
Setelah dua jam ditahan dalam sel tahanan, akhirnya Rey dibebaskan karena ada yang menjaminnya.
"Rey..!" Terdengar suara seorang wanita memanggilnya saat ia sudah berada di luar kantor polisi.
Wanita itu adalah Alice, yang datang dengan kedua anak buah Rey yaitu Sato dan Ryota.
"Rey, apakah kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi sehingga kamu bisa sampai ditahan?"
Rey tidak menjawabnya melainkan menatap kedua anak buahnya. Mereka menggeleng seperti memberi suatu isyarat.
"Alice.. Mengapa kamu ikut datang ke sini?" tanya Rey, tidak menjawab pertanyaan yang alice ajukan.
"Tentu saja aku harus ikut. Aku sudah tidak sabar untuk melihatmu dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja."
"Apakah ayah tidak marah dan melarangmu?"
"Ehhehm.." Alice tidak berani memberitahukan yang sebenarnya, jadi ia hanya berdeham.
"Ehm Bos, Tuan Yoshiro ingin kamu datang menemuinya segera setelah kamu bebas." Sato memberitahukan.
Selama dalam perjalanan, mereka hanya diam. Hanya Alice yang terus berusaha mengajak Rey berbicara tetapi Rey tidak mau menanggapinya.
"Maaf Alice, aku sedikit lelah. Aku ingin istirahat sebentar."
"Hmm baiklah.." ucap Alice dengan memberengut dan menahan kekesalannya.
Walaupun Rey memejamkan matanya, tetapi pikirannya terasa penat. Dia sudah tidak bisa menghindar dari ayah angkatnya mengenai masalah Erika ini. Ayah angkatnya pasti akan sangat marah dan kecewa padanya. Belum lagi ia telah membuat putri kesayangannya amat mengkhawatirkan dirinya hingga ikut datang ke kantor polisi untuk menjemputnya.
Mereka akhirnya sampai. Rey segera menemui ayah angkatnya.
"Ayah, terima kasih telah membebaskanku."
"Duduklah." Rey pun duduk.
"Katakan! Apakah kamu menyadari akan kesalahan yang telah kau perbuat?"
"Maaf ayah.."
"Apa kamu tidak tahu siapa wanita itu? Dia adalah kekasih Kei Takahiro. Selama ini pria itu terus mencari kekasihnya itu. Ia bahkan meminta bantuan dari kita!"
Rey diam dengan wajah tertunduk. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Sudahlah. Masalah ini telah terjadi. Selain sebagai atasanmu, aku juga adalah ayahmu. Aku tentu harus membantumu dan bertanggung jawab atas kelalaian yang telah kau perbuat ini. Jangan khawatir, aku telah mengurusnya dengan Kei." Tuan Yoshiro berbicara dengan sikap lembut dan penuh perhatian seperti seorang ayah kepada anaknya.
"Terima kasih Ayah."
"Kei, pria itu sungguh luar biasa. Sebagai seorang yang masih muda dengan latar belakang keluarganya yang cukup terpandang, dia cukup rendah hati sehingga mudah diajak bicara dan berkompromi. Dia juga seorang pria muda yang bijaksana dan penuh wibawa." Mendengar ayah angkatnya bahkan melontarkan pujian untuk kakak yang sangat dibencinya, hatinya terasa sakit. Dulu ibunya juga selalu memuji kakaknya.
Sebenarnya dalam hati kecilnya, Rey menyayangi kakaknya. Kenangan akan kakaknya yang dimilikinya saat ia masih kecil adalah kenangan yang indah dan menyenangkan. Namun hatinya telah tertutup karena diselimuti kebencian dan dendam yang ia simpan bertahun-tahun lamanya. Hingga ia pun menjadi sangat membenci kakaknya.
"Baiklah. Sekarang, mari kita membicarakan mengenai Alice." Raut wajah Tuan Yoshiroberubah menjadi tegang dan serius.
Mendengar itu, Rey juga ikut mengencangkan bahunya dan bersiap untuk mendengarkan.
"Aku sangat mengerti akan perasaan yang Alice miliki terhadapmu. Tetapi, aku tak bisa membiarkan ini terus berlarut. Aku telah memutuskannya. Aku akan mengirimnya pergi jauh dari tempat ini untuk memutuskan hubungan kalian. Dan aku akan segera menikahkannya dengan pria pilihanku."
Rey terkejut mendengar apa yang ayahnya katakan. Selama ini, Rey selalu berusaha menahan perasaannya dan juga menjaga jarak dengan Alice. Entah sudah berapa lama ia melakukannya. Hingga akhirnya sikapnya berubah menjadi benar-benar dingin padanya.
Sebelumnya, mereka berdua sangatlah dekat bagaikan sepasang kekasih. Tetapi Tuan Yoshiro mengetahui hal ini dan melarang hubungan itu. Sebagai seorang ayah, dia tidak ingin anaknya menikah dengan seorang mafia. Ia tak ingin nasib anaknya seperti istrinya yang menikah dengan seorang mafia dan harus berakhir tragis. Selama hidupnya, dia selalu merasa tidak tenang dan harus memberi perlindungan ekstra untuk menjaga istri dan anaknya yang selalu menjadi target bagi para musuhnya. Tetapi tetap saja ia gagal dan pada akhirnya ia harus kehilangan istri yang dicintainya.
"Tidak ayah. Ini adalah kesalahanku yang tak bisa menepati janjiku untuk membuatnya melupakanku. Kumohon, ayah jangan mengirimnya pergi jauh darimu. Biarkan aku yang pergi jauh dari Alice. Aku akan menghilang darinya dengan segera. Aku berjanji, pagi ini juga aku akan pergi."
"Maaf Rey, kamu harus berkorban."
"Tidak Ayah.. Aku memang telah berencana untuk meminta ijin darimu agar aku diperbolehkan untuk pindah ke kota kelahiran ibuku."
"Ke Bandung?"
"Iya Ayah."
"Baiklah. Itu akan sangat baik. Dengan adanya dirimu di sana, maka kelompok kita akan bertambah besar dan maju. Aku percaya kamu bisa memimpin dan mengatur mereka dengan baik." Tuan Yoshiro tersenyum senang dan merasa lega. Tadinya ia pikir ini adalah masalah yang berat karena harus mengorbankan salah satu pihak. Tetapi ternyata Rey dapat memberikan solusi yang baik bagi kedua pihak.
Namun berbeda dengan apa yang Rey rasakan. Ia benar-benar harus melepaskan Alice dan menerima bahwa Alice akan menikah dengan pria lain. Rey hanya berharap agar Alice dapat menemukan pasangan yang tepat dan baik terhadapnya.
***
Disaat subuh dan langit masih gelap, Rey sudah siap untuk melakukan perjalanannya ke kota Bandung, kota kelahiran ibunya.
Di luar, Ryota dan Sato sudah menunggu kehadirannya. Kedua anak buahnya itu sangatlah setia padanya. Mereka memohon-mohon dan memaksa untuk ikut pergi dengannya dan tak mau berpisah darinya.
"Bos, apakah kita perlu untuk memberitahukan pada nona Erika dulu kalau kita akan pergi dari sini?" tanya Sato sesaat sebelum mereka berangkat.
"Tidak." jawab Rey singkat.
"Aku mendapat informasi kalau saat ini nona Erika sedang dikurung oleh orangtuanya didalam kamarnya. Ia diawasi dengan sangat ketat oleh para penjaga dan tidak boleh pergi kemanapun."
Rey hanya diam saja. Sato lalu melajukan mobilnya. Setelah beberapa menit, Rey berkata "Sato, arahkan rute perjalan ini melalui rumahnya. Aku hanya ingin melihatnya sebentar untuk mengecek keadaannya."
"Baik Bos." Sato menyetir mobilnya dengan semangat. Sato dan Ryota saling bertatapan dengan penuh arti dan tersenyum senang.
Mereka telah sampai di kawasan rumah Erika. Hari masih gelap dan keadaan di sekitarnya terlihat sunyi. Ryota dan Sato bergantian menggunakan teleskop untuk melihat ke arah jendela kamar Erika yang terletak di lantai 2. Tiba-tiba, lampu kamar Erika menyala.
"Bos, lampu kamar nona Erika menyala." Sato berbicara dengan heboh.
"Aku tahu, aku juga dapat melihatnya." jawab Rey dengan malas.
"Apa itu yang sedang ia lakukan?"
Ryota merebut teleskop yang sedang dipegang oleh Sato. "Sepertinya dia sedang mengikat sesuatu."
Rey pun menajamkan penglihatannya. Namun ia tak dapat melihatnya. Ia lalu mengambil teleskop dari Ryota untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi dibalik jendela kamar Erika. Samar-samar terlihat bayangan siluet Erika yang sedang mengikat sesuatu. Setelah itu, jendela kamar terbuka dan Erika melemparkan sesuatu keluar dari jendela tersebut.
"Apa yang ingin dia lakukan dengan melempar kain sepanjang itu? Jangan-jangan, nona Erika ingin kabur.."
Terdengar suara pintu mobil yang ditutup. Suara itu berasal dari Rey yang baru saja turun dari mobil. Sejak tadi Rey sudah menebaknya kalau Erika sedang mengikat beberapa kain yang akan digunakannya sebagai alat memanjat turun dari teras kamarnya.
Rey berlari untuk menghampirinya. Dengan bersusah payah Erika menelusuri kain seprai yang telah diikatnya menjadi kain yang berukuran panjang. Ternyata untuk memanjat turun tidak mudah dilakukan seperti yang ia bayangkan. Apalagi seumur hidupnya Erika tidak pernah memanjat pohon.
Baru sesaat Erika kehilangan kendali, tangannya terlepas dari kain. Ia segera menggapai kain tersebut untuk memegangnya kembali dan berusaha mencari pijakan. Namun kain itu lebih ringan dan tidak kuat menahan beban tubuhnya sehingga ikatan kain itu terlepas. Tanpa persiapan, Erika pun terjatuh.
"Aaa.." Erika berteriak dengan suara yang tertahan.
Dengan sigap Rey menangkap tubuh Erika yang hampir jatuh ke tanah. Untung saja ada Rey yang sudah sampai di sana dan siap menangkapnya dari bawah. Kalau tidak, Erika pasti akan terjatuh dengan kuat dan terluka parah.
"Rey.."
"Apa yang sedang kamu lakukan? Itu sungguh berbahaya. Janganlah berbuat suatu hal bodoh seperti itu lagi."
"Tenanggg.. Bukankah sekarang aku baik-baik saja? Itu semua berkat kamu sang penyelamatku yang selalu ada disisiku untuk melindungiku." Ucap Erika menggoda Rey sambil tersenyum dengan senang.
"Bodoh! Apa kamu pikir ini lucu?!" Seru Rey yang semakin bertambah marah. "Kalau tadi tidak ada aku di sini, setidaknya salah satu dari tulangmu akan patah. Bahkan muka mu juga akan hancur dan rusak."
Wajah Erika memberengut akibat kemarahan yang Rey lontarkan padanya.
"Mengapa sikap dan ucapanmu selalu kasar dan dingin seperti itu?"
"Aku memang seperti ini. Sekarang, kembalilah ke rumahmu." Rey lalu berjalan pergi meninggalkannya.
"Jangan tinggalkan aku. Kumohon, bawalah aku pergi bersamamu."
"Aku adalah seorang gangster yang jahat dan menakutkan. Aku hanya akan membahayakan dirimu."
"Tidak. Kamu memang seorang gangster dan menakutkan, tetapi kami tidak jahat. Kamu telah berkali-kali membantu dan menyelamatkanku. Sejak pertama kali kita bertemu, kamu telah menyelamatkanku walaupun kita belum saling kenal."
Rey tidak menghiraukan apa yang Erika katakan dan berjalan pergi meninggalkannya. Erika pun mengikutinya.
"Jangan ikuti aku.. atau kamu akan menyesalinya."
"Kumohon, jangan tinggalkan aku." Erika berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
Rey melepaskan tubuhnya dari pelukan Erika. Dia tetap berjalan pergi. Erika kembali mengikutinya. Kini Rey tidak melarang dan membiarkan Erika mengikutinya.
***