
Keesokan paginya, Erika keluar kamarnya 5 menit sebelum jam 5 pagi. Ia duduk dengan manis di kursi teras untuk menunggu Rey. Akhirnya tepat jam 5 pagi, Rey keluar rumah. Ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam yang dipadukan dengan sweater berwarna putih didalamnya dan celana jeans ketat berwarna gelap yang dilengkapi dengan beberapa atribut seperti sepatu boot dan sarung tangan berbahan kulit.
Penampilannnya itu semakin menambah ketampanannya karena ia terlihat gagah dan maskulin seperti anak geng motor yang akan melaju balapan. Erika langsung melongo dan terpana melihatnya.
"Ada apa? Apa ada yang salah denganku?" tanya Rey bingung sambil menatap ke dirinya.
Erika menelan ludahnya. "Ehmm, tidak.." jawab Erika tersipu malu. "Kamu mau kemana? Mengapa berpenampilan dan menggunakan atribut seperti itu? Seperti akan pergi balapan saja.." tanya Erika lagi.
"Oh iya aku lupa memberitahumu kalau villa ibuku terletak di dekat puncak pegunungan sehingga perjalanan ke sana cukup lama jika menggunakan mobil karena jalanannya menanjak dan agak curam. Jadi kita akan mengendarai motor menuju ke sana.." Rey berkata sambil menunjuk sebuah motor besar yang sudah terparkir di sisi sebrang rumah.
"Ohh.. Apa?!" Erika baru tersadar. Itu berarti dirinya akan sangat duduk menempel dan dekat sekali dengan Rey selama perjalanan. Dan, baju yang dipakainya hanya sehelai kaos tipis yang tidak akan bisa menahan hembusan angin yang bertiup.
"Tunggu.. aku harus berganti pakaian dulu." Erika langsung berbalik dan berlari ingin masuk ke dalam rumah lagi.
"Tidak perlu. Ini." ucap Rey seraya memberikan Erika sweater dan jaket kulit dengan model yang serupa dengan miliknya.
"Wahh.. punya siapa ini? Apakah kamu memang sudah sengaja mempersiapkannya untukku?" tanya Erika takjub.
"Pakai saja dan jangan bertanya." Rey lalu pergi berjalan meninggalkannya.
Erika mengerucutkan bibirnya dan memberengut kesal. Tetapi kemudian ia buru-buru memakai sweater dan jaket yang Rey berikan padanya dan segera berlari menyusulnya. Erika tahu pria didepannya itu orang yang dingin dan cuek, jadi percuma saja kalau dia ngambek. Karena Rey tidak akan mempedulikannya dan akan pergi meninggalkannya begitu saja.
Rey membantu Erika memakai helm dan mereka naik ke atas motor.
"Berpeganglah yang kencang denganku." ucap Rey sebelum menjalankan motornya. Erika merasa ragu dan malu untuk merangkulkan lengannya pada pinggang Rey. Rey menengok ke belakang dan menarik lengan Erika lalu melingkarkannya di pinggangnya. Saat Rey memutar gasnya, motor langsung melaju dengan sangat kencang sehingga tubuh Erika terdorong jatuh dan menabrak tubuh Rey. Lalu Erika pun membiarkan tubuhnya tetap menempel dan bersandar pada tubuh Rey sambil tersenyum senang dan malu-malu.
Sebelum pergi, Rey telah nenyiapkan sebuah pesan untuk kedua anak buahnya dan meletakkannya di meja makan. Pesan itu berbunyi bahwa dia dan Erika akan pergi selama beberapa hari dan meminta mereka untuk membantu paman menjaga serta mengurus perkebunan selama mereka pergi.
***
Setelah melewati perjalanan selama satu jam lebih, mereka akhirnya sampai di villa tujuan mereka. Di depan villa itu terdapat papan nama bertuliskan "Alisha" yang berukuran besar. Itu adalah nama ibu Rey yang juga merupakan nama dari villa tersebut.
Kei mengarahkan motor yang dibawanya masuk ke dalam villa dan berhenti didepan sebuah taman. Dia memarkirkan motornya dan mereka lalu turun dari motor.
Erika merasa takjub ketika melihat disekeliling villa itu ada banyak taman dengan bunga-bunga indah dan juga pepohonan hijau yang tumbuh secara rapih. Sehingga membuat udara terasa sejuk dan menyegarkan.
Villa Alisha memiliki ukuran lahan yang cukup luas tetapi hanya memiliki 3 buah bangunan rumah dengan salah satunya berukuran lebih besar dibandingkan dengan ukuran rumah yang lainnya.
Rey mengajak Erika untuk masuk ke dalam rumah yang memiliki ukuran paling besar tersebut. Begitu masuk ke dalam, terdapat sebuah ruangan yang adalah ruang tamu. Pada dinding ruang tamu itu terdapat sebuah bingkai foto lukisan yang berukuran besar yang menggambarkan wajah seorang wanita muda cantik yang sedang tersenyum dengan anggun. Wanita pada foto tersebut merupakan seorang keturunan Indonesia yang memiliki mata yang besar dan bulat. Dan jika diperhatikan, mata Rey yang juga berukuran besar itu menyerupai mata wanita cantik yang ada di dalam foto tersebut.
Erika menoleh kepada Rey dan melihatnya sedang menatapi foto tersebut dengan tatapan yang mendalam dan penuh kesedihan tanpa mengedipkan matanya. Erika bahkan dapat merasakan adanya ikatan yang begitu mendalam antara Rey dengan wanita itu. Tak diragukan lagi, foto itu adalah foto mendiang ibu Rey ketika masih muda.
Setelah berjalan mengelilingi taman entah yang ke berapa kalinya, Erika melihat Rey berjalan menghampirinya. "Erika.." panggil Rey sambil melambaikan tangan. "Ayo kita masuk ke dalam. Maafkan aku tadi terlalu terbawa oleh emosi dan perasaan." Rey menjelaskan.
Erika menggeleng. "Tidak masalah, wajar kalau kamu bersikap seperti itu kepada mendiang ibumu. Karena walau bagaimanapun cuek dan dinginnya dirimu, tetapi aku tahu bahwa sebenarnya kamu orang yang sangat berperasaan. Hanya saja selama ini kamu selalu menahan dan berusaha menutupinya." jawab Erika.
"Hmm, apa sekarang kamu sudah sangat mengenalku atau karena kamu adalah seorang peramal yang bisa membaca pikiran orang?"
"Apaan sih kamu. Aku serius."
"Iya, iya aku tahu. Ayo kita masuk."
Setelah sampai di dalam rumah, mereka kembali berdiri di depan foto mendiang ibu Rey.
"Jadi, kamu sudah tahu kalau ini adalah foto mendiang ibuku?" Erika mengangguk mengiyakan.
"Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?" tanyanya heran.
"Mata kalian. Kalian mempunyai sepasang mata yang sama persis. Mata yang bulat dan besar yang sangat indah serta atraktif untuk dilihat."
"Oh ya..? Hmm, tapi memang benar yang kamu katakan. Aku memang paling menyukai mataku dibanding anggota tubuhku yang lainnya." Erika memandanginya dan lalu tertawa. Ia tak menyangka Rey bisa bersikap narsis seperti itu.
"Narsis ya kamu." ledeknya. "Bagaimana dengan fotomu dan anggota keluargamu yang lainnya? Seperti ayahmu dan adik atau kakakmu? Mengapa tidak ada foto mereka yang ditempel disini?"
"Tidak ada. Anggota keluargaku hanya kami berdua saja. Tidak ada yang lain." Raut wajah Rey berubah dengan sorot mata yang menggelap dan seperti ada rasa benci serta kemarahan didalam ucapannya.
Erika pun terdiam dan tidak berani untuk bertanya lagi.
"Ayo kita masuk ke dalam." ajak Rey.
Terlihat ada seorang wanita berusia paruh baya masuk ke dalam rumah dan menghampiri mereka.
"Tuan Rey, anda sudah tiba." Sapa ibu itu. Dia adalah Bi Ratih yang selama ini mengurus dan menjaga villa ini. Dia dipercaya untuk menjaga villa ini bersama dengan suaminya. Mereka tinggal di salah satu rumah kecil yang letaknya bersebelahan dengan rumah ini.
"Erika, perkenalkan dia adalah Bi Ratih. Dan Bi Ratih, ini adalah Erika."
"Selamat datang Non Erika." sapa Bi Ratih. Erika memberikan senyumnya pada Bi Ratih.
Mereka lalu menuju ke meja makan untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah selesai sarapan, Bi Ratih mengantarkan Erika menuju kamarnya. Dan Rey pergi menuju ke kamarnya sendiri. Mereka masing-masing masuk ke kamar untuk merapihkan pakaian dan perlengkapan lainnya yang mereka bawa dan beristirahat sejenak di sana.
***