Happiness For You

Happiness For You
77 Kecewa dan Melepaskan Erika



Saat ini, Rey tidak mau meninggalkan kakaknya sendirian di kamarnya dan ia memaksa untuk menemani serta menjaga kakaknya selama ia dirawat di rumah sakit. Padahal dirinya juga perlu dirawat inap tetapi dia tidak mau dan mengatakan kalau tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja.


Tetapi keesokan harinya, Rey merasa gelisah karena ia ingin kembali menemui Erika di kantornya. Namun dia juga tidak bisa meninggalkan kakaknya yang masih sakit sendirian saja di rumah sakit. Kemudian, ia medapatkan sebuah ide yaitu dengan meminta bantuan Bella untuk datang ke rumah sakit membantunya menjaga dan menemani kakaknya. Bella pun bersedia untuk datang menemani Kei.


Ketika Bella sudah datang, Rey langsung bergegas pergi menuju gedung kantor tempat Erika bekerja. Setelah sampai, Rey lalu duduk menunggu di atas motornya, sama seperti yang ia lakukan pada kemarin lusa. Hanya saja kali ini dia tidak membuka helmnya karena tidak mau memperlihatkan wajahnya yang sedang memiliki luka memar pada orang-orang yang ada disekitarnya itu.


Tak perlu menunggu lama lagi, Rey langsung mendapati sosok Erika yang sedang berjalan keluar dari gedung kantornya. Tetapi saat ini Erika terlihat sedang berjalan berdua saja dengan seorang pria muda yang berusia lebih tua sedikit darinya. Pria muda itu memiliki penampilan yang cukup keren dengan mengenakan setelan kemeja dan celana kerja yang rapih. Wajahnya juga lumayan tampan. Mereka berdua lalu berjalan menuju parkiran yang ada di luar gedung kantor dan naik ke dalam mobil yang sama. Dengan Erika masuk ke sisi kursi bagian penumpang sedangkan temannya yang mengemudikan mobil tersebut.


Saat ini Erika bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang penyelenggara acara atau event organizer. Di sana Erika bekerja sebagai tim kreatifnya dan pria muda itu adalah team leader atau pemimpin di divisi tersebut. Keduanya saat ini sedang ada keperluan untuk mensurvei tempat yang akan digunakan oleh klien mereka untuk menyelenggarakan event atau acara mereka.


Setelah mobil yang membawa Erika melaju pergi, Rey pun secara diam-diam segera menyusul di belakang untuk mengikuti mereka. Pria muda itu menyadari keberadaan motor sport yang sedang dikendarai Rey. Setelah melaju cukup jauh dan motor sport itu masih berkeliaran disekitarnya, pria muda itu pun merasa aneh dan kemudian ia menyadari kalau sepertinya motor sport tersebut daritadi mengikuti kemana mobilnya melaju.


"Sepertinya ada orang yang mengikuti kita." Ucapnya pada Erila yang duduk disebelahnya sambil beberapa kali melirik cemas ke arah kaca spion mobilnya.


"Ohh ya?" Erika ikut melihat ke arah kaca spion yang ada disisinya.


"Ahh, itu kan pria bermotor keren yang sempat membuat teman-teman kita heboh di kantor."


"Kamu mengenalnya?"


"Tidak, aku hanya sempat melihatnya saja kemarin lusa saat menunggu jemputan. Tapi, apa kamu yakin dia memang sedang mengikuti kita? Mungkin itu hanya kebetulan saja arah dan tujuannya sama dengan kita."


"Tidak terlalu yakin sih ... Mmm bagaimana kalau kita cari tahu saja kebenarannya." Pria itu lalu mengalihkan arah tujuan mereka dan membelokkan mobilnya secara tiba-tiba ke tikungan yang ada di depan mereka. Melihat mobil yang sedang diikutinya berbelok, Rey pun ikut membelokkan motornya juga.


Lalu saat jalanan dalam keadaan sepi, mobil itu berhenti yang menyebabkan Rey terkejut dan ikut mengerem secara mendadak. Tetapi sedetik kemudian, Rey menyadari bahwa dirinya telah ketahuan sedang mengikuti mereka, jadi seketika itu juga ia langsung menancap tajam gas dimotornya sehingga membuat motornya melaju dengan sangat kencang dan mengeluarkan suara deruan yang sangat kencang juga.


"Tuh, kan benar dia mengikuti kita." Ucap pria itu pada Erika. Membuat Erika kembali merasa aneh dan bingung. Ia teringat dengan kejadian kemarin lusa. Erika bertanya-tanya dalam hatinya siapakah pria itu dan hatinya pun jadi merasa tak tenang.


"Erika, apa kamu baik-baik saja? Mengapa kamu terlihat gugup dan seperti ketakutan? Apakah kamu kira-kira tahu siapa dia?


"Tidak, Kak Donnie. Aku tidak tahu, hanya saja ... " Erika merasa kebingungan untuk mengungkapkan keanehan yang dirasakannya. "Entahlah, aku merasa aneh saja dengan pria itu. Karena sudah dua kali aku melihatnya dan di dua pertemuan itu dia selalu bersinggungan denganku. Aku berpikir apa mungkin dia sedang mengincarku atau aku saja yang terlalu berlebihan ...."


Kemudian, tiba-tiba Erika teringat dengan sikap Rey yang waktu itu pernah mendatangi rumahnya untuk mengamati dirinya secara diam-diam.


Rey! pekik Erika dalam hati. Mungkinkah itu kamu?


Pria muda yang bernama Donnie itu kembali melirik ke arah Erika. Ia lalu melihat raut wajah Erika yang berubah menjadi muram dan bersedih.


"Erika?" panggilnya. Mata Erika yang sudah basah mulai menitikkan airmata dan ia buru-buru menghapusnya.


"Ma-maaf. Aku tak apa-apa."


"Apakah kamu sedang merasa ketakutan karena pria aneh itu? Jangan khawatir Erika, ada aku di sini. Aku akan melindungimu."


"Tidak tidak, bukan begitu. Aku tidak sedang ketakutan. Aku hanya sedang teringat dengan seseorang yang kemudian membuat moodku menjadi sedikit jelek."


"Aku tahu. Pastinya dia seseorang yang amat sangat penting bagimu."


"Iya benar, dia adalah seseorang yang amat sangat penting bagiku"


"Ohh baiklah, aku mengerti."


***


Setelah dirinya hampir tertangkap basah saat mengikuti Erika dan temannya kemarin sore, hari ini Rey kembali mengunjungi Erika tetapi dengan lebih berhati-hati. Ia menunggu Erika di posisi yang berbeda dengan sebelumnya yaitu di tempat yang agak berjauhan, dengan berjarak sekitar 3 meter dari tempat biasanya.


Sebenarnya Rey kembali datang karena ia juga masih penasaran dengan teman pria Erika yang kemarin pulang bareng bersamanya. Ia ingin tahu ada hubungan apa diantara mereka. Apakah mungkin Erika telah melupakannya dan berpindah hati ke teman prianya itu?


Sedangkan Erika setelah jam kantor berakhir, ia segera beres-beres untuk pulang dan dengan langkah terburu-buru melangkah keluar dari gedung kantornya. Hati Erika menjadi sangat gusar dan gelisah saat ia mengetahui ciri-ciri wajah pria yang bermotor keren itu. Wajah oval dan berahang tegas, dengan hidung yang mancung dan mata yang bulat besar yang menarik untuk dilihat. Jantungnya langsung berdegup kencang saat mendengarnya.


Sekarang Erika telah berada di luar gedung dan mencari keberadaan pria bermotor tersebut. Tetapi pria itu tidak ada di tempat biasa ia melihatnya. Erika lalu mengedarkan arah pandangannya dan berhasil menemukannya. Segera Erika mempercepat langkahnya untuk menuju ke pria itu.


Rey telah melihat Erika berjalan keluar dari gedung menuju ke trotoar di tempatnya kemarin. Di sana, Erika celingak-celinguk seperti sedang mencari dan akhirnya ketika Erika menemukan dirinya yang sedang duduk diatas motor sport nya, Erika membekukan tatapannya kepadanya. Kemudian Erika berjalan ke arahnya sambil terus memandanginya. Menyadari Erika yang sedang menghampirinya, Rey buru-buru ingin pergi dari situ. Ia menghidupkan motornya dan ingin menancap gas melajukan motornya.


Rey diam dengan tatapannya yang terpaku memandangi Erika. Melihat wajah Erika yang sangat bersedih, ia juga ikut merasakan hal yang sama.


Dengan langkah perlahan, Erika berjalan untuk semakin berada didekatnya dan saat sudah dekat, tangannya bergerak ke atas untuk membukakan helm yang sedang dipakai Rey itu. Rey lalu memegangi tangan Erika yang sudah menyentuh helmnya dan menahannya. Erika menghentak pelan tangan Rey yang menahan tangannya. Dan akhirnya Rey membawa tangan Erika untuk membuka helmnya.


Airmata Erika langsung merebak seketika helm itu terbuka dan memperlihatkan wajah Rey. Apalagi dengan wajahnya yang memiliki beberapa luka lebam dan memar yang berwarna kebiruan dan agak menghitam.


"Hai ... Erika." Rey memanggil namanya sambil memaksakan seulas senyuman diwajahnya. Tetapi tetap saja kesedihan yang terpancar diwajahnya itu masih dapat terlihat.


Tangis Erika semakin bertambah kencang mendengar suara Rey yang memanggil namanya dengan begitu lembut dan begitu halus. Suara yang dirindukannya.


"Hei ... jangan menangis." Ucap Rey sambil mengusap airmatanya.


Erika menyentuh memar yang ada dipipi Rey dan bertanya, "Apakah kamu habis berkelahi?" Rey menggeleng. Ia lalu memejamkan matanya sebentar karena merasa sakit pada luka memarnya yang sedang dipegang Erika.


"Ma-maaf. Apakah sakit?" tanya Erika setelah menyadari kalau ia telah membuat memar diwajah Rey terasa sakit karena menyentuhnya. Rey membuka matanya dan menahan tangan Erika yang ingin melepas darinya.


"Tidak ..., aku hanya ingin merasakan lebih lama lagi sentuhanmu yang terasa hangat dan telah sangat kurindukan ...."


Ada seseorang yang baru turun dari mobil, yang daritadi telah berhenti untuk parkir di depan motor Rey, menghampiri mereka. Orang itu adalah atasan Erika, Pak Donnie. Dia dan Erika memang sudah ada janji untuk kembali melanjutkan survei mereka ke beberapa tempat yang klien mereka butuhkan.


Melihat kehadiran Pak Donnie, Erika segera melepaskan tangannya dari pegangan Rey dan menurunkan tangannya kembali ke samping tubuhnya.


"Erika, maaf mengganggu kalian, tetapi kupikir kita sudah agak terlambat dengan jadwal janji kita ...."


"Maaf, aku harus pergi ...." ucap Erika pada Rey dengan kikuk. Rey mengamati pria yang mengajak Erika pergi. Dan pria itu juga membalas menatapnya. Tatapan mereka sama-sama memperlihatkan ketidaksukaan terhadap diri mereka masing-masing. Lalu pria itu sedikit menundukkan kepalanya dan membawa Erika pergi. Rey diam saja dan membiarkan Erika dibawa pergi olehnya.


Rey berpikir dugaannya benar, bahwa Erika telah berpindah hati darinya dan telah memiliki pria lain di dalam hatinya yang adalah pria muda yang baru saja membawa Erika pergi bersamanya. Ia lalu kembali ke rumah sakit dengan hati yang sedih dan kecewa. Setelahnya, Rey tidak pernah lagi datang untuk mengunjungi Erika ke gedung kantornya. Ia berpikir untuk melepaskan Erika dan tidak lagi berusaha mengejarnya.


Kini Rey akan memulai kehidupan barunya sebagai orang biasa dan harus belajar untuk membiasakan diri dengan beberapa perubahan yang terjadi. Seperti kegiatan rutin dan aktivitasnya sehari-hari yang dilakukannya. Dengan juga membiasakan hidup bersama kakaknya dengan rukun dan tanpa adanya keributan yang terjadi. Setelah kejadian yang menimpa kakaknya karena menyelamatkan dirinya, Rey bisa lebih bersabar dan menjadi lebih penurut terhadap kakaknya.


Rey berkeinginan untuk melakukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan kegemaran dan keahliannya yaitu menjadi seorang koki di sebuah restoran terkenal dan ternama pada salah satu hotel berbintang lima. Rey pun membicarakan dan mendiskusikan keinginannya itu dengan sahabat dari mendiang ibunya, Paman Hadi Dinata, yang juga adalah seorang koki dan memiliki jabatan sebagai kepala koki di salah satu restoran terkenal di Bandung yaitu Restoran The Hiro Cafe yang ada di Hotel Hiro yang ada di Bandung. Lalu paman Hadi menyarankan padanya untuk melamar pekerjaan sebagai koki di restoran tersebut tetapi yang ada di Jakarta. Karena kebetulan mereka sedang membuka lowongan bagi para koki junior.


Pada awalnya Rey menolak karena ia tahu bahwa restoran dan hotel itu adalah milik kakaknya. Namun paman Hadi meyakinkannya dan mengatakan bahwa dengan ia bekerja sebagai koki di restoran milik kakaknya, maka kakaknya pasti akan merasa senang.


"Tidak Paman, aku tidak mau menjadi koki di restoran milik kakakku."


"Mengapa? Bukankah itu hal bagus. Kamu bisa memulai karirmu di restoran kakakmu dan mewujudkan mimpimu sebagai seorang chef profesional. Jika kelak kamu berhasil dan kemudian kamu menjadi pemimpin atau kepala koki di sana, maka itu berarti kamu juga ikut andil dalam menjaga dan mengembangkan bisnis kakakmu yang juga adalah bisnis keluargamu. Saat itu, kakakmu pasti akan merasa senang dan bangga padamu. Apalagi kamu meraihnya dengan usahamu sendiri, tanpa perlu mengandalkannya."


"Mmm ... apa yang Paman katakan ada benarnya juga. Setidaknya kalau aku bekerja di restoran tersebut, kakakku bisa melihat dan mengetahui apa yang aku kerjakan. Sehingga dia bisa lebih tenang dan merasa aman, juga tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku karena pekerjaan yang kulakukan. Asal Paman tahu, kakakku itu mirip seperti ibuku."


"Maksudmu, kakakmu juga suka mencemaskan dan mengkhawatirkan dirimu secara berlebihan?"


"Yup. Tapi sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan itu. Menerima kekhawatiran dan kecemasannya walau kadang aku masih suka merasa terganggu juga. Tapi itu hanya sedikit menggangguku saja dan itu wajar karena itu berarti dia peduli dan menyayangi diriku."


"Hahaha ... Rey." Paman Hadi menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa lucu atas racauan Rey yang lebih ditujukan kepada dirinya sendiri. "Sepertinya kamu sedang menghibur dirimu sendiri saat ini. Jadi, bagaimana? Apa kamu berminat untuk mendaftarkan dirimu mengikuti audisi pemilihan calon chef junior di restoran kakakmu?"


"Iya Paman. Kupikir, itu akan sangat menyenangkan jika nantinya aku telah diterima sebagai koki di sana, lalu ketika kakakku mengetahuinya maka dia pasti akan sangat terkejut dan itu akan sangat menyenangkan baginya dan juga bagiku." Rey lalu membayangkan wajah kakaknya yang terkejut dan kemudian tersenyum dengan senang karena dirinya menjadi koki di restoran miliknya.


"Jadi kamu ingin diam-diam mengikuti audisi itu dan tidak mau memberitahunya sampai akhirnya kamu telah diterima dan resmi menjadi koki di sana baru kamu akan memberitahukannya dan menjadikannya sebagai sebuah kejutan yang menyenangkan?"


"Hehehe ... Betul sekali Paman."


"Kamu memang seorang adik yang bandel ya. Hati-hati, kelak kakakmu itu juga adalah Bos mu lho. Apa kamu yakin dan berani untuk menjahili calon Bos mu itu?"


"Justru itu, sebelum dia menjadi Bos ku, aku puas-puasin dulu untuk menggoda dan menjahilinya sekaligus membalas perbuatan jahilnya kepadaku."


"Hahaha ... Kamu ini. Baiklah, kalau begitu Paman akan segera mendaftarkanmu."


"Terima kasih, Paman."


***