Happiness For You

Happiness For You
21 Ditahan



Erika sudah berada di depan rumah Rey. Dengan mengumpulkan keberaniannya dan mengatur nafasnya yang tak karuan karena detak jantungnya yang berdebar-debar, Erika memencet pintu bel rumah Rey.


Rey yang masih tertidur di dalam kamarnya terbangun saat mendengar bunyi bel pintu rumahnya. Namun ia merasa tak enak badan sehingga ia tetap berbaring dan tidak membukakan pintu rumahnya. Bahkan ia tidak peduli siapa tamunya yang datang itu.


Bel pintu kembali berbunyi. Erika kembali memencet bel nya dan berulang kali. Setelah beberapa menit menunggu tetapi Rey tidak juga membukakan pintunya, Erika mulai merasa khawatir. Ia takut telah terjadi sesuatu pada Rey. Ia pun mencoba membuka pintu dengan memasukkan beberapa kode password. Pintu tetap tak mau membuka. Dengan putus asa ia mencoba memindai jari tangannya di alat pemindai. Dan, tanpa diduganya pintu pun terbuka.


Di dalam rumah, Rey sedang mengambil obat dari laci mejanya dan meminumnya. Mendengar ada suara seseorang masuk ke dalam rumahnya, buru-buru Rey memasukkan obatnya kembali ke laci.


Erika masuk ke dalam kamar dan merasa lega saat melihat Rey dalam keadaan baik-baik saja.


"Maaf aku telah lancang dengan membuka pintu rumahmu dan masuk tanpa permisi." Ucap Erika.


Rey menatap tajam pada Erika. Rey lupa kalau dia pernah mengaktifkan kembali akses sidik jari Erika sebagai kunci pintu rumahnya.


Erika mengamati wajah Rey. Dia tampak baru bangun tidur karena rambut dan pakaiannya terlihat acak-acakan. Namun begitu ia masih saja terlihat tampan dan mempesona. Di wajahnya yang tampan itu tertempel beberapa plester yang menutupi luka-lukanya.


Itu pasti luka akibat menyelamatkanku, batin Erika.


"Aku kemari untuk mengembalikan kunci mobilmu..ini.." ucap Erika lagi dengan kikuk sambil meletakkan kunci tersebut di meja yang ada di samping ranjangnya. Suasana terasa semakin canggung karena Rey hanya diam saja.


"Bagaimana lukamu?" tanya Erika berusaha mencairkan suasana.


"Tak apa, ini hanya luka sepele." jawab Rey singkat.


Erika terdiam. Dia bingung untuk mengatakan apa lagi. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Buru-buru Erika berbalik untuk segera pergi dari situ.


"Arghh.." Tanpa sengaja kaki Erika membentur kaki meja sehingga ia pun terselandung dan hampir jatuh. Rey segera berdiri dan memeluk tubuhnya untuk menahannya agar tak jatuh.


Jantung Erika berdebar dengan sangat kencang karena berada begitu dekat dengan Rey. "Ma..maaf.." Buru-buru Erika bangun berdiri dan berjalan menjauh sedikit dari Rey dengan wajah yang tersipu malu. Kemudian Erika kembali melanjutkan langkahnya.


"Jangan pergi." Rey memeluknya dari belakang. Erika tersenyum senang mendengar perkataan Rey. Dia membalikkan badannya ke arah Rey.


"Rey.. Apakah kamu marah kepadaku?" tanya Erika. Rey diam saja, wajahnya merah dan nafasnya terasa sedikit berat serta panas.


"Kamu demam." Ucap Erika. Ia lalu membantu Rey untuk berbaring di atas kasur.


"Aku akan menelepon Dokter Steve.."


"Jangan.. Aku hanya butuh tidur sebentar saja. Temani aku." Ucap Rey sambil menarik tubuh Erika untuk duduk dan membaringkan kepalanya dipangkuan Erika.


Saat berada dipangkuan Erika, Rey merasa nyaman. Rasa nyaman yang sama dengan yang ia rasakan ketika tidur dipangkuan ibunya saat sedang sakit. Dengan segera ia pun dapat tidur dengan terlelap.


Erika hanya bisa duduk diam sambil memperhatikan wajah Rey yang nampak lugu dan polos saat sedang terlelap. Erika teringat di hari pertamanya di rumah ini, ia melihat Rey yang sedang tidur dengan terlelap dan menatapinya dengan perasaan kagum. Jika saja ada orang yang tak mengenalnya melihatnya saat ini, orang itu pasti akan mengira kalau Rey orang yang memiliki sikap dan hati yang baik. Bukanlah orang yang bertemperamen kasar dan menakutkan serta berhati dingin.


Sepertinya apa yang dialaminya selama ini dalam hidupnya telah membuatnya menjadi seperti ini. Seandainya aku bisa membuat kehidupannya menjadi lebih baik.. batin Erika.


Sepertinya benih-benih cinta mulai muncul dihati Erika. Dengan lembut, ia menyentuh hidung Rey dan membelainya dengan perlahan. Lalu jemarinya naik ke bagian kelopak matanya dan menyentuhnya.


Rey merasakan sentuhan itu. Ia lalu membuka matanya. Erika kaget dan segera menarik tangannya ke belakang seperti sedang menyembunyikannya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Erika gugup. Rey hanya diam dan menatap wajah Erika dengan lekat. Erika pun membalas tatapannya dengan lembut dan tersenyum padanya.


Dengan lembut Rey memegang kepala Erika dan menurunkannya ke bawah hingga bibir mereka saling menempel. Erika membuka lebar matanya karena tetkejut tetapi kemudian ia memejamkan matanya dan menikmatinya.


"Apakah kamu sudah merasa baikan?" tanya Erika. Rey mengangguk.


"Mengapa kamu datang kembali ke sini? Apakah kamu tidak takut padaku?" tanya Rey.


"Mengapa kamu datang menyelamatkanku kemarin?" balas Erika dengan sebuah pertanyaan.


Rey menatapnya dengan kesal.


"Aku tidak perlu takut dengan seseorang yang telah menyelamatkanku. Dan aku.. merindukanmu.." jawab Erika. Rey terdiam. "Terima kasih." tambah Erika.


"Bagaimana kalau orang yang menyelamatkanmu itulah yang telah mencelakaimu?"


"Tidak, aku tahu dia tak pernah benar-benar berniat mencelakaiku. Aku dapat melihat dan merasakannya." Tatapan Erika pada Rey sungguh terasa tulus dan meneduhkan hati. "Itu terlihat di dalam matamu. Cahaya matamu mengatakan kebenarannya." Ucap Erika sambil membelai matanya dengan lembut.


Mendengar perkataan Erika, hati Rey kembali tersentuh. Ia teringat akan kalimat yang pernah ibunya ucapkan.


"Berbahagialah, nak. Seperti cahaya dimatamu yang selalu memancarkan kebaikan hatimu." Hatinya pun terasa pedih dan perih.


Rey bangkit berdiri dan menghindari matanya dari tatapan Erika.


"Pulanglah.." ucapnya dengan raut wajah yang serius.


Erika kecewa dan sedih mendengar Rey yang menyuruhnya pulang. Dia pun beranjak pergi. Namun sebelum keluar kamar, dia berkata "Kak Kei telah melamarku. Kami akan segera menikah.."


Rasa marah muncul dalam diri Rey ketika mendengar nama kakaknya. Apalagi mendengar kalau Erika akan menikah dengannya. Dia mengepal jari jemarinya dengan kuat.


"Lalu, apakah kamu menyetujuinya?"


"Apakah aku punya pilihan untuk tidak menyetujuinya?"


Ting tong.


Terdengar bunyi bel pintu. Erika melihat ke layar monitor yang ada di kamar Rey.


"Hah?! Kak Kei datang.." serunya.


Ting tong ting tong


Bunyi bel kembali berdering. Erika pun pergi keluar untuk membukakan pintu.


"Ternyata benar kamu ada di sini. Ayo, kita pulang.."


"Siapa mereka?" tanya Erika menunjuk pada dua orang pria yang datang bersama Kei dan sedang berjalan masuk ke dalam rumah Rey.


"Mereka ada urusan dengan pria itu. Ayo, lebih baik kita segera pergi.."


Erika menatap curiga pada Kei dan juga pada dua pria itu. Mereka memakai jaket berkulit warna hitam dengan perawakan yang tegas. Erika tidak mempedulikan ajakan Kei. Dia berjalan masuk mengikuti mereka.


"Selamat siang, kami petugas dari kepolisian. Anda kami tahan sebagai tersangka kasus penculikan. Ayo, ikut kami." ucap seorang dari mereka dengan memberikan selembar kertas pada Rey.


Rey membelalakkan matanya tak percaya bahwa Kei membawa polisi ke rumahnya. Dia pun menatap marah kepada Erika dan Kei.


"Tidak, jangan bawa dia pergi. Dia tidak bersalah." Teriak Erika sambil terisak.


"Maaf Nona,  Silahkan nanti anda jelaskan lebih lanjut di kantor polisi."


"Kak Kei, kumohon bantu dia. Jangan biarkan dia dibawa ke kantor polisi."


"Tidak Erika. Dia harus ditangkap karena telah mengurungmu. Ayo, ikut aku pulang."


"Dengarkan aku, Pak polisi. Dia tidak menculikku..Aku sendirilah yang datang padanya." Dua orang anak buah Kei datang dan membawa Erika pergi dengan paksa.


"Lepaskan..lepaskann aku..!"


Di belakang, menyusul kedua polisi bersama Rey yang berjalan dalam diam dan menurut ketika kedua polisi itu akan membawanya pergi dengan mobil mereka.


***