
Rey akhirnya dirawat di rumah sakit selama semalaman dan hingga pagi ini dia juga masih belum sadar.
Dokter Steve sedang berada di ruangan rawat inap Rey untuk mengecek kondisinya. Setelah selesai, Dokter berbicara dengan Kei tentang kondisi Rey. Ia memberitahu Kei bahwa kondisi penyakit Rey saat ini sudah pada stadium akhir. Sehingga sangat kecil harapannya bagi Rey untuk dapat sembuh.
Saat ditengah-tengah pembicaraan mereka, Rey tersadar. Namun dia tidak membuka matanya dan berpura-pura masih belum tersadar. Ia pun diam-diam mengikuti dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dokter, saya tetap akan menjalani pengobatan tersebut terhadap adik saya. Saya tidak akan menyerah dan saya yakin adik saya akan kuat untuk bertahan dan mampu melewatinya."
Sebelum menjawab, Dokter Steve menghela nafasnya dengan berat.
"Nak Kei, saya sudah menjelaskan pada anda situasi apa yang akan adik anda hadapi jika melakukan pengobatan tersebut. Namun semua keputusan kami kembalikan pada anda pihak keluarganya untuk memutuskan apa yang terbaik bagi adik anda. Saya hanya bisa berdoa dan membantunya semaksimal mungkin untuk meringankan penderitaan yang dialaminya dan untuk membantunya agar dapat sembuh dari penyakitnya ini."
"Baik, Dok."
Didalam hatinya, Rey merasa sedih. Walaupun ia sudah mengetahuinya, ia tetap merasakan kembali kesedihannya saat mendengar pembicaraan mereka tersebut. Apalagi ia memikirkan bahwa ia akan segera berpisah dan harus meninggalkan wanita yang dicintainya, Erika. Padahal saat ini hubungan mereka sudah sangat dekat, dengan mereka yang sudah saling berhubungan intim dan ia juga sudah sampai ke tahap melamarnya.
Setelah dokter pergi, Kei duduk di kursi di samping ranjang adiknya dan berbicara pada adiknya yang dia kira masih belum sadar.
"Ken, kamu harus sembuh. Kakak tahu kakak egois karena memaksamu untuk menjalani pengobatan itu. Tetapi kakak hanya ingin kamu sembuh."
Rey pun akhirnya membuka matanya dan menjawabnya.
"Kakak, jangan merasa bersalah. Aku tidak apa, aku bersedia menjalani pengobatan itu."
"Ken ... kamu sudah sadar ... Apa kamu masih merasa tak nyaman?"
"Aku hanya merasa sedikit lemah. Bagaimana Erika? Apakah dia menanyakan diriku?"
"Semalam dia meneleponmu. Tetapi aku sudah menjawabnya dan memberitahu padanya bahwa kamu baik-baik saja dan sedang tertidur." Rey mengangguk.
"Kakak, mengenai pesta pertunangan yang Ayah Erika bahas kemarin..."
"Apakah kamu merasa keberatan untuk mengadakan pesta tersebut?"
"Tidak, aku tahu Erika pasti sangat menginginkannya dan akan merasa sangat senang akan hal itu. Hanya saja dengan kondisiku ... aku takut tidak dapat melakukannya dan bertahan hingga hari itu ..."
"Ken, jangan berpikir seperti itu. Setelah kamu menjalani pengobatanmu, maka kamu pasti akan sehat kembali. Saat itulah kakak akan mengadakan pesta pertunangan kalian itu."
"Kakak, maafkan aku. Aku tahu kakak akan sangat marah dan bersedih jika aku mengatakan hal ini. Tapi kakak harus bisa menerima kenyataan akan kondisiku. Aku memang akan menuruti kehendakmu untuk menjalani berbagai pengobatan yang akan sangat menyakitkan dan menakutkan buatku. Tetapi aku tidak mau kakak terlalu menaruh harapan yang begitu besar atas kesembuhanku."
Kei merasa sangat marah dan bersedih ketika mendengar ucapan adiknya.
"Apakah saat ini kamu sedang merasa pesimis dengan kesembuhan dirimu sendiri?"
"Aku bukan pesimis, tetapi aku tahu dan bisa untuk menghadapi kenyataan yang ada didepanku. Bahkan Dokter Steve sudah mengatakannya kalau aku ..."
"Apakah tadi kamu mendengar pembicaraan kami?"
Rey hanya mendiamkan kakaknya.
"Lalu, apakah maksudmu aku hanya harus diam saja tanpa melakukan apapun padamu dan melihatmu perlahan-lahan digerogoti penyakitmu itu? Jadi, apalah artinya semua harta kekayaan dan kekuasaan yang kumiliki ini yang dengan mati-matian aku pertahankan jika untuk memberikan kesembuhan bagi penyakit yang diderita oleh adikku sendiri saja aku tidak mampu untuk melakukannya? Bahkan aku rela untuk menukar kesemuanya itu demi kesembuhanmu. Apa kamu tahu itu? Jadi, kumohon padamu janganlah lagi memaksaku untuk bisa menerima kenyataan akan kondisimu tanpa berbuat apapun terhadapmu."
Kei lalu pergi meninggalkan adiknya dan meminta Tanaka untuk menemani adiknya. Selama seharian Kei pergi dan tidak menemui adiknya. Ia hanya meminta Tanaka untuk menjaga dan menemani adiknya serta melaporkan padanya kondisi adiknya setiap saat. Sepulangnya dari kantor, ia langsung pergi ke sebuah club malam untuk minum-minum agar membuat dirinya mabuk. Karena saat ini emosi dan perasaannya sedang tak terkontrol sehingga ia membutuhkan sebuah pelarian untuk membuat diri dan pikirannya menjadi lebih tenang.
Saat Kei telah puas untuk minum-minum dan dirinya sudah cukup mabuk, ia lalu pulang dari club tersebut dan langsung menuju kembali ke rumah sakit tempat adiknya dirawat. Saat itu hari sudah tengah malam dan adiknya sudah tertidur sehingga tidak menyadarinya kalau kakaknya pulang dalam keadaan mabuk.
***
Pagi ini Rey akan memulai proses pengobatannya. Padahal dirinya terus menolak dan memohon-mohon pada kakaknya untuk menundanya dulu beberapa hari lagi karena dia belum siap. Tetapi Kei tetap memaksa dan tidak mempedulikannya yang memohon-mohon dengan wajahnya yang tampak memelas dan sangat ketakutan.
"Kakak ... tolong aku ... aku mohon jangan bawa aku ke ruangan itu ... aku belum siap ... aku takut ... Kak Kei ..." Rey yang sedang terbaring di ranjang dorong dan sedang didorong menuju ruang pengobatan terus berteriak sambil menangis ketakutan dan memegangi tangan kakaknya.
Lalu perawat membawanya masuk ke dalam dan mulai melakukannya.
Rey langsung menjerit kesakitan.
"Argghhh ... kakak ... tolong aku ... ini ... sakit ... sekali ... aghhh ... " wajah Rey tampak sangat kesakitan dengan airmatanya yang tak henti mengalir keluar. "Kakak ... aku sudah tak tahan lagi ... kakak ...." suara Rey makin melemah kemudian ia tak sadarkan diri.
"Ken ... bangunlah ... Ken sadarlah dan bertahanlah ... " Kei yang sedang menemani adiknya dan mendampingi disisinya selama proses terapi, berteriak dengan sangat kencang dan ketakutan melihat adiknya yang kembali terlihat sangat kesakitan dan tak terbangun lagi saat ia memanggil-manggilnya. Ia menjadi panik dan keringat membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. KENNN ...!!" Teriaknya lagi dengan sangat kencang karena keputus-asaannya.
"Kakak ... kakak ... bangunlah ..." Akhirnya Kei terbangun dari mimpi buruknya. Ia lalu membuka matanya dan melihat sosok adiknya yang masih hidup dan sedang berdiri dihadapannya.
"Ken ..." teriaknya dan langsung memeluknya. Ia menangis tersedu-sedu dipelukan adiknya.
"Kakak, aku di sini dan aku baik-baik saja. Apakah tadi kakak memimpikan aku?"
Kei mengangguk dan memperat pelukannya. "Ken, maafkan kakak. Tidak seharusnya aku marah padamu dan memaksamu untuk menjalani pengobatan yang akan menyakitkan dan sangat menyiksamu itu." Ucapnya masih sambil menangis dengan tersedu-sedu.
"Kakak ...." Rey pun ikut menangis dalam pelukan kakaknya.
"Terima kasih, kak." Rey kembali menangis. Namun ia merasa senang dan lega karena pada akhirnya kakaknya tidak memaksakan kehendaknya lagi kepadanya.
"Ken ... Ken ..." peluk Kei erat pada adiknya.
Rey kembali berbaring di kasurnya dan dalam keadaan tertidur. Melihat kondisi adiknya, Kei semakin merasa bersalah atas sikapnya yang terlalu mementingkan egonya dan sampai bermabuk-mabukkan karena kemarahannya terhadap adiknya. Ia lalu berpikir untuk segera mengadakan pesta pertunangan adiknya dan Erika secara megah dan besar-besaran.
Setelah dirawat selama tiga hari, Rey pun keluar dari rumah sakit dan membawa banyak obat-obatan yang harus dikonsumsinya agar dapat memperkuat daya tahan tubuhnya dan menambah staminanya. Juga ada beberapa obat pereda sakit.
"Ken, bagaimana kondisi tubuhmu? Apa kamu sudah merasa cukup baik?"
"Iya, Kak. Aku merasa tubuhku kembali segar dan cukup bertenaga. Jadi Kak, bolehkah aku kembali bekerja lagi?"
"Aku tahu kalau aku melarangmu, maka kamu akan merasa bosan karena hanya bisa diam saja dan itu akan membuatmu makin bertambah sakit." Rey tersenyum pada kakaknya.
"Terima kasih, Kak. Lalu bagaimana dengan pesta pertunanganku dan Erika?"
"Kita akan membicarakannya lagi nanti."
"Baiklah." Jawabnya dengan setengah memberengut.
"Beritahu kakak, apakah kamu menginginkan pesta itu atau tidak?"
"Iya, aku menginginkannya."
"Ohh ... kupikir kamu tidak -"
"Memang, aku tidak menyukai pesta atau keramaian dan menjadi pusat perhatian banyak orang."
"Lalu, mengapa kamu menginginkan pesta pertunangan ini untuk diadakan?"
"Karena ini adalah impian Erika. Mm sebenarnya keinginannya itu untuk dapat menikah, tetapi aku tahu aku tidak mampu untuk mewujudkan hal itu padanya. Sehingga kupikir setidaknya dengan pesta pertunangan ini sudah bisa membuatnya senang dan membantunya mewujudkan sedikit impiannya itu."
Kei kembali merasa terenyuh atas sikap adiknya yang sudah dalam kondisi seperti itu masih saja memikirkan dan mempedulikan mimpi dan keinginan wanita yang sangat dicintai adiknya itu.
"Kakak, jangan bersedih. Aku baik-baik saja. Sungguh. Karena aku yakin ada kakak yang pada akhirnya bisa mewujudkan mimpi Erika itu."
"Ken ..." Kei benar-benar meneteskan airmatanya dan terisak dengan sangat sedih.
"Kakak, jangan menangis, kumohon. Itu membuatku juga merasakan kesedihanmu dan aku ..." Rey pun turut memperlihatkan kesedihannya.
"Iya, Ken kakak tidak akan menangis." Kei buru-buru menghentikan tangisnya dan mengusap matanya. "Lalu, pesta seperti apakah yang kamu inginkan?"
"Terserah kakak dan mengikuti apa yang Erika mau saja. Yang penting pesta itu dapat dihadiri oleh anggota keluarga dan orang-orang terdekat yang kusayangi."
"Baiklah, aku mengerti."
"Kapan rencananya pesta itu akan diadakan?"
"Aku sudah membicarakannya dengan orangtua Erika, dan kami merencanakan untuk menyelenggarakan pesta tersebut bulan depan."
"Tidak, Kak. Aku takut kalau ... Bagaimana kalau dipercepat 2 minggu saja?"
Kei memandangi lagi adiknya. Ia tahu dan paham apa yang adiknya takuti. Lalu ia pun mengiyakannya.
"Kakak tahu, aku ingin mengadakan pesta itu dengan segera dan disaat wajahku masih tampak sehat dan segar. Aku ingin Erika dan para tamuku yang adalah orang-orang yang kucintai mengingat dan mengenangku sebagai Reyhan Wiriawan yang tampan dan gagah berani bukan sebagai seorang pesakitan yang tampak pucat dan lemah."
"Iya, Ken. Jangan khawatir, kamu akan selalu menjadi seorang yang tampan dan gagah berani di mata kami." Rey mengangguk sambil mengulas sebuah senyumannya yang tampak bahagia.
"Apa kamu merasa bahagia?" Tanya Kei ketika melihat senyuman adiknya yang sangat indah itu.
"Tentu saja. Sekarang aku telah sangat berbahagia dan semua itu berkat kakakku. Kakak, aku sangat berterima kasih padamu atas kehidupan baruku ini. Walaupun ini singkat, namun aku sangat menghargai dan mensyukurinya. Akhirnya aku dapat memperoleh kebahagiaanku dan tidak ada lagi penyesalan dalam hidupku. Sehingga jika nanti aku bertemu ibu dan ayah, mereka akan ikut merasakan kebahagiaanku ini."
Dalam diamnya Kei langsung merengkuh dan memeluk adiknya.
"Ken ... adik kecilku dan kesayanganku..."
Kei juga turut merasa senang dan lega karena bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah dan mata adiknya itu. Rey tersenyum dalam pelukan kakaknya dan menikmati kehangatan serta kelembutan yang dapat ia rasakan dari pelukan kakaknya itu. Hatinya pun terasa sangat tenang dan damai dan juga sangat berbahagia.
**/
Happiness For You telah selesai. 😋
Sejujurnya author pengen banget menamatkan novelnya dengan ending seperti ini karena tidak tega harus menulis cerita selanjutnya yang banyak bawangnya. Tetapi author juga suka greget kalau baca novel yang nanggung, sehingga author berusaha memberi cerita yang akhirnya engga bikin greget juga.
Semoga para pembaca tidak pada baper ya 🤗
/**
***