Happiness For You

Happiness For You
25 Villa Alisha



Paman sudah pulang kembali ke rumahnya yang berada di kota sebelum malam tiba. Rey tahu kalau pamannya tidak bisa untuk berlama-lama berada di perkebunan apalagi untuk tinggal menemaninya. Bila paman melakukannya, maka istrinya akan marah dan bertengkar dengan pamannya. Sehingga Rey memaksa pamannya untuk segera kembali ke rumahnya.


Jadi sekarang hanya tinggal mereka berempat di perkebunan. Dan saat ini mereka sedang duduk di meja makan untuk menikmati makan malam. Ryo yang menyiapkan makan malamnya. Ia memasak menggunakan bahan-bahan yang masih segar yang mereka petik langsung dari perkebunan sore tadi. Erika dan Sato membantunya membersihkan dan memotong-motong bahan makanannya.


Setelah makan malam selesai, Ryo dan Sato pun membereskan dapur, piring serta peralatan makan lainnya. Kini hanya tinggal Rey dan Erika berdua di meja makan. Lalu Rey mengajak Erika keluar rumah untuk menikmati udara malam sambil memandangi langit.


"Ayo kita duduk di teras depan. Aku ingin mengajakmu menikmati udara malam yang sejuk dan melihat pemandangan langit malam hari yang indah."


Namun Erika menolaknya.


"Tidak, aku sudah mengantuk. Aku ingin langsung tidur saja." jawab Erika dengan sedikit ketus. Rey menyadari Erika masih marah padanya karena apa yang dikatakannya tadi siang.


"Baiklah kalau begitu." jawab Rey dengan cuek. Ia tidak berusaha merayu atau menghibur Erika. Erika pun memelototinya dengan wajah yang sedikit memberengut.


Rey mendekatinya dan mengecup keningnya. Lalu ia berkata, "Tidurlah yang nyenyak dan mimpi yang indah ya."


Mendapat kecupan dan perhatian dari Rey seperti itu, Erika pun merasa senang. Ia sampai perlu menahan senyuman dibibirnya karena saat ini ia sedang merajuk. Kemarahan Erika langsung berkurang dan tinggal sedikit saja. Erika teringat dengan ucapan paman tadi yang mengatakan kalau Rey bukan orang yang dingin dan cuek melainkan hanya sulit untuk mengekspresikannya.


"Ayo.." ajak Erika sambil menggandeng tangannya menuju teras.


"Sudah hilang ngantuknya?" tanya Rey sambil tersenyum untuk menggodanya.


"Jangan menggodaku." Erika memarahinya. "Hmm, kalau pemandangan langitnya indah seperti yang kamu katakan maka aku akan memaafkanmu."


"Maaf untuk apa?" tanya Rey berpura-pura tidak tahu.


"Karena sikapmu yang dingin dan cuek itu."


"Aku memang seperti ini. Lalu, apakah kamu akan selalu marah padaku?"


"Bukan itu maksudku.. Aku.." Erika terdiam karena ia terpana dengan pemandangan langit malam yang sangat indah dengan dipenuhi bintang yang bertaburan dan berkerlap kerlip diantara hamparan tanah yang luas. Sungguh pemandangan langka yang jarang bisa ditemuinya. Karena di ibukota hampir seluruh langitnya tertutupi oleh gedung tinggi dan lampu-lampu.


"Jadi, apakah kamu memaafkanku?" tanya Rey yang melihat ekspresi kekaguman Erika.


"Tergantung. Apakah kamu akan mengajakku ke villa ibumu besok pagi?"


"Dasar curang. Bukankah kamu bilang akan memaafkanku jika pemandangan langitnya indah?"


"Tapi pemandangan langit ini tidak indah, melainkan menakjubkan."


Perkataan Erika itu membuat Rey tak bisa berkata-kata sejenak karena kepintaran Erika dalam bermain kata. Ia hanya bisa mendelikkan matanya karena merasa kesal sekaligus senang.


"Pintar.. Ternyata kamu cerdik juga." Puji Rey sambil mengelus kepala Erika. Erika tertawa senang karena berhasil mengerjai Rey balik.


"Jadi..?" tanya Erika.


"Hmm, baiklah. Besok aku tunggu kamu jam 5 pagi di sini. Kalau kamu telat, maka aku akan pergi meninggalkanmu."


"Ok, deal." jawab Erika.


Mereka lalu duduk berdua di lantai teras sambil memandangi langit malam yang dipenuhi bintang bertaburan.


***


Keluarga Erika sangat panik saat mengetahui bahwa Erika berhasil kabur. Selain panik, Ayah Erika juga merasa sangat marah. Ia tak menduga anaknya akan senekat itu kabur dengan melompati jendela kamarnya yang berada di lantai 2 disaat hari masih gelap.


Ayah Erika memang tidak menyuruh pengawas untuk berjaga di sana. Selain itu, ayah Erika juga selalu memberi ijin kepada para pengawas untuk beristirahat saat hari sudah larut malam dan memulai kembali untuk berjaga esok paginya. Hal itu dikarenakan rumahnya telah memiliki sistem penguncian dengan keamanan tingkat tinggi. Jadi hanya para penghuninya saja yang bisa membukanya dengan mudah.


Saat subuh tadi, Erika memang membantu membukakan gerbang rumahnya secara diam-diam untuk Rey agar Rey bisa masuk ke rumahnya dengan mudah. Itulah yang membuat Rey menyadari bahwa Erika dan anak buahnya memang telah merencanakan dari sebelumnya.


Ayah Erika berpikir pasti ada seseorang yang telah membantunya kabur. Dan dugaannya, siapa lagi selain pria gangster itu si pelakunya. Karena hanya pria gangster itu yang memiliki keberanian dan kekuatan untuk melakukannya. Mereka lalu mengecek rekaman cctv dan benar dugaannya. Terlihat sosok pria dengan postur tubuh seperti Rey sedang membantu Erika kabur.


Setelah mengetahui bahwa Rey yang membawa Erika pergi, Kei berinisiatif untuk segera mendatangi tuan Yoshiro untuk menanyakan keberadaan Rey dan memberitahukan apa yang telah Rey perbuat. Bahwa ia telah menghilang bersama Erika.


Alice yang baru saja mendengar desas desus mengenai menghilangnya Rey bersama seorang wanita, saat ini juga langsung mendatangi ayahnya ke ruang kerjanya. Ia lalu mendengar percakapan mereka dan langsung menerobos masuk ke dalam.


"Ayah, apakah Rey benar-benar telah pergi menghilang?"


"Alice! Lancang kamu! Siapa yang memperbolehkanmu masuk ke ruanganku saat ada tamu yang sedang mengunjungiku. Keluar!!" Tuan Yoshiro membentak Alice dengan marah.


Kemarahan Tuan Yoshiro sangat beralasan. Pertama, tindakan Alice tidaklah sopan dengan menguping dan menginterupsi perbincangan yang sedang berlangsung dengan tamunya. Kedua, Tuan Yoshiro tidak ingin siapapun orang di luar sana mengetahui dan melihat keberadaan Alice yang adalah putrinya.


"Tapi ayah, beritahu dulu padaku dimana Rey sekarang berada? Dan mengapa ia pergi? Apakah benar yang tamu mu katakan kalau dia membawa kabur seorang wanita?" Alice merengek dan memaksa ayahnya untuk memberitahukan hal yang sebenarnya dari apa yang ia dengar barusan.


"Kamu keluarlah dulu. Nanti ayah akan menemuimu dan berbicara denganmu."


"Baiklah kalau ayah tidak mau memberitahu, biarkan aku yang pergi mencarinya.." Alice berjalan pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya.


"Alice! Berhenti! Jika kamu berani melangkahkan kakimu keluar dari rumah ini untuk mencarinya, maka ayah tak akan segan-segan untuk mengirimmu pergi sejauh mungkin dari Rey dan segera menikahimu dengan pria yang kumau!" Ancam ayahnya.


"A..Ayah.. Tidak, jangan lakukan Ayah."


"Penjaga, bawa dia keluar dan kurung dia dikamarnya." teriak Tuan Yoshiro memberi perintah.


"Ayah, kumohon. Lepaskan aku..!" Alice berteriak meminta dilepaskan. "Baiklah ayah, aku berjanji aku tidak akan mencarinya. Tetapi ayah jangan melakukan hal yang ayah katakan tadi padaku!"


Tuan Yoshiro memberi aba-aba pada anak buahnya untuk melepaskannya. Lalu Alice berlari keluar ruangan dan kembali ke kamarnya sambil menangis.


"Maafkan atas ketidaksopanan putriku dan kegaduhan yang telah dibuatnya." Tuan Yoshiro meminta maaf pada Kei.


"Tidak apa Tuan Yoshiro."


Tuan Yoshiro menghela nafasnya kemudian ia berkata, "Mengenai Rey dan kekasihmu, mungkin ada kesalahpahaman yang telah terjadi. Karena selama ini, yang kutahu adalah bahwa Rey dan putriku saling mencintai tetapi aku melarang hubungan mereka dan memaksa Rey untuk menahan serta melupakan perasaannya terhadap putriku."


"Mengapa? Apakah karena latar belakang pria itu yang hanyalah anak angkatmu?"


"Memang benar itu dipengaruhi oleh latar belakangnya. Tetapi bukan karena ia adalah anak angkatku, melainkan karena dia adalah seorang mafia. Latar belakang yang sama sepertiku sehingga aku tahu bagiamana bahaya dan buruknya kehidupan bagi anggota keluarga kami sendiri."


Kei mengangguk. Ia mengerti kekhawatiran dan ketakutan Tuan Yoshiro.


"Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu. Beberapa hari lalu aku meminta Rey untuk benar-benar menjauhi putriku dan akhirnya ia pun bersedia untuk pergi dari kota ini. Dia telah pindah ke kota Bandung. Untuk dimana tepatnya lokasi ia berada, aku tak dapat memberitahukannya padamu karena aku harus menghargai privasi Rey."


"Baiklah Tuan Yoshiro, terima kasih atas informasi yang anda berikan. Itu juga sudah cukup bagiku." Kei lalu pamit dan pergi dari rumah Tuan Yoshiro.


Saat berjalan keluar dari ruangan Tuan Yoshiro, seseorang menghampiri Kei dan memberinya secarik kertas. Pada kertas itu ada tulisan "Villa Alisha". Kei melihat ke sekelilingnya untuk mencari orang yang tadi memberikannya secarik kertas tersebut. Tetapi orang itu sudah menghilang. Lalu ada sebuah pintu ruangan terbuka dan ia melihat ada seorang wanita di dalamnya. Dia adalah putri Tuan Yoshiro yang tadi dilihatnya, Alice. Alice menatapnya sambil tersenyum dan mengangguk padanya. Lalu pintu kembali menutup.


Kei kembali memperhatikan secarik kertas itu dan menyadari kalau itu adalah sebuah petunjuk yang Alice berikan. Mendengar nama "Villa Alisha" Kei merasa tidak asing. Ia seperti merasa pernah mendengarnya.


Kei mempercepat langkahnya untuk bisa segera sampai dimobilnya. Dan saat sudah berada di dalam mobilnya, ia segera mengeluarkan hp nya untuk mencari tahu mengenai villa tersebut. Tidak banyak informasi yang didapat tentang villa itu. Ia hanya dapat melihat dimana lokasi villa itu berada yaitu di dekat puncak pegunungan yang ada di kota Bandung. Dengan segera ia merencanakan perjalanannya menuju villa tersebut.


Pada malam harinya Kei telah tiba di lokasi villa Alisha. Bila dilihat dari luar secara sekilas, villa ini nampak seperti sebuah villa pribadi karena ukurannya yang tidak terlalu besar. Villa itu juga dalam keadaan tertutup. Kei lalu menghentikan mobilnya dan berjalan kaki masuk menuju pos jaga untuk menemui pengurus villa tersebut dan menanyakan keberadaan Erika.


"Tidak ada Tuan. Selama beberapa hari ini, tidak ada pengunjung yang mendatangi villa ini. Karena villa ini sudah di tutup sejak lama. Hanya orang tertentu dan kalangan sendiri saja yang bisa mengunjungi villa ini." jawab bapak pengurus yang bernama Anto. Pak Anto terlihat sudah tua dan renta.


"Kalau begitu bisakah anda menghubungi saya kalau ada pengunjung atau pemilik villa ini datang ke sini?"


"Baik Tuan." Kei lalu memberikanya sebuah kartu nama miliknya kepada pak Anto.


Kemudian Kei pergi dari villa itu dan pergi menuju ke penginapan milik keluarganya yang juga ada di sekitar villa tersebut.


***