Happiness For You

Happiness For You
33 Kebingungan dan Petunjuk



Dengan marah Kei meraih kerah baju Rey dan ingin memukulnya sebagai pelampiasan amarahnya.


Rey memejamkan matanya dan menanti pukulan itu. Dalam hatinya ia berkata, Kakak, maafkan adikmu ini. Anggap saja pukulan ini sebagai penebus atas kesalahan dan dendamku padamu selama ini.


Dengan kondisi kesehatannya yang semakin buruk, Rey memilih untuk pergi menjauh dari kehidupan mereka. Ia tetap akan menyimpan dan merahasiakan selamanya jati dirinya yang sesungguhnya di depan kakaknya. Jadi, yang dapat ia lakukan untuk menebus kesalahannya hanyalah meminta maaf secara diam-diam kepada kakaknya di dalam hatinya dan mengembalikan Erika padanya. Dengan begitu, ia juga telah melakukan hal yang terbaik bagi Erika. Mengembalikan Erika kepada orang yang tepat yang sangat menyayanginya adalah cara terbaik baginya untuk bisa membalas perasaan cintanya dan memberikan kebahagiaan untuknya.


Sedetik sebelum pukulannya menyentuh wajah Rey, Kei menghentikannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memukuli Rey karena melihat sikap pasrah Rey yang nampak berbeda dari biasanya dan hatinya menjadi tak tega untuk melakukannya.


"Luar biasaa ... Kamu benar-benar pria brengsek ...."


Kei melepaskan cengkraman tangannya pada baju Rey dengan kasar hingga tubuhnya terguncang dan terdorong dengan kuat. Rey mengernyit kesakitan karena tubuhnya yang sedang sakit menjadi bertambah sakitnya. Rey lalu membuka matanya dan mengamati wajah kakaknya yang sedang menatapnya dengan marah.


"Bahkan sekarang, mengapa kamu bisa bersikap begitu tenang dan dingin seperti ini? Apakah kamu sedang menguji kesabaranku atau kamu memang tidak memiliki hati?"


Kata-kata yang Rey ucapkan memang sangat kasar dan tak berhati hingga membuat emosi kemarahan Kei terpancing. Tetapi Kei seperti menyadari bahwa ada maksud terselubung pada setiap kata-katanya. Rey seperti ingin meninggalkan kesan yang sangat buruk dan jelek atas dirinya. Dan Rey sangat sukses dalam melakukannya. Tapi untungnya pada detik-detik terakhir Kei bisa menahan diri untuk menghentikan pukulannya.


Rey tidak mempedulikan kemarahan dan omongan kasar kakaknya untuk menghinanya. Dia tahu dirinya bukan seorang yang brengsek, melainkan adalah seorang pengecut. Ia memang takut kalau harus kehilangan Erika dan kembali hidup sendirian lagi. Tetapi dia lebih takut membuat Erika menderita dan melihat wajah cerianya berubah menjadi wajah yang dipenuhi kesedihan karena dirinya. Rey tidak mau Erika terus bersamanya dan harus menyaksikan dirinya yang semakin melemah karena tubuhnya digerogoti oleh penyakitnya. Seperti ibunya yang selalu bersedih dan kehilangan senyumnya karena menjalani hidup bersama dirinya yang berpenyakit.


Sejak kedatangannya kemari, Rey tampak tidak bersemangat karena tubuhnya masih terasa sakit dan sakitnya semakin bertambah buruk ketika dirinya berbicara dengan kakaknya dan menghadapi kemarahan kakaknya itu. Rey merasa sangat lelah. Ia ingin menyudahi dan mengakhiri semuanya.


"Tiga hari lagi aku akan kembali ke Jakarta. Dan aku akan mengembalikan Erika padamu saat aku tiba di Jakarta. Jadi, tarik kembali berkas tuntutanmu padaku dan jangan mengusikku lagi."


"Tidak bisa, aku harus menjemput Erika sekarang juga."


"Boleh saja, jika kamu ingin menjemputnya dengan paksa dan membuatnya semakin membencimu."


Kei menatap Rey dengan nanar. Ia tahu apa yang dikatakan Rey benar dan dengan perasaan marah, ia terpaksa harus mengikuti perkataannya.


"Bagaimana?" tanya Rey. Kei diam saja dengan hanya menatapnya tajam.


"Kuanggap kamu menyetujui perkataanku." Rey lalu merapihkan kerah bajunya dan bangkit berdiri. Tetapi tubuhnya langsung oleng dan hampir terjatuh. Ia merasa kepalanya pusing dan berat.


Kei yang ada didekatnya secara reflek memegangi tubuhnya untuk membantu menahannya. Rey menampik pelan tangan Kei dan pergi begitu saja tanpa berbicara apa-apa. Kei hanya diam sambil terus menatap kepergiannya.


Terdengar suara pintu terbuka dan ternyata orang yang membuka pintu ruangan itu adalah Erika.


"Rey, mengapa kamu pergi keluar? Kata dokter kamu masih harus-


"Mengapa kamu datang ke sini ...?" tanya Rey segera memotong ucapan Erika.


"Erika ...?" teriak Kei yang berbarengan dengan Rey.


Lalu mereka bertiga saling diam.


"Pak Dimas, kamu melanggar perintahku!" Rey berbicara sambil menatap marah kepada Pak Dimas yang datang bersama Erika dan sedang berdiri di belakang Erika. Mata Rey tampak merah karena kemarahannya. Tetapi wajahnya tampak pucat.


"Maaf, Tuan ...." Pak Dimas membungkukkan tubuhnya sedikit saat meminta maaf dan ketakutan.


Rey merasa sangat marah dan tubuhnya bertambah lemas tetapi dia berusaha terlihat biasa saja dan lanjut melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar. Tetapi Erika dapat melihat kalau Rey seperti akan terjatuh karena wajahnya terlihat pucat dan matanya yang sayu. Dengan cepat Erika berjalan menghampirinya dan menuntunnya.


Rey menghempas tangan Erika dengan pelan.


Erika berdiri terdiam dan mulai menangis karena rasa takutnya pada Rey yang sedang marah dan bercampur dengan rasa cemasnya.


Baru beberapa langkah berjalan, Rey pingsan dan tubuhnya tersungkur ke lantai. Dengan khawatir, Erika segera menghampirinya.


"Rey ..." Dengan terisak Erika memanggilnya dan berusaha membangunkan.


Kei cukup terkejut melihat pemandangan yang baru saja terjadi di depannya. Kata-kata Rey padanya waktu itu kembali terngiang. Apakah aku terlihat lemah dan sakit-sakitan seperti adikmu itu?


Kei segera berjalan menghampiri mereka. Ia berjongkok disamping Erika yang sedang menangis lalu berkata, "Tenangkan dirimu Erika, aku akan menyuruh beberapa orang untuk datang dan membawanya ke rumah sakit terdekat."


"Jangan, bantu kami untuk membawanya ke mobil Pak Dimas saja ...." cegah Erika.


"Baiklah." Kei menemui asistennya yang sedang berjaga di depan dan memerintahkannya untuk memanggil beberapa orang untuk segera datang membantu mereka.


Empat orang pria bertubuh besar masuk dan mengangkat Rey ke atas tandu dan membawanya ke mobil.


Sesaat sebelum pergi, Kei menahan Erika untuk menanyakan sesuatu padanya, "Erika ...." panggil Kei sambil menahannya pergi.


Erika menciut ketika Kei memanggilnya. Badan Erika sedikit beringsut ketakutan karena ia berpikir Kei akan melarangnya pergi dan memaksanya untuk ikut pulang dengannya.


"Jangan khawatir, aku bukan sedang ingin menangkapmu." terang Kei. Erika merasa sedikit lega mendengarnya. "Ada hal yang ingin kutanyakan tentangnya ... Apakah sebenarnya dia bertubuh lemah dan sering sakit hingga mengalami hal seperti tadi?"


Erika menjawab, "Tidak, ini karena kebetulan saja kalau dia sedang sakit dan belum begitu pulih ... "


"Sakit ...? Sakit apa? Tapi saat aku datang beberapa hari yang lalu dia masih nampak baik-baik saja."


"Karena saat itu dia menahan sakitnya dan juga pintar menutupi keadaan dirinya."


Wajah Kei tampak terkejut mendengar pernyataan Erika. Jadi benar apa yang ia rasakan dan pikirkan selama ini. Ada sesuatu yang seperti sedang disembunyikannya.


"Ken ...." gumamnya pelan.


Mendengar gumaman Kei, membuat Erika menjadi teringat dengan percakapan Rey dan Kei yang berlangsung saat di villa. Rey pernah mengucapkan perkataan yang sama dengan yang Kei tanyakan tadi. Erika berpikir, sepertinya Kei telah menemukan suatu petunjuk tentang identitas Rey yang sebenarnya. Jangan-jangan itu karena dirinya yang telah salah menjawab ....


"Kak Kei aku pergi dulu." Erika menepuk pundaknya dan segera berjalan pergi.


"Tungguu ...." Kei menahan Erika lagi. Wajahnya terlihat penasaran dan cemas.


"Ada apa Kak Kei? Apa kamu mau ikut?" Erika seperti tahu apa yang Kei pikirkan.


"Tidak, jika aku ikut nanti sakitnya akan bertambah parah karena kemarahannya saat melihatku."


"Benar juga yang kamu katakan. Bersabarlah ... dan tenang saja, keadaannya beberapa hari yang lalu lebih parah dari ini." Erika bermaksud untuk memberi dukungan terhadap Kei karena ia tahu kebenarannya bahwa Kei sangat sayang pada adiknya yang adalah Rey. Tetapi entah mengapa Rey tidak mau mengakuinya dan mengatakan bahwa adiknya telah mati. Namun Erika juga tidak berani mengungkapkan hal yang sebenarnya.


Raut wajah Kei semakin memperlihatkan rasa cemas dan kagetnya karena ucapan Erika barusan. Erika menyadari akan hal itu dan semakin membuatnya ketakutan karena kembali telah salah bicara. Ia memilih untuk segera pergi sebelum dirinya semakin keceplosan.


Setelah kepergian mereka, Kei menjadi bimbang. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Percaya dengan kata hatinya atau percaya dengan apa yang telah dia dengar. Dua pilihan sulit yang terkadang memang terjadi didalam kehidupan setiap orang.


***