Happiness For You

Happiness For You
60 Penyelamatan Rey Part 1



"Ken ... Ken ... buka matamu ... kumohon Ken ...," Kei berusaha mengguncang tubuh Rey pelan. Tetapi Rey diam saja dan tidak membuka matanya lagi. "Jangan tinggalkan aku, Ken ... " Kei terus berusaha tetapi Rey masih tetap diam dan tidak memberinya respon apapun lagi. Ia pun menangis sejadi-jadinya. "TIDAAKKK ... KENNN ...!" teriaknya dengan histeris.


Entah sudah berapa menit berlalu tetapi Kei masih belum menyerah dan terus memanggil-manggil nama Ken dengan suara yang melemah dan wajahnya tampak lesu. Wajah Rey sangat pucat dan tubuhnya pun terasa dingin tetapi Kei masih bisa merasakan hembusan nafasnya. Kei lalu menggosok-gosokkan tangan Rey dan memberinya hembusan udara panas dari mulutnya. Walau saat melakukannya Kei merasa sakit pada luka ditangannya karena terus digerakkan, tetapi ia tidak menghiraukannya dan terus menggerakkan tangannya untuk menggosok telapak tangan Rey agar dia bisa merasakan sedikit kehangatan.


Cahaya terang kembali menyorot ke dalam gudang karena ada yang membuka pintunya. Tetapi Kei tidak mempedulikannya, dia juga tidak menengok ke arah datangnya cahaya untuk melihat siapa orang yang datang dan membuka pintu gudang tersebut karena ia sangat merasa yakin kalau yang datang itu pasti Kabuto dan anak buahnya. Saat ini ia sudah menyerah dan hanya ingin berpasrah saja pada nasibnya dan membiarkan Kabuto melakukan apapun yang ia inginkan.


Di depan pintu, terlihat segerombolan orang datang dan berjalan masuk kedalam gudang. Tetapi Kabuto tidak terlihat diantara rombongan tersebut dan wajah mereka semua juga terbuka, tidak seperti para anak buah Kabuto yang menggunakan penutup wajah sehingga wajah mereka tidak terlihat. Diantara mereka, ada salah seorang lelaki berusia paruh baya yang terlihat cukup menonjol dan seperti memimpin mereka. Lelaki paruh baya itu semakin mempercepat langkahnya ketika dia mendapati tubuh Rey sudah berlumuran darah dan terbaring dipangkuan Kei dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Rey ... Rey ...!" panggilnya. "Kalian ... cepat bawa dia ke mobil ambulans!" teriaknya memberi perintah.


Beberapa orang berjalan mendekati mereka dan membawa sebuah tandu yang akan digunakan untuk mengangkat tubuh Rey. Tak lama kemudian dibelakang mereka muncul sosok Erika bersama kedua anak buah Rey yaitu Sato dan Ryota. Erika berlari dengan wajahnya yang terlihat sangat panik dan dalam keadaan menangis.


Saat sudah berada didekat mereka, Erika semakin memperlambat langkahnya. Aroma bau amis darah yang cukup pekat tercium olehnya dan dirinya menjadi sangat ketakutan menghadapi apa yang akan dilihatnya didepannya. Lalu tubuhnya langsung ambruk seketika dia mendapati tubuh Rey yang terbaring dalam keadaan pucat dan tak sadarkan diri dengan bajunya yang sudah berubah warna menjadi berwarna merah darah di area punggungnya karena darah yang berlumuran akibat luka tembak yang didapatnya. Ryo dan Sato segera memegangi tubuh Erika yang hampir terjatuh.


Beberapa petugas berbaju putih masuk ke dalam gudang sambil mendorong sebuah brankar. Mereka bergerak cepat dengan berlarian agar bisa segera sampai untuk memberi pertolongan pertama pada Rey. Beberapa orang suruhan Tuan Yoshiro ikut membantu mereka mengangkat tubuh Rey ke atas brankar. Lalu ada seorang petugas yang bertindak dengan membersihkan darah disekitar mulut Rey dan petugas lainnya segera memasangkan masker oksigen dimulut dan hidungnya sebagai alat bantu pernapasan.


Ryo membantu menyadarkan Erika dengan memberinya bebauan aroma mint yang menyegarkan dan menenangkan. Lalu Erika tersadar dan ia segera mendekati tubuh Rey. Erika kembali merasa pusing dan mual karena mencium bau darah Rey, tetapi ia berusaha menahannya. Ia memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh Rey untuk membangunkannya.


"Rey, bangun Rey ... kumohon. Buka matamu dan lihat aku. Aku datang menemuimu ...."


Erika terus menangis dan memeluk tubuh Rey seolah tak peduli kalau ia sedang menginterupsi dan menghalangi para petugas ambulans yang akan membawa Rey ke mobil ambulans.


Kei yang sedang berada di dekat Erika memeganginya pundaknya dan berkata, "Erika, biarkan petugas membawanya pergi. Ken harus segera dibawa ke rumah sakit."


Erika pun tersadar akan perbuatannya yang telah menahan tuhuh Rey dan menghambat pekerjaan para petugas. Ia lalu melepaskannya dan membiarkan petugas membawa Rey pergi. Lalu Erika memeluk tubuh Kei dengan tiba-tiba dan sangat kencang karena ia butuh sandaran untuk menangis didalam pelukan seseorang.


Kei membalas pelukan Erika juga dengan sangat kencang. Karena sepertinya disaat seperti ini dirinyalah yang sedang sangat membutuhkan seseorang untuknya bersandar. Tangis Kei pun langsung tumpah dipelukan Erika untuk mengeluarkan semua kesedihan, kecemasan dan ketakutannya.


"Adikku mendapatkan dua tembakan dipunggungnya dan dia ... dia sangat kesakitan tapi aku dengan begitu egoisnya aku ... memaksanya untuk tetap terbangun dan membuka matanya. Aku tahu kalau dia sangat kesakitan tapi aku takut ... aku takut kalau dia ... tidak bisa lagi membuka matanya ...." Kei berbicara terputus-putus untuk menahan kesedihannya. Airmatanya berjatuhan dengan deras membasahi pipinya. Sungguh memperlihatkan kerapuhan dan kelemahannya. Ternyata dirinya yang selama ini selalu tampak kuat dan tegar juga bisa rapuh dan penuh ketakutan seperti itu hingga tangisannya pun begitu dalam dan terasa memilukan.


Baru kali ini Erika melihat Kei menangis dan tangisannya itu terasa benar-benar keluar semuanya dari persaannya yang paling dalam. Erika jadi turut merasakan kesedihannya yang begitu memilukan hatinya bagai tersayat pisau. Ia pun menjadi iba dan merasa kasihan padanya. Erika lalu bertanya padanya dengan masih dalam keadaan memeluknya. "Kak Kei, jadi kamu sudah tahu kalau dia adikmu?" tanya Erika. Kei hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan karena dirinya masih sedang menangis. "Dan nama aslinya adalah Ken? Ken Takahiro." ucap Erika seperti bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri. Lalu ia lanjut berbicara pada Kei. "Kak Kei percayalah padanya, aku yakin dia pasti bisa melewatinya. Karena dia adalah seorang pria yang kuat dan pemberani. Dan karena dia juga adalah adikmu, jadi dia pasti seorang yang tangguh dan pantang menyerah sepertimu." Mendengar apa yang Erika ucapkan, tangisan Kei menjadi agak berkurang. Ia lalu mendongakkan kepalanya yang tadi ia benamkan pada tubuh Erika untuk menatapnya. Kei lalu memberinya anggukan dan berkata, "Kamu benar. Dia pasti bisa melewatinya dan kuat untuk bertahan." Kei lalu menyadari kalau mereka seharusnya ikut mengantarkan Rey dengan mobil ambulans agar mereka bisa terus mengetahui dan memantau keadaannya selama di perjalanan.


"Erika, ayo kita segera keluar untuk menyusul mereka." Mereka lalu berlarian keluar gudang dan menyusul para petugas yang tadi membawa tubuh Rey pergi. Disaat berlari, Kei bertanya padanya, "Jadi kamu juga sudah tahu kalau dia adalah adikku dan itu sudah sejak lama?"


"Maaf Kak Kei karena aku tidak pernah memberitahukannya padamu. Karena dia tidak mengijinkanku." jawab Erika merasa tak enak karena selama ini hanya diam dan tidak mengatakannya pada Kei.


"Tidak apa, aku tak menyalahkanmu juga dia. Aku paham dengan apa yang dia lakukan itu."


Sesampainya di dekat mobil ambulans, brankar dan tubuh Rey yang sedang berbaring di atasnya sudah masuk ke dalam mobil dan mereka sedang bersiap untuk menutup pintu mobil ambulansnya dan berjalan pergi menuju ke rumah sakit. Tetapi tiba-tiba langkah Kei berhenti dan ia juga menahan langkah Erika. Erika menatapnya dengan bingung.


"Tuan Yoshiro." Sapa Kei pada pria paruh baya yang sedang berdiri tepat di belakang mobil ambulans. Sepertinya Tuan Yoshiro hendak naik ke mobil itu untuk ikut mengantarkan Rey. Tetapi ketika melihat mereka berdua, Tuan Yoshiro berubah pikiran.


"Kalian berdua naiklah. Antarkan anakku ke rumah sakit." ucap Tuan Yoshiro mengijinkan mereka mengantar Rey. Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua pun segera naik ke mobil ambulans.


Tuan Yoshiro berpikir akan lebih baik kalau dia tidak ikut menaiki mobil ambulans yang akan membawa Rey ke rumah sakit. Karena penampilannya yang terlihat sangar dan mencolok malah akan menarik perhatian banyak orang dan menimbulkan kegaduhan. Apalagi dirinya cukup ternama dan tak sedikit orang yang mengenalnya dan mengetahui siapa dia. Selain itu, ia juga masih memiliki suatu urusan lain yang harus diselesaikan saat ini juga, yaitu menangkap Kabuto dan menuntut pertanggungjawaban darinya sebagai pelaku yang telah menyebabkan terjadinya semua masalah dan musibah ini.


***