambil nyengir kuda. "Semua buku kamu buat efek migrain bahkan tidur pulas," tolaknya.


Andrean menggeleng-geleng. "Tahu apa yang menarik dari buku ini? Ini bukan hanya buku tentang hubungan antara manusia dengan manusia lainnya tetapi juga memiliki penjabaran tentang sebuah pertukaran stimultan antara manusia sehingga menjadi sebuah transaksi yang dinyatakan sebagai unit Social intercouse. Akhirnya munculah sebuah teori bahwa manusia adalah makhluk bermain," jelas Andrean.


Firli menganggakan sebelah alisnya. Andrean sendiri mengerti jika apa yang ia ungkapkan tidak akan sampai seluruhnya di kepala istrinya. "Kamu baca makalah karya Sigmund Freud?" tanya Andrean. Firli mengangguk.


"Aku pikir belakangan ini kamu tertarik dengan buku-buku psikologi. Ternyata itu hanya tugas dari guru?"


Firli mengangguk. "Tapi sejak Firli ikut kelas dari guru BK, Firli jadi tertarik tentang masalah psikologis. Karena itu Firli juga senang membaca buku-buku berkaitan masalah psikologis," jawab Firli.


"Kalau begitu kamu harus baca buku ini, karena masalah apapun yang dihadapi manusia itu berawal dari hubungan manusia dengan manusia lainnya," saran Andrean.


"Kenapa kamu pikir begitu?" tanya Firli.


"Dan akhirnya juga mempengaruhi sikap kita kepada orang lain termasuk juga kejiwaan kita?" tebak Firli. Andrean mengangguk. "Wow, buku yang bagus!" puji Firli.


"Karena itulah buku ini dicetak dalam 10 bahasa dan terjual hingga jutaan eksemplar. Bahkan sampai sekarang masih terdapat di toko buku walaupun pertama kali terbit di tahun 1964," tambah Andrean. Ia bisa melihat binar di mata Firli.


Sebenarnya Firli itu adalah anak yang pintar, hanya saja cara belajarnya berbeda dengan kebanyakan siswa lain. Ia lebih senang berdiskusi dan membahas sesuatu dengan lawan bicara dibandingkan mendengar penjelasan hingga berjam-jam. Walaupun yang dibahas tentang hal yang sangat berat Firli mudah mengerti.


"Siapa penulisnya?" tanya Firli penasaran.


"Eric Berne, M.D," jawab Andrean.


Filri mengangguk-angguk kemudian ia tertegun. "Bukankah buku biru yang waktu itu kamu baca juga karya beliau?" tebak Firli yang dibalas anggukan suaminya.


"Kenapa kamu suka sekali membaca buku tentang psikologi?" tanya Firli.


"Sebagai pembisnis Bukankah tujuan kita mempengaruhi dan mengendalikan orang lain?" Andrean menepuk pelan pipi istrinya.


"Lalu hubungannya apa?" Firli tidak bisa mencerna. Bisnis tetap bisnis, apa hubungannya dengan masalah psikologis? Jika ada efeknya, seberapa jauh?


"Bisnis adalah hubungan sosial antara satu manusia dengan manusia lain, dan perusahaan dengan perusahaan lain. Ada manusia di dalamnya dengan berbeda pikiran dan perasaan. Bukankah akan lebih mudah menjalankan bisnis jika kita mampu menguasai jalan pikiran rekan-rekan bisnis kita? Dengan begitu kita akan lebih mudah mempengaruhinya," lanjut Andrean.


Firli mengangguk-angguk. "Wow, kamu ini memang putranya Ayah Abellard!" Firli bertepuk tangan.


"Tentu, donk! Putra ayah hanya ada satu. Jika aku tidak bisa diandalkan lalu pada siapa lagi? Kecuali jika ayah punya anak lagi atau punya cucu yang banyak," timpal Andrean.


"Karena itu belajar yang rajin, agar kamu bisa menjadi penerus keluarga ini!" nasehat Firli sambil menunjuk-nunjuk wajah Andrean.


"Kenapa hanya aku? Lalu tugas kamu sebagai menantunya apa?" Andrean tidak mau kalah.


"Melahirkan cucu-cucunya," celetuk Firli. Awalnya ia begitu polos menjawab seperti itu. Hingga ia menatap Andrean yang mengerutkan jidatnya, wajah Firli berubah malu. Gadis itu menarik handuknya yang disampirkan di sandara sofa lalu berlari ke atas kasur dan memeluk bantal dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya.


"Kapan kamu akan melahirkan cucu untuk ayahku?" tanya Andrean dengan nada meledek.


Ingin rasanya Firli kabur keluar rumah dan menyembunyikan diri di dalam gua. Namun Firli tak ingin habid diledeki Andrean begitu saja. "Sampai kau bisa menjadi ayah yang baik," jawab Firli.


Andrean menutup bukunya lalu ia simpan di atas meja. Andrean berdiri menatap Firli yang sudah terduduk di atas kasur. "Apanya yang tidak baik?" tanya Andrean.