
"Fir, dipanggil Ibu Helda," panggil Elia saat Firli tengah menyalin PR milik Mili ke dalam bukunya. Firli mengangguk kemudian menepuk pundak Mili.
"Gue ke ruang kepsek dulu. Salinin nanti sedus coklat langsung gue kirim ke rumah," titahnya yang bodohnya dituruti saja oleh Mili.
Firli bangkit dari kursinya, kemudian Mili datang menggantikan posisi Firli di kursi itu setelah Firli berjalan pergi ke luar kelas. Aneh, tak seperti biasanya ibunda kepala sekolah yang terhormat memanggilnya. Dengan langkah cepat Firli memburu waktu di atas lantai koridor kelas. Halaman tengah sekolah sepi karena seluruh muridnya masih berada di kelas menunggu pergantian waktu mata pelajaran.
Dengan napas yang sudah terengah-engah akibat jarak kelas ke ruang kepala sekolah sangay jauh, kaki Firli dengan susah payah menginjak satu per satu anak tangga secara bergantian.
Akhirnya ia tiba di depan pintu jati coklat yang terbuka setengahnya. Tangan Firli mengetuk pintu itu hingga terdnegar suara seseorang yang mempersilahkannya masuk. Pelan-pelan Firli buka lebar daun pintu itu dan menemukan Ibu Helda tengah duduk di sofa tamu berhadapan dengan 3 orang. Salah satunya Firli kenal dia, Angie.
"Duduk, Lady," Ibu Helda meminta Firli duduk di sampingnya. Tentu perlakuan itu hanya bisa dirasakan Firli. Gadis itu duduk di samping Ibu Helda, kemudian menatap Angie dan dua orang di sampingnya. Firli tidak mengenal perempuan di samping Angie tapi pria di sampingnya langsung membuat Firli tertegun dan membuka kelopak matanya lebar-lebar. Firli mengenal baik pria itu, setidaknya sampai enam tahun lalu.
"Lady, Angie datang ke sini ingin meminta maaf," ungkap Ibu Helda. Namun Firli masih mematung menatap pria di samping Angie sambil gemetaran.
"Iya, Lady. Kami sekeluarga meminta maaf sebesar-besarnya karena perilaku putri kami membuat Lady merasa tidak nyaman," tambah perempuan di samping Angie.
Rasanya seluruh tubuh Firli membeku. Bibir dan lidahnya kaku tak dapat mengeluarkan kata barang satupun. Hanya bagian bawah matanya terasa hangat. Satu-satu hal yang ada dipikirannya adalah bayangan Mamah yang terbaring tak bernyawa di dalam peti mati. Tangan Firli mengepal.
"Lady, apa anda masih takut dengan Angie?" tanya Ibu Helda ketika melihat wajah Firli yang berubah pucat.
"Iya, maafkan putri saya Lady. Kami siap mendidiknya lebih baik lagi," ucap pria yang berada di samping Angie sementara Angie hanya menunduk takluk.
"Putri saya? Bagaimana bisa anda mendidik putri anda sementara anda meninggalkannya," cibir Firli. Rasanya ia tak bisa menahan emosi.
Laki-laki itu terlihat mengangkat sebelah alisnya karena heran dengan ucapan Firli. Sementara Perempuan di samping Angie mengehembuskan napas tanda mulai tak sabar menghadapi Firli. Terlihat sekali Angie menuruni sikapnya dari siapa, perempuan itu.
"Saya ibunya. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan anak saya," ucap perempuan itu tegas. Jadi itu ibunya Angie, memang mirip sekali wajah mereka.
"Sebagai ayahnya saya juga sama," tambah pria di samping Angie.
"Mengenali wajah anaknya saja tak bisa, tak tahu pura-pura lupa," cibir Firli lagi. Gadis itu memukul meja dengan keras membuat seisi ruangan kaget dengan perilakunya.
"Kalian pikir saya siapa? Setelah dipukuli begitu mana mungkin saya memaafkan begitu saja. Saya membawa nama keluarga bangsawan Freiz di bahu saya. Jika saya memaafkan putri anda begitu saja dengan cara seperti ini, sama saja saya menjual murah kehormatan keluarga," tolak Firli. Dia tatap dengan tajam satu persatu mata ketiganya.
Firli berbalik menatapnya. "Apa pantas ibu memanggil saya ke sini sendirian sementara dia bersama orangtuanya? Untuk apa? Agar saya mudah untuk didominasi?" ucap Firli dengan nada tinggi.
"Ampun Lady, saya tidak bermaksud seperti itu," kilah Ibu Helda. Firli memutar kedua matanya tanda tak percaya dengan ucapan Ibu Helda. "Itu karena lady yang membuat laporan tentang Angie. Bukankah Lady berpesan agar Monsieur Abellard Freiz tidak mengetahuinya?" jelas Ibu Helda.
Firli menelan ludahnya karena malu atas apa yang telah ia tuduhkan. Sementara Angie tersenyum licik mendengarnya membuat Firli semakin meradang. Ia tak mau kalah. "Sekarang masalahnya lain. Jika ia berlindung di balik orang tuanya bukan secara langsung meminta maaf padaku, aku pun sama," tegas Firli kali ini membuat Angie dan keluarganya kalang kabut.
"Lady, saya harap anda bisa mencabut keputusan anda," pinta ibu angie. Namun Firli tak mau tahu.
"Lady, saya mohon. Saya janji akan memberikan hukuman pada putri saya ini. Namun maafkan dia. Semua orang tahu masa depan anak saya bisa dipertaruhkan jika membuat masalah dengan keluarga anda," pinta laki-laki di samping Angie.
Firli menghembuskan napas dengan keras. Emosinya semakin meledak. Ia meremas rok seragamnya sementara napasnya naik turun dengan cepat. Lagi-lagi ia ingat pesan mamahnya untuk melupakan apa yang terjadi di masalalu dan menganggap semua orang di masa lalunya telah mati. Namun Firli tak bisa seperti itu, ia ingin dendam yang selama ini ia rasakan terbalas. Ia ingin kematian mamahnya tidak sia-sia.
"Katakan itu pada Tuan Abellard Freiz, Ayahku," tekan Firli. Ia tak peduli mendengar panggilan dari Ibu Helda atapun Angie dan keluarganya. Ia hanya ingin mamahnya mendapat keadilan.
Laki-laki itu, yang duduk di samping Angie dan meminta pengampunan atas kesalahan gadis jahat itu adalah laki-laki yang membuat mamahnya bunuh diri. Orang yang dulu sempat Firli panggil Bapak, kini hanya musuh yang ingin ia hancurkan.
Air mata Firli mengalir. Ia berusaha tertawa dengan perih di hatinya. Jangankan mencari dan mengakui putrinya. Melihat tampang putrinya ada di depannya saja tak bisa ia kenali. Tak tahu anak siapa yang ia panggil putri dan ia bela sementara putri kandungnya ia tinggalkan seperti tak bernilai.
Firli berlari menuruni tangga gedung utama menuju gedung di samping kanan gedung itu. Ia masuk ke dalam koridornya yang dilindungi tanaman clementis yang nerambat pada kayu yang disusun saling menyilang sehingga cahaya matahari tak bisa langsung masuk ke dalam koridor.
tujuan Firli adalah kelas yang berada di pintu ke empat dari ujung koridor. Tanpa mengetuk dulu Firli langsung mendorong pintu kelasnya hingga membuat tertegun seluruh penghuni kelas. Firli berdiri di depan kelas tanpa menghiraukan guru yang memanggilnya. Ia memperhatikan kesekitar mencoba menemukan apa yang ia cari. Hampir saja ia hilang harapan jika saja tak melihat seseorang berdiri dari meja di sudut kanan kelas. Orang itu menghampirinya dengan langkah cepat. Filri berlari menghampirinya hingga langkah keduanya bertautan.
"Kenapa?" tanya orang itu.
Mendengar pertanyaannya membuat tangis Firli semakin pecah. "Andrean," panggil Firli sambil memeluk pinggang orang yang kini dihadapannya.
Andrean heran melihat istrinya tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Ia tak langsung bertanya lagi, hanya membalas pelukan Firli dan mengusap rambutnya.
**itu terjadi begitu saja, bahkan ketika aku pikir hatiku milik laki-laki lain. Namun ketika hatiku hancur, kau orang yang pertama kali aku pikirkan untuk berlindung, suamiku.
-Firlita Edwina Freiz**-