Happiness For You

Happiness For You
45 Mencintai Erika



Sebelum menjawab Rey menyipitkan matanya merasa keberatan dengan pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya itu. Baginya keingintahuan kakaknya itu terlalu banyak.


"Apakah jawabanku penting bagimu?" jawabnya dengan ketus karena mulai merasa gerah.


"Ya, tentu saja. Karena itu menentukan dengan apa yang akan aku lakukan padamu."


"Aku tidak mau menjawabnya."


Kei tertawa sinis pada pria berwajah pucat yang sedang berbaring dengan lemah didepannya itu. Bahkan dalam keadaan sakit dan sekarat pun sikapnya masih juga kasar dan seperti penuh rasa permusuhan kepadanya.


"Sikapmu itu sungguh membingungkan. Pernahkah kamu berpikir kalau apa yang kamu lakukan pada Erika sangatlah kejam dan telah sangat menyakiti hatinya? Apalagi ini adalah kedua kalinya ia mengalami hubungan yang harus kandas karena diselingkuhi. Sebelumnya, hubungannya denganku juga berakhir karena ia mengira aku telah berselingkuh darinya."


"Aku tahu, dan kisahmu itulah yang menginspirasiku."


Kei tercengang menatap Rey yang tidak merasa bersalah sedikitpun atas perbuatannya yang telah menyakiti Erika dan malah menjawab dengan jawaban yang seolah menyindirnya.


"Luar biasaa ...! Kamu benar-benar membuatku merasa sangat marah." Wajah Kei memerah karena kemarahannya. Ingin sekali rasanya ia melampiaskan kemarahannya pada pria pucat yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan tak terlihat sedang merasa bersalah sedikitpun.


Sedangkan Rey sendiri sepertinya sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima beberapa pukulan dan mungkin juga tonjokan yang akan membuat wajahnya babak belur. Lama menunggu, tetapi Kei masih tidak melakukan apapun terhadapnya. Kei masih memperhatikan Rey seperti sedang menelaah sesuatu.


Ternyata Kei tidak sampai hati untuk menyakiti pria yang sedang dalam keadaan sekarat itu. Hatinya malah terasa sakit melihatnya yang dalam keadaan sakit dan lemah seperti itu. Karena Kei masih mencurigainya sebagai adik kandungnya. Adiknya yang malang.


Setelah terdiam sejenak, Kei pun berkata padanya,


"Walaupun aku sangat merasa marah padamu tetapi aku tidak bisa membalas perbuatanmu itu ataupun menyakitimu. Dan aku ..., "


"Sudahlah." Kei lalu bangkit berdiri dan ingin pergi saja keluar dari ruangan itu daripada amarahnya semakin memuncak. Tetapi tiba-tiba Kei terpikir akan sesuatu hal yang ingin dia sampaikan pada Rey. Jadi sebelum melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangan, Kei berdiri terdiam dan berkata, "Aku akan memberimu sebuah kesempatan terakhir untuk melihatnya. Aku harap kamu mau datang menjenguknya dan mengajaknya berbicara. Walaupun dia masih dalam keadaan tidak sadar, tetapi dia pasti bisa mendengarnya."


"Mengapa kamu masih mau bersikap baik terhadapku? Apakah kamu tidak marah atau membenciku?" tanya Rey.


"Seseorang yang telah diangkat anak oleh ibuku adalah adikku juga. Dan apapun yang telah diperbuat oleh adikku, aku tidak bisa marah ataupun membencinya." Jawab Kei sembari berlalu untuk berjalan pergi keluar meninggalkan Rey yang tercengang mendengar jawabannya.


Dengan buru-buru Rey segera tersadar dari keterkejutannya dan ia meneriakkan sesuatu untuk menghentikan langkah Kei yang telah berjalan semakin jauh.


"Itu benar ... bahwa aku mencintai Erika."


Perkataan Rey itu membuat Kei menoleh padanya dan membalikkan badannya agar kembali berhadapan dengannya. Kei lalu memandanginya dan hanya berdiri diam mematung, menunggu Rey untuk melanjutkan ucapannya.


Lalu Rey membalas menatapnya dengan berani dan melanjutkan perkataannya.


"Dan aku tahu dia juga mencintaiku. Tetapi ternyata kita tidak ditakdirkan untuk bisa bersatu. Sehingga aku pun dengan terpaksa menyakitinya dengan berpura-pura selingkuh didepannya agar dia merasa bahwa aku sudah tidak lagi mencintainya dan telah mengkhianatinya. Hanya dengan melakukan hal seperti itu lah yang bisa membuatnya berhenti mencintaiku dan bisa segera melupakan diriku."


"Tetapi kamu tidak perlu sampai membuat kebohongan seperti itu yang sungguh sangat menyakitkan baginya hanya untuk membuatnya berhenti mencintaimu."


"Kalau aku tidak menunjukkan padanya bahwa aku tidak lagi mencintainya dan mengkhianatinya, maka dia tidak akan menyerah dan dia masih akan kembali datang kepadaku."


"Lalu mengapa kalau ia kembali datang lagi kepadamu?"


"Itu mungkin benar aku ingin Erika kembali padaku. Tetapi aku tidak pernah memaksamu untuk mengembalikannya padaku. Itu kesepakatan yang kamu sendiri ajukan padaku karena ketakutanmu akan kehilangan harta warisan milik ibuku. Lagipula saat itu aku tidak tahu kalau kamu sedang sekarat dan waktumu hanya tinggal sebentar lagi. Kalau aku tahu akan hal itu, aku juga tidak mau bertengkar dan berebut denganmu. Karena Erika dan segala harta warisan milik ibuku itu nantinya akan bisa kembali padaku.


"Lalu apa kamu tidak keberatan jika Erika terus bersamaku dan melihat betapa menyedihkannya diriku yang semakin melemah dan perlahan-lahan menjadi tak berdaya karena digerogoti oleh penyakitku? Dan kamu pikir, apa aku tega untuk membiarkannya merasakan betapa sakitnya melihat seseorang yang ia sayangi pergi meninggalkannya untuk selamanya?"


" .... " Kei tak bisa berkata-kata mendengar apa yang Rey ucapkan. Hatinya yang paling dalam benar-benar tersentuh sekaligus juga terasa sangat perih mendengar ketakutan dan kekhawatiran Rey yang selama ini telah disalah artikan olehnya. Dia malah berpikir kalau Rey adalah seorang yang hanya memilih harta kekayaan daripada wanita yang dicintainya. Pantas saja waktu itu Erika tidak mempercayainya ketika ia memberitahukan hal tersebut dan Erika mengatakan padanya kalau suatu saat dia akan menyesali ucapannya itu. Tetapi, bukankah Erika tidak mengetahui bahwa sebenarnya saat ini Rey dalam keadaan sekarat. Lalu apakah masih ada rahasia Rey lainnya yang Erika ketahui tetapi tidak diketahuinya? Mengapa pria yang selama ini dianggapnya sebagai musuh itu sungguh misterius dan malang hidupnya.


"Aku akui aku telah amat sangat menyakitinya. Selama dua hari ini aku memberinya beberapa kejutan dan memperlakukannya dengan istimewa tetapi semua itu berubah seketika hanya dalam jeda sehari. Aku bagaikan telah melambungkannya ke angkasa indah dengan sangat tinggi lalu tiba-tiba aku mendorongnya jatuh dengan sangat kuat hingga langsung ke dasar jurang. Dan itu semua karena keegoisanku. Saat itu aku masih tidak dapat menyadarinya kalau kelak betapa aku akan sangat melukai hatinya. Karena yang aku inginkan hanyalah agar aku bisa merasakan kebahagiaanku dan memiliki kenangan indah dalam hidupku saat bersama dengan dirinya. Agar kelak aku dapat mengenangnya kembali dan merasa senang saat mataku akan menutup untuk selamanya.


Saat ini, tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menebus dosa dan kesalahanku karena telah menyakiti Erika dengan sangat parah selain dengan membuang gengsi dan harga diriku untuk memohon kepadamu. Tolonglah aku. Sembuhkan Erika. Bantu aku untuk membuatnya melupakan aku dan menyembuhkan luka yang ada dihatinya karena ulahku."


Kei kembali tercengang dengan perbuatan yang dilakukan oleh pria yang selama ini dianggapnya sebagai musuhnya. Karena saat ini pria itu sedang memohon padanya. Pria yang berhati dingin dan bertemperamen kasar yang selalu memperlihatkan sisi yang gelap dari dirinya. Ternyata orang yang sedang sekarat memang bisa terlihat berbeda, atau mungkin dirinya selama ini memang benar-benar telah salah dalam menilainya.


Tetapi ini merupakan hal yang sulit baginya untuk begitu saja mengiyakan peemohonannya itu yang berarti bahwa dia mendukung dan membiarkan pria itu untuk menyerah dari penyakitnya dan dari kehidupannya yang tak pernah diinginkannya itu.


"Hah sungguh menggelikan, setelah kamu menyakiti hatinya kamu memintaku untuk menyembuhkan lukanya. Apakah kamu pikir segampang itu untuk menyembuhkan hati seseorang yang telah disakiti dengan begitu dalam?"


"Aku tahu kamu pasti akan marah padaku dan kamu berhak untuk itu. Tetapi, hanya kamu lah satu-satunya yang bisa membantuku dan membuatnya kembali bisa merasakan kebahagiannya. Karena Erika pernah mencintaimu dan kamu juga masih mencintainya."


"Berhenti membuang waktu dan tenagamu untuk memaksa atau meyakinkanku untuk membantumu menyembuhkan Erika dari sakit hatinya dan membuatnya bahagia. Karena aku tidak akan pernah mau melakukannya. Jadi daripada kamu membuang waktu dan tenagamu dengan sia-sia, lebih baik kamu berfokus untuk mengobati dirimu dan buatlah dirimu sehat kembali. Bertanggung jawablah pada perbuatanmu sendiri untuk menyembuhkan hati Erika yang telah kamu sakiti dengan mengandalkan dirimu sendiri."


Rey mengetahui dan menyadari ada makna tersirat dibalik penolakan dan kata-kata kasar yang diucapkan kakaknya terhadapnya. Bahwa kakaknya itu sedang memotivasi dan menyemangati dirinya. Tetapi Rey juga tahu bahwa hal itu tidaklah berpengaruh pada pendiriannya.


Dengan merasa bahwa dirinya penuh ironi kehidupan, Rey lalu tersenyum dengan sinis.


"Hhh ... sayangnya aku tidak bisa ...." Setelah menjawabnya, Rey langsung membuang mukanya dan tidak berani menatap Kei. Hatinya kembali merasa sedih dan matanya memerah.


Hati Kei juga ikut terasa perih mendengar perkataan Rey. Apa yang Dokter Steve katakan padanya ternyata benar, selama ini Rey tidak menginginkan dirinya untuk dapat terus bertahan hidup.


"Mengapa?" Kei bertanya dengan lesu, sepertinya dia juga telah ikut kehilangan semangat. Rey menatapnya sebentar dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Apakah karena kamu tidak menginginkan lagi kehidupanmu ini? Dan itu karena selama ini hidupmu telah sangat menderita?" Tanya Kei lagi dan kali ini dengan penuh emosi kesedihan, kekecewaan dan kemarahan.


Rey terus memandangi wajah kakaknya. Matanya mulai tampak berkilauan dan perlahan beberapa bulir air menetes dari matanya.


"Aku hanya merasa lelah ... sangat lelah ... Bukan karena hidupku menderita, tetapi karena aku selalu menyakiti dan memberi penderitaan bagi orang-orang yang kucintai. Ibuku, Erika,


..." dan mungkin kelak dirimu, batin Rey. "Kamu pernah mengatakan bahwa aku sangat beruntung karena memiliki ibumu dan Erika yang juga sangat menyayangiku. Kamu benar, aku memang beruntung. Tetapi kau tahu apa yang kulakukan pada mereka sebagai balasannya? Aku malah membuat mereka menderita. Karena adanya diriku maka ibuku jadi mengalami penderitaan selama hidupnya. Begitu juga dengan Erika. Aku telah sangat menyakitinya hingga ia mengalami kecelakaan dan terluka."


"Sadarlah, apa yang kamu pikirkan itu adalah sebuah kesalahan besar. Yang membuat mereka menderita dan tersakiti bukanlah karena kehadiranmu di kehidupan mereka, melainkan karena pikiranmu yang salah itu. Terkadang sebuah pengorbanan memang perlu dilakukan demi untuk membuat orang yang kita cintai berbahagia. Walaupun pengorbanan itu memberi penderitaan, namun hal itu sebanding dengan kebahagiaan yang orang kita cintai rasakan. Tetapi jika sebuah pengorbanan itu memberi penderitaan bagi dirinya sendiri dan juga bagi orang yang kita berikan, maka itulah penderitaan yang sesungguhnya.


Jadi, jika kamu memang mencintai mereka, maka cobalah untuk menerima dan menghargai cinta dan pengorbanan yang mereka berikan padamu. Kamu cukup membalasnya dengan menjalani hidupmu dengan bahagia dan penuh semangat untuk dapat terus bertahan hidup. Karena untuk membuat orang yang kita cintai berbahagia adalah dengan memberi mereka kebahagiaan yang sudah kita miliki terlebih dahulu."


***