Highschool Wife

Highschool Wife
Apa Yang Briana Pikirkan?



"Firli!" panggil Briana sambil mencolek punggung Firli. Ini sudah ke sekian kalinya Briana meminta Firli berbalik untuk meminta bantuan. Dimulai dari minta ditunjukkan keberadaan alat tulis, mencari penghapus, mencari penggaris, hingga menerjemahkan kata dalam bahasa Indonesia yang ia tidak mengerti.


Firli memutar bola matanya. Tidak ia sangka, duduk di kelas yang sama dengan Briana justru membuatnya sibuk sendiri. Banyak hal yang tidak bisa Briana lakukan sendiri. Benar kata Bunda jika Briana sangat tergantung pada orang lain. Bahkan ia tidak bisa memutar katrol serutannya.


"Kapan jam istirahat?" tanyanya sambil berbisik. Firli melihat jam tangannya. Hanya tinggal ... bel sudah berbunyi sebelum Firli menjawab pertanyaan Briana. Lain saat melihat wajah guru-guru, Briana justru terlihat senang mendengal bel istirahat. Jelas ia sangat tidak senang duduk di kursi terlalu lama.


Firli merapikan alat tulisnya ke kotak di dalam laci mejanya. Lain dengan Briana yang masih grasak-grusuk kebingungan menyimpan benda di atas mejanya.


Akhirnya Firli mengalah. Selesai beres-beres, ia bantu Briana membereskan meja. Setelah itu barulah mereka pergi keluar kelas. Firli kaget bukan main melihat Gladis sudah menunggunya di koridor depan kelas. Ia pasti ingin membuat perhitungan dengan Firli.


"Tanggung jawab!" bentak Gladis pada Firli hingga membuat orang-orang yang lewat di koridor itu menatap mereka heran.


"Untuk apa?" tanya Firli bingung.


"Gara-gara kamu aku putus dengan Rai!"


Firli berkacak pinggang. "Bukannya itu salah kamu sendiri. Jika kamu tidak kecentilan menggoda suami orang, mana mungkin Rai meninggalkanmu. Dia masih waras!"


"Dia siapa?" tanya Briana bingung. Baru saja Firli bermasalah dengan Bapaknya dan kini ada seorang perempuan yang melabrak gadis itu. "Kamu kenapa banyak sekali menghadapi orang?" tambah Briana.


"Jangan ikut campur!" bentak Gladis pada Briana. Merasa tidak terima dibentak seperti itu, Briana langsung maju menghadapi Gladis.


"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan sahabatku, tapi dari cara bicaramu kelihatan sekali mentalmu bermasalah!" Briana menoyor jidat Gladis.


Firli jadi bingung sendiri. Ini hari pertama Briana masuk sekolah, sebaiknya Firli harus menghentikan gadis itu membuat masalah. "Beraninya kau!" balas Gladis.


Firli menarik lengan Briana. "Bri, kita pergi saja," saran Firli.


Namun Briana tidak mudah mengalah begitu saja. Satu-satunya yang membuat orang menghormatinya adalah, ia tidak pernah mengalah begitu mudah jika benar. "Memang kau siapa sampai aku perlu takut?"


"Kau!" Gladis mendorong Briana. Syukur gadis itu tidak jatuh terjungkal. Briana meraih kerah kemeja Gladis dan siap menampar gadis itu.


"Hentikan!" Sebelum tangan Briana mendarat di pipi Gladis, seorang pria sudah menghadangnya. "Tolong jangan ikut campur, ini bukan masalahmu," larang pria itu.


"Rai, itu tadi ...." Firli gelagapan melihat Rai datang menengahi.


Briana menepis tangan Rai. "Hei, kalau ingin jadi pahlawan, main film Superman sana!" tegur Briana.


Rai mengangkat sebelah alisnya. Baru kali ini dia melihat perempuan yang bicara begitu ceplas-ceplos. "Aku bukan ingin jadi pahlawan. Masalah ini bukan hal yang pantas diselesaikan dengan pertengkaran," timpal Rai.


Briana menepuk pundak Rai. "Wanita ini, tiba-tiba membentak orang. Setelah itu main dorong. Dia memulai pertengkaran lebih dulu. Apa salahnya?"


"Dia memulai pertengkaran dengan Firli, bukan dengan kau. Jika ingin jadi pahlawan lebih baik main film Batman saja," Rai membalikkan ucapn Briana.


Wanita itu tertawa sambil berpaling ke arah samping lalu kembali menatap Rai. Gladis berlari ke belakang Rai memintan perlindungan. "Lihat, Rai! Dia aneh. Tolong aku."


Briana bertepuk tangan. "Wah, jadi kau menolongnya karena kalian pasangan sinetron?"


Rai melepaskan lengannya dari tangan Gladis. "Kami sudah putus," kilah Rai.


"Aku tidak bertanya." Briana mengangkat kedua bahunya.


Firli nyengir kuda. "Kenapa jadi mereka yang bertengkar," pikirnya.


Briana berkacak pinggang. Ia mendengus sambil menatap Rai dengan tajam. "Baiklah! Bawa Julietmu pergi dari sini sebelum aku menjadikannya zombie!" ancam Briana.


Ia memegang tangan Firli. "Ayo kita pergi juga!" ajak Briana. Firli menghembuskan napas lega. Akhirnya Briana menyerah juga.


Ia melangkah pergi bersama Firli. Sempat beberapa kali Firli berbalik menatap Rai yang memandang keduanya dari jauh. Gladis sempat beberapa kali mencoba menyentuh Rai tapi langsung ia tepis.


"Seumur hidup aku baru bertemu pria tampan tapi aneh!" celetuk Briana. Firli nyengir kuda.


***


Andrean tidak berhenti tertawa mendengar cerita Briana. Sementara gadis itu masih duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lihat! Aku ini cantik! Kenapa dia lebih memilih membela gadis itu!" omel Briana.


Sementara itu Firli, Ghea, Nana dan Elsa tidak berhenti menggeleng. Alasan Briana marah pada Rai benar-benar tidak masuk akal. Bukan karena Rai membela Gladis, tapi ....


"Dia bahkan tidak terpana akan kecantikanku!" celetuknya.


Misyel bahkan sampai kesulitan sendiri karena tidak sanggup menahan tawa. Ia akui, Briana memang cantik. Namun perkataan wanita itu membuat anggapan Misyel berubah 180 derajat.


"Aku benci wanita tidak sopan, tapi lebih benci pria tampan yang tidak peka," tekannya sambil menggebrak meja.


Firli mengusap punggung Briana. "Memangnya kalau dia terpana akan kecantikanmu, kau mau apa?" tanya Firli bingung.


Briana mengibaskan rambutnya. "Tidak akan apa-apa. Hanya saja jika ada dua wanita di sana, harusnya pria memilih membela wanita yang lebih cantik."


Ghea mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menenggelamkan Briana ke dasar samudera. "Memangnya kecantikan itu segalanya?" timpal Ghea.


Briana menggeleng. "Memang bukan, sih. Hanya saja aku tidak suka jika gadis tadi diperhatikan lebih dariku!"


Nana dan Elsa ber-oh. Baguslah! Akhirnya Gladis mendapat musuh utama di sekolah ini. Sementara itu Ghea masih bingung. "Sebenarnya Briana itu tokoh antagonis apa protagonis di cerita ini," pikirnya.


"Rai hanya tidak suka ada pertengkaran. Ia sudah biasa dibesarkan dalam keluarga yang lembut," jelas Firli. Briana berpaling pada Firli. "Lagi pula ia pernah mencintai Gladis dan mereka baru putus. Mungkin dia masih punya perasan pada Gladis."


Briana mengacungkan jari telunjuknya kemudian dia goyang-goyangkan. "No! Lihat posisi dia ketika dia datang. Dibandingkan menarik perempuan itu agar tidak terkena tamparanku, dia lebih memilih menghentikan tanganku dengan memeganggnya," tolak Briana.


"Lalu?" tanya Andrean bingung.


"Setelah itu, harusnya ia membawa wanita itu pergi. Seperti di drama. Menyeret wanita itu kemudian mengatakan, 'Jangan libatkan dirimu dalam bahaya, nanti kau terluka. Aku benci kau terluka!', seperti itu. Dia malah lebih memilih berdebat denganku."


"Memangnya kenapa?" tanya Andrean lagi.


"Dia pasti sengaja menarik perhatianku," timpal Briana sambil mengedipkan sebelah matanya.


Andrean sampai menepuk jidat mendengarnya. "Itulah yang aku tidak suka dari pria tampan lain. Mereka sering pura-pura menarik perhatianku dengan mengajakku berdebat. Tidak lama mereka mengajakku pacaran. Ah, itu sudah berkali-kali terjadi. Aku sudah tidak aneh. Lain dengan Revan, sejak pertama kali melihatku ia langsung menyatakan cinta."