
Saat Erika sudah berjalan hingga ke ruang tamu, seseorang menepuk pelan pundaknya dari belakang. "Hey nona, jangan pergi dulu!" Seseorang berteriak memanggilnya dengan kasar, terdengar seperti sebuah larangan dan perintah. Jantung Erika berdegup kencang ketakutan. Dia lalu menurutinya dengan menghentikan langkahnya dan berdiri diam saja.
Orang yang berteriak memanggilnya adalah Satoshi. Dia berjalan menghadap ke depan Erika dengan tangan yang membentang menghadang tubuhnya. "Saat ini Bosku sedang terluka dan dia membutuhkanmu. Tinggallah beberapa hari lagi disini untuk membantu dan merawatnya." Sato berbicara dengan tegas dan kasar yang merupakan cara berbicara para anggota gangster.
Walau begitu, Erika dapat merasakan itu bukanlah sebuah perintah melainkan sebuah permintaan. Hal itu merupakan bentuk perhatian yang tulus terhadap bosnya. Sepertinya para anak buah gangster ini memiliki kesetiaan dan kepedulian yang tinggi pada bos mereka itu.
"Mm..mengapa kalian tidak membawanya ke rumah sakit saja?" Erika bertanya dengan takut-takut.
"Hmm..bosku..tidak suka dirawat di rumah sakit karena dia benci dengan aroma dan suasananya." Sato menurunkan tangannya ke samping tubuhnya dengan lemah dan menatapnya dengan tatapan memelas.
Erika mengerutkan alisnya, mungkin bos gangster itu bukan tidak suka melainkan takut ke rumah sakit? Erika merasa lucu membayangkan bos gangster yang menakutkan itu takut akan rumah sakit. Dia hampir saja kelepasan untuk tertawa. Segera Erika berdehem dan menatap Sato dengan tatapan penuh tanda tanya dan kebingungan.
"..." Setelah beberapa detik, Erika masih hanya diam saja. Entah apa yang harus dia lakukan.
Sato kembali mengamati wajah Erika. Dia mencoba menganalisa dan menelaah apa yang ada dipikiran wanita itu. Saat ini Erika adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkan untuk membantu merawat bosnya yabg sedang terluka parah. Tetapi dia juga tidak boleh bertindak kasar seperti mengancam atau memaksanya untuk melakukan hal itu. Karena Sato sangat mengenal bosnya itu yang mungkin akan menolak keberadaan Erika di rumahnya untuk membantunya. Padahal bosnya itu pasti sangat membutuhkan seseorang untuk merawatnya.
Kemudian Sato berpikir untuk melakukan suatu pendekatan yang akan membuat hati Erika tersentuh dan luluh akan kondisi bosnya sehingga wanita itu dengan berbaik hati dan sukarela mau merawat bosnya.
"Kau tahu, saat kamu melangkah pergi keluar ruangan, aku melihat mata bosku melembut. Dia terus menatapi punggung belakangmu dengan mata yang berkabut karena sedih melihatmu pergi." Mendengar itu Erika membesarkan bola matanya tak percaya dengan apa yang Sato ucapkan.
Erika bergumam didalam hatinya,
Apa mungkin pria yang selalu memiliki tatapan tajam menusuk yang dipenuhi aura kegelapan itu merasa sedih karena kepergiannya?
Berarti pria itu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.
Yes, sepertinya aku berhasil membuatnya tersentuh, batin Sato bersorak senang melihat ekspresi terkejut Erika dan tatapan matanya yang berubah menjadi sedih.
Seorang dokter masuk ke dalam rumah Rey. Dokter itu adalah Dokter Steve, yang merupakan dokter pribadi Rey.
"Dokter, silahkan masuk. Bosku sedang berbaring di kamarnya."
"Baiklah." Saat berjalan masuk, Dokter Steve menyadari keberadaan Erika. Dia menatapnya sesaat lalu mengangguk padanya sebagai salam yang dibalas Erika dengan memberinya anggukan juga.
Ketika dokter masuk ke kamar, para anak buah Rey keluar dari kamar untuk membiarkan dokter memeriksa bos mereka dengan leluasa. Sedangkan Erika memilih untuk mengikuti dokter masuk ke dalam kamar. Selain karena dia ingin tahu bagaimana keadaan Rey, juga karena dia takut untuk berada di luar bersama dengan para anak buah gangster yang bertampang sangar dan kasar.
Rey terbangun dengan wajah yang mengernyit kesakitan saat dokter melakukan pemeriksaan terhadapnya. Tetapi dia hanya memiliki setengah dari kesadarannya. Rey berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat sehingga matanya terbuka dengan menggantung setengah. Tatapan matanya langsung tertuju pada Erika yang sedang berdiri di hadapannya. Sehingga membuatnya mengira bahwa ia sedang bermimpi saat ini dan Erika yang ada di depannya itu tidaklah nyata. Bibir Rey menyunggingkan sebuah senyuman kepada Erika.
"Siapa namamu?" tanya Rey dengan suara yang terdengar pelan dan lemah. Tetapi Erika tahu apa yang Rey tanyakan.
"Namaku Erika." Jawab Erika sambil membalas senyuman yang Rey berikan kepadanya.
"Jangan pergi.. Tunggulah sebentar, aku akan.." Rey kembali tertidur sebelum ucapannya selesai. Pengaruh obat pereda sakit yang Dokter suntikkan padanya telah bekerja sehingga membuatnya dapat tertidur kembali.
Erika merasa bingung. Apa maksud perkataannya tadi. Menunggu sebentar? Untuk apakah?
Dokter Steve telah selesai memeriksa dan mengobati Rey. Dokter melihat kearah Erika dan memanggilnya, "Hmm..Nona.. Erika..?" Dokter tadi mendengar Erika menyebutkan namanya ketika Rey bertanya padanya.
"Iya, Dok.."
Dokter Steve memperlihatkan senyuman ramah pada Erika dan dokter menjulurkan telapak tangannya untuk mengajak Erika berkenalan. "Perkenalkan nama saya Steve." Erika menyambut uluran tangan dokter dan menjabatnya. "Maafkan saya mencuri dengar ucapanmu saat berbicara dengan Rey tadi." Dokter Steve memiliki sikap yang sopan dan sangat ramah.
"Tidak apa, Dok. Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Erika dengan menatap cemas kepada Rey. Dokter Steve menangkap rasa cemas Erika dan dia kembali tersenyum padanya.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja." Dokter mengajak Erika untuk keluar dari kamar dan menuju ke ruangan keluarga. Di luar kamar terlihat sepi, para anak buah Rey sudah tak terlihat di sana.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ditubuhnya, tidak ada cidera ataupun kerusakan fatal pada organ tubuhnya. Hanya saja, luka-luka itu telat mendapat penanganan yang baik dan tepat. Selain itu juga pukulan yang diterimanya cukup banyak dan kuat. Sehingga menyebabkan beberapa luka mengalami robekan di jaringan bawah kulitnya yang mengakibatkan trauma dan peradangan ditubuhnya. Itulah mengapa tubuhnya mengalami demam tinggi dan menyebabkan dia tak sadarkan diri."
"Apakah itu akan membahayakannya, Dok?" Tanya Erika lagi dengan ekspresi penuh kecemasan.
"Asalkan selama beberapa hari ini dia dirawat dan diobati dengan baik, maka lukanya dapat segera sembuh. Namun, kita masih harus menunggu dia sadar dulu untuk menanyakan apakah ada pukulan yang menggunakan benda tumpul atau tidak."
"Tidak ada Dok. Preman-preman itu memukulinya dengan tangan kosong" Dokter menatap bingung ke arah Erika. "Kebetulan saat itu saya berada di lokasi kejadian dan melihatnya." tambah Erika.
Dokter Steve mengangguk. "Apakah Nona juga terluka? Biar kuperiksa lukamu.."
"Tidak, Dok. Aku baik-baik saja, aku tidak terluka."
"Syukurlah kalau begitu. Anak itu masih saja seperti dulu. Selalu saja ringan tangan. Tak jarang dia terlibat perkelahian untuk menolong dan melindungi orang yang sedang kesulitan. Sehingga sering membuat orang salah menilainya dengan menganggapnya sebagai seorang yang senang berkelahi."
Erika bingung mendengar pernyataan dokter. Dia tidak memahami kalau dokter telah salah paham dengan berpikir kalau Rey terluka karena melindunginya. Tetapi Erika tidak menanyakan lebih lanjut pada Dokter Steve apa maksud dari ucapannya tersebut.
"Apakah tidak lebih baik dia dirawat di rumah sakit saja Dok?" tanya Erika.
"Tidak perlu, saya rasa Nona yang merawatnya sudah cukup."
"Tidak Dok, bukan saya yang akan merawatnya. Sekarang saja, saya sudah harus pergi dari rumah ini.."
"Tidakk, bukan begitu..mm..aku..aku.."
Ketika Erika tergagap karena bingung untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, Ryo masuk ke dalam ruangan dan ikut menimpali ucapan Erika.
"Benar Dok, Nona Erika yang akan merawat bos kami karena dialah yang menyebabkan bos kami dipukuli hingga terluka seperti itu." Ryo membenarkan keraguan Dokter Steve.
"Tidak, bukan begitu. Kalian telah salah paham.." Jawab Erika berusaha menjelaskan.
"Salah paham? Walaupun bosku tadi telah mengatakan bahkan pemukulan terhadap dirinya tidak ada hubungannya denganmu, tetapi aku tetap yakin bahwa kamulah dalangnya. Sekarang katakan padaku, siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu orang suruhan yang sengaja diutus oleh musuh untuk mencelakai bos kami?" Ryo menghardik Erika sambil berjalan mendekatinya. Membuat tubuh Erika beringsut ketakutan.
"Ryo, apa-apaan kamu. Jangan bertindak kasar dengan menuduhnya seperti itu." Sato datang dan segera berusaha mencegah Ryo untuk bertindak lebih jauh lagi.
"Lalu, apalagi penyebab bos kita mendapat luka separah itu? Selama ini bos tidak suka rumahnya didatangi oleh seseorang entah itu pria atau wanita apalagi membawa seorang yang asing ke rumahnya. Tetapi, wanita itu. Bos membawanya pulang ke rumahnya, tentu saja karena bos mau menolongnya. Dan pasti karena menolongnya bos harus berkelahi hingga terluka parah seperti sekarang ini."
"Benar, kan apa yang aku katakan Nona?" Dengan kasar Ryo menarik tangan Erika dan mencengkramnya erat.
"Aww.." Erika berteriak kesakitan. "Lepaskan.." Erika mulai menangis ketakutan.
"Ryo..Lepaskan dia." Sato menyuruh Ryo untuk melepaskan cengkramannya dari tangan Erika sambil membantu Erika terbebas dan menjauh darinya.
Setelah itu, Dokter Steve memapah Erika duduk di sofa sambil menenangkannya.
"Nona Erika, saya minta maaf. Karena kesalahpahaman yang telah saya buat membuatmu mengalami hal seperti ini. Maukah kamu menjelaskan pada kami apa yang sebenarnya telah terjadi pada Rey dan kamu di malam kejadian itu?"
Lalu Erika pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengarkan penjelasan yang Erika berikan, Ryo merasa bersalah padanya dan meminta maaf.
"Nona Erika, maafkan kekasaranku dan ketidaksopananku yang telah menuduhmu sembarangan.."
Erika menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, aku sudah memaafkanmu. Wajar jika kamu berbuat seperti itu, karena aku memahami bahwa itu merupakan suatu bentuk kepedulianmu pada bosmu. Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu.."
"Jangan.. Nona Erika, kami mohon tinggallah di sini untuk beberapa hari lagi." Ryo berusaha menahan Erika untuk tidak pergi.
Begitu juga dengan Sato. "Benar Nona, bos kami membutuhkanmu.."
Dokter Steve hanya diam saja mendengarkan. Karena dia merasa tidak baik untuk ikut memaksa Erika untuk tetap tinggal di sana.
"Aku sangat menghargai kalian yang begitu peduli dan perhatian terhadap bos kalian. Dan sebenarnya.. aku.. aku bersedia untuk merawatnya. Hanya saja.."
Sato dan Ryo menunggu ucapan Erika dalam diam. Karena Erika tetap saja diam, akhirnya Ryo tidak sabar dan bertanya, "Katakan saja Nona Erika, jangan
takut. Kami pasti akan membantumu."
"Benar, katakan saja, apa yang mengusik pikiranmu?"
"Hmm Begini.. Seperti yang kalian lihat, tadi Bos kalian telah mengusirku bahkan dengan sangat kasar. Jadi.. aku merasa dia sangat membenciku dan tidak suka dengan kehadiranku di rumahnya. Aku yakin dia pasti akan marah dan mengusirku lagi dengan kasar.." Erika berbicara dengan pandangan penuh rasa ketakutan. Membayangkan bos mereka akan kembali mengusirnya dengan kasar.
Sebenarnya dalam benaknya, Erika berpikir bahwa tinggal di rumah ini beberapa hari lagi selama pelariannya bukanlah hal buruk. Selain dia merasa senang berada di rumah ini, juga kekasihnya akan mengalami kesulitan untuk menemukan keberadaannya di rumah ini. Tetapi kendalanya adalah sikap kasar dan tatapan menyeramkan pemilik rumah yang membuatnya takut.
Mendengar penuturan Erika, Ryo dan Sato terdiam. Mereka sangat mengenal karakter bos mereka itu. Memang yang Erika katakan adalah benar. Bos mereka sudah pasti tidak menyukai Erika yang akan tinggal di rumahnya apalagi untuk merawatnya. Bos mereka pasti akan mengusir Erika lagi dari rumahnya.
Melihat mereka yang terdiam dengan wajah yang muram, Dokter Steve akhirnya ikut berbicara.
"Nona Erika, sebelumnya saya berterimah kasih dan sangat menghargaimu yang telah bersedia merawat Rey. Saya telah menjadi dokter Rey sejak dia masih kecil jadi saya sangat mengenal sifat-sifatnya bahkan segala sifat buruk yang dimilikinya. Namun sesungguhnya, dibalik sifatnya yang buruk itu, Rey memiliki hati yang lembut dan peduli terhadap orang lain. Dia mau menolongmu yang sedang pingsan walaupun dia sedang terluka parah dan juga tidak mengenalmu. Dia mengusirmu karena ada suatu alasan yang tak ingin dia ungkapkan."
"Iya, Dokter Steve benar. Dia sebenarnya kecewa dan sedih saat kamu pergi meninggalkannya." Sato ikut menambahkan. Dia teringat akan pandangan mata bosnya yang sayu karena kecewa ketika Erika pergi.
"Nona, boleh kutahu apakah kamu sudah memberitahu keluargamu tentang kondisimu dan keberadaanmu di sini?" Tanya Dokter Steve pada Erika.
Erika yang sedang kabur dari rumah terdiam. Dia tidak berani untuk berkata jujur tentang dirinya yang sedang kabur dari rumah. Tetapi dia juga merasa tidak baik berbohong di kepada Dokter Steve.
Erika menelan ludahnya bersusah payah untuk berbicara. "Bbelum.."
Dokter mengangguk. Entah apa maksud anggukan dokter tersebut. Lalu Dokter Steve tersenyum padanya. "Sepertinya Rey tahu akan hal itu. Karena itu dia mengusirmu, dia ingin memaksamu untuk segera pulang ke rumahmu. Lalu, jika kamu tinggal di sini beberapa hari lagi, apakah orangtuamu akan mengijinkannya?"
"Tidak masalah" Melihat dokter yang langsung menatapnya karena jawaban Erika yang terdengar sangat yakin, Erika buru-buru menambahkan, "Kupikir mereka akan mengijinkanku.."
Yes
Ryo dan Sato bersorak gembira. Erika pun menyadari dirinya yang telah salah bicara.
"Tidak, bukan..Aku..maksudkku.." Erika tergagap dan tidak bisa mengelak lagi.
"Nona Erika, jangan khawatir. Walaupun pada awalnya Rey akan berbuat kasar padamu, tetapi saya yakin perlahan-lahan hatinya akan melunak dan bersikap baik terhadapmu.. Karena selama ini, dia hidup sendirian dan sebatang kara. Jadi dia tidak terbiasa dengan kehadiranmu di rumahnya yang akan merawatnya."
***