Happiness For You

Happiness For You
37 Makan Malam Spesial 2



Setelah selesai mengeringkan rambutnya dan berganti pakaian, Erika keluar dari kamarnya. Erika tampak sangat mempesona dengan rambutnya yang biasa lurus sekarang dibuat dengan sedikit bergelombang. Erika juga memoleskan sedikit kosmetik diwajahnya secara minimalis yang hanya membuat wajanya terlihat lebih merona kemerahan dan lebih cerah. Pada bagian matanya, Erika menyapukan eyeliner tipis dan alis yang dirapihkan. Lalu dia mengulas bibirnya dengan lipstrik berwarna merah persik. Bisa dikatakan Erika terlihat seperti boneka Barbie versi asia.


Rey yang sedang menunggunya di ruang luar kamarnya, melongo melihat Erika dan menatapnya takjub. Ia terus memandangi Erika sampai lupa untuk mengedipkan matanya. Selama ini Erika memang terlihat cantik, tetapi kecantikannya saat ini lebih dari yang biasanya dan juga terlihat berbeda. Benar-benar cantik dan mempesona hingga membuat irama jantungnya bergerak tak seperti biasanya.


Untuk Rey sendiri, dia juga tampak berbeda hari ini. Ia memakai setelan kaos v-neck berwarna putih yang dilapisi blazer casual berlengan 3/4 bagian, berwarna kombinasi hitam pada lengan, kerah, dan sebagian bahunya serta warna abu gelap pada keseluruhan bagian lainnya. Ia memadukan bawahannya dengan celana jeans berwarna biru gelap. Rey terlihat rapih namun juga casual dan agak santai.


"Rey, kamu terlihat keren. Bagaimana dengan penampilanku?" tanya Erika.


"Hmm ... oke ...." jawab Rey singkat dan terkesan dingin. Hal itu dikarenakan ia sedang menutupi kegugupan dan irama jantungnya yang berantakan. Membuat Erika merengut. Padahal ia kira Rey akan terpesona dan memujinya karena tatapan Rey tadi saat baru melihatnya. Tapi pria itu malah menjawabnya dengan singkat dan berjalan pergi begitu saja tanpa mengajak atau menggandengnya pula. Erika pun hanya berdiri terdiam di tempatnya. Rey lalu menolehnya dan mengajaknya. "Ayo Erika, kita jalan sekarang." Masih dengan menyimpan kekesalannya Erika menurutinya berjalan mengikuti dibelakang.


Di dalam mobil, sudah ada Ryo dan Sato yang duduk dibangku belakang. Mereka juga ikut ke kota hanya saja mereka akan pergi ke pasar malam untuk menjelajahi jajanan pasar yang terkenal enak dan ramai di kota Bandung. Jadi sebelum menuju ke restoran, Rey menurunkan mereka terlebih dahulu di tujuan mereka.


Kini mereka telah sampai di tujuan mereka. Ternyata Rey membawanya ke salah satu hotel bintang lima yang terkenal di sana yang juga ada di Jakarta. Nama hotelnya adalah Hotel Hiro. Di hotel tersebut terdapat sebuah restoran yang memang terkenal dengan reputasinya yang bagus karena menyajikan makanan bertaraf internasional dan memiliki cita rasa kenikmatan yang patut diacungi jempol.


Rey menghentikan mobilnya di depan lobby hotel dan ia turun dari mobilnya. Sebelum turun, Rey berkata pada Erika, "Tunggu di sini, aku akan membukakan pintu mobil untukmu bidadariku yang cantik jelita." Rey lalu mengecup dengan cepat pipi Erika dan segera turun dari mobilnya. Meninggalkan Erika yang tersenyum sumringah dan serasa sedang terbang tinggi hingga ke atas langit dengan sayapnya.


Rey lalu membukakan pintu mobil untuknya dan memberikan tangannya untuk membantu Erika turun dari mobil. Erika tersenyum dengan sangat manis kepadanya dan menyambut tangannya. Ia lalu turun dari mobil dan Rey menggandeng tangannya untuk berjalan masuk ke dalam hotel. Sebelum masuk, Rey memberikan kunci mobilnya ke petugas parkir valley yang menghampirinya untuk membantu memarkirkan mobilnya.


Mereka masuk ke dalam restoran dan diarahakan oleh pelayan menuju ke tempat duduk yang sudah Rey pesan sebelumnya. Setelah itu mereka memesan makanan dari daftar menu makanan. Mereka memesan appetizer berupa smoked salmon and apple salad dan untuk menu utamanya Erika memesan roasted sea scallops with potato gnocchi sedangkan Rey memesan spinach ricotta ravioli in pumpkin sauce.


Sesaat setelah selesai memakan makanan pembuka, Rey mengatakan pada Erika kalau dia mau pergi sebentar ke belakang. Sepertinya Rey pergi menuju toilet. Tetapi sudah cukup lama Rey belum kembali juga. Erika jadi merasa gelisah dan tak tenang karena Rey belum juga kembali. Dia memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang sedang terjadi. Mungkinkah Rey kabur meninggalkannya seorang diri di sini? atau mungkin terjadi sesuatu yang buruk pada Rey seperti ia tiba-tiba jatuh pingsan di toilet atau sedang berkelahi dengan seseorang?


Mata Erika terus menjelajah berkeliling untuk mencari keberadaan Rey. Dia ingin pergi untuk mencarinya tetapi tidak mungkin ia meninggalkan meja tempat duduknya begitu saja dan tidak mungkin juga dirinya masuk ke toilet pria untuk mencarinya.


Akhirnya Erika memutuskan untuk memanggil seorang pelayan pria untuk meminta bantuannya mencarikan Rey di toilet pria. Saat pelayan mendatanginya dan Erika ingin mengatakannya, tiba-tiba ia melihat sosok Rey dari kejauhan. Rey mengenakan celemek ditubuhnya dan membawa sebuah nampan berisi makanan. Erika terbengong sambil terus memandanginya hingga Rey tiba di meja mereka. Pemandangan ini sama persis seperti yang ia bayangkan kemarin malam. Rey yang tampak seperti seorang chef profesional sedang menyajikan makanan ternikmat untuknya. Erika tersenyum senang dan juga malu-malu karena semua mata tamu disekeliling mengarahkan pandangannya pada mereka. Ada yang tertawa senang dan kagum, ada juga yang berbisik-bisik dengan menatap aneh. Tetapi Rey tidak mempedulikan mereka. Begitu juga dengan Erika.


Lalu Rey duduk di bangkunya dan melepaskan celemek yang dipakainya. Dan dibelakangnya terlihat seorang koki lainnya membawakan nampan makanan milik Rey.


"Terima kasih paman." ucap Rey pada koki yang berusia sepantaran ayahnya. "Perkenalkan Paman, ini Erika, teman spesialku itu."


"Erika, perkenalkan dia Paman Hadi, sahabat mendiang ibuku." Paman Hadi menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan dan Erika menyambutnya. Mereka lalu saling menyebutkan nama mereka masing-masing.


"Hai Erika, senang sekali bisa bertemu dan berkenalan denganmu yang adalah teman spesial dari Reyhan Wiriawan." ucap paman dengan tersenyum ramah padanya. Erika membalas senyumannya dan menjawab, "Saya juga merasa senang dan tersanjung bisa berkenalan dengan Paman."


"Baiklah, aku harus segera kembali ke dapur. Selamat menikmati makan malam spesialmu yang dibuat secara spesial oleh chef dadakan Reyhan." ucap paman sambil mengedipkan mata pada Rey.


"Baik Paman, terima kasih." jawab Erika.


"Terima kasih Paman." jawab Rey juga.


"Wow ...!" ucap Erika penuh kekaguman sambil menatap Rey dengan tatapan memuja. "Aku ... aku ...." Erika sampai sulit berkata-kata. "Ini ... sungguh kejutan yang luar biasa, Rey ... Apakah kamu benar-benar yang memasaknya untukku?" Wajah Erika mengeluarkan semburat merah karena rasa senang dan bangga. Ia merasa seperti benar-benar diperlakukan sangat istimewa malam ini karena telah dimasakkan makanan di restoran mewah yang pasti secara khusus Rey minta pada pihak restoran untuk memberinya ijin.


Erika lalu mencicipi makanannya. Dan setetes airmatanya jatuh perlahan. Airmata karena perasaan terharunya dan juga bahagia. Erika merasakan makanan itu benar-benar terasa nikmat. Bagaikan telah diberi bumbu-bumbu cinta dari Rey yang membuatnya ingin menikmatinya secara perlahan dan meresapinya ke dalam hatinya.


Rey juga memakan makanannya sambil memandangi Erika. Dalam hatinya ia juga merasakan perasaan sedih dan haru. Ia merasa bagaikan telah menjadi seorang chef profesional seperti yang dia mimpikan karena telah berhasil membuat tamunya merasa sangat puas akan makanan yang dia sajikan.


"Rey, ceritakan padaku bagaimana kamu bisa sampai diperbolehkan memasak didapur mereka?" tanya Erika setelah mereka selesai menyantap makanan mereka.


"Karena kepala koki restoran itu, Paman Hadi, adalah sahabat baik ibuku. Bisa dikatakan ibuku adalah teman spesialnya."


"Ya ... tapi tetap saja tidak mungkin segampang itu kan memberi ijin padamu untuk memasak di sana."


"Mereka juga tahu kalau aku anak dari pemilik hotel dan restoran ini." jawab Rey dengan santai.


"Ahh yaa, Hotel Hiro. Aku baru ingat kalau itu juga termasuk dalam grup perusahaan Takahiro. Itu berarti mereka telah mengetahui identitas dirimu yang sesungguhnya bahwa kamu adik dari-"


"Tidak, tidak seperti itu. Mereka hanya tahu kalau aku adalah anak dari ibuku yang adalah istri dari pemilik hotel dan restoran ini."


"Lalu bagaimana bisa mereka mengetahui akan hal itu?


"Hmm ... Erika, katakan saja kalau kamu penasaran tentang identitasku dan masalah keluargaku."


"Ya ... aku memang penasaran. Tapi kamu kan tidak pernah mau membahas dan membicarakannya padaku."


"Baiklah, aku akan menceritakannya tapi untuk sebagian kecilnya saja yang berkaitan dengan restoran ini dan Paman Hadi."


"Ya ...." Erika sudah sangat penasaran dan tak sbaar untuk mendengar cerita Rey.


"Saat masih muda dulu, ibuku pernah bekerja di restoran ini. Passion dan hobiku itu diturunkan dari ibuku. Jadi di restoran ini ia memulai karirnya sebagai seorang chef junior. Lalu ia berteman dengan Paman Hadi yang adalah seorang chef senior. Paman Hadi sangat baik terhadap ibuku, ia suka membantu dan juga membimbing ibuku. Itu karena ia memiliki perasaan terhadap ibuku. Dan saat hubungan mereka sudah semakin dekat, seorang pria datang dan menjadi pihak ketiga diantara mereka.


Pria ketiga itu adalah seorang pria tampan keturunan Jepang yang kaya raya dan merupakan anak dari pemilik hotel dan restoran tempat mereka bekerja ini. Ibuku lalu jatuh cinta pada pria ketiga itu dan menikah dengannya. Meninggalkan Paman Hadi dengan hati yang terluka. Untung saja Paman Hadi seorang yang baik. Ia bisa bangkit dan sembuh dari lukanya. Ia lalu menemukan wanita pujaan hatinya yang lain dan menikahinya.


Walaupun Paman Hadi dan ibuku telah berpisah dan masing-masing telah berkeluarga, tetapi mereka masih tetap menjalin hubungan yang baik. Bahkan saat aku kecil, Paman Hadi sering mengajakku bermain dan mengajariku memasak. Aku juga sering diajak ke restoran ini untuk memasak dan menggunakan berbagai peralatan masak yang canggih yang ada di restoran ini. Saat itu aku merasa senang dan sangat kagum karena aku bisa dengan mudah diperbolehkan untuk masuk dan bermain di dalam restoran itu. Tapi itu ternyata karena mereka tahu siapa aku. Aku sungguh konyol, karena saat itu aku sendiri tidak tahu kalau restoran dan hotel ini milik ayahku. Pantas saja ibuku selalu menolak dan tidak pernah mau ikut dengan beralasan kalau dia sibuk. Dan ... ceritaku selesai sampai disini."


"Aahhh Rey, jangan memberiku kentang. Aku masih penasaran. Apakah pria ketiga itu adalah Tuan Ryuu Takahiro yang juga adalah ayah dari Kak Kei?"


"Aku tidak mau menjawabnya karena itu sudah melewati dari sebagian kecil ceritaku. Dan ... makan malam kita juga sudah selesai. Ayo kita pulang." Rey bangun dan mengulurkan tangannya pada Erika untuk menuntunnya pergi.


***