
Jam 9 pagi Erika terbangun dari tidurnya karena ada bunyi dering sebuah hp. Padahal Erika baru dapat tertidur satu jam yang lalu setelah sebelumnya ia tidak bisa tidur. Erika mengambil hpnya dan kemudian ia sadar bahwa hpnya sedang tidak aktif. Erika lalu mencari hp lain yang berbunyi itu, mengikuti arah sumber suara berasal. Erika menemukannya, dia melihat ke layar hp tertera nama 'Ryota' yang melakukan panggilan telepon itu. Awalnya ia ragu-ragu, tetapi akhirnya dia memencet tombol jawab.
"Halo, Bos. Kami sudah tiba di depan rumahmu."
Erika bingung. Dia tidak tahu siapa orang yang menelepon itu. Sepertinya panggilan 'Bos' itu ditujukan kepada pria yang sedang terluka itu yang juga adalah si pemilik rumah ini. Sekarang, apa yang harus dia katakan untuk merespon si penelepon ini?
"Halo, Bos. Tolong bukakan pintu. Kami sudah ada di depan di rumahmu." Terdengar suara pria dari sebrang itu yang mencoba berbicara lagi karena tidak ada suara jawaban.
Erika pun menjawabnya singkat "Baiklah". Dia lalu merapihkan baju dan rambutnya yang pasti terlihat berantakan karena habis tidur. Kemudian ia berjalan keluar untuk membukakan pintu. Erika sudah berada di depan pintu. Ternyata pintu rumah ini menggunakan kunci digital. Dan Erika tidak tahu cara membukanya. Selain karena dia tidak memiliki kode aksesnya, dia juga tidak dapat menemukan tombol pembuka kunci pada pegangan pintu tersebut.
Erika lalu mendatangi Rey yang berada di ruang keluarga untuk memberitahunya bahwa ada anak buahnya yang sedang menunggu di depan rumahnya. Dan sekaligus menanyakan pada Rey bagaimana cara membuka pintu rumahnya itu.
Tetapi ternyata Rey masih tertidur dengan sangat lelap saat ini. Erika senang karena akhirnya pria itu dapat tertidur setelah sebelumnya ia terus dalam keadaan terjaga karena luka dan rasa sakit ditubuhnya membuatnya merasa tak nyaman hingga sulit tidur.
Melihat Rey yang sedang terlelap seperti itu, Erika malah tertarik untuk mengamati Rey sehingga menjadi lupa akan tujuannya datang kemari. Karena disaat ini, dengan tubuhnya yang sedang terbaring diam karena sedang terlelap dalam tidurnya dan dengan matanya yang terpejam, pria itu terlihat sungguh berbeda. Tatapan matanya yang tajam menusuk dengan penuh aura kegelapan yang menyelimuti dirinya sehingga membuatnya selalu terlihat menyeramkan, saat ini tak terlihat. Seolah semua hal yang menakutkan dalam dirinya itu telah sirna dan tenggelam karena tenang dan diamnya itu.
Dengan tubuh bagian atasnya yang tanpa mengenakan atasan, memperlihatkan dadanya yang bidang dengan tubuh yang berotot di bagian perut dan lengannya. Otot-otot itu terbentuk dengan pas, terlihat ok bagi Erika, karena tidak terlalu besar hingga tidak terlihat menyeramkan juga bukan otot yang masih baru dilatih. Kulitnya yang berwarna agak kecoklatan membuatnya nampak seksi dan kuat.
Dadanya yang bidang itu terlihat naik turun dengan teratur membuat Erika dapat merasakan Rey yang sedang bernafas dengan lembut dan teratur. Sehingga Erika seperti merasa pria itu penuh kelembutan dan ketenangan.
Erika menduga, seandainya saja wajahnya tidak sedang babak belur, pria itu sepertinya memiliki wajah yang tampan. Kalau memang benar seperti itu maka dia akan terlihat sungguh mempesona bak pangeran kegelapan dengan wajah yang tampan, tubuh yang tinggi ramping serta tegap dan dengan aura kegelapan yang selalu terpancar di matanya. Dengan pesona ketampanan dan kharisma kegelapan yang ada padanya, pastinya membuat banyak wanita tersihir sehingga bersedia bertekuk lutut dihadapannya dan rela menyerahkan seluruh dirinya untuk menjadi mangsanya.
Tetapi dengan apa yang terjadi pada Rey tengah malam tadi sehingga membuatnya terluka parah seperti saat ini, dalam hati Erika timbul berbagai perasaan yang sulit digambarkan olehnya. Seperti perasaan iba, kasihan serta prihatin dengan kondisi wajahnya yang babak belur dan kedua matanya yang membengkak, membuat pria itu terlihat menyedihkan.
Selain itu juga, Erika ikut merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Erika seperti tersihir oleh pesona pria itu sehingga membuatnya ingin terus berada didekatnya supaya bisa terus memandanginya.
Hp Rey yang berada ditangan Erika kini berdering lagi. Erika kaget hingga tersadar dari lamunannya. Dia langsung menekan salah satu tombol yang ada di hp karena takut suara hp itu akan membangunkan Rey dari tidurnya. Karena terburu-buru Erika salah menekan tombol di hp itu, bukannya menekan tombol untuk menjawab panggilan telepon melainkan tombol untuk menolak panggilan yang ditekannya.
Terlanjur sudah, Rey pun terbangun karena bunyi dering hp itu.
"Berikan padaku." Suara Rey terdengar parau. Walaupun matanya masih enggan untuk membuka karena cahaya sinar mentari di pagi hari yang terang menyilaukannya, tetapi Rey dapat langsung mengenali bahwa bunyi hp yang berdering tadi itu adalah dari hp miliknya.
Sekarang Rey sudah sepenuhnya bangun dari tidurnya yang lelap. Matanya juga sudah bisa menyesuaikan dengan sinar mentari pagi sehingga telah membuka lebar. Dia mengubah posisinya yang tadi sedang berbaring menjadi ke posisi duduk. Lalu dia menengadahkan telapak tangannya ke arah Erika yang berdiri di depannya, seperti meminta. Erika lalu meletakkan hp itu di atas telapak tangan Rey yang membuka dan terjulur kepadanya.
Rey mengecek panggilan di hpnya dan melihat ada beberapa panggilan dari anak buahnya yang bernama Ryota. Biasanya pada jam segini para anak buahnya memang akan datang secara terjadwal untuk absen ke rumahnya. Rey berusaha untuk bangun berdiri, tetapi sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Refleks, Rey mengeluarkan suara rintihan yang kemudian dia tahan-tahan karena ada Erika didepannya yang sedang memperhatikannya sehingga dia merasa malu untuk menunjukkan rasa sakitnya. Luka-lukanya itu ternyata kembali bereaksi memberikan rasa sakit seperti berteriak meminta diperhatikan dan dirawat dengan baik. Rasa sakit itu pun seperti telah menguras banyak tenaganya hingga dia merasa tubuhnya lemas dan tak bertenaga.
Erika melihat Rey yang merintih kesakitan dan mengetahui bahwa dia kesulitan untuk berdiri.
"Tolong bukakan pintu rumahku." Baru saja Erika membuka mulutnya untuk menanyakan bagaimana cara membuka pintunya sehingga biar dia saja yang membukakan pintunya, tetapi Rey sudah menduluinya berbicara dan meminta tolong padanya. Dan permintaan tolongnya itu, lebih terkesan seperti sebuah perintah karena nada suaranya yang dingin dan tegas. Sehingga membuat Erika takut untuk menanyakannya.
"******" Rey segera memotong ucapannya dengan menyebutkan kode password tersebut. Sebenarnya, ada sebuah tombol pada pegangan pintu untuk membuka pintu itu dari dalam. Tetapi lebih mudah bagi Rey untuk memberitahunya kode password saja pada Erika sehingga Erika tinggal memasukkan kode itu ke akses pintu. Rey berpikir tidak berbahaya baginya untuk memberitahukan kode password rumahnya pada perempuan lemah berbadan mungil itu. Lagipula, angka itu juga pasti akan segera dilupakannya.
Tetapi bagi Erika, kode password itu mudah dan dapat dengan cepat diingatnya karena kode itu tersusun dari tanggal dan bulan lahir Erika. Tanpa berlama-lama, Erika segera menuju ke pintu rumah dan memasukkan nomor kode tersebut pada akses pengontrol yang ada di pintu. Pintu pun terbuka.
Erika menarik gagang pintu hingga daun pintu membuka lebar.
"Selamat pagi, Bos." Kompak rombongan pria yang berdiri di depannya membungkuk untuk memberi hormat dan salam begitu pintu terbuka lebar. Erika terlonjak kaget dengan suara mereka yang sangat kencang. Selain itu dia juga tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu.
Rombongan pria itu berjumlah sekitar 10 orang dan masih tetap membeku dengan posisi membungkuk. Mereka berdiri membentuk 2 barisan ke belakang yang sangat rapih. Rata-rata mereka memiliki badan yang cukup besar dengan lengan berotot yang dipenuhi tato. Juga mengenakan pakaian serba hitam, dari kemeja hingga celana panjang yang juga berwarna hitam. Erika dapat mengetahui bahwa mereka adalah sekelompok gangster.
Salah seorang pria yang berdiri di paling depan pada salah satu barisan, memiliki wajah paling tampan diantara mereka dengan penampilan paling bersih dan rapih. Pria itu mengenakan kacamata sehingga membuatnya terlihat seperti orang pintar dan seperti orang biasa, tidak terlihat seperti seorang gangster. Dengan tubuh yang membungkuk dan pandangan mata ke bawah, pria itu dapat melihat dengan jelas pemandangan telapak kaki Erika yang telanjang tanpa alas kaki yang berada di depannya. Dia lalu menyenggol salah satu temannya yang ada di sampingnya dan menunjuk ke arah telapak kaki Erika tersebut.
Pria yang disenggol itu, dengan masih dalam keadaan membungkuk, mendongakkan sedikit kepalanya ke atas dan juga menaikkan bola matanya sehingga dapat melihat ke bagian atas kaki Erika. Erika sedang mengenakan baju terusan yang bisa juga dikatakan sebagai sebuah gaun sederhana dengan panjang hanya selutut sehingga memperlihatkan bagian kakinya hingga ke betis dan lututnya. Betis Erika itu mulus tak berbulu, ciri khas kaki seorang wanita yang tentunya terlihat feminim dengan ukuran yang mungil dan putih bersih.
Pria yang disenggol itu segera menyadari bahwa orang yang ada di depannya ini adalah seorang wanita dan sudah pasti bukanlah bos mereka. Pria itu langsung menegakkan tubuhnya dengan berani dan tegap. Ia lalu berdehem untuk memberi suatu petunjuk bagi mereka untuk melihat kearahnya dan mengikutinya.
"Ehm..ehem.." Semua temannya melihat kearahnya. Lalu mereka satu persatu mengikutinya untuk mengangkat badannya dan berdiri dengan posisi tegak.
Erika menduga sepertinya pria itu adalah yang bernama Ryota yang menelepon Rey tadi. Dia pasti adalah pemimpin diantara mereka. Karena tingkah dan sikapnya yang berani memperlihatkan dirinya lebih dominan diantara yang lainnya. Wajahnya memiliki perawakan yang kasar dengan kumis yang tipis seperti baru bertumbuh yang menyatu hingga ke jambang. Badannya tinggi besar dengan lengan berotot yang dipenuhi oleh tato dan pasti begitu juga dengan tubuhnya. Berbeda dengan pria berkacamata di sebelahnya yang terlihat hanya memiliki sebuah tato yang melingkar di pergelangan tangannya sehingga terlihat seperti sebuah gelang. Tetapi mereka berdua sama-sama memiliki sebuah tato yang berbentuk menyerupai seekor naga yang sedang memegang sebuah bola berbentuk api.
Erika teringat saat mengobati Rey, dia juga melihat tato seperti itu di punggungnya dengan ukuran yang jauh lebih besar dibanding tato milik pria berkacamata itu. Dan sepertinya, hanya itu satu-satunya tato yang ada ditubuh Rey.
Ternyata..pria itu seorang gangster? Jangan-jangan dia..bos dari para gangster ini..
Erika pun tersadar bahwa pria yang terluka itu adalah seorang 'bos gangster'. Dia sungguh tak percaya, jadi selama ini dia tinggal dan berada di dekat seorang gangster. Bukan hanya seorang gangster, melainkan bosnya para gangster yang ada di depannya ini yang bertampang menyeramkan dengan tubuh dan otot yang besar-besar. Pantas saja pria itu selalu memiliki aura gelap dengan tatapan mata yang sangat menakutkan.
Erika kembali membayangkan lagi, seandainya saja pria itu tidak dalam keadaan terluka dan dalam kondisi sehat-sehat saja, pastinya dia terlihat sangat gagah dengan tubuh yang berdiri tegak dan dengan aura kegelapan disekelilingnya serta rombongan pria yang ada di depannya ini yang seperti pengawal selalu mengikutinya membuatnya benar-benar terlihat bagaikan 'Pangeran Kegelapan'. Erika bergidik ngeri. Berpikir bahwa kemarin malam saat pingsan karena mabuk, dirinya telah diselamatkan oleh seorang pangeran kegelapan bukannya pangeran berkuda putih seperti yang ada di cerita-cerita dongeng.
Erika merasa tubuhnya menciut dan ingin rasanya segera berlari keluar dari rumah itu. Tetapi dengan begitu banyaknya rombongan pria berbadan besar dan berotot itu, jika dia tiba-tiba berlari keluar justru menjadi sangat mencurigakan. Dia berpikir sebaiknya menunggu saat yang tepat untuk keluar dari rumah ini. Lagipula pemilik rumah ini juga seperti tidak menyukai dirinya dan ingin dia segera pergi dari rumahnya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan walau pria itu seorang kepala gangster. Sebaiknya sekarang dia menarik nafas yang dalam dulu untuk menenangkan dirinya.
Ryota mendekatkan wajahnya hingga hampir menempel pada wajah Erika. Erika mundur dua langkah dan membungkukkan badannya ke belakang untuk menjauhkan wajahnya dari pria yang menyeramkan itu. Pria itu sedang memindai dan menelaahnya dari ujung kepala sampai ujung telapak kaki. Matanya menyipit awalnya tetapi lama-lama matanya membesar seperti membelalak kepadanya. Entah dia sedang menatap curiga atau menatap kagum padanya.
"Wow apakah kamu wanita bos kami? Luar biasa, baru kali ini aku melihat bos membawa pulang seorang wanita ke rumahnya. Akhirnya bos mau membuka dirinya dan melepaskan kesendiriannya. Dan, wanita pilihan bos ini sungguh cantik dan menarik." Erika memang memiliki wajah yang cantik dengan ciri khas wanita jepang. Dengan mata yang kecil tetapi memiliki lipatan di kelopak matanya dan berbulu lentik. Wajahnya yang mungil berbentuk oval dengan tulang pipi yang menjulang kebawah. Selain itu dia memiliki bibir merah yang mungil. Saat berbicara, bibir mungil itu memperlihatkan barisan gigi putihnya yang tidak rata karena memiliki dua gigi gingsul yang mencuat keluar tetapi membuatnya terlihat manis saat tersenyum.
***