Happiness For You

Happiness For You
27 Kenangan



Rey dan Erika sedang duduk di kursi yang ada pada salah satu taman yang memiliki pemandangan paling indah dan juga terasa sejuk. Sudah dari sejak pagi mereka berjalan-jalan mengelilingi villa. Selama itu hanya Erika saja yang banyak bersuara dan bertanya. Sedangkan Rey masih seperti biasanya, pasif dan lebih banyak diam. Ia hanya sesekali bersuara untuk menjawab pertanyaan Erika.


Mereka duduk sambil menikmati secangkir teh panas dan beberapa camilan. Rey mengambil cangkir tehnya lalu meniupnya dulu sebelum meminumnya. Rey menambahkan sesendok gula ke dalam cangkir tehnya karena ia merasa hambar. Ia meminumnya lagi dan kembali menambahkan sesendok gula. Tetapi ia masih merasa tidak manis. Ia lalu menambahkan sampai tiga sendok gula dan ia baru merasakan ada sedikit rasa manis.


"Mengapa kamu menambahkan gula sebanyak itu? Apakah seleramu telah berubah sekarang menjadi menyukai minuman yang terasa manis?" tanya Erika keheranan.


"Tidak, hanya saja teh ini rasanya hambar, tak ada rasa hanya terasa sedikit aromanya saja."


"Coba kuminum.." Erika mengambil sesendok teh dari cangkir Rey dan mencicipinya. "Wekk, ini manis sekali.."


"Masa? Tapi aku tidak merasa manis." Rey lalu mengambil sebuah dorayaki yang berisi selai coklat. Rey merasa rasa dorayakinya juga tidak terasa manis. Padahal dorayaki itu telah diberi selai coklat yang sering digunakan dan biasanya ia merasa manis saat memakannnya. Tapi Rey hanya memakan habis dorayakinya tanpa berkata apa-apa.


Setelah menghabiskan teh hangat mereka dan makan beberapa camilan, mereka kembali berjalan-jalan. Rey mengajak Erika ke tempat yang paling disukainya dulu kecil. Tempat itu adalah sebuah kolam yang dibuat berbentuk seperti danau kecil yang memiliki jalan setapak dengan air yang mengalir.


Sampai sekarang tempat itu masih menjadi tempat favoritnya. Hanya saja dulu kecil ia sering ke sana agar bisa bermain di dalam kolam tersebut. Tetapi ibunya selalu melarangnya karena dulu kecil ia berbadan lemah dan mudah sakit jika bermain air. Bahkan untuk datang ke sana saja Rey harus merengek dulu pada ibunya. Ibunya hanya mengijinkannya untuk bermain di dalam kamarnya yang memiliki pemanas ruangan karena tubuhnya yang juga tidak begitu tahan dingin. Jadi Rey kecil hanya sesekali mendatangi kolam tersebut untuk hanya duduk diam di pinggir kolam sambil membayangkan dirinya bisa bermain di dalam kolam tersebut.


Erika duduk disalah satu bebatuan yang memiliki ukuran cukup besar yang ada dipinggir kolam. Rey pun mengikutinya duduk di bebatuan besar lainnya yang terletak di sampingnya. Erika memejamkan matanya sambil mendengarkan gemerisik air yang sedang mengalir. Rasanya sungguh menenangkan.


Kemudian Erika menurunkan kakinya ke bawah kolam dan memainkan air yang ada didalamnya dengan menggoyang-goyangkan telapak kakinya yang berada di dalam air.


Ciplak cipluk.


Terdengar bunyi air yang bergoyang karena ayunan kakinya. Lama kelamaan bunyi itu semakin terdengar kuat dan disertai adanya air yang bercipratan keluar hingga mengenai tubuh Rey. Tetapi Rey tetap duduk diam dengan hanya sesekali menghindarinya. Namun cipratan air semakin banyak hingga wajah dan tubuh Rey menjadi basah. Erika memang sengaja melakukannya, karena ia ingin membuat tubuh Rey basah.


Akhirnya Rey membalas Erika dengan mendorong turun kakinya dengan kuat ke dalam air kolam sehingga memberikan kekuatan besar pada air dan mengeluarkan cipratan air yang besar. Tubuh dan wajah Erika seketika langsung menjadi basah Ia terlihat seperti habis diguyur air. Erika yang tak mau kalah, kembali membalasnya. Hingga akhirnya baju mereka berdua menjadi basah kuyup seluruhnya.


Karena kurang berhati-hati, saat ingin mengayunkan air dengan telapak tangannya Erika malah tergelincir dan terjatuh ke kolam. Rey bergegas meloncat untuk membantunya. Rey menangkap tubuh Erika dan memeluknya. Mereka lalu menyadari pakaian mereka yang sama-sama dalam keadaan basah dan saling tertawa ketika menyadari sikap mereka yang kekanak-kanakan karena bermain air.


Setelah tawa mereka berhenti, mereka berdua menjadi kikuk dan suasana terasa canggung karena menyadari posisi tubuh mereka yang sangat dekat dan menempel dengan tangan Rey yang masih melingkar di tubuh Erika. Mata mereka saling memandang satu sama lain. Erika bisa merasakan wajahnya memerah dan terasa panas. Padahal tubuhnya saat ini sudah merasa dingin karena sedang berada di dalam kolam dan dengan seluruh tubuhnya yang sedang basah.


Rey membelai pipi Erika yang memerah dan menempelkan bibirnya untuk mengecup bibir Erika dengan lembut dan perlahan. Erika pun tanpa ragu membalas setiap sentuhan yang bibir Rey berikan.


Tanpa terasa hari sudah semakin gelap dan senja  akan berlalu. Angin yang berhembus terasa semakin dingin. Mereka berdua lalu naik ke atas untuk mandi dan mengganti pakaian mereka yang telah basah kuyup. Setelah itu, mereka berdua menikmati pop mie bersama untuk menghangatkan diri mereka.


***


Di sebuah hotel penginapan salah satu miliknya, Kei Takahiro sedang duduk dengan gusar menanti kabar dari Pak Anto, penjaga Villa Alisha. Pak Anto belum juga menghubunginya padahal sudah beberapa hari berlalu. Karena sudah tak sabar untuk menunggu, Kei memutuskan untuk kembali mendatangi villa tersebut.


Saat hari masih pagi Kei kembali datang ke Villa Alisha. Kini Kei telah tiba didepannya. Ia menghentikan mobil yang ia kendarai untuk mencermati keadaan disekeliling villa dan mencari suatu petunjuk yang mungkin bisa didapatnya.


Keadaan villa itu masih nampak sama dengan beberapa hari lalu seperti saat ia datang mengunjunginya untuk pertama kalinya. Hanya saja, ia kini melihat dan menyadari adanya ukiran kayu yang bertuliskan nama villa yang diletakkan di depan villa. Mungkin karena saat itu ia datang dengan terburu-buru dan disaat hari sudah malam dan gelap sehingga ia tak menyadari keberadaan papan nama itu.


Kei turun dan memarkirkan mobilnya di depan villa. Ia lalu memperhatikan papan nama yang bertulisan "Alisha" selama beberapa menit karena nama villa itu sama dengan nama ibu kandungnya. Lalu dalam ingatannya muncul sekelibat bayangan dirinya yang masih kecil sedang berfoto bersama kedua orangtuanya di depan papan nama villa ini. Namun karena bayangan ingatan itu tidak terlalu jelas, Kei menjadi tidak terlalu yakin dengan apa yang dilihatnya.


Kei lalu berjalan pergi melewati papan nama itu dan melanjutkan berjalan ke pos jaga untuk menemui Pak Anto. Namun Kei tidak melihat Pak Anto di sana karena di saat pagi hari yang bertugas jaga bukanlah Pak Anto melainkan Pak Dimas, suami Bi Ratih. Ia lalu bertanya pada penjaga tersebut, "Permisi Pak, dimana Pak Anto?"


"Pak Anto sedang tak bertugas. Ia hanya bertugas menjaga saat malam hari saja." jawab Pak Dimas.


"Ohh begitu. Kalau begitu, saya ingin bertanya apakah saat ini sedang ada pengunjung atau pemilik villa yang datang ke sini?" tanyanya sambil berharap-harap cemas.


Mendengar jawaban itu, Kei merasa senang karena merasa bahwa ada harapan untuk segera menemukan Erika di sini.


"Bolehkah saya masuk ke dalam villa untuk menemui pemilik villa ini?"


"Tunggu sebentar, saya tanyakan dulu." Pak Dimas lalu pergi meninggalkan pos jaganya dan Kei untuk masuk ke dalam rumah dan mencari istrinya, Bi Ratih.


"Ratih.. Ratih.." panggilnya sambil mencari Bu Ratih di dapur.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Bi Ratih tanpa melihat ke arah suaminya karena ia sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk tuannya.


"Ada tamu didepan yang ingin bertemu dengan Tuan."


"Tamu? Siapa?" tanyanya.


Pak Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku lupa menanyakan namanya."


"Ahh bapak gimana toh. Coba atuh ke sana tanyakan dulu."


Pak Dimas pun keluar lagi menemui Kei dan menanyakannya.


"Saya seorang pengunjung yang ingin menyewa villa di sini karena saya sangat menyukai bentuk dan pemandangan yang ada di villa ini." Kei menjawabnya dengan sedikit berbohong.


Bi Ratih mengantarkan makanan untuk Rey dan Erika yang sedang duduk di ruang makan.


"Tuan, di depan ada tamu yang ingin bertemu."


"Tamu? Siapa?" tanya Rey.


"Pengunjung Tuan. Dia bilang dia sangat menyukai villa ini dan ingin menyewanya untuk beberapa hari."


"Tolak saja tamunya dan beritahu kalau villa ini tidak untuk disewakan." jawab Rey.


Bi Ratih lalu menelepon suaminya yang sedang berjaga di pos jaga untuk memberitahunya.


Kemudian Pak Dimas memberitahukan apa yang Rey katakan dan memintanya untuk pulang saja.


"Tapi Pak, saya ingin sekali menyewanya. Biarkan saya untuk menemui pemiliknya dan mengatakan kepadanya secara langsung." Kei memaksa untuk tetap masuk dan bertemu dengan pemilik villa. Ia lalu berjalan masuk ke dalam villa.


Pak Dimas merasa bingung dengan apa yang sebaiknya ia lakukan. Ia tidak berani untuk melakukan hal yang tidak sopan terhadap tamu itu dengan mengusirnya pergi secara paksa sebelum ada perintah dari bosnya.


"Tu..Tuan.. Tunggu.. Jangan masuk ke dalam.." Pak Dimas lalu mengejar Kei yang sudah berjalan masuk.


Kei sudah berada di dalam villa dan melihat hanya ada tiga bangunan rumah di dalam villa tersebut. Ia kembali merasa tidak asing dengan bentuk villa dan tata letak masing-masing bangunan rumah tersebut. Ia kembali mendapat sekelibat ingatan akan dirinya yang sedang berada di dalam villa bersama ayah dan ibunya. Kei lalu berjalan masuk ke dalam salah satu rumah yang memiliki ukuran paling besar.


Saat sudah berada di dalam, Kei sangat terkejut. Ia melihat lukisan wajah ibunya saat masih muda dulu pada dinding ruang tamu tersebut. Akhirnya Kei ingat kalau dulu saat masih kecil ia memang pernah datang ke villa ini bersama ayah dan ibunya. Saat itu adiknya masih belum lahir. Ternyata perasaan tak asing saat melihat tulisan papan nama yang ada didepan villa kerena Kei pernah berfoto bertiga dengan mereka di depan tulisan papan nama villa ini yang adalah nama ibunya, Alisha.


***