
Rey sedang menelepon dokter Steve untuk memintanya mengirimkan obat ke villa karena obatnya sudah habis. Tetapi dokter Steve malah memarahinya.
"Apakah kamu lupa dengan apa yang aku katakan? Atau kamu sengaja meminumnya melebihi dosis yang kuberikan? Kamu tahu kan kalau itu sangat berbahaya. Obat itu tidak akan memberi efek lagi ditubuhmu jika kamu sembarangan meminumnya dan melebihi dosis. Setelah itu kamu harus menggantinya dengan obat lain yang memiliki dosis yang lebih tinggi. Lama kelamaan, tubuhmu akan semakin lemah tetapi juga akan kebal terhadap obat-obatan yang ada sehingga tidak ada dosis obat yang ampuh yang bisa meredam dan mengatasi rasa sakitmu."
"Tetapi aku memerlukannya, karena rasa sakit yang kurasakan semakin parah dan aku tidak dapat menahannya sehingga aku harus meminumnya untuk meredakan rasa sakitku."
"Apakah tubuhmu semakin sering terasa sakit dan juga tiba-tiba mengalami demam?"
"Iya, belakangan seperti itu yang kurasakan."
"Kurasa itu karena pengaruh suhu udara yang lebih rendah pada kawasan tempatmu tinggal sehingga menyebabkan udaranya akan terasa lebih dingin. Dan sejak kecil tubuhmu memang tidak kuat menahan dingin. Rey, kembalilah ke Jakarta dan segeralah melakukan pengobatan di rumah sakit. Sebelum terlambat ...."
Rey mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Ia buru-buru ingin menyudahi pembicaraannya dengan dokter Steve.
"Baik Dok, akan kupertimbangkan jika kamu tidak marah lagi padaku dan mau mengirimiku obat lagi."
"Berjanjilah dulu padaku."
"Iya Dokter Steve, aku berjanji." Jawab Rey agar bisa segera menyudahi pembicaraan mereka.
"Baiklah kalau begitu aku akan segera mengirimkan obatnya ke villamu."
"Terima kasih Dok." Rey menutup teleponnya.
"Masuklah." teriaknya menyahut orang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tuan, ada seorang pengacara yang datang dan sedang menunggumu di luar."
"Pengacara?" tanya Rey heran. Ia lalu keluar menemui pengacara tersebut.
Pria itu adalah pengacara yang dikirim Kei untuk mengambil alih kepemilikan villa tersebut.
"Apakah Kei Takahiro yang mengirimmu ke sini? Di mana dia? Katakan padanya aku ingin menemuinya untuk berbicara secara pribadi dulu sebelum kamu memproses gugatan ini secara sah."
Pengacara tersebut menelepon Kei untuk menanyakan apakah Kei mau bertemu dengan Rey. Kei menyetujuinya. Pengacara itu memberitahukan keberadaan Kei sebelum pulang. Tanpa menunda lagi, Rey segera berangkat menuju tempat yang telah ia dan Kei janjikan untuk bertemu.
Erika masih berada di dalam kamarnya, ia tidak tahu tentang kedatangan pengacara di rumah itu. Rey telah berpesan pada pak Dimas agar tidak memberitahukan Erika dan mengatakan kalau ia hanya pergi sebentar.
***
"Erika. Aku akan mengembalikannya padamu tetapi dengan syarat."
"Heh ...." Kei mendengus. "Percuma saja, walaupun kamu mau mengembalikan fisiknya padaku tetapi hatinya sudah bukan untukku lagi. Karena dia sudah menyerahkan hatinya kepadamu. Sekarang aku hanya mau mengambil villa milik ibuku darimu. Apa kamu tahu kalau villa itu sangatlah berharga bagi ibuku. Karena di sana menyimpan banyak kenangan indah tentang dirinya dan ayahku. Dan juga foto lukisan wajah ibuku yang merupakan wujud rasa cinta ayahku terhadapnya."
Tentu saja Rey mengetahuinya. Ibunya sangat mencintai ayahnya walaupun telah berpisah lama. Sehingga benda pemberian ayahnya yang masih dimilikinya sangatlah berharga dan sangat dijaga oleh ibunya. Bahkan ibunya lebih rela bersusah payah membanting tulang untuk mencari biaya pengobatannya daripada harus menjual villa tersebut.
"Aku tahu ...." jawab Rey dengan suara lirih. Kei melihat secara sekilas nampak ada kilauan cahaya di mata Rey sebelum ia mengalihkan wajahnya setelah selesai berbicara. Kei merasa aneh dan bingung. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan sikap Rey tiba-tiba berubah menjadi lunak dan melankolis seperti ini. Dia pikir, pria itu akan bersikap kasar atau menantang dirinya pada kedatangannya ini. Karena tujuan dia datang adalah untuk menyelesaikan urusan mereka yang berkaitan dengan perebutan hak milik atas Villa Alisha.
"Karena itu aku ke sini untuk mempertahankan hakku untuk tetap memiliki villa itu." Suara Rey terdengar datar dan dengan ekspresi wajah yang dingin seperti biasanya. Yang sungguh terlihat membingungkan, dimanakah emosi dan kemarahannya yang selama ini meledak-ledak saat sedang berhadapan dengan Kei.
Kei ikut menanggapi ucapannya dengan tenang dan bernada datar.
"Jadi, maksudmu kamu lebih memilih villa itu daripada Erika? Inikah syarat yang ingin kamu ajukan padaku? untuk melakukan barter dengan Erika?"
Rey menundukkan kepalanya ketika menjawab karena ia ingin menutupi perasaan sedihnya. "Tidak ... Aku bukan sedang memilih. Erika juga sama pentingnya bagi diriku. Tetapi ini kulakukan demi kabaikannya."
Kei tak mengerti apa maksud perkataan Rey yang mengatakan demi kebaikan Erika. Baginya Rey adalah pria brengsek yang setelah mencuri hati Erika dan berhasil mendapatkannya, sekarang ia ingin melepaskannya begitu saja dan mengembalikannya padanya.
"Kamu sungguh hebat. Kamu bisa memiliki semua wanita yang kucintai. Pertama kamu mendapatkan ibuku. Selama ini aku dibesarkan tanpa kasih sayang ibuku tetapi kamu, dirimu bisa mendapatkan kasih sayang ibuku dan tumbuh besar bersamanya. Lalu kekasihku. Sekarang ia telah jatuh ke dalam pelukanmu dan menjadi milikmu. Erika adalah seorang wanita yang sangat baik dan sangat berharga bagiku. Untuk orang jahat sepertimu bisa memiliki mereka, betapa beruntungnya dirimu."
Rey terdiam merenungi ucapan Kei. Ia seperti mendapat sebuah tamparan kesadaran. Itu benar bahwa betapa beruntung dirinya mendapat kasih sayang dan cinta ibunya yang begitu besar. Juga Erika yang sangat mencintai dirinya dan bahkan mau menerima dirinya serta segala keburukannya.Tetapi selama ini ia tidak pernah menyadarinya dan selalu berpikir dirinya telah sangat menderita. Ia selalu merasa kehidupan yang dimilikinya adalah buruk, bahkan dalam hatinya ia sering bertanya mengapa ia harus dilahirkan? Dan tidak hanya itu, bahkan ia mendendam pada kakaknya dan ingin membuat kakaknya ikut mengalami penderitaan seperti dirinya.
"Kamu benar ... Aku memang beruntung ...." jawab Rey dengan tatapannya yang menggelap. Pikirannya berkeliaran dan secara liar menyerang dirinya atas segala perbuatan buruknya dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi kamu tidak menyadarinya, kan. Kamu tidak pantas untuk memiliki semuanya karena kamu bahkan tidak tahu cara menghargainya dan tidak pernah mensyukurinya. Oleh karena itu aku akan mengambil dan merebutnya kembali."
Rey menarik dirinya kembali dari pikiran liarnya. Ia menatap kakaknya dan berkata, "Tenang saja, pada akhirnya semua itu akan kembali padamu lagi, tapi nanti. Untuk sekarang, aku hanya akan mengembalikan Erika padamu."
"Mengapa? Berikan aku alasan yang sebenarnya. Baru setelah itu aku akan memutuskan apa yang harus kulakukan."
"Sederhana. Karena aku sudah bosan dengannya dan tidak tertarik lagi padanya. Aku juga sudah muak dengan kalian dan dengan semua keributan ini. Sekarang, aku butuh ketenangan agar aku dapat menikmati hidupku dengan tenang dan damai selama beberapa waktu. Setelah itu, aku akan menyerahkan semua harta benda peninggalan ibuku untuk menjadi milikmu."
"Ternyata benar selama ini kamu hanya ingin mempermainkannya saja. Dan sekarang kamu ingin mencampakkannya dengan memberikannya kembali kepadaku. Kamu memang seorang pria brengsek!Kamu pikir apa Erika dan diriku ini? Apa kamu anggap kami bagaikan sampah dan tong sampahmu? Jangan seenaknya memperlakukan Erika seperti itu setelah apa yang telah kamu perbuat terhadapnya selama ini. "
Rey mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Kei. Lalu ia berkata, "Aku memang pria brengsek ... atau terserah kamu mau menghina aku dengan hinaan apapun, aku tak peduli. Aku juga tidak peduli dengan apa yang mau kamu pikirkan. Sekarang, aku hanya akan mengembalikan Erika padamu dan aku ingin kalian pergi dari hidupku selamanya. Jangan mengusikku lagi."