
Saat ini Rey dan kakaknya telah tiba di rumah sakit. Ternyata Alice juga ikut mengantarkan mereka ke rumah sakit. Setelah mendapatkan perawatan dan pengobatan yang baik dari para ahlinya, kini kondisi Rey sudah membaik dan dia dapat segera tersadar dari pingsannya.
Alice yang daritadi menemani dan menunggui Rey di ruang rawat inapnya, langsung terlihat senang saat Rey akhirnya terbangun dan membuka matanya. Pipi Alice sudah basah karena airmatanya yang terus mengalir sejak Alice menemukan Rey di ruang kerja ayahnya dengan kondisi tak sadarkan diri dan tubuh yang penuh luka. Dengan lembut, Alice membelai lembut wajah Rey dan sambil kembali berlinangan airmata Alice berkata,
"Rey ... kamu sudah sadar."
"Alice ...," Rey memanggilnya dengan lirih dan pelan. Rey meringis kesakitan karena sekujur tubuhnya yang mendapat luka lebam terasa sakit.
"Apakah sakit? Kata dokter kamu mendapatkan luka dan lebam yang cukup banyak disekujurmu dan kamu pasti akan merasa kesakitan karenanya. Namun, luka memarmu itu tidaklah berbahaya karena tidak ada luka yang hingga menembus ke dalam dan merusak organ dalam tubuhmu. Asalkan kamu istirahat dengan baik selama beberapa hari maka kamu akan kembali pulih dengan cepat." Rey mengangguk pada Alice.
"Kakak ... !" teriak Rey histeris begitu mengingat kakaknya yang mungkin saat ini kondisinya lebih parah darinya karena mendapat luka tusuk dan berdarah dengan sangat banyak. "Alice, bagaimana dengan kakakku?" tanyanya langsung merasa panik.
"Tenang Rey, kakakmu pasti baik-baik saja. Saat ini ia sedang dioperasi."
"Tidak Alice, aku harus melihatnya." Rey memaksa untuk bangun.
Alice menahan tubuh Rey yang memaksa ingin beranjak pergi dari kasurnya dengan mencium bibirnya. Rey sudah ingin marah dan ingin melepaskan ciuman Alice dengan gerakannya yang kasar, tetapi ia merasakan airmata Alice yang mengalir dan membasah di pipinya. Rey lalu menahan tangannya dipegangannya pada lengan Alice. Dari ciuman Alice terhadapnya itu, Rey dapat merasakan luapan perasaan sedih dan rindu Alice padanya dan Rey pun turut merasakan perasaan yang sama terhadapnya sehingga ia pun membalas ciumannya itu.
Melalui ciuman itu, mereka berdua saling melepas perasaan rindu mereka dan juga saling mengutarakan perasaan kasih mereka yang tak dapat saling berbalas.
Selesai berciuman, Alice memeluk tubuh Rey.
"Rey ...." isaknya dengan sedih.
Rey membalas pelukannya dan menempelkan bibirnya ke atas kepala Alice sambil berbicara dengan suara pelan seperti sedang berbisik padanya,
"Maafkan aku, Alice. Ingatlah, aku selalu mendoakanmu dan mengharapkan yang terbaik untukmu."
"Tidak Rey, kamu tidak salah. Ini memang takdir kita yang tidak dapat bersama. Bagiku asalkan kamu bisa hidup dan selalu sehat, itu sudah cukup. Semoga setelah ini, kamu bisa memulai kehidupanmu dengan lebih baik dan berbahagia." ucap Alice masih di dalam pelukannya.
Rey mengusap kepalanya dengan lembut.
"Terima kasih, Alice. Sampaikan terima kasihku juga untuk ayahmu. Walaupun kita sudah tidak memiliki hubungan ayah dan anak lagi, tetapi didalam hatiku selamanya ia tetap adalah ayahku. Ayah terbaikku." Alice mengangguk, kemudian ia memeluk Rey dengan sangat erat selama beberapa detik dan setelah itu melepaskan pelukannya dari tubuh Rey.
"Terima kasih, Rey, atas ciuman perpisahan kita tadi. Begitu manis dan hangat. Aku pasti akan selalu mengingat dan menyimpannya dalam hatiku sebagai kenangan manis dalam hidupku." ucap Alice dengan berlinangan airmata dan penuh kesedihan. Lalu Alice pergi meninggalkannya.
"Selamat tinggal, Rey." Teriak Alice dengan berdiri sejenak didepan pintu dan tanpa menolehkan wajahnya lagi kearah Rey. Kemudian Alice kembali berjalan pergi keluar untuk meninggalkan Rey.
"Selamat tinggal ... Alice." jawabnya dengan suara pelan yang melesu.
Kemudian, Rey segera pergi keluar untuk mencari kakaknya dibagian ruang operasi.
"Tanaka, bagaimana kakakku?" tanya Rey dengan berusaha mengintip ke dalam ruangan operasi.
Tanaka yang sedang duduk di kursi yang ada di ruang tunggu, segera berdiri.
"Tuan Rey, anda sudah tersadar. Saat ini, Tuan Kei masih dioperasi dan saya juga belum mendapat kabar apapun dari dokter." Rey kembali menatap ke dalam ruang operasi dengan cemas dan takut.
"Tuan Rey, duduklah dulu di sini. Anda juga dalam kondisi penuh luka dan masih lemah."
Rey menuruti Tanaka dengan duduk di kursi sebelahnya dan Tanaka juga ikut kembali duduk ditempatnya tadi.
"Lukaku ini tidak seberapa dibanding dengan luka tusukan yang didapat kakakku. Aku dapat melihatnya, luka tusuk itu sungguh dalam. Aku takut itu menembus hingga ke organ dalamnya dan membahayakan nyawanya."
"Tuan Rey, jangan kahwatir dan jangan berpikir yang berlebihan. Aku yakin Tuan Kei akan baik-baik saja."
"Tanaka, mengapa kakakku begitu bodoh mau menerima tusukan itu? Mengapa ia tak biarkan saja diriku yang mendapatkannya."
"Jawabannya sangat sederhana, Tuan Rey." Tanaka terdiam sejenak dan Rey membuka matanya lebih lebar, menatapnya. "Itu karena Tuan Kei sangat menyayangimu. Anda juga pernah melakukan hal yang sama terhadapnya, kan. Pada peristiwa penembakan itu."
"Itu berbeda. Aku melakukannya karena tembakan itu memang seharusnya untukku."
"Tetapi Tuanku sangat menyayangimu. Tuan Rey, kamu harus bisa menerima kakakmu. Anggap dan perlakukan dia sebagai kakak kandungmu. Anda tahu, kan bagaimana suatu ikatan yang seharusnya terjalin diantara sesama saudara di dalam sebuah keluarga?"
"Maaf aku tidak tahu. Karena aku tidak pernah merasakan bagaimana memiliki saudara atau keluarga dalam hidupku sebelum ini." Tatapan mata Rey menjadi bersedih dan merana. Ia jadi teringat dengan masa lalunya yang hidup sebatang kara selama belasan tahun. Tanpa keluarga dan tanpa saudara. Hidup sendiri dan merasa sendirian hingga ia menjadi terbiasa akan kesendiriannya itu.
Tanaka melihat perasaan sedih dan merana yang Rey rasakan dan menjadi bersalah atas perkataan yang diucapkannya tadi.
"Tuan Rey, maafkan ucapanku tadi yang terlalu kasar dan menyinggungmu."
"Tidak Tanaka. Aku tahu kamu hanya ingin bermaksud baik dan membantu kakakku karena sikapku yang selalu menganggapnya sebagai penganggu dan pengusik hidupku. Sekarang aku telah menyadari akan hal itu dan menyadari kalau aku telah bersikap salah terhadap kakakku."
"Tidak apa Tuan Rey, memang itu butuh waktu, pelan-pelan saja, nantinya kamu juga akan menjadi terbiasa. Kulihat kalian berdua bisa menjadi kakak adik yang sangat kompak dan bisa saling menjaga satu sama lainnya." Rey mengangguk. Kemudian suasana hening hingga bunyi jarum jam yang berputar ditiap detiknya terdengar begitu jelas dan menyiksa disaat penantian panjang dan penuh ketidakpastian akan operasi kakaknya yang sedang berlangsung di dalam.
Rey serasa seperti tidak bisa lagi untuk menahan rasa cemas dan khawatirnya.
"Beginikah perasaan yang kakakku rasakan akan penantian panjangnya disaat aku sedang berjuang di meja operasi ketika itu?"
"Itu bahkan lebih buruk dari apa yang anda rasakan saat ini."
"Apa maksudmu itu?"
"Saat ini anda baru menunggunya beberapa menit saja. Sedangkan Tuan Kei, hingga berjam-jam bahkan dengan tubuhnya sendiri yang sedang lemah dan kesakitan. Tetapi Tuan tetap diam, menunggu dengan rasa cemas dan ketakutannya dalam diam. Karena ia tidak mau orang-orang meributkan dirinya untuk berbaring di kamar pasien dan mengistirahatkan tubuh serta pikirannya itu. Ia bahkan sampai bertengkar dan marah pada nona Erika yang juga ikut memaksanya." Sambil masih memandang ke arah Tanaka, mata Rey berkaca-kaca mendengar kebenaran ini. Rey kembali merasa bersalah pada kakaknya dan ia benar-benar menyesali perbuatan kasar dan buruknya yang pernah ia lakukan terhadap kakaknya.
"Tuan Rey, aku tidak bermaksud membuatmu kembali merasakan perasaan bersalah dan penyesalanmu. Aku tahu anda sudah menyesali dan meminta maaf atas perbuatanmu itu. Aku mengatakannya agar pikiran dan hati anda dapat terbuka hingga dapat memahaminya dengan lebih dalam lagi. Bahwa anda sangatlah penting dan berarti baginya. Jadi, janganlah lagi menyakiti perasaan dan hatinya dengan menyakiti dirimu sendiri lagi. Terimalah segala kekhawatiran dan kecemasannya terhadap dirimu."
"Kamu benar. Aku harus membuka hatiku dan menerima kakakku sepenuhnya dalam hatiku dan dalam kehidupanku."
Akhirnya seorang dokter keluar dari ruang operasi karena operasi yang sedang Kei jalani telah selesai. Dokter menginformasikan kalau kondisi yang dialami Kei cukup serius karena luka tusukan pada perutnya cukup dalam dan mengenai sedikit organ dalamnya yaitu pada bagian ususnya sehingga mereka juga harus melakukan operasi pada ususnya yang terluka tersebut. Untung saja luka yang mengenai ususnya hanya luka kecil saja sehingga tidak berbahaya.
Perbuatan Kei yang mencabut sendiri pisau yang menancap pada dirinya juga menambah besar sobekan dilukanya dan membuat lukanya mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Hal itu menyebabkan proses operasi yang berlangsung memakan waktu yang cukup lama dan pemulihannya juga akan memakan waktu sedikit lebih lama. Sehingga Kei harus benar-benar merawat dan memperhatikan lukanya dengan baik selama masa pemulihan. Atau lukanya yang telah dijahit akan kembali terbuka lagi dan bisa juga mengakibatkannya mengalami infeksi.
Sekarang Kei akan dipindahkan di ruang pasien sehingga Rey dan Tanaka sudah bisa menemui dan melihat keadaan Kei di sana.
"Kakak, maafkan aku telah menyebabkanmu mendapatkan luka tusuk diperutmu. Dan, terima kasih karena kamu telah melindungi dan menyelamatkan diriku lagi." Ucap Rey seketika kakaknya telah sadar.
Kei yang masih lemah hanya memberinya sebuah anggukan. Rey memberinya senyuman penuh kasih sayang yang tulus kepada kakaknya.
"Kakak .... " Rey menggenggam telapak tangan kakaknya dan membawanya ke pipinya. "Kakak ...," panggilnya lagi masih dengan senyum tulus yang penuh rasa kasih dan sayangnya. Sekarang Rey benar-benar telah menerima dan menyayangi kakaknya.
"Iya adikku." jawab Kei dengan suara parau dan masih terdengar lemah.
"Aku senang karena aku memilikimu sebagai kakakku dan ... aku menyayangimu, Kak Kei." Kei mengangguk dan mengusap wajah Rey dengan telapak tangannya yang sedang menempel di wajah adiknya dan berada dalam genggamannya. Kei lalu mengusap luka memar yang ada di wajah Rey.
Tanaka yang juga ada di dalam tersenyum senang melihat perubahan sikap Rey yang sudah mau menerima kakaknya dan mau mengungkapkan kalau ia menyayangi Tuannya itu.
"Bagaimana denganmu? Aku ingat mereka memukulimu dengan sangat kuat dan luka-lukamu itu pasti banyak dan membuatmu sangat kesakitan." tanya Kei.
Rey menggeleng.
"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan mengkhawatirkan aku. Kakak tahu, selama menunggumu aku merasa sangat cemas dan juga ketakutan dengan apa yang akan terjadi padamu. Di momen itu, aku jadi tahu dan bisa merasakannya juga bagaimana perasaanmu saat itu ketika menunggu diriku yang sedang dioperasi. Sekali lagi, maafkan aku ya atas sikap buruk dan kasarku yang waktu itu kuperbuat padamu."
Kei menatap adiknya, lalu ia tersenyum dan berkata, "Adikku, itu sudah tidak menjadi masalah lagi bagiku. Kamu tahu, sekarang aku merasa senang karena telah mendapat luka tusukan ini. Karena dengan begitu, aku juga mendapat giliran untuk membuatmu khawatir. Jadi, jangan hanya kakak saja yang terus mengkhawatirkan dirimu."
"Kakak, maafkan aku. Aku tahu kalau aku selalu membuatmu khawatir dan aku juga telah membuatmu merasa sangat kecewa padaku. Tapi ... aku bukannya bermaksud untuk menjadi seorang yang sulit diatur dan dengan sengaja melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai atau melakukan suatu hal yang membahayakan diriku. Hanya saja, aku ... aku ingin melakukan berbagai hal yang selama ini tidak dapat aku lakukan karena keterbatasanku.
Sekarang ini, aku merasa aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku dan aku ingin menggunakan waktuku sebaik mungkin untuk melakukan apa yang aku mau, seperti menjadi diriku yang sebenarnya, mengikuti hobiku, meraih mimpiku, dan ... mengejar kebahagiaanku. Aku mungkin terdengar egois, tapi seperti apa yang Tuan Yoshiro katakan padaku bahwa pandanganku akan kehidupanku ini telah berubah. Bahwa aku sudah menginginkan hidupku dan ... aku merasa kalau itu benar, aku sangat ingin bisa merasakan kalau aku hidup dan ingin menikmati kehidupanku ini. Jadi, aku mohon padamu, berikan aku kesempatan untuk bisa melakukan segala hal yang selama ini tidak dapat kulakukan dan mendapatkan apa yang belum kudapatkan."
"Ohh Ken ... maafkan aku yang telah salah menilaimu. Selama ini aku telah salah paham terhadapmu, kupikir itu adalah karaktermu yang suka berbuat nakal dan sulit diatur ... " Kei sedikit meringis kesakitan karena ia tadi sedikit bergerak dan mengenai lukanya.
"Kakak ... hati-hati, jangan bergerak dulu. Tidak apa Kak, karena itu juga salahku yang tidak menjelaskannya padamu sejak awal. Aku juga telah salah karena berpikir kalau kakak suka mengatur dan tidak menyukai sikap kakak yang selalu bossy. Padahal itu semua kakak lakukan demi kebaikanku dan karena kakak adalah kakakku, keluargaku."
"Ohh Ken ... auww ... " Kei mengaduh lagi kesakitan karena ia ingin bangun dan memeluk adiknya.
"Kakak ... ingat lukamu ... " Omel Rey sambil membantu kakaknya kembali berbaring.
"Saat ini aku ingin memelukmu karena aku sedang merasa terharu padamu dan kamu juga pasti sangat menginginkan pelukanku. Karena kamu adalah adik kecilku yang menggemaskan dan selalu ingin dipeluk olehku." Kei menggoda adiknya lagi untuk mencairkan suasana dan menghilangkan kesedihannya.
"Hah, apaan sih Kak. Itu tidak lucu tau." ucap Rey sambil menyipitkan matanya dan berbicara dengan bersungut-sungut. "Kakak memang burukk dalam membuat lelucon." lanjutnya.
"Adikku, apa kamu lupa kalau dulu kecil kamu sering merengek padaku minta digendong atau dipeluk olehku."
"Tentu saja tidak ingat!" Jawab Rey dengan ketus dan wajahnya memerah karena malu apalagi ada Tanaka di sana. "Aku kan masih kecil banget waktu itu, wajahmu saja hanya kuingat secara samar-samar." Kei lalu menertawakannya dan Rey pun ikut tertawa juga bersama kakaknya. "Auww ...!" Kei kembali mengaduh kesakitan karena perutnya yang luka terkocok saat ia tertawa.
Tanaka yang juga berada di ruangan bersama mereka dan sedang berdiri di pojokan dengan agak berjauhan dari mereka juga ikut tertawa melihat tingkah kedua kakak beradik itu. Dia merasa bosnya itu terlihat berbeda saat bersama adiknya. Selama ini bosnya selalu nampak serius dan tegas tetapi didepan adiknya dia bisa menjadi dirinya sendiri yang apa adanya dan bisa tertawa secara lepas saat menggoda dan menjahili adiknya. Tanaka juga jadi mengetahui sikap Rey yang seperti menjaga jarak dengan kakaknya itu mungkin karena dulu Rey masih sangat kecil sehingga ia tidak begitu ingat dengan kakaknya dan belum begitu mengenalnya. Berbeda dengan bosnya yang sudah lebih besar dan telah merawat serta menjaga adiknya itu sejak bayi.
"Bagaimana lukamu?" tanya Kei lagi pada adiknya.
"Seperti yang kakak lihat. Aku baik-baik saja. Bagiku ini hanyalah luka kecil saja."
"Benarkah? Tanaka, apakah kamu melihatnya saat kami dibawa ke rumah sakit?" tanya Kei pada asistennya.
"Saya melihatnya, Tuan. Kalian berdua dalam keadaan pingsan dan dengan kondisi yang terlihat mengkhawatirkan."
"Tuh, kan. Kamu juga pingsan adikku, dan kamu masih berani bilang kalau kamu baik-baik saja, kalau itu hanya luka kecil. Kamu memang adikku yang sok jagoan." Kei mengangkat tangannya menuju ke atas kepala Rey dan mengacak rambutnya. Rey tertawa meringis dan merasa malu. Lalu Rey menoleh kepada Tanaka dan menyipitkan matanya sambil menaikkan pandangannya.
"Ck, ck ... Tanaka ..." Rey berdecak marah pada asisten kakaknya itu. "Kamu ya ... mengapa kamu begitu bawel dan tidak bisa menjaga mulutmu didepan kakakku."
"Maaf Tuan Rey, tapi dia Bosku dan aku harus mematuhinya."
"Huahahaha ... " Kei kembali tertawa sambil memegangi perutnya yang kesakitan. "Tanaka, kamu memang the best." Lalu Tanaka juga ikut tertawa bersama bosnya, menertawakan Rey.
Rey hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menahan kekesalannya melihat kedua orang yang sedang menertawakan dirinya itu.
"Kalau saja ada anak buahku disini maka aku ..." Rey terdiam sebentar karena ia ingat kalau ia sudah tidak memiliki anak buah lagi. "pasti menang." lanjutnya dengan suara yang memelan dan tampak sedih.
"Ohh Ken, jangan bersedih. Kalau kamu mau, aku bisa mencarikanmu seorang asisten."
"Tidak Kak, aku lebih suka sendiri dan tidak membutuhkan seorang asisten. Jangan khawatir, saat ini aku baik-baik saja. Aku hanya perlu waktu untuk beradaptasi dengan kehidupan baruku yang sedikit berbeda. Lagipula dengan adanya kehadiranmu itu sudah cukup bagiku."
"Iya, kamu tenang saja. Kakakmu ini akan selalu bersamamu dan menjagamu. Jadi kamu jangan merasa sungkan lagi kepadaku." Rey memberinya sebuah anggukan.
***