
Saat ini Rey sedang menjalani sesi fisioterapi untuk melatih otot-otot tubuhnya. Biasanya terapi akan berlangsung selama 30-60 menit dalam satu kali sesi. Dokter fisioterapis menyarankan agar Rey mengikuti sesi selama 30menit saja karena ini adalah sesi pertamanya. Sesungguhnya Rey ingin menjalankan lebih banyak waktu pada sesi latihannya agar ia bisa lebih cepat sembuh. Tetapi ia tidak memaksakan keinginannya itu.
Setelah selesai menjalani sesi terapi pertamanya, Kei menyadari adiknya cukup kelelahan dan wajahnya juga agak pucat.
"Sini kakak bantu pijat dan olesi minyak di kakimu agar terasa lebih melegakan."
Rey menatap kakaknya sekilas. Ia tak menyangka kakaknya begitu pengertian padanya dan mau memijatnya.
"Terima kasih, Kak. Tapi biar aku sendiri saja yang melakukannya."
"Jangan, kamu duduk saja dengan baik."
"Tapi aku merasa tidak enak diperlakukan seperti ini olehmu yang merupakan seseorang dengan profil tinggi dan berstatus baik yang juga adalah seorang Bos yang disegani."
"Ken, jangan berpikir seperti itu. Kita ini saudara, dan status kita tidak berbeda. Semua harta dan perusahaan yang kumiliki juga adalah milikmu. Kamu juga berhak atas itu semua Ken." Kei lalu mulai mengolesi kaki Rey dengan minyak herbal yang bisa membantu meredakan rasa sakitnya sambil memijitnya pelan.
"Tidak, itu semua adalah berkat hasil kerja kerasmu selama ini. Aku tahu kakak juga telah mengalami cukup banyak kesulitan karena sebagai pewaris tunggal, disaat usiamu masih muda kakak sudah harus bertanggung jawab untuk meneruskan dan menjalankan seluruh perusahaan serta bisnis keluarga kita. Atau kalau tidak puluhan ribu nasib para karyawan itu akan hancur." Rey mengamati kakinya yang sedang dipijat.
"Itu tidak masalah bagiku. Karena sudah sejak kecil kakek selalu mendidikku dengan keras dan menuntutku untuk belajar dengan baik agar bisa menjadi seorang pebisnis yang hebat kelak."
"Mengapa bukan ayah yang melakukannya?"
"Karena ayah sakit dan ia juga tidak begitu mau mempedulikan bisnis yang dimiliki oleh keluarga kita. Sejak ibu dan kamu pergi, ayah selalu terlihat sedih dan sering mengurung dirinya. Dia tidak lagi mau peduli pada apapun juga. Baik itu anaknya atau bisnisnya bahkan juga kesehatannya sendiri. Sehingga tak lama setelah kalian pergi, ayah menjadi sering sakit-sakitan. Lalu kakek memaksanya untuk menikah dengan wanita itu agar ada seseorang yang mengurus dan merawat ayah."
"Wanita itu ...? Apakah wanita yang waktu itu kamu ceritakan?"
"Iya benar."
"Sepertinya selama ini ayah dan kamu juga mengalami kehidupan yang sulit."
"Tidak seberapa dibanding denganmu dan ibu. Ahh aku tahu sekarang ... karaktermu itu mirip sekali dengan ayah kita." Pernyataan Kei itu membuat Rey bingung dan memberinya sebuah tanda tanya besar diatas kepalanya. Karakter seperti apa itu yang dimaksudnya. Kei seperti dapat melihat sebuah tanda tanya besar yang ada dikepalanya itu. Ia lalu tertawa dan melanjutkan perkataannya. "Ayah kita adalah seorang yang terlihat keras diluar tetapi sebenarnya sangat lembut di dalamnya. Dan itu menurun padamu."
Maksud perkataan Kei itu adalah bahwa Rey sama seperti ayahnya yang keras kepala tetapi berhati lembut. Mereka berdua memiliki kesulitan jika berurusan dengan yang namanya cinta. Karena bagi mereka tidaklah mudah untuk melupakan perasaan cinta mereka dan pada akhirnya hanya akan menyakiti hati mereka sendiri.
Rey ikut tertawa mendengar penuturan kakaknya. Ia tahu kakaknya mengarah pada hubungannya dengan Erika yang saat ini dalam keadaan yang tidak baik.
"Kalau karakter kakak sepertinya menyerupai dia." balas Rey sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang seperti mengarah ke topik Erika.
"Dia? Siapa maksudmu? Ibu?"
"Bukan" Kei menatap bingung. "Dia yang telah mendidikmu hingga menjadi seorang yang berjiwa tegar dan pebisnis sukses seperti sekarang."
Kei tertawa melihat adiknya yang main tebak-tebakan.
"Kakek maksudmu? Hmm ... banyak orang yang juga mengatakan seperti itu." Kei menjawab sambil menghentikan kegiatan memijitnya. "Tapi bagiku, aku lebih mirip ibu. Karena aku dan ibu sama-sama seorang yang tegar dan kuat. Iya, kan?" Kei kembali memijat adiknya. Tapi Kei menahan tangan kakaknya dan menyuruhnya untuk menyudahi.
"Sudah cukup memijatnya. Aku sudah merasa enakan, rasa sakitku juga sudah berkurang. Terima kasih, Kak."
Lalu Rey kembali melanjutkan topik pembicaraan mereka dengan menjawab pertanyaan kakaknya.
"Baiklah, aku setuju kalau kakak mirip dengan ibu. Terutama kekhawatiranmu yang berlebihan padaku itu. Mirippp sekali dengan ibu." Mereka berdua sama-sama tertawa mendengar jawaban Rey itu.
"Itu karena kamu sangat bandel dan suka membuat kami khawatir."
"Kalau nanti aku sudah sembuh, maka aku bisa menjadi lebih bandel lagi. Apa kakak siap untuk mengahadapiku?"
"Tenang, aku punya senjata pamungkas yang bisa menaklukanmu."
"Hah?!"
"Erika, dia pasti bisa mengatasimu."
Mendengar nama Erika, raut wajah Rey langsung berubah. Ia nampak sedih dan juga kesal. Ternyata kakaknya tetap membawa topik Erika pada pembicaraan mereka.
"Ayolah, Ken. Kalian jangan seperti ini hingga berlarut-larut. Kalau tidak, aku akan turun tangan untuk membuat kalian bersama lagi."
"Jangan ..."
"Maka cepatlah hubungi dia."
"Sebelumnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apakah hubungan kakak dan Bella serius?"
"Apa maksud pertanyaanmu itu? Apakah kamu tidak percaya pada kami?"
"Bukan itu, hanya saja aku tahu bagaimana perasaanmu terhadap Erika. Jadi tidak mungkin kalau tiba-tiba dalam beberapa hari saja, kamu berpindah hati kepada Bella. Kakak, aku tidak mau kamu berkorban lagi demi aku."
"Ken ... Kita sedang membahasmu dan Erika. Jangan mengalihkannya ke topikku dan Bella. Apa kamu tahu, Erika sangat mengkhawatirkanmu. Dia telah banyak berkorban untukmu dan juga telah banyak menderita saat kamu tertembak dan mengalami koma setelahnya. Kamu haruslah menjaga hatinya dengan baik dan jangan menyakitinya lagi."
"Bagaimana denganmu? Kamu juga telah begitu banyak menderita dan berkorban demi diriku. Lantas, apakah pantas bagiku untuk -"
"Ken, dengar. Aku tidak mau berdebat denganmu yang berujung terjadinya pertengkaran diantara kita. Sebagai kakak, aku tidak mau ribut denganmu yang adalah adikku karena masalah apapun juga. Saat ini, yang terpenting bagiku adalah melihatmu berbahagia dan kebahagiaanmu itu adalah jika kamu bisa bersama Erika lagi. Aku tahu kalian saling mencintai. Sedangkan aku hanya masa lalunya saja. Jadi, lupakan tentang aku dan dia. Kamu kembalilah bersama Erika."
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud untuk mendebatmu atau mengajakmu ribut."
"Tidak masalah Ken, aku tahu itu. Bila kamu sudah sembuh nanti, temuilah dia. Saat ini Erika sudah bekerja dan hari ini adalah hari pertamanya masuk bekerja. Kamu bisa mendatanginya ke tempat kerjanya." Rey hanya memberinya sebuah anggukan.
Sebenarnya Rey memang sudah berencana untuk mulai mendekati Erika seperti dari awal lagi dan melakukan pendekatannya secara perlahan. Karena sebelum ini, Erika lah yang lebih aktif melakukan pendekatan terhadap dirinya dan dia tidak pernah melakukannya. Malahan yang dia perbuat adalah mengusirnya pergi dan tak jarang juga ia memperlakukannya dengan buruk atau bertindak kasar kepadanya. Sehingga ia berpikir, sekarang adalah giliran dirinya untuk melakukan pendekatan tersebut sekaligus untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu.
***
Beberapa hari kemudian akhirnya Reyhan sudah diperbolehkan untuk pulang dan ia tinggal bersama kakaknya, Kei Takahiro di apartemen milik kakaknya.
"Bagaimana dengan kamarmu ini? Apakah sudah sesuai dengan yang kamu mau?" Tanya Kei pada Rey yang sedang duduk di kursi roda yang tadi didorongnya.
Rey terdiam sejenak. Dia memandang takjub kesekeliling kamarnya. Kamar barunya itu memiliki desain yang sederhana dengan dindingnya dilapisi wallpaper berwarna putih bersih yang memiliki perpaduan dengan warna abu sebagai coraknya sehingga tak tampak monoton atau membosankan. Ukuran kamarnya cukup besar, mungkin tiga kali lipat ukuran kamarnya dan di dalam kamarnya terdapat kamar mandi dalam. Lalu kamar itu dilengkapi dengan perabotan dan furniture yang masih baru. Seperti satu set meja TV yang diatasnya terdapat smart TV edisi terbaru dengan layar yang cukup lebar.
"Ini sungguh luar biasa, Kak. Tidak terlalu berlebihan tapi tetap memiliki kesan mewah dan tampak bersih. Sepertinya kamu sengaja mendesain kamar seperti ini agar aku lebih betah berada di sini daripada di kamarku yang hanya sepetak dengan perabotan yang sudah agak ketinggalan."
"Haha ... Aku tidak bermaksud untuk membuatmu berpikir seperti itu, aku hanya membayangkan kamar seperti apa yang cocok untuk adikku yang masih muda, bersemangat dan sedikit bandel." Kei melirik adiknya sambil menaikkan sedikit alis matanya menggoda adiknya. "Yang mungkin saja memiliki hobi membawa teman-teman wanitanya bermain di dalam kamar ini." lanjutnya untuk menggoda adiknya sambil menyeringaikan seulas senyuman jahilnya dan membuat adiknya memutar bola matanya.
Lalu Rey tersenyum padanya dan berkata,
"Hmm ... Jadi kamu sengaja memberikan kamar yang memiliki rasa seperti sebuah kamar suite di hotel berbintang. Sehingga jika aku sedang ingin bermain, aku tidak perlu keluyuran tengah malam di club atau menyewa sebuah kamar hotel."
"Bingo." Jawab Kei sambil mengedipkan sebelah matanya. Mereka berdua lalu tertawa bersama dengan kompak. Kemudian obrolan becandaan kedua kakak beradik yang telah sama-sama dewasa itu pun pun semakin melebar jauh hingga tidak baik jika didengar oleh anak-anak.
Setelah keluar dari rumah sakit, Rey masih harus beberapa kali ke rumah sakit untuk melakukan terapinya. Kini, dirinya telah sembuh dan ia sudah dapat menggerakkan tubuhnya dengan normal juga dapat melakukan berbagai kegiatan seperti biasanya.
Pagi ini, ia bangun dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan kakaknya. Selesai memasak, ia lalu duduk di ruang makan menunggu kakaknya keluar dari kamarnya untuk mengajaknya sarapan bersama.
"Kakak, kamu tidak sarapan dulu?"
"Ken ... Kamu sudah bangun sepagi ini ... Hmm ... aku mencium aroma makanan yang enak." Kei berjalan menghampiri Rey ke ruang makan dan melihat ada dua piring makanan yang sudah tersaji di meja makan. "Kamu yang menyiapkan sarapan ini?" Tanya Kei sambil menatap adiknya dengan takjub. "Jadi tubuhmu sudah sembuh total sekarang?" Tanya Kei lagi dengan menatap tak menyangka.
Biasanya Kei memang tidak pernah sarapan dulu di apartemennya sebelum berangkat ke kantor. Karena tidak ada yang menyiapkannya makanan jadi dia hanya makan sarapan yang dibelikan oleh sekretaris atau asistennya. Selama Rey tinggal bersamanya, dia juga hanya menugaskan asistennya untuk membawakan adiknya sarapan dan makanan yang dipesannya via telepon atau melalui aplikasi online di hpnya.
Rey memberinya senyuman dan berkata, "Iya."
"Tuh, kan. Apa kubilang, kamu pasti bisa lebih cepat sembuh dari orang biasanya. Lihat, baru juga 3 hari kamu keluar dari rumah sakit dan sekarang, kamu sudah sembuh dengan total."
"Itu juga berkat motivasi dan semangatmu."
"Selama ini aku terlalu sibuk hingga tidak begitu memperhatikan perkembangan dirimu."
"Tidak, kamu sudah sangat memperhatikanku. Hanya aku memang sengaja menutupinya darimu karena aku ingin memberimu surprise. Sudah, sebaiknya kita segera memulai sarapannya atau kamu akan terlambat tiba di kantormu."
"Ayo kita mulai sarapan kita." Mereka lalu memakan sarapan mereka. "Hmm ... sarapan buatanmu ini terlihat menggiurkan."
Sarapaan yang disajikan Rey itu adalah setangkup roti yang dibaluri telur kocok dengan potongan kecil daging ham dan di lapisi keju di dalamnya yang kemudian dipanggang. Dan juga ditemani dengan minuman segelas coklat hangat.
Setelah kakaknya sudah hampir menyelesaikan sarapannya, Rey meminta ijin pada kakaknya untuk pergi keluar. "Kakak, hari ini aku ada urusan dan akan pergi keluar siang nanti."
"Kamu mau ke mana? Nanti aku akan kirimkan supir untuk mengantarmu karena hari ini jadwalku cukup padat sehingga tidak bisa menemanimu pergi."
"Tidak perlu Kak, aku bisa pergi sendiri."
"Tetapi kamu baru juga sembuh, aku tidak mengijinkan kamu membawa kendaraan sendiri dulu."
"Ayolah ... aku bisa."
"Memangnya kamu mau pergi kemana?" Rey ragu untuk menjawabnya. Karena ia takut kakaknya akan keberatan dan melarangnya. "Jika kamu tidak mau memberitahuku, maka aku tidak akan mengijinkannya."
"Berarti kalau aku menjawabnya, kakak pasti akan mengijinkanku dong?"
"Tidak juga sih." Rey memutar matanya dan sedikit memanyunkan mulutnya. Ia tampak menahan kekesalannya dan kakaknya tahu akan hal itu. Tetapi kakaknya mendiamkannya.
"Baiklah, terserah kakak saja. Hhh!" Rey sengaja menghela nafasnya dengan keras dan ia beranjak pergi meninggalkan kakaknya sambil berkata. "Aku sudah selesai sarapan."
"Tapi makananmu belum dihabiskan ...." Teriak Kei padanya yang sudah pergi meninggalkan ruangan makan.
"Aku sudah kenyang." balasnya dengan juga agak berteriak.
Kei melanjutkan mengunyah sarapannya yang hanya tersisa dimulutnya saja dan buru-buru meminum coklat hangatnya sampai habis. Lalu ia berjalan keluar ruangan menyusul adiknya.
"Apa kamu marah padaku?"
"Mm mungkin ... " jawab Rey ogah-ogahan sambil mengangkat bahunya. "mungkin juga kesal padamu!"
"Ayolah. Jangan kekanak-kanakan. Katakan padaku, kamu mau kemana dan mau ngapain sih?" Rey menggeleng, tetap tidak mau menjawabnya. "Aku tahu kamu sudah besar, walau aku melarangmu kamu pasti tetap akan pergi. Iya, kan?"
"Baguslah kalau kamu tahu akan hal itu. Jadi, kamu tak perlu capek-capek melarangku."
"Iihh anak ini." Kei yang sudah ada didekatnya, langsung merangkul adiknya dan mengalungkan sebelah lengannya ke lehernya. "Ayo katakan, kalau tidak aku tidak akan melepaskanmu."
"Biar saja, kakak juga yang akan telat ke kantor nantinya."
Kei memicingkan sebelah matanya pada adiknya itu. "Aku ini seorang bos. Tidak masalah bagiku untuk datang terlambat." Kei lalu seperti menemukan sendiri jawabannya. "Aku tahu, kamu pasti ingin pergi menemui Erika di gedung kantornya, tapi kamu malu mengatakannya padaku dan juga gengsi mengakuinya." ucap Kei sambil menyeringai senang karena berhasil menebaknya. Semburat merah terlihat di wajah Rey.
"Mm ... tidak juga ..." jawabnya mengeles.
Kei melepaskan tangannya dari leher Rey dan berkata,
"Ya sudah, aku mengijinkanmu."
Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin Rey lakukan. Tidak hanya mendatangi Erika di kantornya. Lalu ia pikir sebaiknya ia memberitahukannya saja kepada kakaknya. Toh kelak kakaknya juga akan mengetahuinya dan kakaknya itu juga tidak bisa melarangnya.
"Baiklah, aku akan memberitahumu. Sebenarnya, aku ingin pergi ke dealer mobil untuk menjual mobilku dan membeli sebuah motor baru ...."
"Motor?"
"Yup, motor sport ...."
"Anak motor, haa ...?" tanya Kei menebak kalau Rey ingin bergabung dengan komunitas anak motor. Seorang gangster dan anak motor. Kei berpikir, baru juga sembuh tapi adiknya itu sudah berulah, membuatnya sakit kepala saja memikirkannya. Kini dia merasa kalau adiknya itu memang benar-benar nakal dan sangat berbeda darinya. Sebagai kakaknya yang juga sangat menyayangi adiknya, tentu Kei merasa kalau ia harus memperbaikinya dan membuat adiknya menjadi anak yang baik karena kenakalan yang diperbuatnya itu akan membahayakan dirinya. Ia pun harus bertindak tegas pada adiknya itu dan melarangnya.
"Tidakk Ken, aku tidak akan pernah mengijinkanmu. Itu sangat berbahaya!"
"Kakak telah salah paham, aku bukan ingin menjadi anak motor. Aku hanya senang saja untuk mengendarainya karena akan lebih mudah digunakan untuk menyalip dan juga dapat menghindari macet. Aku janji tidak akan kebut-kebutan dan selalu berhati-hati saat mengendarainya."
"Tetap saja, aku tidak mengijinkanmu-"
"Kakak, please! Sejak penyakitku kambuh, aku harus menahan hobiku itu karena aku tahu diri kalau aku bisa sakit mendadak dan akan berbahaya jika aku mengendarai motor. Tapi, sekarang aku telah sembuh dan kembali berbadan sehat. Jadi aku mau melakukan kegemaranku itu. Lagipula, bukankah kakak bilang mau memberiku kebebasan dan tidak akan melarangku melakukan apapun yang ku mau."
"Tapi kamu juga berjanji untuk menurutiku dan mengikuti perintahku!" Suasana hening. Tidak ada balasan dari Rey sehingga tidak terjadi keributan diantara mereka. Tapi keduanya saling menatap tajam ke arah masing-masing. Lalu sedetik kemudian Rey membuang mukanya, merasa kesal.
Sambil memandangi adiknya, Kei kembali berpikir bahwa adiknya ini sungguh keras kepala dan juga selalu memiliki keinginan yang membahayakan bagi dirinya sendiri. Dia jadi bingung untuk menghadapi kenakalan adiknya itu. Apalagi adiknya itu sudah besar dan semakin sulit untuk diatur-atur.
Kei sampai merasa pusing karena ulah adiknya itu dan ia memijat keningnya yang terasa seperti berdenyut.
"Kamu memang keras kepala dan sulit diatur." ucap Kei sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dan kamu adalah seorang kakak yang bossy!" balas Rey tidak mau kalah.
"Itu karena kamu suka berulah dan aku memang dididik untuk menjadi seperti itu!" Pada akhirnya keributan terjadi lagi diantara mereka. Rey yang sedang menatap kakaknya dengan mata yang melebar, langsung membekukan tatapannya dan tidak bisa berkata-kata lagi. "Ken, ayolah. Sudah kukatakan berkali-kali, kalau aku tidak ingin ribut denganmu. Tetapi mengapa kita selalu saja ribut pada akhirnya?"
"Karena kamu bossy dan aku memang keras kepala."
Kei menghela nafasnya dengan berat. Dia tahu tidak ada gunanya beradu keras dengan adiknya jadi sebaiknya ia mengalah saja.
"Baiklah, karena aku adalah kakakmu, maka aku akan mengalah padamu. Terserah apa yang ingin kamu perbuat. Aku tahu itu percuma kalau aku melarang dan mencegahmu. Tetapi aku ingin kamu selalu aman dan dalam keadaan baik. Jadi, yang bisa kulakukan adalah bertanggung jawab dan membantumu." Rey merasa bersalah setelah mendengar apa yang kakaknya katakan tetapi ia juga bingung menangkap maksud perkataan kakaknya. Bertanggung jawab dan membantunya apa?
"Biarkan Tanaka datang menjemputmu dan mengantarkanmu untuk pergi membelinya. Aku ingin dia membantumu memilih tipe dan merk yang terbaik yang memiliki fitur keamanan yang paling bagus sehingga dapat memberimu perlindungan dan keselamatan yang terbaik saat mengendarainya. Kamu juga tidak perlu menjual mobilmu, biarkan aku yang membelikannya untukmu." Rey sudah ingin membuka mulutnya untuk protes, tetapi Kei langsung menahannya. "Kalau bagimu perintahku itu memberatkanmu, maka anggap itu adalah sebuah permintaan dan permohonan dariku." Lalu Kei beranjak pergi begitu saja meninggalkan adiknya, tanpa menunggu respon darinya.
"Kak Kei ... " panggil Rey dengan rasa bersalah dan menyesalinya. Namun Kei hanya menghentikan langkahnya dan berdiri terdiam, tidak menjawab atau menolehkan kepalanya kearahnya. "Maafkan aku karena suka berulah dan selalu melawanmu. Aku berjanji, aku akan menjaga diriku dengan baik dan memastikan kalau aku akan selalu dalam keadaan aman dan baik. Jadi kakak janganlah terlalu mengkhawatirkan diriku lagi." Kei memberinya sebuah anggukan dan melangkahkan kakinya kembali untuk pergi. Rey lalu memandangi punggung belakang kakaknya sambil meratapinya. Ia menyadari kalau kakaknya telah sangat kecewa padanya dan ia pun merasa sungguh menyesali akan apa yang telah diperbuatnya itu. Sehingga, mulai saat ini, ia berjanji tidak akan lagi melakukan hal yang membuat kakaknya kecewa padanya dan mau menuruti kemauannya.
***