
Keduanya diam malam itu. Firli sengaja tidur lebih dulu, lebih tepatnya pura-pura tertidur. Ia mencoba menahan rasa kesalnya dibandingkan menumpahkan segalanya pada Andrean. Bahkan ia menolak saat Ayah dan Bunda memanggilnya. Firli tak ingin berbicara pada siapapun sekarang karena pada akhirnya akan menjadi ia yang disalahkan. Lampu kamar masih menyala saat Andrean akhirnya tiba di kamar.Ia melihat Firli tidur di bagian kiri kasur sambil menyamping ke arah kiri. Terlihat jelas sekali maksud gadis itu sedang menjauh darinya. Andrean mendengus kesal, ia sudah berusaha menjelaskan segalanya kepada kedua orang tuanya tentang Helen tapi Firli bahkan tak berusaha menyambutnya.
Andrean juga sedang malas berbicara karena akhirnya ia pasti akan marah juga. Lebih baik ia diam, pergi cuci kaki lalu tidur. Firli bisa merasakan getaran di atas kasur saat Andrean berbaring di sana. Firli sedikitpun tak berusaha untuk melihat ke samping kanannya sekedar memastikan jika memang Andrean di sana. Matanya pura-pura tertutup hingga akhirnya benar-benar tertidur dan bangun di pagi hari.
“Ayah dan Bunda menunggu Lady untuk sarapan,” ucap seorang pelayan yang membangunkannya. Firli setengah berbari di atas kasur sambil menatap ke arah samping kanannya karena Andrean tak ada di sana. “Monseiur Andrean sudah menunggu di ruang makan,” ucap pelayan itu seolah tahu jika Firli ingin bertanya tentang keberadaan suaminya.
Firli bangkit dengan malas dan berjalan ke kamar mandi. Ia tak peduli jika waktu berjalan lebih lama karena ia terlalu banyak merenung. Ia tahu ia pantas marah, tapi takut jika harus menghadapi kemarahan mertua dan suaminya. Setelah mengenakan seragam, Firli berjalan keluar dari paviliun dan pergi paviliun yang biasa keluarga itu gunakan sebagai tempat sarapan. Ruangan penuh kaca dengan atap kerucut itu memiliki meja makan bundar dengan empat kursi duduk. Ketiganya sudah diduduki Ayah, Bunda dan Rean, tinggalah Firli yang beru datang sambil menunduk lesu.
Bunda tersenyum. Ia berusaha mengerti perasaan menantunya. Wanita itu bangkit mengahmpiri Firli dan menuntunnya untuk duduk. “Kau tak perlu takut untuk dimarahi. Bunda sudah dengan segalanya. Perilaku Helen memang sudah keterlaluan,” ucap Bunda. Firli mendongak dan menatap wajah mertua perempuannya itu. Ia kaget. Alih-alih memarahi, Bunda malah mendukungnya. Firli mencuri pandang pada Ayah, rupanya pria itu juga memperlihatkan rasa persetujuan atas ucapan Bunda kecuali Andrean.
Pria itu tetap diam. Sama sekali tak berusaha menatap Firli sedikitpun bahkan ketika Firli duduk di sana. Gadis itu bingung, seharusnya ia yang merasa kesal di sana. Saat makanpun tak ada obrolan hangat yang biasa terjadi antara Firli dan Andrean. Hanya Sesekali Bunda dan Ayah berusaha memancing keduanya bicara tapi tetap saja nuansa dingin menyelimuti keduanya.
Pukul setengah tujuh, Firli dan Rean sudah terduduk di kursi belakang mobil. Keduanya duduk bersebelahan dengan jarak puluhan senti meter yang memisahkan keduanya. Andrean masih berpaling ke jendela di sampingnya sementara Firli lebih memilih melihat ponselnya.
Ditengah perjalan, Firli dikejutkan dengan Andrean yang tiba-tiba mengambil ponselnya. Sempat Firli merasa heran dan menatap pria itu. “Apa seperti ini caramu bersikap pada suamimu?” tanya Andrean. Firli mendengus, ia tak menanggapi kalimat suaminya itu. “Apakah kau tidak merasa berhutang maaf padaku?” tanya Andrean dengan nada sedikit lebih tinggi.
Diafragma Iris naik begitu juga dengan suhu tubuhnya. “Apa kau tidak merasa berhutang maaf padaku?” Firli malah balik bertanya.
Andrean menatap tajam mata istrinya. “Apa kau sadar akan perbuatanmu? Kau tahu bagaimana aku harus menjelaskan dan meminta maaf kepada keluarga Helen? Sementara kau, merasa bersalah padaku saja tidak,” omel Andrean.
“Aku tak memintamu meminta maaf pada keluarganya. Lagi pula aku tak salah,” tekan Firli.
“Kau menendangnya hingga jatuh ke kolam, bagaimana mungkin kau tak salah?”
Firli berusaha meraih ponselnya dari tangan Andrean, tapi laki-laki itu masih tetap mempertahankannya. “Kembalikan!” paksa Firli. Andrean menolak. “Jika kau masih merasa aku yang salah, maka lebih baik jangan bicara padaku!”
Lagi-lagi Andrean mendengus kesal. Ia mengangkat sebelah alisnya. “Jadi aku yang salah?” tanya Andrean kesal. Pembicaraan mereka sama-sama mengeluarkan nada tinggi hingga Pak Bram yang mendengarnya tak berkutik sedikitpun, ia lebih memilih fokus menyetir.
Andrean berdecak. Tangannya mengepal lalu ia pukulkan ke sandaran kursi mobil. “Itu hanya perasaanmu saja. Cobalah untuk lebih dewasa sedikit. Kamu tahu gara-gara perbuatanmu Helen dan keluarganya mengecapmu tak tahu tata krama,” omel Andrean.
Firli memalingkan pandangan ke arah depan mobil. “Aku tak peduli,” ucapnya sinis.
Justru ucapan itu memancing amarah Andrean lagi. “Mungkin kau tidak peduli, tapi aku iya. Keluarga Helen adalah rekan bisnis Ayah. Apa kamu tidak peduli kerugian apa yang keluarga kita dapat jika hubungan keluarga Helen dan keluarga kita menjadi buruk? Pikirkan itu?” bentak Andrean.
“Ouh, jadi demi hubungan bisnis itu kau tidak peduli jika harga dirimu diinjak-injak?”
“Kau menginjak harga dirimu sendiri dengan perilaku seperti itu!”
“Kau ini memang keterlaluan. Jika begitu penting Helen untukmu kenapa dulu tak menikah saja dengannya? Kenapa harus membawa perempuan berperilaku buruk ini ke rumahmu dan susah payah mendidik agar bisa seperti keluargamu yang lain?” Kali ini Firli tak ingin menahannya lagi.
Andrean menengok ke arah kiri sebentar lalu kembali menatap istrinya. “Jadi seperti itu caramu menilai suamimu sendiri? Pernahkah sekali saja kau berusaha mendengar nasehatku? Kau bahkan lebih sering menurut pada kedua orang tuaku dibandingkan denganku. Apa kali ini kau juga akan membantah seperti ini karena mereka mendukungmu tadi?”
“Kenyataannya sejak dulu hanya kau yang tidak memihakku!” tekan Firli.
“Firli!” bentak Andrean. “Aku kurang apa lagi padamu? Aku selalu saja memaklumi perilakumu, semuanya. Aku hanya meminta kau memaklumiku sekarang tapi malah seperti ini.”
“Lalu kenapa? Kau ingin memperlihatkan jika sebagai suami kau bisa mendominasiku? Itu salah, kau tak bisa mengaturku selalu. Aku juga punya perasaan dan pikiran sendiri!”
“Kalau begitu hidup saja sendiri!” Amarah Andrean tak bisa ditahan lagi. Begitu mobil berhenti di samping teras gedung sekolah, Andrean langsung membuka pintu dan keluar tanpa menunggu Firli seperti biasanya. Firli memukul sandaran kursi mobil. Bahkan Andrean melempar ponselnya ke atas kursi dengan kasar.
Gadis itu meraih ponselnya kemudian membuka pintu dan berlari masuk ke dalam gedung sekolah. Andrean tak dapat disusul sama sekali, tapi Firli tak peduli. Ia kesal dengan sikap Andrean yang sering ingin menang sendiri seperti anak kecil. Ia bahkan tak memeperhatikan perasaan Firli sedikitpun.