
Rey telah kembali sadar saat diperjalanan. Mereka lalu memapah Rey menuju kamarnya yang ada di villa. Mereka membaringkannya ke atas kasurnya. Setelah itu Pak Dimas keluar dari kamarnya dan hanya tinggal Erika dan Rey saja berdua di dalam kamar.
Selama itu, Erika hanya diam saja dengan raut muka nya yang tampak sendu dan kusut seperti ada banyak hal yang mengusik pikirannya. Dia juga terlihat berusaha selalu menghindari tatapannya kepada Rey.
Rey yang menyadari hal ini berusaha untuk mencermatinya dan mencari tahu ada apa dengan Erika. Sepertinya itu karena Erika sedang marah dan kesal dengannya. Saat Erika telah selesai membantunya, ia berbalik badan seperti akan pergi. Rey langsung memegang tangan Erika.
"Maaf ... Aku tadi telah memarahimu dan berbuat kasar lagi padamu." Erika terdiam sebentar. Lalu masih dengan posisi tubuhnya yang membelakangi Rey, ia menggelengkan kepalanya dan tidak berbicara sepatah katapun.
"Ada apa? Apakah kamu masih marah padaku?" Erika kembali hanya menggeleng saja. Tiba-tiba mata Erika berlinangan airmata, ia menangis sesenggukan. Rey menyadarinya karena ia melihat punggung Erika yang bergetar. Rey semakin merasa berasalah. Ia pun menaikkan tubuhnya untuk duduk bersandar pada kepala kasur. Rey merengkuh tubuh Erika untuk membalikkan tubuh Erika kearahnya dan mendudukkannya didekatnya. Rey mengusap airmata Erika dan memeluknya. "Maafkan aku." bisik Rey padanya. Erika membalas pelukannya dan tangisnya bertambah keras. Dia membenamkan kepalanya ke dalam dada Rey dan memeluknya erat.
"Jangan menangis, berbicaralah padaku." Rey membisikkan kalimatnya pelan ke atas kepala Erika, mengecupnya disitu sambil mengelus punggung Erika lembut.
"Aku takut ...." Akhirnya Erika mau berbicara. "Aku takut saat melihat keadaanmu yang begitu lemah dan kesakitan tetapi kamu menahan rasa sakitmu dan dengan keras kepalanya menolak bantuanku. Aku tidak mau kamu seperti itu lagi, menutupi dan menahannya saat kamu kesakitan." Erika berbicara dengan suara terisak. "Jangan bersikap keras kepala dan memaksakan dirimu seperti tadi lagi. Kumohon."
Erika menatap Rey menunggu jawabannya. Rey membalas tatapannya dan memberinya sebuah anggukan pelan. Tetapi dalam hatinya ia berkata, Aku tidak mampu untuk membuatmu melihat diriku yang kesakitan.
"Aku tidak mau terjadi hal yang buruk padamu. Dan jangan merahasiakan apapun lagi dariku terutama tentang rasa sakitmu. Aku tahu kalau sejak kecil kamu memiliki tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan. Tapi sekarang ada aku yang selalu siap menjaga dan merawatmu. Jadi, jangan menutupinya dariku lagi. Ya ...?" Erika melepaskan tubuhnya dari pelukan Rey dan menatapnya dengan intens.
Rey membalas tatapan intensnya.
"Maafkan aku telah membuatmu cemas dan khawatir. Aku berjanji tidak akan membuatmu cemas dan mengkhawatirkanku lagi." Rey merapihkan rambut Erika ke belakang telinganya dan membantu mengusap airmatanya.
Dalam hatinya Rey membatin, Sebentar lagi kamu akan terbebas dariku dan kembali ke dalam pelukan kakakku sehingga kamu tidak perlu lagi mencemaskan dan mengkhawatirkan diriku. Aku yakin kamu pasti akan berbahagia jika bersamanya.
"Hari ini kamu harus jadi anak baik, harus terus berbaring, tidak boleh kemana-mana dan jangan melakukan apapun juga jangan berpikir yang macam-macam."
"Iya sayang ... " jawab Rey. Erika tersenyum senang mendengar Rey memanggilnya dengan panggilan "sayang". Dia memberikan Rey senyuman yang paling lebar yang agak berlebihan karena rasa senangnya itu.
"Hehehe .... " jawab Erika. "Ohh ya, tadi Kak Kei menanyakanmu ... " Rey mengangkat alisnya bertanya heran. "Dia bertanya apakah tubuhmu lemah dan sering sakit." Rey menatapnya terkejut tapi dia hanya diam saja, tidak berkata apapun. Dia seperti enggan untuk membicarakan hal ini.
Namun Erika masih melanjutkannya.
"Dan aku menjawab 'tidak, itu hanya kebetulan saja dia sedang sakit'. Sepertinya dia mencemaskan dan mengkhawatirkanmu."
"Baik, aku mengerti."
"Rey ...." Jawaban Rey membuat Erika merajuk memanggil namanya dan emosinya meluap. "Bagaimana kalau aku menjawab 'iya, Rey memiliki tubuh yang lemah dan sakit-sakitan dan dia adalah adikmu ....' " Rey menatapnya lagi dalam diam.
Erika menarik nafasnya dengan sangat dalam dan menghelanya dengan sangat panjang untuk menenangkan emosi dan kekesalannya. "Dasar batu, percuma berbicara denganmu. Huh!" Wajah Erika memberengut. Sambil membuang mukanya, Erika berlalu meninggalkannya duduk menjauh ke sofa yang terletak di sebrang ranjang dan melipat kedua lengannya di depan dadanya.
Pandangan mata Rey mengikutinya lalu ia tersenyum geli melihat Erika yang merajuk dan kemudian menyudahi pembicaraannya sendiri. Setelah itu Rey memejamkan matanya pura-pura tidur. Padahal pikiran didalam kepalanya terus berkeliaran memikirkan apa yang Erika katakan barusan dan membuatnya sulit untuk tertidur.
***
Keesokan harinya, Rey merasa tubuhnya sudah cukup membaik karena seharian ia terus berbaring dan juga karena ia meminum obat dari Dokter Steve telah sampai di villa.
Kemarin pagi Rey telah membuat kesepakatan dengan Kei untuk membawa Erika pulang ke rumahnya tiga hari lagi dan kini waktunya tinggal dua hari lagi. Sehingga Rey berencana untuk membuat sebuah makan malam yang special untuk dirinya dan Erika malam ini.
Dengan meminta bantuan Pak Dimas dan Bi Ratih, Rey menyiapkan kejutan ini dari pagi dan secara diam-diam dari Erika. Rey menugaskan mereka untuk menghiasi taman belakang dengan lampu dan berbagai hiasan lainnya. Sehingga taman yang sudah indah itu disulap menjadi lebih indah dan bernuansa romantis.
Selain itu, pada meja dan kursi makan juga dilapisi kain berwarna putih berbahan satin yang memiliki ukiran bordir bunga sakura berwarna merah muda yang menghiasi kain tersebut. Beberapa buah lilin yang ditempatkan dalam gelas dan dua set peralatan makan diletakkan di atas meja dengan ditata rapih. Di sekeliling meja bertaburan kelopak bunga dan lilin gelas yang disusun mengikuti bentuk meja yang berbentuk bundar.
Semua ini dipersiapkan sebagai kenangan manis dan indah yang ingin Rey berikan untuk Erika. Rey ingin menciptakan sebuah momen indah yang manis dan romantis sebelum pergi meninggalkannya. Momen indah itu akan menjadi kenangan indah bagi dirinya disaat ia telah berpisah dengan Erika dan disaat masa-masa kesakitannya. Juga menjadi kenangan indah bagi Erika. Sehingga kelak, jika suatu saat Erika teringat padanya maka Erika bisa memiliki moment terindah yang akan ia berikan malam ini untuk dikenangnya.
Hal yang sama yang ayahnya persembahkan bagi ibunya. Walaupun pada akhirnya kisah cinta mereka berakhir dengan tidak bahagia, tetapi ibunya masih tetap tersenyum dengan senang dan bahagia ketika mengenang ayahnya dan semua moment indah yang terjadi diantara mereka. Ibunya juga sering menceritakan kisah indah mereka padanya. Dan saat bercerita, wajah ibunya akan berseri dan semua penderitaannya seakan menghilang.
Di villa ini juga terdapat begitu banyak moment indah dan romantis yang ayahnya berikan pada ibunya. Semua peralatan dan perlengkapan yang Rey gunakan saat ini merupakan peninggalan milik ayahnya yang pernah ayahnya gunakan juga untuk memberikan kejutan pada ibunya.
"Tuan, ini asin sekali dan juga pedas." Memang Rey telah menambahkan lada hitam yang cukup banyak tetapi ia juga tidak dapat merasakannya.
Rey menyadari ada sesuatu yang salah pada lidah dan indra perasanya. Pantas selama ini ia selalu merasa masakan yang dibuat Bi Ratih agak hambar hingga membuatnya kurang nafsu makan. Dan sekarang, lidahnya benar-benar tak dapat merasakan rasa apapun. Hal ini membuatnya marah dan frustasi. Ia langsung melemparkan hidangan yang ia buat ke tong sampah. Membuat Bi Ratih kaget dan takut melihatnya.
"Bi, aku akan memanggangnya lagi dan bantu aku mencicipinya."
"Baik Tuan."
Akhirnya persiapan makan malam romantis yang Rey buat untuk Erika telah selesai. Rey mengajak Erika untuk makan malam. Saat tiba di taman dan melihat taman yang telah disulap dengan sangat indah dan romantis, Erika tidak dapat lagi menahan senyumnya. Ia tersenyum dengan sangat lebar dan terlihat luar biasa senangnya.
Dia tidak pernah menyangka pasangannya yang dingin dan cuek itu bisa juga membuat suatu hal yang romantis seperti ini. Sungguh membuatnya terkesan sekaligus bahagia.
"Rey ... " Erika memeluk Rey. "Terima kasih sayang, ini adalah makan malam terindah dan teromantis dalam hidupku. Ternyata kamu bisa romantis juga dan memiliki seni yang bagus."
"Hmm ...." Rey mengangguk dan membusungkan dadanya, merasa bangga. "Apakah kamu merasa surprise?"
"Tentunya ...." jawab Erika dan memberinya senyuman yang sangat lebar dan terlihat manis. "Ini sungguh kejutan yang luar biasa. Aku seperti mendapat kejutan berlipat."
"Nantinya setiap hari aku akan melakukan hal-hal penuh kejutan seperti ini untukmu."
"Hmm ... Apakah kamu melakukannya untuk menebus kesalahanmu?" tanya Erika meledeknya.
Tetapi Rey berpikir lain. Ekspresi wajahnya berubah serius.
"Mungkin ...." jawabnya dengan nampak bersalah dan sedih.
"Ayolah, jangan serius begitu. Aku cuma meledekmu."
Rey memaksakan sebuah senyuman untuk meresponnya.
"Ayo, kita duduk. Nanti makanannya jadi dingin." ajak Rey untuk mengalihkan pembicaraan. Alice mengangguk dan mereka berjalan ke meja makan. Rey menarikkan bangku untuk Erika duduki.
Makan malam itu dimulai dengan makanan ringan berupa salad yang terbuat dari daun aragula dengan taburan kacang walnut dan beberapa potongan keju lebar dan tipis. Setelah itu, makanan utamanya berupa salmon panggang dengan saus lemon yang disajikan bersama dengan asparagus. Terakhir, Rey menyiapkan makanan penutup yang adalah kesukaan Erika. Dorayaki yang diberi selai blueberry dan cream cheese.
Selama makan, Rey mengamati Erika yang makan dengan lahap. Hingga membuatnya jadi memiliki nafsu untuk makan walaupun semua makanan itu terasa hambar baginya.
"Apakah kamu yang menyiapkan semua hidangan ini?"
"Ya ...." jawab Rey.
"Kamu tahu, semua menu makan malam ini adalah makanan favoritku."
"Tentu saja." jawab Rey kembali membusungkan dada dan terlihat bangga.
"Hmm ... alangkah bahagianya hidupku memiliki pasangan seperti dirimu. Pasti seluruh wanita yang ada di muka bumi ini akan iri dan cemburu denganku, karena aku adalah wanita yang paling berbahagia dan beruntung yang bisa memilikimu."
Rey tertawa mendengar apa yang Erika ucapkan.
"Dan aku juga adalah pria paling beruntung di muka bumi karena memilikimu."
"Kita adalah pasangan yang paling berbahagia dimuka bumi ini." tambah Erika dan ia kembali tertawa dengan gembira.
***