
Kei berdiri terdiam di depan foto lukisan ibunda tercintanya. Ia menyentuh foto itu sambil memanggil-manggil ibunya di dalam hatinya, "Ibu ... ini aku Kei, anak sulungmu ... Ibu ...." Setetes airmata terjatuh dari matanya. Ia terlihat benar-benar merindukan ibunya yang hampir dua puluh tahun terpisah darinya.
Pak Dimas semakin terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada tamu yang memaksa masuk itu yang sekarang sedang memperhatikan foto lukisan mendiang ibu bosnya dengan raut muka yang tampak penuh kesedihan.
Bi Ratih tiba di ruang tamu dan melihat mereka. Ia lalu mendekati suaminya dan bertanya dengan suara berbisik, "Lho Pak, kok tamunya disuruh masuk ke sini?"
"Nda Ratih, tadi saya sudah mengusirnya tetapi dia memaksa masuk dan kekeh ingin bertemu Tuan."
"Waduh ... gimana toh ini Pak? Tapi kenapa dia terlihat seperti sedang menangis sambil memandangi foto mendiang Nyonya Alisha?"
"Aku toh wis bingung juga ...." jawab Pak Dimas dengan menggarukkan kepalanya.
Kemudian Bi Ratih mengajak suaminya untuk masuk ke dalam dan melaporkannya pada Rey.
Kei masih terpaku memandangi lukisan wajah ibunya. Ibu yang telah sangat dirindukannya selama ini. Hatinya semakin bersedih karena ia telah mengetahui kalau ibunya telah tiada sejak belasan tahun yang lalu sehingga tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk bertemu dan berkumpul kembali bersama ibunya.
Lalu Kei teringat akan adik kecilnya yang ikut dibawa pergi bersama ibunya. Selama ini, Kei tidak pernah berhasil menemukan adiknya ataupun mendapat kabar tentang adiknya. Padahal ia sudah menyewa beberapa detektif untuk terus mencari keberadaan atau informasi tentang adiknya. Tetapi hingga saat ini, hasilnya masih nihil.
Besar kemungkinan bahwa pemilik villa yang sedang ia tunggu saat ini adalah adiknya. Karena setelah ibunya tiada, villa ini tentunya akan menjadi milik anggota keluarga mendiang ibunya yaitu adiknya, Ken Takahiro. Yang merupakan satu-satunya anggota keluarga yang ibunya miliki. Dan itu berarti sebentar lagi ia akan segera bertemu dengan adiknya dan dirinya bisa berkumpul kembali bersama adiknya.
Jantung Kei berdegup kencang sambil menanti dengan cemas kedatangan sang pemilik villa yang juga kemungkinan besar adalah adiknya. Bagaimanakah keadaan adiknya? Apakah hidupnya baik-baik saja selama ini dan apakah tubuhnya yang lemah dan sakit-sakitan ketika dulu kecil telah menjadi sehat? Pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang adiknya. Kei juga membayangkan adik kecilnya itu telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa tampan yang sehat dan juga kuat.
Bi Ratih dan Pak Dimas memberitahukan kepada Rey bahwa tamunya telah berada di ruang tamu dan sedang menunggunya. Dengan agak sedikit marah, Rey bertanya pada mereka mengapa mereka membiarkan tamu itu masuk ke dalam rumahnya.
"Maaf Tuan, tamu itu memaksa untuk masuk dan saya tidak berani mengusirnya tanpa perintah dari Tuan Rey."
"Baiklah, kalau begitu usir dia ...!"
Jawaban itu membuat Bi Ratih dan Pak Dimas saling melirik. Mereka kaget dan juga kebingungan karena tidak apa yang harus mereka lakukan. Mereka tak menyangka tuannya akan benar-benar memberi perintah untuk mengusir tamu tersebut. Dan walaupun sudah diberi perintah, tetap saja mereka merasa sulit dan segan untuk benar-benar mengusirnya. Apalagi pria itu tampak bersedih dan juga berlinangan air mata ketika memandangi foto mendiang nyonya mereka.
Erika melihat mereka yang nampak kebingungan. Lalu Erika membantu mereka berbicara dengan Rey agar dia mau menemui tamunya.
"Rey, tidak sopan untuk mengusir tamu yang sudah terlanjur masuk ke dalam rumah. Kita harus menghargai dan menghormatinya apalagi dia datang ke sini karena menyukai villamu dan dengan tujuan baik yaitu ingin menyewanya." Seperti biasa, Rey hanya diam saja dan tidak menggubris ucapannya. "Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang.."
"Jangan ... Kamu tidak boleh menemuinya." Rey segera memotong ucapan Erika untuk melarangnya menemui tamunya. Lalu Erika memandanginya. "Baiklah, aku akan menemui tamu itu ...." Rey beranjak berdiri dari kursinya dan berjalan pergi. Secara diam-diam Erika membuntutinya untuk mengawasinya dan juga untuk berjaga-jaga jika Rey berbuat suatu hal yang kasar pada tamunya.
Saat berjalan menuju ruang tamu, Rey terus mengamati dari kejauhan tubuh bagian belakang sosok tamu pria yang sedang menunggunya itu. Dia nampak tak menyukai tamunya yang telah memaksa masuk ke dalam rumahnya agar bisa menemuinya. Dan sekarang ia mendapati tamunya sedang mengamati foto lukisan ibunya dengan begitu lekat bahkan tamunya berani meletakkan jarinya pada foto ibunya untuk menyentuhnya.
Mereka berdua sama-sama terkejut saat melihat wajah masing-masing yang ada di hadapan mereka saat ini. Rey tidak menyangka bahwa tamunya itu adalah kakaknya. Rey tidak tahu apa motif kedatangan kakaknya kemari dengan menyamar sebagai tamu dan memaksa untuk menemui pemilik villa yang adalah dirinya. Apakah dikarenakan kakaknya sedang mencari dirinya yang adalah adiknya yang bernama Ken Takahiro atau dikarenakan kakaknya sudah mengetahui keberadaan dirinya yang sebagai Rey yang telah membawa Erika kabur dari rumahnya.
Sedangkan Kei sangat terkejut ketika mendapati bahwa pemilik villa yang diduganya sebagai adik kandungnya adalah seorang gangster yang paling dibencinya karena selalu mencari masalah dengannya dan telah berani melawannya dengan merebut calon istrinya.
Mereka berdua berdiri dalam diam selama beberapa menit sambil saling menatap wajah masing-masing dengan tatapan yang mendalam dan tajam. Pikiran mereka sedang sibuk menelaah keadaan yang sedang berlangsung ini.
Rey menduga kalau saat ini kakaknya mungkin sudah mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya yang adalah adik kandungnya yang bernama Ken Takahiro karena kakaknya sudah melihat foto ibunya. Tetapi walaupun begitu, ia berniat tidak mau mengakuinya dan tetap akan merahasiakan identitasnya.
Kei masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar pria gangster yang berdiri di depannya saat ini adalah adik kandungnya. Dia berharap kalau kemungkinan itu ternyata salah. Karena adik kecilnya dulu adalah seorang anak yang manis dan ceria dengan tatapan mata yang selalu bersinar terang. Sehingga walau apapun yang terjadi selama ini di dalam hidupnya, adiknya tidak akan berubah menjadi seseorang yang jahat dan dipenuhi oleh aura kegelapan seperti pria yang ada didepannya ini. Tetapi Kei sangat menyadari bahwa mata pria itu sangatlah mirip dengan mata ibunya walaupun mata pria itu selalu diliputi cahaya kegelapan sedangkan mata ibunya selalu bersinar terang sama seperti adiknya dulu kecil.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Kei membuka mulutnya bertanya untuk memastikan kebenarannya.
"Apakah hubunganmu dengan wanita muda yang ada pada lukisan ini?" tanyanya.
Rey menjawab, "Dia adalah ibuku ...."
Erika yang diam-diam mengikuti Rey di belakang, mendengar suara tamu itu yang terasa tak asing baginya. Erika lalu menghentikan langkahnya untuk mencari tempat bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Deg! Jantung Kei berdetak dengan begitu kencang dan cepat seketika ia mendengar jawaban Rey.
"A-aku ...." Kei kesulitan mengucapkan kalimat "aku adalah kakamu" yang ingin ia ucapkan. Kei mendekati Rey, memanggil namanya dan memegang pundaknya. "Rey ... kamu adalah adikku yang telah lama terpisah dariku. Nama aslimu adalah Ken-"
"Aku bukan ...!" Rey langsung berteriak menghentikan ucapan kakaknya yang ingin menyebutkan nama aslinya. Nama yang sudah lama dibuangnya dan tidak ingin didengarnya.
"Aku tahu kamu pasti terkejut mendengar ini dan sulit menerima kenyataan ini. Tapi itu semua benar. Karena wanita muda itu adalah ibuku juga dan-"
"Hentikan, aku tidak mau mendengarnya." Rey menampik tangan Kei yang memegang bahunya dan melangkah menjauh darinya. Sudah kukatakan aku bukan adikmu."
"Kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu ...."
"Apakah aku terlihat seperti adikmu yang berbadan lemah dan sakit-sakitan itu? Lagipula, mungkinkah adikmu itu masih dapat bertahan hidup hingga detik ini tanpa ibunya dan dengan penyakit yang dideritanya?"
"Apa maksudmu? Apakah kamu sudah mengetahui identitasku dan keluargaku yang sebenarnya?"
***