
Setelah Erika dan atasanya Pak Doddie beserta anggota tim lainnya melakukan berbagai persiapan untuk acara perlombaan memasak selama beberapa bulan, kini semua persiapannya telah rampung. Besok acara lomba tersebut akan dimulai.
Perlombaan tersebut akan diadakan di venue Hotel Hiro. Hal itu terjadi bukanlah suatu kebetulan, melainkan karena Kei yang mendengar dan mengetahui bahwa adiknya telah didaftarkan oleh Erika untuk mengikuti lomba memasak, meminta Erika untuk menggunakan venue nya saja. Permintaan Kei tersebut tentu saja menguntungkan bagi perusahaan Erika sebagai penyelenggara acara tersebut sehingga mereka dengan senang hati menyetujuinya.
Akhirnya hari perlombaan pun tiba. Tentu saja acara tersebut dihadiri oleh Kei dan juga Erika yang ingin melibatkan diri mereka untuk menyaksikan secara langsung orang yang sangat mereka sayangi, Reyhan Wiriawan, beraksi dalam menunjukkan kemampuan dan keterampilannya selama acara perlombaan tersebut berlangsung. Yang secara kebetulan juga mereka berperan sebagai pemilik tempat bagi Kei dan sebagai penyelenggara lomba bagi Erika.
Walaupun sebenarnya lomba itu tidak berkelas Internasional dan hadiah yang dimenangkan tidaklah begitu berarti bagi mereka, namun entah mengapa hati mereka merasakan kegembiraan melihat orang yang sangat mereka cintai itu menunjukkan aksi dan kemampuannya di depan banyak orang. Hal ini tentunya akan menjadi salah satu momen bersejarah dan berharga yang terjadi di kehidupan Rey juga.
Pada perlombaan tersebut ada beberapa segmen yang diperlombakan, dan Rey mengikuti perlombaan di kategori 'Healthy Food'. Sehingga menu makanan yang dibuat harus memperhatikan dan memenuhi beberapa unsur gizi seimbang yang diperlukan bagi tubuh seperti kandungan kalori, karbohidrat, protein, lemak tak jenuh, mineral, dan vitamin yang tersaji dalam makanan tersebut.
Seperti biasa, adik kesayangan sang pemilik Hotel besar dan megah tempat lomba tersebut sedang diadakan, tampil dengan penampakan dirinya yang mempesona. Dengan wajah tampan yang memperlihatkan sedikit sisi kenakalannya serta aura kepercayaan dirinya yang sangat menonjol, sedang berdiri sambil melakukan aksinya dengan gerakan tangannya yang cukup terlatih dan profesional. Membuat Kei melihatnya dengan perasaan kagum dan juga haru. Dia lalu memerintahkan asistennya, Tanaka, untuk mengabadikan setiap momen yang terjadi selama acara perlombaan tersebut berlangsung. Seolah dia menyadari bahwa mungkin ini adalah momen terakhir kalinya yang bisa ia lihat dari adiknya yang tampan dan gagah itu. Karena mungkin setelah ini adiknya harus hidup dalam kondisi yang menyedihkan sebagai seorang pesakitan.
"Erika, adikku sangat tampan dan mempesona, bukan."
"Iya, kak Kei. Dia sangat tampan dan mempesona. Walaupun ia berada diantara ratusan peserta yang sedang mengikuti lomba, namun ia tetap tampak bersinar dan menawan." Jawab Erika penuh dengan kekagumannya pada kekasih yang sangat dicintainya itu.
"Kamu benar Erika. Kamu harus memperhatikan dan mengingatnya dengan baik." Ucap Kei. Membuat Erika sedikit merasa heran dan langsung menoleh kepadanya. Erika melihat dan merasakan perasaan bangga yang terpancar di wajah Kei kepada adiknya. Lalu Erika tersenyum pada Kei. Sedangkan Kei, matanya sudah mulai berair. Tetapi ia buru-buru mengusapnya dengan gerakan pelan dan lembut agar Erika tidak menyadarinya.
Perlombaan itu akan berlangsung selama satu jam. Namun selama satu jam menonton perlombaan yang sedang berlangsung tersebut, wajah Erika nampak tegang. Hal itu dikarenakan Rey pernah membuat sebuah janji padanya. Jika dia berhasil memenangkan perlombaan ini, maka dia akan melamar Erika dengan menggunakan piala yang dimenangkannya dan didepan banyak orang. Bagi Erika janji itu sangatlah berarti. Karena itu juga menunjukkan kesungguhan hati Rey terhadap hubungan yang terjalin diantara mereka.
Akhirnya perlombaan pun selesai. Rey lalu berjalan meninggalkan area lomba untuk menghampiri kakak dan kekasihnya.
"Ken, kamu terlihat hebat. Gaya dan penampilanmu saat memasak tadi, sudah mirip seperti seorang chef profesional saja. Kakak bangga sama kamu."
"Ahh kakak terlalu berlebihan. Aku merasa itu biasa saja."
"Tidak Rey, yang kakakmu katakan itu benar. Hal itu bagimu biasa, tetapi tidak bagi kami. Kamu terlihat sangat profesional dan mempesona."
"Iya iya ... Terima kasih kakakku sayang dan juga Erika ku sayang karena kalian selalu bersedia untuk menjadi pendukungku. Kalian juga sangat memotivasiku dengan kehadiran kalian di sini untuk menonton dan mendampingiku selama perlombaan." ucapnya sambil tersenyum dengan tulus.
Mereka lalu menyuruh Rey duduk di kursi yang terletak diantara mereka sambil menunggu hasil pengumuman pemenang.
"Kamu deg-degan tidak?" Tanya Erika menggoda Rey.
"Sedikit." jawab Rey singkat dan terlihat tak acuh.
"Kamu memang cuek. Lalu kamu yakin tidak akan memenangkan perlombaan tersebut?" Tanya Erika lagi. Sepertinya dialah yang saat ini merasa deg-degan menunggu hasil pemenang diumumkan.
"Sejujurnya kukatakan, untuk memenangkan perlombaan ini bagiku adalah cukup sulit. Karena seperti yang kamu lihat, mereka para peserta lomba lainnya terlihat sangat berpengalaman dan cukup berpendidikan dibidang ini. Sedangkan aku hanya seorang koki baru yang masih berlevel rendah dan belum mempunyai banyak pengalaman. Malahan bisa dikatakan kalau ini adalah pengalaman pertamaku dalam mengikuti perlombaan seperti ini. Jadi aku tidak terlalu berharap kalau aku akan memenangkannya." Jawab Rey dengan memperjelasnya secara panjang dan lebar.
"Rey ...!" Erika merajuk dan marah kepadanya. Ia lalu memberengutkan wajahnya dan pindah posisi duduknya ke sebelah Kei. Sedangkan Rey terlihat cuek dan tidak mempedulikannya.
"Erika, mengapa kamu ngambek dengannya?" Tanya Kei padanya.
"Biasa adikmu ..." Erika lalu memberitahu janji Rey padanya. Kei cukup terkejut ketika mendengar yang disampaikan Erika tersebut.
Tak lama kemudian, presenter mengumumkan para pemenang lomba dengan menyebutkan nama mereka satu persatu beserta kategori perlombaan yang telah diikuti oleh mereka.
"Pemenang kategori Halthy food berhasil dimenangkan oleh peserta dengan nama Reyhan Wiriawan."
Setelah namanya disebut oleh pembawa acara sebagai pemenang, Rey lalu bangun berdiri dan menghampiri Erika. Sambil mengulurkan tangannya pada Erika, dia berkata, "Sayang ..."
Erika yang sedang marah padanya, langsung hilang marahnya.
"Rey ...," Erika lalu meraih telapak tangan Rey yang terjulur padanya. Rey mengangguk padanya dan memberinya seulas senyuman yang menawan dan tulus. Lalu mereka berdua berjalan ke depan dengan saling bergandengan tangan.
Kei mengamati mereka dan dalam hatinya merasakan kepedihan namun ia juga merasakan sebuah perasaan haru dan bahagianya karena melihat senyum bahagia dan paling indah dari adiknya.
"Ken ...." sebutnya lirih dan setetes airmatanya mulai menetes keluar dari pelupuk matanya. Ia lalu terduduk dengan lesu sambil meletakkan tangannya yang tergenggam di depan mulutnya yang bergetar untuk menutupi tangisannya dan sebagai usaha untuk menahan kepedihannya.
Rey dan Erika sudah berada di bawah panggung. Sebelum naik, Rey melepaskan pegangannya pada tangan Erika.
"Tunggu aku." Dia lalu naik ke atas sendirian untuk menerima hadiah dan piala kemenangannya.
Setelah dia menerimanya, dia bertanya pada mereka, "Bolehkah saya meminjam momen yang berharga bagi saya ini untuk mengucapkan beberapa patah kata bagi orang yang sangat saya cintai?"
Presenter bertanya pada pihak penyelenggara yang adalah atasan Erika, kak Doddie. Ia mengenali Rey yang adalah kekasih Erika dan juga adik dari pemilik venue yang mereka gunakan ini. Sehingga ia pun memberi ijinnya.
"Saya meminta sebentar waktu dari kalian untuk meminjam momen yang berharga ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada dua orang yang sangat saya cintai. Pertama adalah kepada Paman Hadi, terima kasih Paman karena telah membantu saya selama ini dalam belajar dan berlatih memasak sehingga saya dapat memenangkan perlombaan ini. Dan yang kedua adalah kepada kakak saya tercinta, Kei Takahiro. Terima kasih, Kak, karena kakak selalu menyayangiku dan memberikan segala hal yang terbaik untukku. Aku sungguh-sungguh senang bisa memiliki kakak sepertimu dan aku juga sangat menyayangimu. Terakhir, saya ingin mempersembahkan piala kemenangan ini kepada wanita yang sangat spesial dan sangat berarti dihati saya." Rey lalu turun ke bawah panggung sambil membawa pialanya.
Kemudian, dia berjalan menghampiri Erika dan berlutut di depannya. Sambil menjulurkan pialanya ke atas ke hadapan Erika, ia berkata, "Erika Kiyomi, bersediakah kamu menerima pialaku ini sebagai bukti ketulusan dan kesungguhan hatiku padamu?"
Pipi Erika telah basah oleh airmatanya yang membanjir hingga ia tidak bisa berucap apa-apa lagi.
"Rey ..."Erika hanya bisa memanggil Rey dengan menyebut namanya sambil menggangguk-angguk mengiyakan. Lalu Erika mengambil piala itu dan Rey langsung menggendongnya dalam pelukannya.
Kei yang masih duduk di tempat duduknya dan sedang menangis, semakin tersentuh hatinya dan tangisnya pun semakin menjadi-jadi. Perasaan hatinya pun tercampur aduk dengan perasaan bangga, gembira sekaligus sedih dan terharu melihat adiknya.
Rey lalu melepas pelukan Erika dan ia menuntun Erika untuk kembali berjalan menghampiri kakaknya. Rey melihat kakaknya yang sedang duduk dengan wajah yang tertunduk seolah ia sedang berusaha menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kakak ...," panggilnya dengan cemas. Rey tahu kalau kakaknya itu sedang menangis. Kei mendongakkan wajahnya yang telah basah karena airmatanya.
"Kakak ..., " Rey memanggilnya lagi sambil duduk berjongkok didekat kakaknya dan memegangi pundaknya. Melihat tangisan kakaknya itu, Rey pun tak kuasa untuk menahan tangisnya dan ikut mengeluarkan airmatanya.
Tanpa mampu berkata-kata, Kei ikut turun ke bawah dan duduk berlutut disamping adiknya untuk memeluknya. "Ken ...." sebutnya dengan suara terisak.
"Mengapa kakak menangis?" Tanya Rey sedikit kebingungan. "Lihat, aku memenangkan perlombaan ini. Kakak seharusnya tersenyum senang dan merasa bangga padaku."
"Iya Ken, kakak menangis karena terharu. Kakak sangat senang dan bangga padamu."
"Terima kasih, kak." Lalu mereka berdua saling memperlihatkan senyuman mereka masing-masing dengan wajah mereka yang masih terlihat bersedih karena habis menangis tadi.
Lalu, seperti biasa, Rey ingin difoto. Ia lalu mengajak mereka untuk berfoto bersama dan mengabadikan momen yang membahagiakan ini. Ia berfoto berdua saja dengan Erika, lalu berdua dengan kakaknya, dan kemudian foto bertiga secara bersamaan. Rey juga mengajak Tanaka untuk berfoto bersama yang membuat Tanaka kaget dan terkejut. Namun Tanaka merasa senang ketika diajak berfoto bersama.
Lalu teman-teman kerja Erika yang ikut terlibat dalam acara tersebut berama-ramai dan dengan heboh menghampirinya untuk menggoda dan mengucapkan selamat kepadanya karena telah dilamar oleh kekasihnya yang sangat tampan yang juga sering menjadi topik hangat diantara mereka. Tak mau melewatkan kesempatan berharga itu, mereka juga mengajak Erika untuk berfoto-foto bersama dan tidak ketinggalan juga untuk berfoto bersama Rey.
Sehingga saat hari sudah menjelang sore mereka baru dapat terbebas dari teman-teman Erika. Rey lalu mengantarkan Erika pulang ke rumahnya. Sedangkan Kei dan Tanaka sudah pulang lebih dulu sejak acara telah selesai.