
Andrean tidak memiliki pilihan. Meski pilu, itu sudah menjadi keputusan batinnya. Malam itu, ia mengemas pakaian ke dalam koper. Masih terdengar suara istrinya di balik panggilan video.
"Jangan lupa vitaminnya dibawa, Pah," nasehat Firli. Andrean mengangguk. Ruangan itu nampak modern dari dalam, tetapi di luar bangunannya dibangun dengan gaya klasik dan memiliki halaman yang luas dihiasi rerumputan.
"Beneran ini gak apa-apa?" tanya Andrean memastikan sekali lagi jika istrinya tidak akan marah karena ia tidak bisa menemani Firli melakukan upacara tujuh bulanan.
Firli mengangguk dengan yakin. Andrean pernah bilang. Jika ia ingin melanjutkan kuliah strata dua, harus dengan kemampuannya sendiri. "Pergi saja. Lagipula di sini aku banyak keluarga, banyak teman. Bapak juga mau datang," jawab Firli enteng disela cengirannya.
Andrean tetap saja merasa terbebani. "Aku yang khawatir, loh!" ucapnya lagi berat. Ia mendengus sambil melipat syal rajutan ke dalam koper satunya lagi.
"Lagipula aku baik-baik aja. Anak kamu saja nih nendang-nendang terus," protes Firli. Andrean tertawa. Ia meninggalkan kegiatan beres-beresnya lalu duduk tepat di depan layar.
"Mana liat dedek kembarnya?" pinta Andrean. Firli menggeserkan kamera ke arah perutnya yang sudah semakin membesar. Ada dua nyawa yang sedang berlindung di sana. Keduanya membawa darah dan juga nama Andrean. Satu pria tampan yang akan menjadi pelindung dan gadis cantik yang menghiasi dunia kecil mereka.
"Wow, mereka cepat sekali besarnya," puji Andrean. Firli tertawa. Ada desiran indah yang merasuk ke dalam perasaan pria itu.
Sempat terjadi jeda karena seorang pelayan mengantarkan makan siang ke kamar Firli. "Papah gak mau nemenin dedek makan?" tanya Firli.
"Iya sini Papah temenin. Daritadi papah gak kemana-mana loh," jawab Andrean. Pria itu bersidekap di atas meja belajarnya. Rona di wajah tercipta saat melihat Firli makan buah dengan sangat lahap. "Lapar ya?" tanya Andrean. Hanya anggukan yang wanita itu perlihatkan.
Lagi-lagi sebulan ke depan Andrean masih belum bisa mengusap rahim tangguh yang sedang menyelimuti dua tanda cinta mereka. Meski begitu ia bertekad, ketika dua kembar itu lahir, ia ingin yang menjadi pertama menggendong mereka - setelah dokter kandungan tentu.
"Sudah ada tanggal pasti kapan si kembar lahir?" tanya Andrean. Firli berpikir sejenak. Kemarin dokter hanya bilang agar ia kembali bulan depan saat kandungannya sudah delapan bulan. Firli menggeleng. "Palingan bulan depan baru bisa diprediksi," jawabanya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Andrean. Ia tatap kamarnya lekat-lekat. Ia akan pergi sementara waktu ke negeri seberang. Memang tidak tahu bagaimana hiduo akan berjalan selanjutnya. Dia hanya ingin berusaha menjadi pria yang berguna. Bukan hanya anak remaja yang mendapat predikat dari universitas ternama karena uang keluarganya.
***
Tania mungkin orang yang paling bahagia hari ini. Setelah ia masuk ke dalam pesawat, tidak ada lagi orang yang bisa menghalanginya berjuang atas nama cinta. Helen akan tertinggal di Manchester dan hanya bisa meratap karena tak menemukan celah untuk mengejarnya. Hanya akan ada dia dan Andrean selama satu bulan ke depan meski harus dihiasi dengan laporan kunjungan.
Profesor Alan masih tabah menunggu. Ia mengambil segelas air teh dari kantin di dekat ruang tunggu. Air teh yang biasa diberikan gratis setiap musim gugur karena cuacanya yang sudah mulai dingin. Kaki Tania bergerak-gerak menggantung karena sudah lumayan lamanya menunggu. Ia melirik ke kanan dan ke kiri berharap pangerannya lekas datang. Lagipula Andrean tidak terlambat. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum pemberangkatan. Tania saja yang terlalu rajin.
"Aku sudah tiba, Prof," akhirnya pria yang Profesor Alan tunggu hadir. Tania mendongak, mencari pandangan yang sejak tadi ia ingin lihat.
Sementara itu di sebuah kamar mewah malam itu, seorang wanita muda mengenakan kain batik yang membalut tubuhnya. Rangkaian melati yang dibentuk menjadi bolero dan bando menghembuskan bau harum. Di luar sudah disiapkan berbagai pernak-pernik dan juga halaman dengan dekorasi mewah. Bunga tujuh rupa berenang di dalam guci merah bata. Sepanjang jalan yang dilalui wanita itu ditaburi kelopak mawar merah.
"Cantik sekali menantuku," puji Anita melihat Firli yang sedang mematut diri di depan cermin. Ia mencoba menghibur menantunya yang kemungkinan akan merasa sedih akibat merayakan upacara tujuh bulanan sendirian. Meski begitu wajah Firli masih terlihat berbinar.
"Makasih, Bunda. Padahal gak gitu juga, aku makin gendut," kilah Firli sambil menunduk malu. Anita mengusap rambut menantunya. Ia bingung antara harus sedih atau harus senang. Di satu sisi senang karena kehamilan Firli sudah mulai stabil, tapi sedih karena Andrean tidak ada di sini.
Hendak Anita akan berbincang dan memberi wedjangan singkat, Mrs. Charlotte memanggilnya. Anita terpaksa berpamitan. Pelayan yang membantunya berpakaian juga sudah selesai melakukan pekerjaannya. "Kami izin meninggalkan ruangan, Lady," ucap mereka. Firli mengangguk. Setelah itu ia ditinggal sendirian di kamar ini.
Mata Firli menatap ke dalam cermin. Di luar sana sudah ramai orang-orang saling berbincang membagi kebahagiaan. Namun rasa sepi masih memeluknya. Kehadiran keluarga memang penting. Ada Ayah Abellard, Bunda Anita, Bapak Handoko dan teman lainnya. Tetap saja rasanya tidak lengkap tanpa ada seorang suami di sini.
Tanpa sadar air matanya mengalir. Firli sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia sudah berusaha dengan keras menjaga perasaan semua orang. Namun hati ini begitu lunak hingga mudah tersayat. Istri mana yang bisa melewati masa paling sulit dalam hidupnya tanpa adanya suami.
"Katanya gak apa-apa?" ledek seseorang. Suaranya terdengar sangat jelas dari arah pintu. Firli berpaling pada sumber suara. Ia kaget sekaligus ... ah sudahlah, tidak tahu bagaimana lagi ia mengambarkan apa yang disebut dengan kebahagiaan.
Firli bangkit meski dengan kesulitan karena perutnya mulai terasa berat. "Jangan bilang gak apa-apa kalau akhirnya nangis sendiri," tambahnya. Firli berjalan pelan menghampiri wajah yang sudah sangat ia rindukan.
"Katanya mau ke Harvard? Apa di sini Harvard?" tanya Firli.
Wajah itu menunjukkan rona kebahagiaan. "Masa bodoh, di sana aku gak bisa liat wajah istriku. Memangnya Harvard bisa bantu ngulang upacara tujuh bulanan?" timpalnya.
Firli peluk pria itu dengan erat. Seluruh rasa rindu ia tumpahkan. Air matanya semakin deras mengalir. "Andrean," panggil Firli rindu. Ia semakin tenang tat kala kecupan Andrean menempel di keningnya.
Andrean menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajah yang hanya bisa dia lihat dari balik layar video. "Mana bisa aku tega ninggalin kamu dan anak-anak, sih? Melihat samping ranjang sepi setiap malam saja rasanya sesak."