Happiness For You

Happiness For You
49 Melihat Erika



Setelah dirawat dan beristirahat selama satu hari penuh di rumah sakit, efek kemoterapi yang membuat tubuh Rey terasa sakit dan menjadi lebih lemah sudah menghilang. Sehingga Rey sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.


Kini sudah tiga hari berlalu sejak kepulangannya kembali ke rumahnya. Tetapi hari ini Rey kembali datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter dan mengkonsultasikan kondisinya saat ini serta juga untuk mengambil hasil tes kesehatannya.


Berdasarkan hasil pengecekan dan pemeriksaan yang dokter lakukan padanya, secara keseluruhan hasil kemoterapi pertama yang Rey dapatkan cukup membuahkan hasil yang baik. Karena kondisi Rey saat ini sudah lebih membaik dan ia juga terlihat lebih sehat.


Setelah selesai berkonsultasi dengan dokternya, Rey pun akan kembali pulang ke rumahnya. Saat ini ia sedang berada di dalam lift karena hendak turun ke lantai bawah lobby rumah sakit. Secara kebetulan, Erika juga sedang berada di lobby rumah sakit dan sedang berdiri di area sekitar pintu bersama dengan orangtuanya untuk menunggu mobil jemputan karena hari ini Erika sudah bisa keluar dari rumah sakit.


Lalu ketika Rey sedang berjalan keluar dari pintu lift menuju ke pintu keluar, tanpa sengaja Rey menemukan mereka. Rey melihat Erika yang sudah tampak lebih sehat dan perban yang melilit di sekeliling kepalanya juga sudah dibuka, tetapi di dahinya masih ditempeli perban yang berukuran lebih kecil. Namun wajahnya tampak tidak bersemangat dan tidak ceria, seperti sedang menyimpan kesedihan di dalam hatinya. Dan Rey tahu apa penyebab kesedihannya itu dan siapa yang membuatnya sedih sepert itu. Rey menundukkan kepalanya dan ikut merasakan perasaan sedihnya.


Mobil jemputan Erika telah tiba di depan pintu lobby rumah sakit. Ibu Erika menuntun Erika berjalan keluar dan membantunya masuk ke dalam mobil jemputan mereka tersebut. Namun sebelum melangkah keluar, Erika menyempatkan dirinya untuk menoleh ke arah belakangnya. Erika merasa sepertinya di sana ada seseorang yang sedang memperhatikan dan mengamatinya. Dan seseorang itu adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya yang juga sangat dirindukannya. Tetapi saat ia menoleh ke belakang dan juga mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya, Erika tidak menemukan sosok yang diharapkannya itu. Erika pun harus merasakan kekecewaannya karena apa yang dirasakannya tadi ternyata hanyalah khayalan dan keinginannya saja untuk dapat bisa melihat dan menemukan pria yang sangat dia inginkan untuk dapat bertemu dengannya. Lalu Erika melanjutkan langkahnya dengan lesu untuk naik ke dalam mobilnya dengan dibantu oleh ayahnya.


Sedangkan sosok Rey yang memang sedang ada di sana dan sedang memperhatikan Erika, terlihat berusaha menyembunyikan penampakan dirinya dengan sedikit menundukkan mukanya. Kebetulan saat ini ia sedang mengenakan masker di wajahnya yang memang wajib ia kenakan ketika berpergian atau saat berada di tempat umum agar dirinya yang baru saja dikemoterapi terhindar dari bakteri dan virus yang bisa membuat tubuhnya melemah. Selain itu, dia memposisikan dirinya dengan berdiri secara menyamping diantara para kerumunan pengunjung yang sedang menunggu lift sehingga Erika tidak dapat menemukannya.


Setelah memastikan mobil yang menjemput Erika telah melaju pergi, Rey pun buru-buru ikut keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju ke parkiran mobilnya. Ia lalu melajukan mobilnya mengikuti arah laju mobil Erika secara sembunyi-sembunyi dan dengan kecepatan lebih pelan di belakang mereka. Hal itu dilakukannya karena Rey masih ingin melihat Erika dan ingin ikut mengantarnya untuk memastikan bahwa Erika telah sampai di rumahnya dan dalam keadaan baik-baik saja. Saat mobil mereka telah menghilang dan masuk ke pintu gerbang rumah Erika, Rey pun melaju pergi.


Ternyata saat menunggu pintu gerbang rumahnya dibuka untuk masuk ke dalam rumahnya, Erika sempat melihat mobil Rey yang sedang melintas secara pelan dibelakang mobilnya melalui kaca spion mobilnya. Tetapi dirinya tidak mau begitu memperhatikannya dan tidak ingin memastikannya. Karena dia takut dirinya akan kembali mengalami kekecewaan ketika ternyata ia salah melihat lagi.


Keesokan harinya Rey kembali datang ke rumah Erika. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang waktu itu Sato parkir saat akan membantu Erika kabur dari rumahnya. Kemudian ia mengamati kamar Erika dari dalam mobilnya. Tetapi ia tak dapat melihat apapun di sana. Seandainya Rey memiliki kekuatan super, mungkin saat ini Rey sudah masuk ke dalam kamar Erika secara diam-diam dan mengamatinya dari dekat. Karena ia hanya seorang manusia biasa dan memiliki keterbatasan, hanya inilah yang bisa Rey lakukan untuk mengatasi rasa rindunya. Tetapi usahanya itu belum memberikan apa yang dia butuhkan.


***


Ketika Rey masuk ke dalam ruang kerja bosnya, di dalam sedang ada beberapa anak buah bos nya yang sedang berkumpul di sana. Kebanyakan dari mereka adalah anggota yang merupakan senior bagi Rey. Salah satunya adalah Kabuto, pria yang selalu memusuhi Rey dan tidak suka kepadanya. Kabuto mengamati Rey yang berjalan lurus ke depan yang dengan hanya mengarahkan pandangannya pada Bos besar mereka saja yang sedang duduk di depan mereka.


Tatapan Kabuto tajam dan mengkilat saat menatap Rey yang berjalan melewatinya tanpa memandangnya ataupun menegurnya sekalipun. Begitu juga dengan tatapan para seniornya yang lain yang juga sedang berada di dalam ruangan. Bagi mereka Rey sungguh terlihat angkuh dan besar kepala karena ia menjadi yang paling favorit bagi bos besar mereka.


"Bos ...." Rey menyapa bosnya sambil membungkuk sedikit untuk memberi hormat padanya.


"Rey, kamu sudah datang. Kemarilah." Tuan Yoshiro melambaikan telapak tangannya sebagai isyarat untuk Rey mendekatinya. "Kalian semua keluarlah dulu." Tuan Yoshiro lalu memerintahkan para anak buah yang lainnya untuk keluar karena saat ini dia hanya ingin berbicara berdua saja dengan Rey.


Disaat itulah Rey baru menyadari bahwa saat ini mereka sedang melakukan pertemuan yang pastinya sedang mendiskusikan sesuatu yang penting yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Rey juga baru melihat bahwa para anak buah bosnya yang satu persatu meninggalkan ruangan ini sebagian besarnya adalah para seniornya. Selama ini, Rey bukanlah seorang yang bersikap angkuh karena statusnya yang spesial. Tetapi dia memang tidak suka untuk berbasa basi atau menjilat para anggota lainnya karena ia memang seorang yang cuek, pendiam dan lebih suka untuk menyendiri. Sehingga dia tidak terbiasa untuk beramah tamah dan berbasa basi. Kalau di dunia pergaulan masyarakat biasanya, bisa dibilang Rey adalah seorang yang kuper atau introvert.


"Bos, maafkan saya menginterupsi pertemuan kalian. Sebaiknya biarkan saya yang mundur dan datang lagi di lain waktu. Sehingga anda dan para senior bisa melanjutkan kembali pembahasan penting kalian yang sedang berlangsung." Ucap Rey yang merasa tak enak karena telah menginterupsi sehingga ia bersikap sopan dengan mengalah pada mereka.


"Tidak perlu, tetaplah di sini. Jangan pedulikan mereka." Untung saja saat Tuan Yoshiro mengatakan hal tersebut mereka semua sudah keluar dari ruangan sehingga tidak mendengar apa yang ia ucapkan. Bila tidak, mereka pasti akan semakin membenci dan cemburu pada Rey karena selalu diprioritaskan dan dibela oleh bos besar mereka itu.


Rey lalu duduk dibangku yang ada di depan Tuan Yoshiro. Mereka duduk sambil berbincang dengan jarak yang cukup berdekatan dan berada dalam satu meja. Sehingga mereka menjadi lebih dekat dan lebih santai, benar-benar seperti seorang ayah dan anak yang sedang berbicara saja. Rey pun kembali memanggilnya dengan sebutan ayah. Karena itu adalah panggilan yang bosnya inginkan untuk Rey memanggilnya. Hanya saja Rey tidak mau untuk memanggilnya dengan sebutan itu disaat waktunya bekerja atau didepan para anggota lainnya. Walaupun semua anggota telah mengetahui statusnya yang sebagai anak angkat bos besar mereka itu.


***