
Keesokannya, Rey kembali melanjutkan tugasnya sendirian. Tetapi dia harus lembur mengerjakannya karena disaat jam kerjanya yang normal, dia memiliki tugas dan pekerjaan lain yang juga harus dikerjakan.
Ternyata selama ini teman-temannya juga tidak menyusun barang-barang tersebut dengan rapih dan terstruktur. Mereka asal saja menumpuk barang yang ringan dengan barang yang berat sehingga menurutnya akan berbahaya jika didiamkan dan semakin ditumpuk. Sehingga ia juga harus merapihkannya lagi.
Setelah lembur beberapa hari, akhirnya Rey dapat menyelesaikan pekerjaannya menyusun barang dan merapihkan barang-barang tersebut di gudang.
Kemudian kejadian yang sama kembali berulang. Disaat mereka harus kembali menyusun stok barang yang baru masuk, kedua temannya itu hanya mau mengangkat barang-barang yang ringan saja dan dengan asal menumpuknya begitu saja. Mereka juga sudah berhenti untuk istirahat dan duduk diam saat baru saja beberapa menit mereka memulai untuk mengerjakan tugas mereka. Tidak lagi mau membantu Rey menyusun dan mengangkat barang-barang persediaan yang baru datang.
Namun kali ini Rey tidak diam saja atas perbuatan mereka yang seenaknya menindas dirinya dan sudah keterlaluan. Rey lalu menegur mereka.
"Hei, kalian. Ayo bantu aku menyusun ini semua dan jangan diam saja."
"Kami sudah lelah dan ingin beristirahat sebentar, kamu tolong mengerjakannya dulu." Jawab temannya yang bernama Anton.
"Benar Rey, kamu bisa kan mengerjakannya sendiri dulu." Temannya yang bernama Jeremy ikut menimpali.
"Tetapi kalian telah cukup lama beristirahat. Barang-barang juga masih banyak yang belum diangkut ke dalam gudang."
"Tapi kami masih merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar lagi."
"Kupikir ini memang tugas kita, jadi bekerjalah dengan benar! Dan aku tidak mau sampai harus ribut dengan kalian."
"Kalau kami tidak mau membantumu, lalu kamu mau apa? Apa kamu lantas akan melaporkan kami kepada koneksimu yang hebat itu dan membuat kami dipecat dari pekerjaan ini?" Tanya Anton.
Rey semakin merasa marah pada kelakuan temannya itu. Apalagi temannya telah menyinggungnya dengan mengatakan ia memiliki koneksi dan akan memecat mereka.
"Kurasa kalian sudah keterlaluan. Kemarin-kemarin aku mau mengalah dan menyelesaikan semuanya sendirian, untuk menebus diriku yang selama beberapa hari tidak membantu kalian. Tetapi aku sudah menyelesaikan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku. Jadi sekarang, kalian juga harus melakukan tugas dan tanggung jawab kalian. Ayo, kita harus menyelesaikan pekerjaan ini bersama-sama dan jangan hanya diam saja."
"Kamu kira kita akan takut denganmu? Kalau kamu tidak suka, ayo lawan kami dengan gentle. Jangan dengan mengadukan atau melaporkan kami. Tetapi, beranikah kamu berduel dengan kami?" Anton menantangnya untuk berkelahi.
"Aku tidak mau mengotori tanganku yang harusnya aku gunakan untuk menyajikan makanan enak dengan berkelahi dan menjadi ternoda oleh darahmu!"
"Memangnya kenapa? Apakah kamu bisa menjamin kalau tanganmu itu selalu bersih dan tidak pernah ternodai oleh darah siapapun sebelumnya karena berkelahi? Tapi mungkin saja, karena kamu anak orang kaya manja yang selalu bisa mengandalkan uangmu untuk memerintahkan orang melakukannya dan mendapatkan apa yang kamu mau."
Rey yang bekas seorang gangster dan tak jarang tangannya digunakan untuk berkelahi sehingga tangannya cukup kotor dan ternoda, merasa marah dan tersinggung. Tetapi ia berusaha menahan dan mengontrol emosinya. Dia juga bukan seorang anak kaya yang manja dan selalu mengandalkan uangnya untuk mendapat apa yang dia mau.
"Tanganku memang tidak bersih dari darah dan perkelahian, tetapi setidaknya selama aku masih bekerja sebagai koki, aku akan berusaha untuk menjaganya agar tetap bersih."
"Ohh ya? bagaimana kalau sekarang aku menantangmu duel dan membuat tanganmu itu kotor dengan noda darahmu sendiri akibat perkelahian diantara kita? Apakah kamu berani anak orang kaya yang manja? Sepertinya kamu hanya akan diam dan tidak berani untuk melawanku!"
Secara tiba-tiba pria itu menerjang tubuh Rey ke arah tumpukan dus-dus yang ada disekitarnya dan melumpuhkan tubuhnya dengan menekan tangannya ke atas tubuh Rey hingga Rey tidak bisa bergerak. Tumpukan dus tersebut bergoyang dan seketika roboh ke arah mereka.
"Awas!" Teriak Rey langsung mendorong tubuh temannya menjauh agar tidak tertimpa tumpukan dus yang akan jatuh. Rey juga segera bangun dan membawa tubuhnya untuk berlari menjauh dari situ. Tetapi ada sebuah dus yang terlempar dan sempat terjatuh menimpa ke tubuhnya dengan menghantam bagian bahunya yang sebelah kanan.
"Akh ..." teriaknya mngaduh kesakitan.
"Rey ...!" Temannya yang satu lagi yang bernama Jeremy, yang daritadi hanya diam, menghampirinya untuk melihat keadaannya. Sedangkan temannya yang bernama Anton, jatuh terguling ke lantai, tetapi ia dalam keadaan baik-baik saja.
Tak lama kemudian muncul beberapa staff lainnya datang mengecek keadaan gudang karena mereka mendengar bunyi berisik dus-dus yang berjatuhan dan kaleng-kaleng kemasan yang berserakan keluar sehingga mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
"Ada apa ini? Mengapa barang-barang ini bertumpahan keluar dan berserakan di lantai?" Tanya Paman Hadi yang kaget dan juga marah ketika melihat kekacauan yang terjadi di gudang tersebut.
"Maaf, Pak. Sepertinya kami kurang rapih menyusunnya sehingga ketika saya tidak sengaja menyenggolnya, barang-barang itu langsung roboh dan terjatuh hingga berserakan seperti ini. Maafkan kami." Ucap Rey dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk meminta maaf. Lalu kedua temannya juga ikut menunduk dan mengucap maaf.
"Lain kali susun dengan lebih rapih dan berhati-hati. Sekarang kalian bereskan kembali barang-barang tersebut dan selesaikan dengan cepat. Sedangkan kamu, ikut aku ke ruanganku. Ada yang ingin kubicarakan padamu."
"Maaf, Pak. Tapi saya harus membantu mereka untuk menyelesaikan kekacauan ini dulu."
"Reyhan, turuti perintahku. Tinggalkan saja pada mereka untuk menyelesaikannya."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa melakukannya. Karena kami satu tim yang sama jadi harus selalu bekerja bersama-sama dan menyelesaikan pekerjaan kami dengan baik."
"Baiklah, setelah selesai datanglah ke ruanganku dengan segera!" Ucap Paman Hadi dengan setengah berteriak marah kepadanya.
"Baik, Pak."
Kemudian mereka bertiga membereskan barang-barang yang berserakan itu bersama-sama dan dalam diam. Setelah beberapa lama berlalu, Rey merasa cukup kelelahan dan bahunya yang tadi terhantam dus berat semakin terasa sakit. Ia lalu mendudukkan tubuhnya sebentar untuk beristirahat. Temannya yang bernama Jeremy menghampirinya.
"Rey, wajahmu pucat. Apa kamu baik-baik saja?" Rey hanya mengangguk.
"Ohh iya bagaimana dengan bahumu yang tadi terhantam dus?" Rey lalu membuka kancing kemeja kerjanya dan dibantu oleh temannya itu.
"Ya ampun, ini memerah dan membengkak. Aku ambilkan es untuk mengompresnya."
"Biarkan aku saja yang mengambilnya." Ucap temannya yang bernama Anton dan dengan segera ia berlari untuk mengambilnya.
Tak lama kemudian ia datang kembali ke gudang dengan membawa kompresan dan sebotol air mineral.
"Ini, minumlah dulu." Anton menyodorkan botol minuman tersebut padanya.
Rey berucap terima kasih sambil mengambil botol minuman tersebut. "Terima kasih." Tetapi bahu kanannya terasa sakit bahkan hanya untuk digerakkan saja, sehingga ia tidak dapat memutar tutup botol minumannya yang masih bersegel untuk membukanya.
"Sini." Anton mengambil botol air tersebut dan membukanya. Rey lalu meminumnya. Setelah itu Rey melepas kemeja kerjanya dan mereka membantu mengompres memar yang ada dibahu Rey.
"Rey, maafkan aku juga." Jeremy ikut meminta maaf padanya.
"Tidak masalah, aku memaafkan kalian." Anton lalu memberanikan diri untuk menatap wajah Rey.
"Aku benar-benar bersalah padamu. Kupikir kamu seorang anak orang kaya yang sombong dan selalu diperlakukan secara spesial. Sehingga aku merasa iri dan ingin mengerjaimu agar kamu merasakan sedikit penderitaan."
Rey tersenyum sinis padanya. "Jangan khawatir, aku banyak melihat orang-orang sepertimu dan sudah terbiasa menghadapinya." Dalam dunia gangsternya, saingan yang ia miliki lebih parah lagi. Saat ia baru bergabung, sesama anggota yang masih baru laimnya akan saling menjatuhkan satu sama lain dan apa yang mereka lakukan bahkan lebih kejam lagi.
Pada awalnya ia merasa berat untuk menghadapinya. Tetapi lama kelamaan ia menjadi belajar dan tahu bagaimana cara mengatasinya yaitu tidak melawan kekerasan dengan kekerasan. Sehingga ia pun menjadi berteman baik dengan mereka dan bahkan ia bisa menjadi peminpin mereka dengan banyak dari mereka yang bersedia untuk menjadi anak buahnya.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu berbeda dengan anak orang kaya yang biasanya kutemui. Kebanyakan dari mereka akan bersikap manja, mau menang sendiri, suka memerintah orang seenaknya, dan pastinya akan menggunakan koneksi mereka untuk menghadapi orang-orang yang berulah seperti kami ini. Lalu pada akhirnya dia akan merasa tidak betah dan keluar. Atau yang terburuk, pada akhirnya terjadi pemecatan pada kami."
"Jadi kamu ingin membuatku tidak betah dan keluar? Tapi apa kamu tidak takut jika nanti kamu akan dipecat?"
"Maafkan aku, karena aku telah iri denganmu dan merasa kamu sainganku. Bayangkan, kamu tampan, kaya dan semua wanita memandang terpesona dan terpikat kepadamu."
"Rey, kamu tidak tahu, wanita gebetannya naksir kamu tuh." Anton memelototi Jeremy yang telah bawel membocorkannya.
Anton melanjutkan ucapannya.
"Biasanya, kebanyakan dari kalian itu anak manja dan bermental lemah yang tidak kuat jika ditindas. Selain itu kalian memiliki banyak peluang dan bisa dengan gampangnya mendapatkan pekerjaan di luar sana, seperti kerja kantoran yang lebih mudah dan santai untuk dilakukan."
Rey menatapnya aneh.
"Apa aku terlihat seperti seorang anak orang kaya yang lemah dan manja yang bisanya hanya mengandalkan koneksi saja?"
"Tetapi memang benar begitu, kan. Penampilanmu terlihat seperti anak orang kaya. Kamu juga terlihat seperti tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat. Lalu, kamu juga tadinya tidak lolos audisi tetapi kamu bisa kembali diterima. Bahkan yang menggagalkanmu itu langsung si pemilik restoran ini. Tetapi ia saja sampai harus mundur dan pada akhirnya mengubah keputusannya sendiri. Kalau bukan karena koneksimu yang sangat kuat, bahkan mungkin seorang figur yang lebih kuat darinya, lalu apa?"
Rey kembali mengeluarkan tawa sinisnya.
"Tentu saja itu karena kemampuan dan keahlianku yang baik. Apalagi kalau tidak? Mereka merasa sayang dan menyesal ketika aku digagalkan."
"Tetapi sikap Pak Hadi juga berbeda denganmu. Dia memperlakukanmu dengan spesial."
"Perasaanmu saja, aku merasa tidak seperti itu."
"Tetapi kamu cukup berani juga, kamu sudah dua kali melawannya."
"Ohh ya? Aku dua kali melawannya?" Rey cukup terkejut menyadarinya dan berpikir harus menemui pamannya itu dan meminta maaf padanya.
"Rey, atau jangan-jangan, kamu adalah sekawanan mafia atau gangster?" Jeremy yang daritadi diam saja akhirnya berani bersuara dan bertanya dengan takut-takut sambil memandangi punggung Rey yang bertato dan memiliki bekas luka tembak. Anton pun ikut memandangi punggungnya.
Rey langsung memakai kemejanya untuk menutupinya.
"Bukan." Jawab Rey singkat dengan aura wajahnya yang menggelap. Mereka pun tidak berani lagi untuk bertanya atau memaksa Rey untuk menjawabnya.
Lalu Rey bangkit berdiri dan berkata, "Baiklah, aku sudah merasa baikan. Ayo kita melanjutkan pekerjaan kita untuk membereskan gudang ini."
"Rey, kamu sebaiknya istirahat saja. Biar kami berdua yang melakukannya, sekalian untuk menebus kesalahan kami yang kemarin-kemarin."
"Iya Rey, kami tidak keberatan untuk mengerjakannya berdua saja. Lagian kamu juga sedang terluka."
"Kalian menganggapku teman tidak?"
"Iya, tentu saja. Sekarang, kamu adalah teman kita." Jawab Anton yang diikuti oleh anggukan Jeremy.
"Kalau begitu jangan banyak bawel, ayo kita cepat selesaikan ini. Kalian tenang saja, aku tahu diri kok, aku juga tidak akan memaksa kalau aku sudah tidak kuat lagi."
Mereka berdua lalu mengangguk dan tersenyum kepadanya yang dibalas oleh Rey dengan juga tersenyum pada mereka.
Setelah selesai, Rey bergegas ke ruang kerja atasannya dan ternyata atasannya itu masih belum pulang karena sedang menunggunya.
"Paman ... kamu masih menungguku?"
"Tentu saja. Aku menunggu penjelasan darimu. Katakan mengapa kamu berbohong padaku tentang apa yang terjadi."
"Aku tidak. Itu memang benar seperti yang kuceritakan."
"Baiklah, kalau kamu tidak mau menceritakannya terpaksa nanti aku akan mengeceknya sendiri dengan membuka rekaman cctv yang ada di gudang."
Rey baru menyadari kalau di sana ada cctv yang terpasang.
"Paman, aku -"
"Aku sudah selesai bicara denganmu. Hari sudah malam, sudah waktunya pulang." Paman Hadi bangkit berdiri dan bergegas keluar ruangan.
"Ba-baik Paman."
Akhirnya Rey kembali pulang lebih malam lagi di hari ini. Saat pulang ke apartemennya, Rey kembali harus berbohong pada kakaknya dengan kebohongan yang sama lagi.
***