
Saat dalam perjalanan pulang menuju ke rumah Erika, tiba-tiba hujan turun dengan cukup deras. Rey langsung mempercepat laju motornya agar mereka bisa cepat sampai ke rumah Erika. Ketika mereka telah sampai di rumah Erika, hujan belum juga reda dan baju mereka berdua sudah basah kuyub akibat diguyur air hujan yang masih mengalir turun. Petugas penjaga pintu segera membukakan pintu gerbang rumah Erika begitu melihat mereka dari kejauhan dan sedang kehujanan. Ayah Erika yang mengetahuinya pun segera keluar rumah untuk menyambut mereka.
"Paman ..." sapa Rey.
"Rey, kamu basah kuyub. Masuklah dulu ke dalam untuk menunggu hujan reda. Erika, bantu dia untuk mengeringkan tubuhnya yang kehujanan."
"Iya Ayah." Lalu mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan Erika membawa Rey untuk masuk ke dalam kamarnya. Rey merasa sangat kedinginan dan tubuhnya sudah menggigil karena memang tubuhnya tidak pernah kuat menahan dingin.
"Rey, kamu kedinginan. Sebaiknya kamu yang mandi duluan gih."
Rey menggeleng.
"Tidak Erika. Kamu saja yang duluan mandinya. Aku masih bisa tahan." Jawab Rey sambil menahan tubuhnya yang gemetar karena menggigil.
"Ck, kamu ini, keras kepala." Erika lalu menarik tangan Rey dan dapat merasakan kalau jemari tangannya terasa sangat dingin. "Ayo kita masuk berbarengan saja." Rey membulatkan matanya melebar karena ajakan Erika.
"E ... ri ... ka ... Kamu ... seri ... us?" Tanya Rey tergagap karena kaget dan juga karena ia sedang menggigil kedinginan.
Erika tidak menjawabnya dan tetap menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Setelah sudah berada di dalam, Erika berkata,
"Memangnya tadi kamu tidak dengar yang ayahku katakan kalau aku tuh disuruh membantu kamu mengeringkan badanmu. Ayo, buka bajumu." Erika tampak santai dan tenang saat menyuruh Rey membuka bajunya. Rey pun menurutinya dengan ragu-ragu. Lalu saat baju Rey sudah terbuka dan Erika melihat badan Rey yang cukup berotot dan dadanya yang bidang, Erika langsung merasa malu dan menjadi canggung. Ia ingin segera kabur dari Rey atau menutup matanya, tapi ia lebih merasa malu kalau melakukannya karena tadi dia sendiri yang menyuruh Rey untuk membuka bajunya.
Wajah Erika memerah dan wajah Rey juga.
"Ehemm ..." Erika berdehem kecil untuk mengurangi rasa malu dan canggungnya.
"Apa aku perlu membuka bawahanku?" Tanya Rey.
"Ehm, ya ... " jawab Erika dengan berpura-pura tenang. "Kamu kan sedang mandi, jadi harus membukanya."
"Aku saja? Kamu tidak?" Ledek Rey.
"Rey ...," Erika berteriak kesal dan juga merasa malu. "Biarkan aku membantumu dulu baru aku mandi. Sini, bajumu. Ini, pakai handuknya untuk menutupi." Rey terdiam sambil memandangi Erika.
"Hmm? Mengapa kamu diam saja?"
Rey menunjuk ke arah bawah tubuhnya. "Kamu tidak berbalik atau menutup matamu? Atau ... kamu mau melihatnya?" Goda Rey.
"Ohh ya." Erika menggumam pelan dan segera membalikkan badannya. "Sudah?"
"Hemm ..." Erika lalu berbalik badan kembali menghadap kearah Rey dan melihat Rey sudah membungkus setengah badannya ke bawah dengan handuk.
"Tunggu aku sebentar." Erika lalu berjalan keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil pelayannya.
"Bi, Bibi. Tolong cuci dan segera keringkan pakaian ini dan gantung saja dipintu kalau sudah."
"Iya, Non."
Erika lalu kembali ke kamar mandi. Dia membuka shower air hangat dan membantu menggosokkan punggung Rey. Awalnya Erika malu-malu dan ragu-ragu, apalagi ia melihat ada dua bekas luka tembak disana.
"Rey, lukamu ini. Apakah masih terasa sakit?"
"Tidak, apakah kamu takut melihatnya?"
"Tidak." Jawab Erika. Ia lalu menggosok punggung Rey lagi. Erika malah jadi merasa senang dan menikmati menggosok punggung Rey yang halus dan menjadi licin karena busa dari sabun yang digosoknya.
"Mm ... Erika ... hh ... " desah Rey yang tidak tahan karena sentuhan tangan Erika dipunggungnya. "Berhenti ... atau aku akan menjadi gila karena ulahmu." Rey berbicara sambil berusaha menahan dirinya agar tetap tenang terutama miliknya dibawah yang tampak tegang.
"Ups, sorry. Apa aku menggosoknya terlalu kuat dan kasar sehingga kamu merasa sakit? Atau kamu tidak suka karena aku sembarangan menyentuhmu?" Tanya Erika polos. Karena Erika pernah diberitahu dari mantan anak buahnya kalau Rey tidak suka ada orang yang sembarangan menyentuhnya.
Rey memejamkan matanya untuk menahan kekesalannya karena kepolosan Erika itu. Ia lalu membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Erika.
"Ini, lihatlah." Erika melihat kearah yang Rey tunjuk. "Apakah kamu melihat ada sesuatu yang menonjol dibalik handukku?"
"Ya ... ahh mm itu ..." Erika akhirnya tersadar apa yang telah diperbuatnya. Lalu ia pun merasa malu dan langsung ingin kabur. Tetapi Rey menahannya.
"Erika, jangan pergi dan jangan malu ... Apa kamu tidak ingin bisa merasakannya di dalam tubuhmu? Karena aku menginginkannya. Aku sangat menginginkanmu menjadi milikku seutuhnya, Erika."
"Rey ... Kamu ... " Rey lalu mencium bibir Erika dan Erika membalasnya dan mereka berciuman dengan panas membara.
Lalu Rey melepas ciuman mereka dan berucap,
"Tetapi tidak untuk sekarang ... Ayo Erika, sebaiknya kita cepat selesaikan mandi kita ini. Ayo, sekarang giliranmu. Bukalah pakaianmu."
"Tidak Rey, aku ..." Erika langsung menutupi tubuhnya dengan memeluknya erat menggunakan tangannya.
"Jangan malu, ayolah." Rey lalu membantunya.
"Rey ..." Erika memanggilnya saat baju terusan Erika terbuka dan memperlihatkan sebagian tubuhnya yang masih tertutup oleh pakaian dalamnya.
"Kamu cantik, Erika." Ucap Rey sambil menatap tubuh Erika dengan tatapannya yang memuja. "Ayo, balikkan badanmu dan aku akan menggosok punggungmu." Rey ingin membalas perbuatan Erika yang tadi menggosok tubuhnya hingga membangkitkan keinginan dirinya yang terdalam. Rey menggosok lembut punggung Erika dengan sabun dan melewati tali pengait bra yang sedang dipakainya tanpa merasa terganggu. Rey juga sengaja membelai dan mengusap punggung Erika dengan gerakan yang sangat perlahan dan menggelitiknya.
"Aah ... Rey ..." desah Erika.
"Bagaimana? Apa kamu merasakan apa yang kurasakan tadi?" Tanya Rey pada Erika sambil membalikkan tubuh Erika menghadapnya dan dengan suara dan tatapan yang menggoda. Wajah Erika benar-benar memerah dan terasa panas. Ia hanya menundukkan kepalanya sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi bibir mungilnya itu tersenyum dengan senang dan malu-malu.
Lalu masing-masing dari mereka kembali melanjutkan membersihkan tubuh mereka sendiri-sendiri dan membilasnya secara bergiliran. Dengan salah satu dari mereka berbalik arah agar tidak dapat saling melihat tubuh masing-masing. Setelah itu, mereka menyudahi kegiatan mandi mereka tersebut dengan kembali saling membalikkan badan agar berlawanan dan saling membelakangi untuk mengeringkan tubuh mereka dengan handuk dan membungkusnya. Setelah selesai mereka berdua saling pandang dan tersenyum malu-malu.
Rey lalu duduk di atas kasur Erika dengan diam, menunggu pakaiannya yang sedang dikeringkan. Erika mengikutinya dengan duduk disampingnya. Rey menatapnya bingung.
"Kamu tidak memakai bajumu? Nanti masuk angin loh, ayo pakai dulu bajumu. Jangan khawatir, aku akan menutup mataku." Rey lalu memejamkan matanya.
"Rey ... " panggil Erika dengan lembut.
"Ya ...? Ada apa, sayang?"
"Apakah kamu mencintaiku?" Tanya Erika dengan wajah sendu."
"Tentu saja, aku mencintaimu."
"Kalau begitu tunjukkan padaku. Buktikan kalau kamu mencintaiku." Erika lalu meraih tangan Rey dan meletakkannya ditubuhnya.
"Tidak Erika, aku ... aku tidak akan melakukannya sebelum kita resmi menjadi pasangan yang sah."
"Aku tidak mau menunggunya lagi Rey. Kumohon, jika kamu mencintaiku maka lakukanlah sekarang juga."
"Erika, aku ..." Mata Rey kembali bersedih. Ia kembali merasa takut untuk melakukan hal yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan kelak karena kondisi kesehatannya yang tidak pasti.
"Rey, aku tahu kamu sangat menginginkanku dan ingin memiliki seutuhnya. Dan, aku juga menginginkan hal yang sama denganmu. Tetapi aku juga dapat merasakannya, kalau kamu memiliki ketakutanmu dan aku tidak tahu apa itu yang membuatmu takut. Aku pun jadi ikut merasa takut. Aku berpikir, apakah itu karena kamu akan meninggalkanku seperti dulu lagi?"
"Erika, aku ..."
"Tetapi ketakutanku semakin bertambah memikirkan jika memang kamu akan meninggalkanku dan itu berarti selamanya aku tidak pernah bisa merasakan cintamu padaku atau aku tidak akan pernah menjadi milikmu seutuhnya."
"Sayang, aku ... aku tidak tahu kalau kamu akan berpikir seperti itu. Aku hanya tidak mau merusakmu dan setelah itu dengan tidak bertanggungjawabnya, aku meninggalkanmu."
"Tidak Rey, kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Kamu akan baik-baik saja. Kamu akan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Berjanjilah padaku, Rey."
"Maaf, Erika. Aku sendiri tidak tahu apa aku bisa memastikan diriku akan selalu baik-baik saja. Jadi, aku tidak akan pernah memberimu janji seperti itu."
"Setidaknya kamu berjanji bahwa itulah yang kamu mau. Bahwa kamu tidak pernah mau dan tidak pernah berniat untuk meninggalkanku."
"Tentu saja, aku tidak akan pernah mau meninggalkanmu. Aku ingin bisa selamanya bersamamu hingga akhir hi-."
Erika langsung menutup mulut Rey dengan menciumnya. Ciuman yang panas dan menggelora. Rey pun tidak menolaknya. Ia membalasnya dan tubuhnya bangkit kembali. Keinginannya kali ini memberontak dengan sangat keras dan kuat hingga tidak bisa dibendung lagi olehnya.
Rey lalu mendorong pelan tubuh Erika dan menjatuhkannya untuk berbaring ke atas kasurnya. Dengan lembut, tangannya mulai bergerak ke tubuh Erika yang masih dibalut oleh handuk. Lalu ia menurunkan ciumannya ke lehernya dan menghisapnya dengan sangat keras dan dalam.
"Ahh ... Rey ..." desah Erika.
Kemudian dengan mata yang berkabut, Rey memandangi Erika yang juga berkabut matanya.
"Sayang, apa kamu benar-benar yakin dan siap mau menyerahkan dirimu seutuhnya untukku? Walau apapun yang terjadi dan dengan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi padaku?"
"Iya, Rey. Aku yakin dan sudah sangat siap." Perlahan Rey membuka handuk yang membungkus tubuh Erika. Kemudian mereka memulai kegiatan mereka itu untuk saling menyalurkan perasaan cinta mereka dan menjadi dua insan yang saling menyatu dalam pergulatan cinta mereka.
Setelah selesai, Erika merasa dirinya sangat lelah dan lemas.
"Rey .... " panggilnya dengan nafas yang masih terengah-engah.
Rey membawa tubuh Erika dalam pelukannya. "Iya sayang." Ia lalu mencium keningnya.
"Terima kasih Rey, ini adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku. Aku mencintaimu. "
"Aku juga. Aku sangat mencintaimu dan aku senang kamu mau menjadi milikku." Mereka lalu beristirahat sebentar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah setelah selesai dari aktivitas mereka.
Setelah itu, Erika kembali membungkus tubuhnya dengan handuk dan memakai bajunya. Lalu Erika membuka pintu kamarnya untuk mengambil pakaian Rey yang telah digantung di gagang pintunya. Erika berpikir untung saja kamarnya luas dan kedap suara.
Mereka berdua lalu keluar dari kamar dan ayah Erika langsung menyambut mereka.
"Kalian pasti lapar. Ayo kita makan malam bersama dulu."
"Iya, Paman." Jawab Rey.
Mereka lalu makan bersama.
"Rey, paman sudah mendengarnya apa yang kamu lakukan pada Erika tadi." Rey dan Erika saling tatap dengan terkejut. Mereka berpikir kalau ayah Erika mendengar suara teriakan mereka saat aksi mereka di kamar barusan.
"Bahwa kamu telah melamar Erika di depan banyak orang." Kemudian mereka berdua saling pandang kembali dan sama-sama tersenyum lega. Ternyata mereka telah salah paham saja tadi. "Jadi, kapan kamu akan melamar putri kami secara resmi pada kami yang adalah orangtuanya?"
Rey lalu memandangi kedua orangtua Erika sebelum menjawabnya untuk berpikir sejenak jawaban atas pertanyaan Ayah Erika tersebut. Kemudian Rey menjawab,
"Minggu depan saya akan mengajak kakak saya untuk bertemu dengan kalian dan melamar Erika secara resmi."
Orangtua Erika saling tatap dan kemudian mereka semua saling tertawa dengan riang gembira menyambut kabar bahagia bahwa anak mereka akan segera dilamar. Juga Rey dan Erika yang ikut tertawa dengan bahagia bersama mereka.
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kamu harus memanggil kami Ayah dan Ibu."
Rey kembali mengulas senyum diwajahnya. Kemudian dia berucap, "Ayah, Ibu." pada kedua orangtua Erika.
Mendengar panggilan Rey tersebut, mereka berempat kembali tertawa dengan gembira.
Setelah selesai makan, Rey pun berpamitan dengan mereka dan berjalan pulang.