Happiness For You

Happiness For You
29 Pertengkaran



"Benar, aku tahu siapa kamu. Dan adikmu itu sudah mati ...," Teriak Rey dengan suara yang semakin meninggi. "Sejak ia dihina dan diusir pergi dari tempat yang kelam dan dingin itu hidupnya telah berakhir ...." Teriak Rey lagi penuh kemarahan.


Saat mengatakannya, Rey merasa betapa perih hatinya bagai tersayat pisau yang sangat tajam. Matanya memerah dan mulai basah. Ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya agar tidak jatuh keluar di depan kakaknya saat ini.


Hati Kei juga bagaikan hancur berkeping-keping mendengar penuturan Rey barusan. Mendengar kabar bahwa adiknya telah lama tiada.


"Tidak, itu tidak mungkin ... Ken ...." Kei menyebut nama adiknya dengan suara lirih dan bergetar. Matanya kembali menitikkan air mata, menangisi adiknya yang telah tiada. Ia merasa sangat sedih dan hatinya perih.


Rey masih berusaha untuk menutupi perasaan sedihnya dan menahan tangisnya. Tetapi setetes air mata terjatuh dari matanya tanpa bisa ditahan olehnya. Dia lalu membalikkan badannya dan mengusap matanya.


"Pergilah! Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu mau." ucapnya.


Tiba-tiba Kei merasa ada suatu kejanggalan. Ia melihat airmata yang menetes dimata Rey barusan. Tingkah Rey juga terlihat seperti ia sedang berusaha menutupi perasaan serta kesedihannya. Jika Rey adalah anak dari ibunya tetapi bukan adiknya, lalu apakah itu berarti ibunya telah menikah lagi dan melahirkan seorang anak yang adalah dia? Tetapi usia Rey saat ini sepantaran dengan adiknya. Bila ibunya telah melahirkan seorang anak lagi, setidaknya usianya akan terpaut sekitar 4 tahun lebih muda dari usia Rey.


"Aku tidak percaya ... " Teriak Kei untuk mengutarakan keraguannya. "Usiamu saat ini terlihat sama dengan usia adikku jika ia masih hidup. Kalaupun ibuku menikah lagi dan melahirkan seorang anak, seharusnya usianya lebih kecil darimu ...."


Rey membalikkan badannya kembali ke arah Kei untuk menjawab keraguannya.


"Haha ..." Rey tertawa dengan sinis. "Jadi kamu berpikir bahwa aku telah berbohong padamu?"


"Aku tidak tahu, hanya saja aku merasa janggal dengan identitas dirimu yang sebenarnya. Kamu mengatakan bahwa kamu adalah anak dari ibuku, tetapi kamu bilang kamu bukan adikku. Atau mungkin kamu tidak mau mengakuiku-"


"Baiklah, akan kuberitahu." Rey memotong ucapan Kei. "Aku hanyalah seorang anak yang dipungut oleh ibuku untuk menggantikan anaknya yang telah mati. Jadi aku bukanlah adikmu yang berbadan lemah dan sakit-sakitan yang bahkan telah dibuang oleh keluarga ayahmu itu ...!"


Kei merasa sangat marah dengan ucapan Rey yang kasar tentang adiknya. Kei ingin memberi Rey sebuah pukulan di wajahnya.


"Brengsekk, jangan hina adikku!" Tetapi pada akhirnya Kei hanya menahan pukulannya di atas angin dan kemudian menghempaskannya.


"Hhh ..." Rey mendesah berat. Dadanya menjadi sedikit sesak karena hatinya yang terasa sakit.


Melihat kemarahan kakaknya padanya karena hinaan yang dia berikan pada dirinya sendiri. Mungkin pada kenyataannya, yang dibencinya adalah dirinya sendiri yang bertubuh lemah dan sakit-sakitan sehingga menyebabkan kemalangan dan penderitaan bagi ibunya. Namun dia selalu menjadikan kakaknya sebagai kambing hitam untuk pelampiasannya. Hati kecilnya pun selalu menjerit dan berteriak mengatakan bahwa kakaknya tidaklah bersalah dan tidak boleh mendendam pada kakaknya.


Akhirnya Kei mendapat titik terang dari kejanggalan yang ia rasakan. Baginya itu masuk akal kalau ibunya mengangkat seorang anak yang adalah Rey sehingga usianya sama dengan usia adiknya. Setelah mengetahui kebenaran ini, seharusnya ia merasa lega dan senang karena pria jahat itu bukanlah adiknya. Tetapi mengapa ia masih merasa ada duri yang tertancap dihatinya dan masih terasa perih?


Erika merasa situasi semakin memanas. Ia menjadi takut dan cemas nantinya bisa terjadi keributan besar yang berujung perkelahian diantara mereka.


Kei kembali mamandangi foto ibunya.


"Ibu ... Apakah kamu sudah berkumpul bersama ayah dan adikku di atas sana dan sudah berbahagia bersama mereka?" Kei bertanya dengan penuh kesedihan. "Mengapa kalian meninggalkanku seorang diri di sini? Ibu ...."


Hati Rey terenyuh saat mendengar kakaknya berbicara didepan foto ibunya dengan suara lirih dan bergetar karena sambil menangis. Kakaknya terlihat sangat kehilangan keluarganya dan bersedih karena ditinggalkan oleh mereka dan harus hidup sebatang kara dan kesepian. Hal yang sama seperti yang juga ia rasakan. Kehilangan keluarga dan seorang diri. Namun walau begitu, Rey masih saja berkeras tidak mau mengakui dirinya dan menerima kakaknya.


Kei ingin membawa pergi foto ibunya bersama dirinya. Ia lalu melepaskan tali pengkait yang menempel pada paku yang ada di dinding.


Rey melihatnya dan ia langsung berteriak marah serta melarangnya.


"Apa yang kamu lakukan? Menjauhlah dan jangan sentuh foto ini!" Rey segera mendatangi Kei dan menampik tangannya yang sedang berusaha melepaskan tali bingkai foto itu.


"Kamu tidak berhak atas foto ibuku. Menyingkirlah, jangan halangi aku!" Kei membalas dengan mendorong tubuh Rey yang sedang menghadang foto ibunya agar menjauh.


"Tapi aku adalah pemilik sah villa ini beserta segala benda yang ada di dalam villa ini."


"Jika kamu bersikeras ingin merebutnya, maka langkahi dulu mayatku."


"Kamu pikir aku tidak berani? Rasakan ini." Kei mengangkat kepalan tangannya ke udara dan hendak menghantam wajah Rey.


"Jangan ...! Kak Kei, kumohon jangan sakiti dia ...." Erika segera berlari keluar dan menghadang Kei dengan tubuhnya untuk menghalanginya memukul Rey.


"Erika ... ?!" Kei menoleh pada Erika kemudian menoleh kembali pada Rey. "Ternyata benar kamu ada di sini. Pasti dialah yang telah membawamu kabur dari rumahmu ...."


"Tidak, itu tidak benar. Aku yang memaksa untuk ikut dengannya." jawab Erika.


Kei memandang Erika tanpa bisa berkata-kata. Erika benar-benar sudah tergila-gila dengan pria itu.


"Sebaiknya kamu menjauh dulu dan jangan ikut campur dengan urusan kami. Sekarang, aku harus menyelesaikan urusanku dengannya dan setelah itu aku akan membawamu pulang." ucapnya.


"Jangan, Kak Kei! Berhentilah menyakitinya atau kamu akan menyesalinya nanti."


"Menyesalinya? Mengapa?"


Erika menatap Rey, seolah memberitahu kalau ia akan mengungkapkan semua kebenarannya di depan Kei. Rey menatapnya marah dengan mata yang melebar dan otot rahangnya yang menegang yang seolah dia tunjukkan sebagai peringatan dan larangan bagi Erika.


"Ka- karena ...," Erika tergagap sambil sesekali menatap Rey dengan takut-takut. Rey menarik tubuh Erika ke belakang tubuhnya untuk membuatnya tutup mulut dan mencegahnya memberitahukan yang sebenarnya.


Kei terdiam sejenak untuk mengamati apa yang sedang terjadi. Ia menatap wajah Rey yang terlihat sedikit memucat dan tak seperti biasanya. Biasanya wajah itu dipenuhi aura gelap dan arogansi seperti sedang menantangnya. Tetapi saat ini ia nampak seperti sedang menyimpan rasa ketakutan yang berusaha ditutupinya. Nafasnya juga terasa menderu dan berat.


Entah mengapa melihat Rey yang seperti itu, Kei merasa sesak seperti ada perasaan tak nyaman dan mengganjal dihatinya. Dalam hati Kei merasa kalau yang Erika katakan benar. Lebih baik dia akhiri saja dulu. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk memastikan kebenarannya sebelum dia benar-benar bertindak buruk yang bisa menghancurkan pria itu.


"Baiklah, aku akan menyudahi urusan ini dulu. Tetapi, Erika ... kamu harus ikut aku pulang."


"Aku tidak mau ...." tolak Erika dengan masih berdiri dibelakang tubuh Rey.


"Apakah karena pria ini mengancam dan menakutimu?"


"Bukan." Erika menggelengkan kepalanya dan berjalan keluar. "Kak Kei mengertilah, aku tidak mau menikah denganmu. Oleh karena itulah aku pergi. Aku ... aku mencintainya ...."


Hati Kei terasa sakit mendengar pengakuan Erika. Dia sungguh merasa malu dan juga harga dirinya seolah telah runtuh.


"Baiklah, aku mengerti. Tetapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku pastikan akan membuat pria yang kamu cintai ini menderita dan merasakan apa yang kurasakan. Kehilangan apa yang ia cintai ...." Kei mengalihkan tatapannya pada Rey dan berkata, "Aku akan merebut semua milikmu secara perlahan-lahan ... Yang utama adalah apa yang tidak berhak kamu miliki yaitu villa ini dan foto lukisan ibuku." Kei lalu berjalan pergi dari rumah itu.


Kei berencana akan benar-benar melakukan apa yang ia katakan barusan yaitu mengambil Villa Alisha dan foto lukisan ibunya. Dia lalu menghubungi pengacaranya untuk mengurusnya.


Rey terdiam dengan pikirannya yang sedang melayang memikirkan ancaman kakaknya. Dia tahu kakaknya serius dan sangat memiliki kuasa untuk benar-benar melakukan apa yang diucapkannya.


Rasa takut menghampiri dirinya. Padahal selama ini dirinya telah melupakan bagaimana rasa takut itu. Kini, ketakutannya itu muncul kembali didalam dirinya karena memikirkan ia akan kehilangan kenangan milik ibunya disaat detik-detik kehidupannya menuju akhir.


Rey memandangi punggung belakang kakaknya yang semakin menjauh. Dalam hatinya ia bertanya haruskah ia tetap melanjutkan dendamnya terhadap kakaknya hingga akhir nafasnya?


***