
Akhirnya Erika mengetahui kondisi Rey yang sesungguhnya setelah mereka tiba di rumah sakit dan langsung menanyakannya pada Dokter Steve. Erika pun langsung merasa lemas dan hampir pingsan. Kei segera memegangi tubuh Erika yang melemas.
Kondisi Rey cukup lemah sehingga ia dimasukkan ke ruang ICU. Kei dan Erika dengan setia menemani Rey semalaman.
"Erika, sebaiknya kamu pulang saja agar kamu dapat beristirahat dengan baik." Ucap Kei padanya saat mereka tingga berduaan saja menunggu Rey di depan ruang ICU.
Erika yang masih sedang menangis, hanya menggeleng. Lalu dengan lembut, Kei menidurkan kepala Erika di bahunya agar Erika dapat bersandar. Dia lalu berucap, "Tidurlah dibahuku."
Pagi harinya kondisi Rey sudah cukup membaik walaupun ia masih belum tersadar. Rey juga telah dipindahkan ke kamar pasien. Kei dan Erika pun diperbolehkan masuk untuk melihat dan menemaninya.
Erika segera menghampiri tubuh Rey. Ia lalu duduk di samping ranjangnya dan menggenggam jemari tangannya.
"Rey ..."
Jemari Rey bergerak dan perlahan ia membuka matanya.
"Eri ... ka ..." panggilnya dengan suara pelan yang lemah. Rey ingin membuka masker oksigen yang menutupi mulutnya agar suaranya dapat terdengar. Tetapi Kei mencegahnya.
"Beristirahatlah dan jangan berbicara dulu." Erika juga memberinya sebuah anggukan yang mengiyakan ucapan kakaknya. Lalu Rey kembali tertidur. Akhirnya Erika mau pulang ke rumahnya setelah melihat Rey telah tersadar walaupun hanya sebentar.
Rey kembali tersadar disaat siang harinya. Namun kondisinya masih sangat lemah. Kei dengan setia menemani adiknya. Rey kembali melepaskan masker oksigen yang masih harus digunakannya karena dia ingin membicarakan sesuatu hal penting pada kakaknya.
"Kakak ..." suara Rey sangatlah pelan dan lemah.
"Ken, ada apa?" Kei lalu mendekatkan wajahnya ke adiknya agar dapat mendengarnya.
"Saat ini aku ... memiliki ... dua permintaan."
"Ya Ken, katakan saja pada kakak."
"Au ingin ... pulang ke villa ... ibu ... sekarang" jawab Rey dengan suara yang terbata-bata.
"Baiklah, kakak akan coba tanyakan pada dokter apakah kondisimu memungkinkan untuk melakukan perjalanan ke sana." Rey memberinya anggukan. "Lalu, apa permintaanmu yang kedua?"
"Sepasang cincin ... pernikahan ... untukmu ... dan Erika ...." Kei langsung membuka matanya lebar karena terkejut mendengar permintaan adiknya itu.
"Ken, apa maksud dari permintaanmu?" Rey kembali hanya memberinya sebuah anggukan. Kei langsung menangis meratapi adiknya. "Ken, tidak ... Kakak tidak mau ...."
"Kakak ... kumohon ... ini adalah ... permintaan ... terkahirku ..." ucap Rey lagi dengan lemah dan agak kepayahan.
"Aku ... ingin ... kalian ... segera ... bersatu ...."
"Ken ...," Kei hanya bisa terisak mendengar permintaan dan keinginan terakhir dari adiknya itu. Namun ia juga tidak bisa menolak untuk mengabulkan permintaan dan keinginan terakhir adiknya itu. Akhirnya dengan airmatanya yang berlinangan, Kei mengangguk sebagai tanda ia mengiyakannya.
Dokter mengijinkan bagi Rey untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat menuju ke villa milik ibunya, yaitu villa Alisha, yang terletak di Bandung. Karena lokasinya tidak terlalu jauh dan tidak membutuhkan waktu lama untuk melakukan perjalanan ke sana.
Lalu Kei menggunakan pesawat jet pribadi miliknya untuk menerbangkan adiknya ke sana bersama dirinya dan Dokter Steve. Rey ingin menghabiskan waktunya di villa milik ibunya. Selain itu Rey juga ingin agar dirinya dapat berjauhan dari Erika karena dia tidak mau Erika melihat kondisinya yang kian hari semakin melemah.
Sudah satu hari Rey dan kakaknya tinggal di villa Alisha. Kondisi Rey sudah cukup membaik, namun tubuhnya masih lemah sehingga dia harus menggunakan kursi roda.
"Ken, kamu harus bisa memahami perasaan Erika jika kamu terus menolaknya seperti ini. Dia pasti sangat sedih karena tidak bisa melihatmu dan berada disisimu untuk menemanimu."
Rey diam saja dan tidak menanggapi ucapan kakaknya. Tetapi dari wajahnya tersirat kesedihannya yang sangat mendalam.
Kei lalu pergi keluar dari kamarnya dan meninggalkan adiknya sendirian di dalam kamarnya. Ia ingin pergi menjemput Erika dengan pesawat jet pribadinya.
"Tuan ... Tuan Kei ... tunggu sebentar." Panggil Bi Tini. "Tuan, sewaktu saya membereskan kamar Tuan Rey, saya menemukan ini." Bi Tini memberikan selembar amplop berisi surat pada Kei. Kei mengambilnya dan melihat dibagian depan amplop tertulis kata 'Untuk : Erika'.
"Terima kasih Bi."
Setelah itu Kei segera pergi menjemput Erika sambil membawa surat tersebut.
***
Kei telah bersama Erika dan ia memberikan surat tersebut padanya. Erika membuka suratnya dan membacanya.
Beginilah isi surat tersebut :
*Untuk : Erika Tercinta
Malam ini sengaja kupersembahkan padamu agar aku dan kamu bisa memiliki kenangan indah dan manis pada kisah cinta kita ini. Malam ini akan selalu kuingat dan kukenang selamanya sepanjang hidupku. Malam terakhir kita di villa ibuku dan dengan pemandangan taman yang cantik dan indah, seindah dirimu. Kamu tahu senyummu adalah hal yang paling indah yang pernah kulihat dalam hidupku. Kebaikan hatimu, perasaan cintamu terhadapku. Kamu adalah seorang malaikat tak bersayapku disaat hari-hari kelamku, kesepianku, dan kesakitanku. Semua itu seolah sirna karena kehadiranmu. Terima kasih Erika atas segalanya yang kamu berikan padaku.
Sekarang, aku juga ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku yang tidak bisa berjanji padamu untuk tidak meninggalkanmu. Karena aku tidak bisa untuk melakukannya, bukan karena aku tidak mau. Aku juga harus menghilang darimu karena aku tidak mau melihatmu menangis. Aku ingin wajahmu selalu tersenyum dan dihiasi dengan senyumanmu yang indah itu.
Saat kamu bertanya apa mimpiku, aku tidak berani untuk mengatakannya. Aku tidak mau memberimu sebuah harapan palsu yang hanya akan membuatmu bersedih dan kecewa. Karena mimpiku sama sepertimu, aku ingin bisa menikah dan memiliki anak denganmu. Tapi aku tidak bisa, aku tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpi kita. Dan sekali lagi, aku minta maaf padamu.
Mungkin saat ini, saat kamu sedang membaca suratku ini, aku sudah pergi meninggalkanmu dan tidak berada di sisimu lagi. Sungguh maafkan aku dan jangan bersedih. Tersenyumlah. Seperti senyum bahagiamu yang kulihat malam ini.
Berbahagialah walaupun aku sudah tidak bersamamu lagi dan tidak bisa selalu menemanimu disisimu. Aku yakin kamu adalah seorang wanita yang tangguh dan kuat, kamu pasti bisa melewatinya. Dan lupakan aku. Aku serahkan dan percayakan kebahagiaanmu pada kakakku karena kalian adalah pasangan yang sesungguhnya. Kebahagiaan kalian hanyalah tertunda saja dan itu karena kehadiranku. Dan kini waktunya kalian untuk kembali bersatu dan hidup berbahagia.
Dengan penuh cinta dan ketulusanku yang terdalam dari dasar hatiku, aku mendoakan banyak kebahagiaan bagi kalian.
With Love,
Rey*.
Demikianlah isi surat Rey untuk Erika. Itu adalah surat yang telah ditulisnya sejak lama.
Airmata langsung jatuh menetes dari mata Erika.
"Rey ..." isaknya.
Kei juga ikut membaca surat tersebut dan ikut menangis sedih. Lalu mereka berdua segera bergegas melakukan perjalanan menuju ke villa Alisha.
Sesampainya di villa, Rey sedang berada di dalam kamarnya. Kei mengetuk pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Sedangkan Erika menunggunya di luar kamar.
"Ken, Erika sedang ada di depan kamarmu. Aku yang membawanya kemari." Namun Rey tetap hanya diam. "Ken, temuilah Erika. Jangan menghindarinya lagi." Akhirnya Rey mau keluar untuk menemui Erika. Kei pun mendorong Rey yang telah duduk di kursi rodanya.
Begitu Rey keluar dari kamarnya dan melihat Erika, hatinya langsung bersedih dan ia ingin menangis. Rey langsung memencet tombol pada kursi rodanya untuk pergi dengan airmatanya yang mulai menetes.
Sedangkan Erika, airmatanya langsung tumpah dan berjatuhan dari pelupuk matanya begitu ia melihat kekasih yang sangat dicintainya dalam kondisi yang menyedihkan. Dengan tubuhnya yang dulu gagah dan tegap, kini ia terlihat begitu lemah dan wajahnya pucat serta tirus. Rey bahkan harus menggunakan kursi roda untuk membantunya menopang tubuhnya dan untuk bergerak. Matanya yang biasa bulat dan besar tampak sayu dengan cahaya dimatanya yang meredup. Dan semua itu terjadi hanya dalam beberapa hari saja. Karena ternyata selama ini, ketika Rey harus bertemu dengan Erika, mereka selalu menutupinya dengan menggunakan jasa seorang penata rias yang sangat ahli hingga dapat membuat wajahnya tampak sehat dan tidak pucat secara alami dan natural.
Kemudian Erika menjadi teringat dengan isi surat yang Rey tuliskan untuknya, ia lalu buru-buru menghapus airmatanya dan mencoba untuk memasang seulas senyuman diwajahnya.
"Rey ..." panggil Erika dengan ceria. Rey lalu berhenti dan Erika berjalan menghampirinya. Dengan berusaha menahan kesedihannya, Erika mengembangkan seulas senyumannya yang paling manis pada Rey.
"Rey, aku baik-baik saja. Lihatlah, aku tidak bersedih dan tidak menangis." Ucap Erika sambil mengusap airmata Rey yang jatuh dipipinya. Erika lalu memeluk Rey dan mendekapnya ke dalam pelukannya yang hangat. Setelah itu Rey pun terdiam dari tangisnya dan ia juga tersenyum sambil menatap Erika.
Mereka berdua lalu pergi ke taman tempat mereka berdua pernah mengahabiskan malam di sana yang Rey sebutkan pada suratnya.
Setelah beberapa jam duduk bersama, Rey terlihat seperti meringis kesakitan dan sudah tampak lelah.
"Sayang, ayo kita masuk ke dalam." Rey mengangguk. Erika mendorong kursi roda Rey menuju ke kamarnya. Lalu Erika menemaninya tidur. Setelah Rey tertidur, Erika memegangi tangannya dan menangis.
"Rey ... " Airmata Erika terus jatuh berlinangan menyadari kekasih yang sedang tertidur di depannya akan segera pergi meninggalkannya. "Rey ... " Erika kembali menyebutkan nama Rey dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Bagaimanapun ia harus kuat, dan harus bisa menerima serta menghadapi kenyataan ini.
Ternyata tangisan Erika yang memanggil namanya membangunkan Rey. Matanya juga meneteskan airmatanya, lalu ia memanggil nama kekasihnya itu dengan lemah.
"Eri ... ka ...," Erika terkejut mendengar suara Rey yang memanggilnya. Ia buru-buru menghapus airmatanya dan tersenyum padanya.
"Rey, maaf aku membangunkanmu." Rey menggeleng padanya.
"Kemarilah ..." Rey memberi isyarat agar Erika ikut berbaring di atas kasurnya dan di sampingnya. Erika menurutinya. Rey mempersilahkan kepala Erika untuk bersandar di atas tubuhnya dan dengan lembut Rey mencium bagian atas kepala Erika yang sedang bersandar di dadanya.
"Aku merindukanmu, Erika ..." Erika mendongakkan kepalanya dan menatap Rey dengan penuh kasih dan kelembutan. Rey membalas tatapannya sama seperti yang Erika berikan padanya.
"Rey ..." panggilnya lagi dengan bersedih.
"Maafkan aku ..."
"Tidak Rey, jangan mengucap maafmu. Ini bukan salahmu." Rey terdiam dengan airmatanya yang berurai. Kemudian Erika mengecup kening Rey dengan lembut dan mengusap airmata Rey. "Tidurlah ..." ucap Erika dengan penuh perhatian pada Rey.
"Kamu juga, tidurlah bersamaku." Erika mengangguk dan Erika ikut tertidur bersama Rey dalam pelukannya.
Setelah itu, mereka selalu menghabiskan waktu untuk bersama-sama. Dengan Erika yang selalu berada di sisi Rey untuk menemaninya, merawat serta mengurusnya dengan penuh perhatian dan kasih sayangnya. Mereka juga melakukan beberapa hal yang Rey inginkan. Seperti menatap langit malam dan berbintang, menikmati pemandangan indah saat matahari terbit dan terbenam.
Sedangkan Kei, ia menjadi sering bolak balik Jakarta - Bandung. Selain karena urusan pekerjaan, juga karena Kei ingin memberikan kesempatan bagi mereka untuk bisa lebih sering berduaan saja. Walau terkadang Rey ingin kakaknya juga ikut menemaninya bersama Erika.
Seperti malam ini, Rey meminta kakaknya untuk datang karena besok subuh Rey ingin menyaksikan sunrise bertiga bersama Erika dan kakaknya. Kei lalu menuruti kemauan adiknya dengan datang dan menginap di villa. Saat ini Kei sedang makan malam berdua dengan Erika di ruang makan.
"Erika, kamu tampak pucat. Apa kamu sakit? Kei tampak mencemaskan Erika yang seperti tidak nafsu makan dan juga terlihat pucat.
"Beberapa hari ini aku sering merasa mual dan kurang nafsu makan. Tetapi itu hanya karena aku sedang sedikit kelelahan saja."
"Baiklah, kalau begitu kamu beristirahat saja dan biarkan aku yang menjaga adikku malam ini."
Saat Kei masuk ke kamar adiknya, ternyata adiknya belum tertidur.
"Ken, kamu belum tertidur?"
"Belum. Kakak ..."
"Iya Ken ..." Kei lalu duduk dikursi yang ada disamping ranjang.
"Apa kakak membawa apa yang kupinta?"
Kei lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berbahan beludru yang berukuran kecil.
"Ini ...?" Rey mengangguk dan memberinya senyum lalu sedetik kemudian ia tertidur.
Kei menatap kotak yang dipegangnya itu dengan sedih dan hati yang terasa pedih.
Keesokan paginya, seperti yang telah dijanjikan, Kei dan Erika akan menemani Rey untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit dari taman di belakang villa. Pagi ini ketika terbangun Rey tampak ceria dan sangat bersemangat karena ia akan menyaksikan pemandangan sunrise bertiga bersama kakak dan wanita yang dicintainya.
Lalu Rey meminta kakaknya untuk memapahnya duduk di kursi taman karena ia bosan untuk terus duduk di kursi rodanya. Kemudian, Kei dan Erika pun memapahnya dan menempati posisi duduknya diantara mereka. Saat itu mereka merasa bahwa tubuh Rey semakin melemah dan sangat ringan.
Setelah itu mereka bertiga duduk di kursi taman dalam diam sambil menyaksikan pemandangan matahari pagi yang perlahan semakin lama semakin naik ke atas dan memancarkan sinar paginya yang sangat indah dan mempesona. Ketika menyaksikan sinar matahari yang perlahan terbit itu, Rey ikut merasakan sebuah kehangatan yang juga menyinari hatinya. Lalu Rey tersenyum dengan lemah dan perlahan matanya terpejam.
Kemudian, Erika merasakan kepala Rey yang tiba-tiba terjatuh dengan lunglai di bahunya. Kei pun mendengar bunyi dan ia segera menengok ke arah adiknya.
"Ken ...." panggil kakaknya dengan sedih dan dengan suara yang lemah melihat adiknya yang dengan mata terpejamnya sedang berbaring terkulai lemah dibahu Erika. Sedangkan Erika hanya bisa menangis dalam diamnya. Lalu mereka segera menghubungi Dokter Steve untuk datang memeriksa keadaan Rey.
Saat ini kondisi Rey semakin memburuk dan telah sangat melemah. Hingga ia mengalami koma.
Keesokan paginya, Rey tersadar namun kondisinya benar-benar lemah. Kei dan Erika yang sejak dari semalam menungguinya, kini berdiri berdampingan di samping kasurnya. Rey terlihat seperti ingin mengucapkan sesuatu pada mereka. Kemudian Dokter Steve pun membantunya untuk membuka masker oksigennya agar mereka dapat mendengarnya.
"Kakak ..." ucapnya dengan suara yang sangat pelan dan lemah.
"Iya, Ken ..." jawab kakaknya sambil menangis.
"Cin ... cin ..." Kei lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berbahan beludru dari saku celananya.
"Eri ... ka ..." ucapnya lagi dengan susah dan terputus-putus. Ia menggerakkan tangannya seperti meminta tangan Erika. Erika lalu mengulurkan telapak tangannya pada Rey.
"Ka ... kak ..." ucapnya lagi. Kei mengerti maksud keinginan Rey saat ini. Ia lalu meraih telapak tangan Erika yang sedang terjulur pada Rey. Erika menatap Rey dengan tangisnya. Rey mengangguk padanya.
Kei pun memasangkan cincin di jari manis tangan Erika. Lalu Kei meminta Erika untuk juga memasangkan cincin pasangannya ke jari manis tangannya.
Setelah itu, dengan menatap ke arah mereka berdua dan sambil tersenyum, Rey berkata dengan suara yang amat lemah dan terputus-putus "Terse ... nyum ... dan ... ber ... baha ... gia ... lah ...."
Kei menggenggam jemari tangan Rey dan berbisik padanya, "Ken adikku, jangan khawatir. Aku akan selalu menjaga dan membuat Erikamu berbahagia." Rey meminta telapak tangan Erika kemudian ia menggenggamnya dengan lemah dan menyatukannya dengan telapak tangan Kei yang sedang memegangnya. Setelah itu Rey tersenyum pada mereka, dan dengan perlahan ia memejamkan matanya untuk tertidur selamanya dalam ketenangan dan kedamaiannya. Tangan kanannya yang berada di atas pergelangan tangan mereka terkulai dengan lemas jatuh ke sisi samping tubuhnya.
Melihat Rey yang menutup matanya dan dengan tangannya yang terkulai lemah, Erika langsung menangis pilu.
"Tidakkk ..." Erika menggeleng-geleng dengan air mata yang mengucur deras. Ia membaringkan kepalanya ke atas tubuh Rey dan memeluknya sambil mengguncang-guncang tubuh Rey dengan pelan untuk membangunkannya. "Rey ... bangunlah ... bukalah matamu ... Jangan pergi Rey ... jangan tinggalkan aku ... Reyyyyy ...." tangisnya dengan penuh kepedihan.
Lalu Kei merengkuh Erika dengan lembut ke dalam pelukannya dan ikut menangis bersama Erika dalam pelukannya.
"Kak Kei, Reyku ... dia ... tolong bangunkan dia untukku ...." isak tangis Erika. Erika merasakan kepedihan dan kesedihan yang amat mendalam karena ditinggal pergi oleh pria yang amat dicintainya untuk selamanya. Tubuhnya pun melemah dan ia pingsan.
Saat dokter memeriksakan kondisi Erika yang pingsan, Kei memandangi wajah adiknya dan berkata, "Ken adikku, beristirahatlah dengan tenang dan damai. Kakak tahu kamu telah berbahagia dan tidak merasakan kesakitanmu lagi. Kennn ...." Kei lalu menangis dengan pilu.
Dokter Steve memberitahukan pada Kei kalau ternyata Erika sedang hamil. Kei cukup terkejut mendengar hal tersebut. Lalu setelah diberi tindakan oleh Dokter Steve, Erika kembali tersadar dari pingsannya. Dokter memberitahukan kabar tentang kehamilannya pada Erika. Mendengar perihal tersebut, Erika langsung berhambur ke tubuh Rey yang terbaring diam dan tidak akan terbangun lagi.
"Rey ... " panggil Erika dengan lirih dan airmata yang beruraian. Erika memandangi wajah Rey yang pucat dan dengan matanya yang telah menutup untuk selamanya. Ia lalu mengusap wajah Rey dengan lembut. "Rey ... bangun dan tataplah aku ..." Airmatanya pun mengalir semakin deras ketika pria yang dicintainya itu tetap diam dan tidak meresponnya. Erika lalu membaringkan tubuhnya di atas tubuh Rey yang terbaring diam dan tidak terbangun lagi. Ia mengguncang pelan tubuh Rey untuk membangunkannya. "Rey ... bangunlah ... Jangan tinggalkan aku dan anak kita ... Rey ...." tangisnya dengan sangat pilu sambil terus memeluknya erat seolah tidak mau terpisahkan darinya.
Kei yang sudah ada didekatnya ikut menangis dengan tak tertahankan melihat adiknya yang telah tertidur dengan tenang dan damai. Kei berusaha menguatkan hatinya dan mencoba untuk menghibur Erika. Ia lalu membungkukkan tubuhnya untuk merangkul tubuh Erika dan berbisik lembut kepadanya.
"Erika, adikku sudah berbahagia. Lihatlah ia sedang tertidur dengan begitu tenang dan damai. Ia juga tidak merasakan kesakitannya lagi." Ucap Kei dengan suara yang bergemetar dan airmata yang turun membasahi pipinya. "Kamu harus tegar dan kuat menghadapi kenyataan ini demi bayi yang ada di dalam kandunganmu dan anak dari adikku ...." ucap Kei lagi dengan bibirnya yang bergetar dan sambil berusaha menahan tangisnya. Erika menatap Kei dengan pandangannya yang berkabut karena airmatanya.
"Kak Kei ..." tatapan mata Erika melembut dan ia mau melepas pelukannya pada tubuh Rey. Ia lalu memeluk Kei dan kembali terisak didalam dekapan Kei. Mereka berdua saling menangis bersama dalam posisi saling berpelukan.
***
Sebulan kemudian, Kei menikahi Erika. Namun mereka hanya melakukan pemberkatan atas pernikahan mereka saja karena mereka masih berduka atas kepergian Rey sehingga tidak ada pesta pernikahan. Kei menikahi Erika sebagai perwujudan janjinya pada adiknya dan juga sekaligus untuk menjadi ayah bagi bayi yang dikandung Erika yang adalah buah hati Erika dengan adiknya. Kini mereka berdua pun telah menjadi suami istri yang sah dan tinggal bersama.
Selama itu pun Kei tidak pernah bersentuhan ataupun meniduri Erika. Dia menikahi Erika hanya untuk menepati janjinya kepada adiknya dan bertanggung jawab sebagai ayah dari bayi yang ada di dalam kandungan Erika. Walaupun sebenarnya ia mencintai Erika dan menginginkan adanya hubungan dan sentuhan cinta diantara mereka. Namun ia juga ingin menghargai Erika dan adiknya. Sehingga Kei hanya sesekali mencium keningnya dan mengusap punggungnya disaat Erika merasa tidak nyaman dan kesusahan karena proses kehamilannya.
Saat usia kandungan Erika sudah cukup dan perutnya sudah mulai tampak membesar, Kei berkata padanya,
"Perutmu sudah membesar sayang ...."
"Iya, apakah kamu mau menyentuh dan merasakan anak kita?" Mendengar ucapan Erika yang menanyakannya untuk menyentuh bayi dalam kandungannya serta menyebutnya sebagai 'anak kita', membuat Kei merasa sangat terharu. Ia lalu mengangguk dan menyentuh perut Erika yang membuncit. "Anakku ... sehat-sehatlah selalu ...." ucapnya dengan senyum harunya.
7 bulan kemudian ....
Erika sedang berada diruang persalinan karena sudah waktunya dia untuk melahirkan. Erika ingin dirinya melahirkan normal karena ia ingin merasakan sebuah perjuangan untuk melahirkan buah hatinya dengan Rey. Namun Erika cukup mengalami kesulitan dan kesakitan.
Dokter yang membantunya pun bertanya padanya, "Nyonya, apa anda yakin untuk tetap melanjutkan proses melahirkannya secara normal?"
"Iya, Dok ... Dokter, saya ingin bisa bersama suami saya" pinta Erika sambil meringis kesakitan.
"Baiklah, saya akan memanggil suami anda untuk menemani dan membantu memberi semangat pada anda."
Lalu Kei pun masuk ke dalam ruangan bersalin.
"Erika, sayang." Kei mengusap lembut kepala Erika. "Apakah kamu masih kuat untuk bertahan?" Tanyanya penuh kekhawatiran dan perhatian.
"Iya, sayang ... " Erika menjulurkan tangannya meminta Kei untuk menggenggam tangannya. Kemudian ia kembali menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Lalu ia mencobanya kembali.
"Aaaaa ... Kak Kei ... fu fu fuu..." Erika terlihat sangat kesakitan.
Wajah Kei sangat cemas dan kebingungan.
"Sayang ... apa sebaiknya "
"Tidak, Kak ... aku bisa ..." jawab Erika dengan terengah-engah. Erika lalu mengulanginya lagi.
Kei mengusap kening Erika dan menciumnya dengan lembut.
Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya suara tangisan bayi yang baru lahir pun terdengar beriringan dengan suara jerit kesakitan Erika yang panjang. Erika bernafas dengan lega dan segera menjatuhkan tubuhnya untuk berbaring kembali ke kasurnya dengan kelelahan. Kei tersenyum padanya. Ia langsung menciumi kening Erika dan membisikkannya sesuatu.
"Sayang, kamu sungguh hebat dan luar biasa. Kamu berhasil sayang."
Erika memejamkan matanya sambil mengangguk. Kemudian ia membuka matanya dan menjawab dengan wajahnya yang tersenyum senang. "Iya Kak Kei."
Seorang perawat menghampiri mereka dengan membawa bayi mereka yang telah dibersihkan dan memberikannya pada Erika untuk disusui. Setelah selesai, Erika bertanya pada Kei.
"Apakah kakak mau menggendongnya?" Kei tersenyum gembira dan langsung menggendong bayinya. Begitu melihat bayi itu, yang sedang tertidur dan dengan wajahnya yang mungil serta seperti sedang tersenyum, Kei langsung menangis dengan terharu. "Ken ... Ken kecilku ...." ucapnya dengan berlinangan airmata karena ia melihat wajah bayi mungil yang baru dilahirkan itu sangat persis sama dengan wajah adik kecilnya sewaktu masih bayi. Kei merasa kalau adiknya seperti telah terlahir kembali menjadi bayi yang adalah anaknya itu tetapi dengan tubuh dan fisiknya yang sehat dan kuat. Ia lalu tertawa dengan perasaan gembiranya.
Erika memandangi suaminya yang sedang menggendong bayinya ikut merasakan kegembiraannya. Akhirnya ... baru kali ini Erika melihat dan merasakan perasaan gembira dan senang ada pada diri suaminya itu.
"Kak Kei ... dia adalah anak kita ... anakmu, anakku dan juga anak Rey ... Sebagai ayahnya, panggil dan sebutkanlah namanya" ucap Erika dengan tersenyum bahagia.
"Kenzo Takahiro ..." ucapnya dengan tertawa senang. Kemudian dalam hatinya ia berucap,
Ken adikku. Kamu telah menjadi seorang ayah. Dan sesuai janjiku, aku akan membuat anakmu bisa mengenalmu dan juga menyayangimu sebagai ayah kandungnya.
Setelah 6 bulan berlalu dan bayi mereka berusia 6 bulan, Kei dan Erika melangsungkan pesta pernikahan mereka dengan mewah dan secara besar-besaran.
Kedua orangtua Erika senang karena Erika menikah dengan pria yang mereka kagumi dan banggakan. Walaupun mereka juga merasa sedih dan kehilangan Rey, tetapi mereka merasa senang dengan kehadiran seorang cucu yang adalah buah hati antara putri kesayangan mereka dengan pria yang juga mereka sayangi, Reyhan Wiriawan.
Sudah sejak saat melahirkan bayinya, Erika mulai membuka dirinya pada Kei dan mau membalas perlakuan cinta dari suaminya itu. Walaupun dalam hatinya ia masih belum melupakan Rey dan akan selalu mencintainya. Tetapi Erika juga mulai merasakan perasaan cintanya pada suaminya. Kei juga tahu akan hal itu dan tidak mempermasalahkannya karena pria yang dicintainya itu adalah adiknya yang sangat dicintainya dan ia senang karena wanita yang dicintai adiknya itu masih dan selalu mencintai adiknya. Juga mencintai dirinya.
"Kak Kei ..." Erika memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
"Iya, istriku." jawab Kei sambil menatap dalam dan dengan rasa sayangnya kepada istrinya.
"Aku mencintaimu tetapi aku juga mencintai adikmu. Bolehkah aku tetap mencintai adik kesayanganmu?"
"Tentu saja, aku juga mencintai adikku dan anak kita bertiga." Erika tersenyum padanya dan menatapnya dengan tatapan bersemu. Kei lalu mencium bibir istrinya dengan sangat lembut dan hangat. Erika membalas ciuman itu. Dan ciuman itu berlanjut dengan gairah yang membawa mereka menuju ke aksi percintaan mereka.
***
Begitulah kehidupan ini. Kesedihan dan kebahagiaan akan selalu hadir dalam kehidupan ini. Tangis dan tawa akan selalu datang silih berganti mewarnai dan menghiasi kehidupan kita. Menangislah saat sedang bersedih dan tersenyumlah saat sedang berbahagia.
~ By Rey Wiriawan a.k.a Ken Takahiro ~
Hapiness For You - The End