
Rey naik ke mobil dan duduk di kursi belakang kemudi dengan diikuti oleh Erika yang duduk disampingnya. Sato yang berada di kursi kemudiĀ mengacungkan jempolnya pada Erika karena apa yang mereka rencanakan berhasil. Erika membalasnya dengan mengedipkan mata dan memberikan senyuman manisnya.
Rey melirik ke arah mereka.
"Kalian berdua!" Panggil Rey dengan setengah membentak. "Turunlah dari mobil dan tinggalkan aku sendiri." Perintahnya pada kedua anak buahnya.
"Mengapa Bos?"
"Ada apa Bos?" Jawab mereka bergantian.
"Kalian telah berani mempermainkanku. Kalian memang sudah merencanakan semua ini sebelumnya kan dan bersekongkol untuk membuatku datang kemari sehingga aku bisa membantunya kabur."
"Maaf Bos, kami tak bermaksud begitu.."
"Benar Bos, kami hanya ingin membantu.."
"Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Kalian turun atau aku yang akan pergi.."
Mereka berdua saling bertatapan dan dengan terpaksa turun dari mobil.
"Hentikan Rey! Jangan usir mereka seperti itu." Erika berteriak marah pada Rey.
"Kamu juga. Turunlah dan biarkan aku sendiri." balas Rey juga dengan setengah membentak Erika.
"Mengapa sikapmu selalu kasar dan dingin seperti itu?" teriak Erika lagi padanya.
"Benar, aku memang seperti itu. Jika kamu tidak suka, maka pergilah menjauh dariku!" Rey membuka lebar matanya dan menatap marah.
"Mengapa kamu selalu mengusir kami dan menutup diri? Apakah bagimu itu adalah hal buruk untuk menerima kasih dan perhatian yang diberikan oleh orang-orang disekitarmu? Tidakkah kamu ingin merasakan kebahagiaan dalam hidupmu? Bahkan penjahat sekalipun menginginkannya."
"Kebahagiaan? Tentu saja semua orang menginginkannya. Tapi apakah menurutmu semua orang berhak untuk mendapatkannya? Bukalah matamu dan lihatlah realita kehidupan. Mungkin bagi orang sepertimu yang hidup bagaikan seorang putri dan tidak pernah mengalami penderitaan, itu adalah hal mudah untuk memperoleh kebahagiaan. Tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu."
"Aku tahu, untuk memperoleh kebahagiaan itu tidaklah mudah. Tetapi yang kutahu semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan. Asalkan kita mau berjuang, kita pasti bisa untuk mendapatkannya. Cobalah untuk membuka hatimu dan rasakan kasih sayang yang orang berikan padamu."
"Tidak. Aku tidak perlu itu. Cukup bagiku untuk bisa hidup dalam kesendirian. Sebaiknya kamu urusi saja urusanmu sendiri dan jangan mencampuri urusanku."
"Baiklah kalau memang itu mau mu. Sekarang aku sadar bahwa sebenarnya kamu sangat membenci keberadaanku didekatmu." Erika berbicara dengan ketus. Erika lalu membuka pintu mobil dan turun dari mobil.
"Nona Erika.. Kamu mau kemana?" tanya Sato.
"Entahlah. Kemanapun aku pergi tidak ada urusannya dengan kalian kan." jawab Erika dengan berusaha menahan airmatanya.
"Kalian berdua cepatlah naik." Perintah Rey yang berbicara lewat kaca jendela mobil yang sedang dibukanya.
"Bos maafkan kami. Kamu sudah tidak marah lagi kan? tanya Sato.
"Ssttt, diam dan naik saja ke mobil." Bisik Ryo.
"Jalankan mobilnya."
"Tapi Bos, nona Erika bagaimana? Apa kita akan tinggalkan dia?"
"Apa kalian mau kuusir lagi?" tanya Rey.
"Maaf Bos."
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Ini masih di lingkungan dekat rumahnya. Orang rumahnya pasti akan segera menyadari kalau dia kabur dan akan menjemputnya." Akhrinya Rey mau memberikan penjelasan pada mereka.
"Tapi ini kan masih subuh dan semua orang rumahnya masih tertidur.." bisik Sato pelan pada Ryo. "Ssttt.." Ryo memberi aba-aba pada Sato untuk diam.
Angin bertiup dengan kencang pagi ini. Pakaian Erika yang tipis berterbangan. Dengan susah payah ia berjalan menerjang tiupan angin yang kencang sambil terus berusaha memegangi pakaiannya agar tidak berkibar dan memperlihatkan bagian dalam tubuhnya.
Daritadi Sato berusaha mengemudikan mobilnya dengan pelan di belakang Erika.
"Percepat laju mobilnya." perintah Rey. Ia lalu memejamkan mata dan membaringkan kepalanya pada sandaran kursi mobil.
Tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya. Erika kelabakan mencari tempat berteduh. Seluruh pakaiannya langsung basah kuyup dan terlihat menerawang. Lalu mobil mereka melewatinya. Sato dan Ryo melihat Erika dalam kondisi yang terlihat menyedihkan. Sato pun mengerem mobilnya secara mendadak.
"Maaf Bos, aku tidak bisa hanya diam saja melihat nona Erika yang sedang dalam keadaan seperti itu."
"Benar Bos, aku juga. Maafkan kami."
Mereka berdua lalu turun dari mobil dan berlari ke arah Erika.
"Nona Erika.. Ayo ikut kami.."
"Aku tidak mau. Jangan pedulikan aku dan tinggalkan saja aku. Aku tidak mau kalian dimarahi lagi oleh bos kalian."
"Tapi ini akan berbahaya bagimu. Berjalan sendirian di saat subuh dan sepi seperti ini. Belum lagi pakaianmu sudah basah semua dan terlihat.."
Erika segera menutupi badannya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba ada sebuah jaket yang melayang dan menutupi tubuh Erika. Rey datang memberikannya jaket dan menggendong Erika menuju mobil.
"Lepaskan.." Erika memukul bahu Rey. "Aku bilang lepaskan aku.." Pukul Erika lagi berulang kali dengan kencang sambil menangis. Kemudian Erika menghentikan pukulannya dan bertanya, "Mengapa kamu menolongku lagi? Bukankah tadi kamu bilang untuk tidak mencampuri urusan orang lain dan urus saja urusanmu sendiri?" Rey tidak menjawabnya, dia hanya diam dan terus menggendongnya hingga masuk ke dalam mobil.
"Jalankan mobilnya." Rey memberi perintah pada Sato.
"Berhenti! Buka mobilnya, aku mau turun."
Rey mendekati tubuh Erika dan mengambil jaket yang menutupi tubuhnya sambil berkata,
"Diam dan duduklah dengan manis atau aku akan melakukan hal yang tidak sopan padamu."
Plakk. Erika menampar Rey. Setelah itu ia segera memeluk dirinya sendiri untuk menutupi tubuhnya. Rey tidak marah pada Erika karena telah menamparnya. Ia kembali melemparkan jaketnya dengan pelan kepada Erika. Erika terpaksa menggunakan jaket itu untuk menutupi tubuhnya kembali.
Rey kembali duduk ke posisi yang benar lalu memejamkan matanya. Rey bersikap seolah tak peduli pada Erika yang sedang menatapnya dengan marah. Kemudian Erika meringkuk dan menangis dalam diam.
"Sato, kita kembali ke rumahku dulu." ucap Rey masih dengan mata yang terpejam.
"Baik Bos."
***
Erika sudah selesai mengeringkan rambutnya di kamarnya yang ada di rumah Rey saat Rey mendatanginya.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang."
Erika memeluk tubuh Rey dari belakang dan berkata, "Jangan usir aku lagi. Apa kamu pikir aku ini adalah sebuah batu yang tidak memiliki hati dan perasaan? Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu dan berhenti memikirkanmu setelah berulang kali kamu datang menolongku disaat aku mengalami kesulitan?"
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang aku akan benar-benar menghilang darimu dan tidak akan pernah datang untuk menolongmu lagi." Setelah itu Rey melepaskan tangan Erika yang sedang memeluknya dan berjalan pergi.
"Kamu tahu kan kalau bukan itu maksud pembicaraanku ini.. " teriak Erika padanya. Rey menghentikan langkahnya dan berdiri diam mendengarkannya. "Apakah kamu benar-benar membenciku sehingga kamu selalu ingin menghindar dariku?" Erika mulai terisak.
"Tidak.." jawab Rey pelan dengan posisi yang masih membelakangi Erika.
"Lalu, apa itu berarti kamu sedang mempermainkanku? Selama ini kamu selalu mengatakan kalau aku adalah milikmu. Dengan berbagai tindakanmu seperti menciumku dengan paksa, bertengkar dengan Kak Kei karena ingin merebutku, dan bahkan mengurungku di dalam rumahmu."
Rey membalikkan badannya menghadap kepada Erika. Dan menatapnya dengan perasaan bersalah atas apa yang telah dibuatnya. Rey ingin memeluk Erika dan mengucapkan kata "maaf". Tetapi ia sulit untuk melakukannya.
"Mungkin itu karena aku adalah orang bodoh sehingga begitu mudahnya aku jatuh dalam perangkapmu. Bahkan dengan sukarela aku menyerahkan diriku padamu, yang pada akhirnya kamu usir berkali-kali dan ingin membuatku pergi menjauh darimu." Erika menundukkan kepalanya untuk menutupi perasaan sedih dan kecewanya.
"Jangan hanya diam, jawab aku.. Apa yang sebenarnya ada didalam benakmu itu?" teriak Erika kesal karena Rey tidak menjawabnya dan tidak memberikan tanggapan.
"Apakah itu penting untuk tahu yang ada dibenakku?" akhirnya Rey mau berbicara.
"Penting. Itu sangat penting bagiku."
"Baiklah, akan aku katakan. Aku ingin kamu pergi jauh dariku dan tidak lagi berhubungan denganku. Karena aku tidak pantas untukmu. Aku hanya akan terus menyakitimu dan membuatmu menderita." Ketika mengatakannya, raut wajah Rey terlihat marah, kesal tetapi juga nampak sedih. Itu karena ia merasa marah pada dirinya sendiri dan kesal pada keadaan yang membuatnya harus berkali-kali mengusir Erika dan membuatnya salah paham karena sikap kasarnya.
"Iya, yang kamu katakan memang benar. Karena kamu adalah orang yang jahat, kasar, berhati dingin, dan dikelilingi oleh kegelapan." Rey menatap Erika dengan kaget dan takjub. Ia tak menyangka Erika akan segamblang dan seterus terang ini menyampaikan segala keburukannya.
"Tapi setelah aku mengenalmu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasa setiap perlakuan kasar dan burukmu sengaja kamu lakukan karena ingin menutupi sesuatu. Aku yakin dan percaya bahwa didalam hatimu tersimpan kebaikan dan ketulusan yang sengaja tidak mau kamu tunjukkan.
Kamu tahu, ingin sekali aku bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik dan memberikan kehagiaan kepadamu. Rey, maukah kamu membuka hatimu dan menerima kebahagiaan yang ingin kuberikan padamu?"
Hati Rey tersentuh dan bergetar mendengar setiap perkataan yang Erika ucapkan. Seketika ia merasa dunianya yang selalu gelap menjadi begitu indah dan cerah. Dalam hatinya ia mempertanyakan, apakah ini nyata? Dapatkah ia menerima kebahagiaan yang Erika berikan?? Ingin sekali ia menjawab "mau". Tetapi ia mengingat akan penyakitnya dan sisa waktunya yang mungkin tinggal sebentar lagi. Sehingga Rey pun menolaknya.
"Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak pantas karena aku tidak memiliki masa depan."
"Dalam hidup ini, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mengapa kita tidak menghargai dan menikmati setiap moment saat ini yang ada di depan mata? Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri dan lakukan segala hal yang kamu inginkan."
Rey tersadar. Yang Erika katakan memang benar. Tidak ada yang tahu dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Rey akhirnya memutuskan dan memberanikan diri untuk membuka hatinya dan menerima kebahagiaan yang ingin Erika berikan. Seperti yang juga Erika katakan, ia akan menikmati dan menghargai setiap momen yang ada saat ini. Walau mungkin hanya sebentar saja ia dapat menikmatinya.
"Maafkan aku..."
Maaf karena menerima kebahagiaan yang kamu berikan tapi tidak dapat kuberikan balasannya padamu.
Maaf bila mungkin nanti aku akan menyakitimu dan meninggalkanmu., tambahnya dalam hati.
Itu mungkin adalah permintaan maaf Rey yang pertama kali ia lakukan pada seseorang sejak ia menjadi seorang gangster.
"Aku mau membuka hatiku dan menerima kebahagian yang kamu berikan padaku."
Rey juga memutuskan untuk jujur pada perasaannya sendiri. Ia pun mengungkapkan perasaannya pada Erika.
"Aku menyayangimu." ucap Rey lagi sambil mengecup kening Erika dengan penuh kelembutan.
"Aku juga.." Jawab Erika sambil memejamkan matanya dan tersenyum menikmati kelembutan yang Rey berikan.
Erika lalu membuka matanya dan mengelus dengan lembut pipi Rey yang memerah karena ditampar olehnya. "Apakah sakit?" tanyanya.
"Tidak sakit. Hanya saja aku mempunyai sebuah ketakutan akan hobimu..."
"Hobiku? Apa itu?"
Rey berbisik pelan padanya. "Kabur dari rumah." Selesai berbisik, Rey mengulum bibirnya untuk menahan tawanya.
"Kamu..! Sembarangan, itu bukan hobiku." Erika memberengut marah.
Lalu Rey melepas tawa yang tadi ditahannya yang kemudian diikuti oleh Erika. Mereka berdua pun tertawa bersama.
***