Highschool Wife

Highschool Wife
Kesedihan yang hanya bisa kamu mengerti



Meski matahari bersinar sangat terang, tapi mendung menyelimuti hati keluarga Freiz. Anita masih memegang batu nisan putra pertamanya. Sementara Abellard berdiri mematung dengan tangan yang bergetar.


Seorang adik yang menyimpan harapan agar suatu hari nanti diberi kebebasan dari belenggu yang menahannya, kini hanya bisa tersenyum getir. Tiga hari ia menyiksa diri, memaksakan diri makan meski tidak ingin, tidur meski tidak lelap. Namun air matanya masih tidak bisa keluar. Rasa sakit ditenggorokan menyiksa karena sedih yang tidak tercurahkan.


Firli meraih tangan Andrean dan menggenggamnya. Pria itu tidak bergeming, meski tubuhnya ada di depan pusara kakaknya, tapi pikirannya pergi jauh. Andrean sedang berpetualang menyusuri lorong waktu. Ia mencoba menemukan sedikit kenangan tentang ia dan kakak yang jarang ia temui.


"Mau cokelat, Dek?" Teringat dalam benak saat Revan memberikannya sebatang cokelat. Andrean kecil menggeleng. Anak berusia empat tahun itu menatap kakaknya dengan kesal.


"Kamu tidak bisa menukar bunda dengan coklat. Aku tahu nanti kamu bawa bunda pergi lagi dan aku ditinggal," protes Andrean.


Revan tersenyum geli melihat wajah adiknya yang baru masuk TK cemberut hingga bibirnya dibuat manyun. "Kakak tidak bisa makan cokelat manis. Paman tadi yang berikan. Daripada tidak dimakan, kamu makanlah." Revan menenguk ludah. Ia sebenarnya tidak ikhlas. Namun dia tahu jika tubuhnya tak seperti anak berusia enam tahun lainnya. Sedikit saja ia salah makan, maka ia akan berakhir di ranjang rumah sakit lagi.


Rean mengintip ke arah cokelat yang diulurkan oleh kakaknya. Lama kelamaan ia tidak bisa menahan air liurnya yang terpikat pada benda hitam manis itu.


"Sini, biar aku makan." Rean mengambil cokelat itu dengan paksa. Keesokan harinya ia menyesal karena seperti kecurigaannya. Bunda dan Ayah pergi lagi bersama Revan. Emosi mengerubungi Andrean saat itu, hingga tanpa sadar ia berharap kakaknya menghilang.


Namun itu dulu, sekarang ia sudah cukup dewasa untuk bisa mengerti jika alasannya bukan karena sebatang cokelat. Lebih dari itu, ia tahu kakaknya lahir dengan ketidak beruntungan seperti dirinya. Semakin dewasa dan Rean semakin berubah, ia takut kehilangan kakaknya. Karena sampai itu terjadi, ia akan menyalahkan dirinya ketika kecil.


"Revan! Kamu janji akan menikah denganku! Revan! Bangun!" panggil Briana. Ia meremas tumpukan tanah yang menjadi penghalangnya untuk bersama calon suaminya.


Air mata Briana jatuh. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Andai jika bisa ditukar, ia lebih memilih pergi dan membiarkan Revan bertahan. Karena ditinggalkan rasanya jauh lebih sakit.


Tidak ada yang bisa menenangkan kepedihan Briana. Mata gadis itu menatap cincin di jemarinya. Angin meniup lembut rambut gadis itu hingga tersibak dan membuat mata basahnya terlihat. Orang lain mungkin bisa mengerti, tapi mereka tidak akan merasakan sakit yang sama seperti Briana. Yang hilang bukan hanya kekasihnya, cintanya, tapi juga mimpi dan harapan hidupnya.


"Hei, bawa aku pergi denganmu!" Teriak Briana lagi sambil menangis.


Bahkan meskipun Firli tidak mengenal kakak iparnya, ia bisa merasakan kepedihan karena orang-orang yang ia sayangi sedih. Seketika tawa di rumah keluarga Freiz hilang.


"Bun, ayok pulang. Biarkan Revan istirahat. Dia sudah tidak sakit lagi," ajak Abellard pada istrinya.


Anita menggeleng. "Aku yang salah, Yah. Harusnya aku sadar resiko melahirkan di usia muda. Harusnya aku dengarkan saran dokter untuk tidak meneruskan kehamilan. Dia tidak perlu menderita bertahun-tahun," keluh Anita.


Abellard menggeleng. Ia usap kepala istrinya dan mengecup pelan. "Mungkin bagi Bunda seperti itu. Namun bagi Ayah, meski singkat bertemu dengan dia jauh lebih berharga. Setidaknya aku sempat menjaganya, mengenalnya."


***


Selesai memasukan jas dan dasi Andrean ke keranjang cucian, Firli kembali menghampiri suaminya dan duduk di samping pria itu.


"Sini!" Firli membuka kedua lengannya lebar-lebar. Rean sempat menatapnya heran. "Sini menangis dipangkuanku," tegas Firli


Rean menggeleng. "Kenapa harus menangis. Memang aku Briana," tolak Andrean. Sayangnya gadis itu mengenal suaminya sejak kecil. Ia tarik lengan Andrean dan membawa pria itu dalam pelukan.


"Kamu ini ngapain?" protes Andrean. Ia masih menahan gejolak perasaannya. Namun setelah tiga tepukan halus di punggungnya oleh Firli, akhirnya Andrean tak kuat menahan. Tangisnya membadai dan air matanya mengalir deras seperti induk sungai.


Rean menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Firli. "Itu semua karena aku. Jika saja aku tidak pernah berdoa agar dia menghilang, ia pasti pulang dengan sehat."


Kamar itu hening, hanya terdengar suara tangis Andrean. Dari cahaya di luar jendela yang masih perkasa hingga mulai meredup, tangisan pria itu masih terdengar.


Firli mengusap punggung suami. Ia membisu mendengar suara sesegukan dari Andrean. Tangan Firli semakin erat memeluk Andrean dan bersamaan dengan itu, Andrean semakin menangis pijar.


"Bagaimana caranya mengembalikan kakakku? Aku tidak tahan melihat Bunda menangis," ucap Andrean lirih.


Firli mengecup kening suaminya. "Cukup jangan selalu menghindar dari orang tuamu. Sekarang kau satu-satunya hal paling berharga bagi mereka. Kakakmu pergi bukan karena keinginmu, itu sudah takdir yang Tuhan atur. Sekarang mungkin sakit, tapi semakin waktu berjalan ... semua akan semakin membaik," nasehat Firli.


Andrean berbaring di pangkuan istrinya. Ia raih tangan Firli dan menggenggamnya dengan erat. Tangan itu ia dekatkan ke pipinya. "Tolong aku, sakit sekali rasanya," adu Andrean.


Firli mengusap kepala Rean dengan lembut. "Tutup matamu," saran Firli. Andrean mengikuti arahan istrinya. Firli semakin lembut mengusap rambut suaminya hingga berkali-kali. Masih ada Revan dalam bayangan Andrean. Ia mengingat saat akhirnya Revan dibawa pulang dan peti matinya terbuka. Hati Rean tersayat melihat tubuh kakaknya yang semakin kurus. Ia hanya makan dari cairan infus dan menghirup udara dari tabung oksigen selama bertahun-tahun. Mungkin jauh dalam hatinya, meskipun kedua orang tua ingin dia sembuh, justru ia lebih memilih mengakhiri semua ini.


"Bahkan ia tidak pernah tahu rasanya memiliki teman selain Briana," ucap Andrean. Pria itu bangkit dan menatap wajah Firli. "Aku tidak bisa menjaganya sebagai kakakku, aku harap suatu hari ia lahir sebagai putraku."


Harapan Andrean tidak salah, ketika kehilangan orang yang kita sayangi, harapan paling diinginkan adalah bisa menjaganya kembali suatu hari nanti. Meskipun ia tidak akan pernah kembali, bagaimanapun caranya.


"Kau ingat saat Mamaku meninggal kau berkata apa?" tanya Firli.


Andrean menggeleng. "Kau bilang, 'jangan menangis, ada Andrean di sini'. Sekarang biar aku katakan padamu. Jangan menangis, ada Firli di sini," ucap Firli sambil mengusap pipi Andrean dan menghapus air matanya.


Hai readers, terima kasih sudah membaca highschool wife selama ini. Author akan memiliki karya baru di bulan depan. Jadi tunggu, ya. Jangan lupa follow instagram : digi8saikai_nha agar mendapat update terbaru seputar karya author yang lain. 😘 salam hangat dari purnama semesta ini : Elara Murako.