Happiness For You

Happiness For You
58 Pertunjukkan Dimulai!



"Saat ini, aku mengumpulkan kalian berdua di sini adalah untuk melakukan pertunjukan yang akan membuatku terhibur, bukan untuk mempersatukan kalian atau membuat acara reuni untuk kalian. Walaupun pertunjukkan kalian tadi bagus juga hingga membuatku hampir menangis karena merasa sangat terharu. Pertemuan dua orang bersaudara yang telah lama berpisah dan akhirnya bersatu kembali.


Sayangnya, itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kualami lagi. Dan karena ulahmu itulah aku terpisah dari kakakku dan membuatku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi." Sekilas raut wajah Kabuto meperlihatkan kesedihan dan juga perasaan dendamnya yang begitu dalam kepada Rey. Lalu, dalam sekejap raut wajahnya berubah menjadi riang kembali dan tak ketinggalan seringainya yang selalu ia pamerkan itu. "Baiklah, sekarang saatnya giliranku untuk membuat kalian merasakan apa yang kualami dan kurasakan selama ini. Mari kita mulai pertunjukkan dari kalian untuk menghiburku ...."


Kabuto mengambil sebuah pistol lainnya dari saku celananya dan melemparkannya dari lantai kepada Rey.


"Rey, ambil itu!" Perintahnya.


Rey mengambil pistol itu dengan ragu dan hati-hati.


"Sekarang arahkan pada kakakmu." Kabuto melakukan gerakkan seperti mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke arah Kei. "Aku ingin kamu menembaknya. Lihat, betapa baik kan aku. Karena aku mau bersusah payah merencanakan semua hal ini untuk membantumu membalaskan dendammu."


"Kamu sudah gila Kabuto. Aku sudah lama melepaskan dendamku itu." jawab Rey untuk menolak melakukan apa yang Kabuto suruh.


Pengakuan Rey itu membuat Kei benar-benar mengalami keterkejutannya. Walaupun sebelumnya ia sudah mengetahuinya karena perkataan Kabuto tadi. Tetapi tetap saja baginya itu cukup mengejutkan dan menyakitkan baginya. Pantas saja sejak awal pertemuan mereka, adiknya itu langsung memberinya tatapan yang penuh aura kebencian seperti ingin membunuhnya.


Selain itu Kei juga teringat dengan perkataan Rey yang sangat kasar kepadanya yang disertai dengan hinaannya kepada keluarga ayahnya. Saat itu Rey mengatakan kalau mereka sering memandang rendah orang dan pernah menghancurkan nasib seorang wanita. Kini Kei telah paham maksud perkataannya yang ditujukan kepada kakeknya yang telah menghina dan mengusir ibunya.


Namun disaat seperti ini Kei masih bisa berpikir jernih dan bijak. Ia tidak marah pada adiknya, melainkan ia dapat memahami kalau adiknya mungkin membenci dan memiliki dendam padanya karena perlakuan kakeknya yang telah menghancurkan nasib mereka dengan mengusir mereka pergi sehingga mereka harus berpisah dari ayah dan dirinya dan mengalami berbagai penderitaan.


"Jadi kamu tidak mau melakukannya?" tanya Kabuto lagi.


"Tidakk ....!" Rey menjawabnya dengan tegas.


"Tapi ini adalah perintah dariku! Cepat lakukan perintahku atau dengan terpaksa aku harus melibatkan orang ketiga yang ada diantara hubungan kalian itu!"


"Erika ...?! Bukankah kamu berjanji akan membebaskannya jika aku mau menyerahkan diriku kepadamu."


"Iya itu benar. Oleh karena kamu telah menyerahkan dirimu padaku maka kamu juga harus menuruti perintahku. Atau jika tidak, aku tak dapat menjamin kalau kekasih kalian berdua itu masih bisa dalam keadaan aman dan baik-baik saja. Sepertinya akan lebih menarik lagi jika aku kembali menculik wanita itu dan membawanya kemari untuk bergabung dengan kalian dan menjadikannya sebagai tokoh utama didalam pertunjukkan ini."


Walaupun Rey ketakutan dan merasa cemas mendengarnya, tetapi ia masih tetap terdiam dengan wajah bimbangnya dan tidak melakukan apa yang diperintahkan Kabuto kepadanya.


"Ayo cepat! Lakukan perintahnya, tembak saja aku ... Kamu tahu, kan bahwa dia adalah seorang pria gila dan dia pasti akan benar-bener melakukan apa yang diucapkannya itu." Kei menuntut dan memaksa Rey.


"Pria gila?! Tuan Kei, apa kamu menyadarinya kalau kamu telah memancing kemarahanku juga kepadamu."


"Lalu kenapa? Aku juga tidak takut kepadamu. Jika kamu memang ingin membunuhku, maka kamu langsung saja menembakku tak usah memaksa adikku untuk melakukannya." Kei secara sengaja mengatakan perkataan yang kasar dan hinaan karena ia ingin semakin menyulut amarah Kabuto agar pria gila itu menjadi marah kepadanya lalu menembaknya dan melepaskan adiknya.


"Berhentilah bicara. Jangan ikut campur urusanku dengannya." Rey menyela kakaknya. "Kabuto!!" teriak Rey memanggilnya. Lalu, secara tiba-tiba Rey mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri. "Bukankah aku adalah sasaranmu yang sesungguhnya? Biarkan aku yang menyudahi ini semua dan lepaskan mereka ...."


"Rey!!" Kakaknya berteriak memanggilnya untuk mencegah apa yang ingin ia lakukan.


"Turunkan senjatamu dulu. Benar, kamu memang targetku dan aku sangat ingin menginginkan nyawamu. Tetapi itu dulu dan sekarang aku sudah tidak menginginkan nyawamu yang sedang sekarat itu. Tidak untuk saat ini. Aku ingin melihat dan membuatmu merasakan kepedihan yang pernah aku alami karena ulahmu dulu. Baru setelah itu aku akan merasa puas karena telah membuatmu merasakan penderitaan seperti yang kualami. Menderita dan tersiksa secara perlahan-lahan hingga akhir hidupmu karena penyakitmu."


Rey menatap Kabuto bingung. Ulahnya yang manakah yang Kabuto maksud? Ia tidak ingat pernah melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.


"Aku akan menghitung dari angka 1 sampai 3, kalau kamu tidak juga menembaknya maka aku akan segera memerintahkan anak buahku untuk membawa wanitamu kemari. Satu ...," Kabuto mulai berhitung.


"Ayo Rey, jangan ragu! Lakukanlah, tembak aku! Anggap saja ini sebagai balasan atas penderitaanmu akibat perbuatan kami kepadamu dan ibu. Aku dapat memahami kalau kamu membenci dan mendendam padaku karena apa yang kamu alami dulu kecil. Itu juga kan penyebabnya mengapa selama ini kamu merahasiakannya dan tidak pernah mengakui kalau kamu adalah adikku. Jadi, jangan ragu lagi. Tembak aku!!" Kei terus mendesak Rey untuk menembaknya.


"Dua ...," Dengan tidak mempedulikan apapun, Kabuto melanjutkan hitungannya lagi.


"Tidak, aku tidak akan pernah mau melakukannya Aku tidak akan menyakitimu dan mengorbankan dirimu walau apapun yang terjadi. Sudah cukup bagiku untuk selalu menyakiti orang-orang yang ada disekelilingku dan mencintaiku." Airmata Rey berjatuhan dengan sangat deras.


"Satu hitungan terakhir!" Kabuto memberinya peringatan karena Rey masih tidak mau melakukannya.


"Baiklah ... Ti-"


Dorr! Akhirnya terdengar suara letusan. Suasana hening sejenak. Terlihat pistol Rey mengarah kepada Kabuto dan tubuh Kabuto terdorong hingga dia jatuh terbaring ke lantai dalam keadaan diam, tidak bergerak. Tetapi tubuhnya yang tadi diam tak bergerak, tiba-tiba bergerak lagi dan ia langsung bangun berdiri dengan tegak. Dan ternyata ia masih nampak baik-baik saja. Bagian tubuhnya yang terkena tembak juga tidak mengeluarkan darah sedikitpun.


Kabuto lalu mengoyak pakaiannya tepatnya di bagian dadanya yang terkena tembak. Lalu terlihat ada sebuah peluru yang tersangkut pada jaket anti peluru yang sedang dipakainya.


"Kurang ajar ...!!! Berani-beraninya kamu menembakku!" Mata Kabuto merah menyala karena dipenuhi kemarahannya. Kemudian ia menyeringai dengan sangat mengerikan sambil menepuk-nepuk dadanya yang memakai jaket anti peluru. "Untung saja aku pintar dan berhati-hati sehingga aku telah mempersiapkannya. Sekarang, rasakan -"


"Jangan! Hentikan!" Kei berteriak dan mengangkat kedua tangannya untuk meminta Kabuto menghentikan aksi menyerang yang ingin dilakukannya pada Rey. "Jangan melukainya. Biar aku yang melakukannya sendiri." Dengan cepat Kei berjalan menghampiri Rey yang ada disampingnya dan segera merampas pistol yang ada ditangannya. Lalu ia langsung menembakkannya ke dirinya sendiri.


"Tidakk ...!" Rey mendorong tangan Kei dengan segera dan peluru itu meleset sehingga hanya menggores lengan bagian atas milik Kei.


Kemarahan Kabuto semakin memuncak. "Aku tidak peduli lagi! Rasakan ini!!"


Dengan cepat Kabuto menekan pelatuk pistolnya yang mengarah kepada Kei.


Dorr! Terdengar bunyi letusan yang sangat nyaring di udara. Peluru itu lalu melesat dengan cepat dan menembus masuk ke tubuh seseorang.


Kei memejamkan matanya dan bersiap diri untuk merasakan sakit ditubuhnya akibat peluru yang akan bersarang ditubuhnya. Tetapi ia tidak merasakan sedikitpun rasa sakit di tubuhnya. Ia lalu membuka matanya dan semakin melebar karena keterkejutannya. Didepannya terlihat sosok adiknya yang sedang berdiri berhadapan dengan dirinya untuk menutupi tubuhnya terkena tembakan peluru itu. Wajah Rey sudah memucat dengan wajahnya yang sedang mengernyit kesakitan karena ternyata Rey telah menghadang peluru itu dengan tubuhnya dan yang ditembus peluru itu adalah punggungnya.


DORR! DORR!!


Sesaat kemudian, terdengar lagi dua bunyi suara tembakan susulan.


"Aghh ...." Desah Rey kesakitan saat peluru kedua kembali menembus punggungnya. Tubuh Rey terdorong jatuh ke sisi Kei dan wajah Kei terkena cipratan darah segar yang keluar dari tubuh Rey. Rey berusaha menopang dirinya sendiri agar tidak terjatuh menimpa kakaknya dengan berpegangan pada pundak kakaknya.


Saat ini Kabuto sudah tidak peduli lagi siapa yang akan ditembaknya, yang dia tahu hanyalah ia harus segera menuangkan kekesalannya dan kemarahannya dengan menjadikan salah satu dari mereka sasarannya. Atau mungkin ia ingin menjadikan keduanya sasarannya secara bergantian. Jadi setelah ia menembakkan pelurunya pada Kei, kemudian ia akan menembakkannya lagi kepada Rey.


Yang pasti ia telah menembakkan pistolnya dengan membabi buta kearah mereka secara berkali-kali dan tanpa henti. Tetapi saat tembakan ketiga, pelurunya telah habis dan hanya menembakkan hembusan angin hampa. Kabuto lupa kalau pelurunya yang lain telah ia sia-siakan sejak tadi. Lalu Kabuto pergi keluar dari gudang dan meninggalkan mereka berdua tanpa mempedulikan keadaan mereka lagi dan ia mengunci mereka dari luar.


***