Happiness For You

Happiness For You
80 Menunjukkan Kepemilikannya



Hari sudah malam dan jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pm. Erika tampak gusar di dalam kamarnya. Ia daritadi berbaring sambil mendengarkan musik dari aplikasi yang ada di hpnya. Di setiap ada nada dering muncul di hpnya, Erika langsung membuka untuk mengeceknya dari siapakah pengirim pesan tersebut. Saat mengetahui kalau si pengirim bukan dari seseorang yang sedang dinanti olehnya, wajahnya akan memberengut memperlihatkan kekecewaannya.


Lalu saat jam menunjukkan hampir pukul 11 malam, ada sebuah bunyi dering muncul di ponselnya dan nada dering yang berbunyi ini bukanlah nada pemberitahuan akan adanya sebuah pesan baru yang masuk, melainkan ini merupakan nada sebuah panggilan masuk di hpnya. Erika buru-buru meraih hpnya dan melihat nama si penelepon yang muncul di layar hpnya. Tanpa menunggu hingga bunyi nada dering yang kedua, Erika langsung memencet tombol untuk menjawab panggilan tersebut.


Erika : "Halo, Rey?" Tanya Erika langsung pada si penelepon.


Rey : "Hai Erika, maaf baru meneleponmu saat sudah malam begini. Apa kamu sudah tertidur tadi?"


Erika : "Belum, aku masih belum mengantuk dan mataku juga masih membuka dengan lebar." Dari sebrang, samar-samar Erika mendengar suara tawa Rey yang sedang tertawa dengan suara yang pelan dan sedikit ditahannya. Sepertinya Rey sedang menertawakan jawabannya itu.


Erika : "Mmm ... maksudku, aku masih lagi menonton drama jadi mataku masih melek." Jawab Erika berbohong. Padahal daritadi dia sedang galau dan gusar karena menanti panggilan dari Rey yang tak kunjung meneleponnya dan Rey mengetahui akan hal tersebut.


Rey : "Ohh ... kamu pecinta drama ... aku baru mengetahuinya. Mengapa selama di rumahku aku tak pernah melihatmu menonton drama satu kalipun?"


Erika : "Mmm ... aku ..." Erika berpikir cepat untuk mencari alasannya. "Aku baru menyukainya karena teman-teman kantorku yang setiap hari membicarakan dan membahas drama. Lagipula saat itu kan aku sedang bekerja di rumahmu, bukannya sedang liburan atau untuk bersantai."


Rey : "Hmm ...." Rey hanya menggumam singkat. Ia tahu kalau Erika hanya beralasan saja. Karena selama Erika bekerja di rumahnya, dirinya bukan menjadi seorang bos atau majikan yang banyak melarang dan memberi berbagai aturan hingga dia tidak bebas dan harus bekerja selama 24 jam.


Erika : "Kalau kamu sedang apa?" Tanya Erika padanya.


Rey : "Aku sedang meneleponmu." Jawab Rey polos.


Erika : "Maksudku, selain sedang meneleponku?"


Rey : "Sedang ... duduk? Aku tidak melakukan apa-apa selain sedang duduk sambil meneleponmu."


Erika : Grr! Erika sedikit merasa jengkel dengan jawaban Rey yang singkat dan polos. "Lalu sebelum meneleponku, kamu sedang apa?" Tanyanya lagi.


Rey : "Sebenarnya aku baru saja pulang dan aku langsung meneleponmu karena hari sudah malam dan aku takut kalau kamu terus menunggu telepon dariku."


Erika : "Kalian habis ngapain berduaan sampai begini malam baru pulang? Hmm, mencurigakan."


Rey : "Habis berkelana mencari cewek-cewek cantik di club malam untuk diajak kencan bareng."


Erika : "Huh! Bohong aja. Kayak aku gak tahu kamu dan kakakmu saja. Lagian kalau begitu mah, bisa sampai subuh kalian baru pulang."


Rey : "Ahahaha ... itu benar kami berdua habis berkelana, tetapi untuk mencari sate pinggir jalan yang enak."


Erika : "Ohh, kamu makan gituan? Kupikir kamu ga suka."


Rey : "Tidak, aku suka karena rasanya enak."


Erika : "Iya, aku juga suka. Jadi, kamu dan kakakmu sudah berbaikan kembali nih?"


Rey : "Bisa dikatakan seperti itu. Karena sebenarnya tadi itu kami bukannya sedang bertengkar, melainkan aku yang sedang mengambek padanya. Haha ... aku masih kekanak-kanakan bukan?"


Erika : "Tidak Rey. Itu wajar kalau kamu merasa kecewa. Aku dapat memahami perasaanmu itu."


Rey : "Ehmm ...." Rey kembali hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman saja. Sebenarnya saat ini Rey sudah merasa cukup lelah dan ingin bisa segera membaringkan tubuhnya untuk tidur. Tetapi tadi sore ia sudah terlanjur berjanji pada Erika untuk meneleponnya disaat malam. Rey lalu mengubah posisi duduknya menjadi berbaring di atas ranjangnya sambil menggunakan headsetnya untuk bertelepon dengan Erika.


Erika : "...." Erika sendiri jadi bingung untuk berkata apa lagi karena Rey yang kurang banyak bicara dan bertanya. Seperti dirinya sedang melakukan wawancara dengannya saja sehingga percakapan yang terjadi hanya satu arah dengan dirinya sendiri yang banyak bertanya.


Rey : "Erika, mengapa kamu hanya diam saja? Apa kamu sudah mengantuk?" Pertanyaan Rey itu membuat Erika semakin merasa jengkel dengannya. Padahal dirinya yang daritadi hanya diam saja. Tetapi Erika tidak mau ribut dengannya, apalagi ini pertama kalinya mereka bisa kembali berbicara seperti ini setelah beberapa waktu lalu mereka tidak saling berhubungan. Erika juga masih sangat merindukannya.


Erika : "Belum." Balasnya dengan singkat saja untuk membalas sikap diam Rey padanya.


Rey : "...." Rey terdiam lagi, sepertinya ia sudah tertidur.


Erika : "Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah mengantuk?" Tanya Erika pada akhirnya saat Rey tidak menjawabnya lagi.


Mendengar suara Erika itu, Rey pun terbangun dari tidurnya. Ia lalu menegakkan posisi tubuhnya agar menjadi posisi duduk dengan bersandar di ujung bagian kepala kasurnya. Karena ternyata berbaring di kasurnya yang empuk dan lembut membuatnya nyaman dan cepat tertidur. Apalagi kamar baru miliknya di apartemen kakaknya itu memang sangat nyaman seperti sebuah kamar suite di hotel bintang lima. Sehingga dirinya yang biasanya suka sulit tidur, sekarang sudah tidak lagi mengalami insomnia-nya.


Rey : "Tidak, aku juga belum." Jawabnya berbohong dan dengan segera ketika ia terbangun dari tidurnya. "Berceritalah padaku."


Erika : "Bercerita? Tentang apa?"


Rey : "Tentang dirimu. Kamu tahu, selama ini aku sangat merindukanmu. Tetapi aku takut ...."


Erika : "Apa yang kamu takuti? Apakah karena sikapku sewaktu di rumah sakit yang marah dan menolakmu?"


Rey : "Iya, aku takut kamu kembali bersedih dan tersakiti karena melihatku, orang yang telah menyakitimu. Erika, maaf- mm ... aku ..." Rey ingin mengucapkan maafnya lagi tetapi ia kembali teringat akan ucapan Erika pada waktu itu dan menjadi kebingungan sendiri.


Erika : "Tidak, jangan berpikir seperti itu. Saat itu aku memang sangat sedih dan hatiku juga terasa hancur berkeping-keping. Kupikir aku tidak akan sanggup lagi untuk melihat atau bersamamu. Tetapi ternyata aku salah. Justru aku semakin merasa tersiksa ketika aku harus berpisah denganmu dan tidak dapat melihatmu lagi. Rey, aku sungguh-sungguh tidak bisa kehilanganmu ...," Erika berkata dengan suara yang terisak.


"Aku akan meralat ucapanku waktu itu. Karena kamu telah menghancurkan hatiku menjadi berkeping-keping, jadi kamu harus bertanggung jawab untuk memperbaiki hatiku yang hancur ini. Dan hanya kamu seoranglah yang bisa menyembuhkan luka dihatiku yang telah kamu buat."


Rey : "Erika, maafkan aku. Aku pasti akan bertanggung jawab padamu dan aku akan melakukannya. Memperbaiki hatimu yang hancur dan menyembuhkan luka dihatimu akibat perbuatanku. Apakah kamu mengijinkanku untuk melakukannya?"


Erika : "Iya, Rey. Aku mengijinkanmu dan aku akan menunggumu."


Rey : "Terima kasih, Erika. Aku sangat mencintaimu."


Erika : "Aku juga sangat mencintaimu."


Rey : "Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."


Erika :  "Apa itu?"


Rey : "Apakah kamu suka mengamati tubuh pria dan menyukai pria yang bertubuh keren dan gagah?"


Erika : "Apa maksud pertanyaanmu itu? Apakah kamu pikir aku ... " Ups, Erika teringat akan omongannya di waktu itu saat Rey mendatanginya ke gedung kantornya tetapi ia tidak mengenalinya karena wajahnya yang ketutup helm. "KAMU ...! Apakah waktu itu kamu bisa mendengar semua obrolan kami?" Erika sampai menutupi mukanya pakai bantal merasa malu, padahal dia dan Rey tidak saling bertatap muka.


Rey : "Huahahaha ... jadi, apa kamu mengakui kalau bodiku ini keren dan gagah? dan apakah kamu mengaguminya?" Tanya Rey masih sambil tertawa.


Erika : " ... " wajahnya masih ia sembunyikan di bawah bantalnya dan wajahnya itu sudah sangat memerah karena malu.


Rey :  "Erika ~" panggil Rey dengan bersenandung. "Erika ...?" Panggilnya lagi saat Erika tidak juga menjawabnya. "Erika, sayang? Kamu baik-baik saja?" Tanya Rey mulai agak sedikit panik karena Erika tidak juga menjawabnya.


Erika : "Iya ... aku baik." Jawab Erika akhirnya karena suara Rey yang terdengar agak panik. Tapi dia menjawabnya dengan ketus.


Rey : "Kamu ngapain tadi? Membuatku bingung saja."


Erika : "Ada deh ... Btw, tadi kamu manggil aku apa?" Pertanyaan Erika ini merujuk ke panggilan 'sayang' yang tadi sempat Rey ucapkan saat memanggilnya.


Erika : "Argghhh ...!!" Erika sengaja berteriak dengan sangat kencang dan menempelkan mulutnya itu di speaker hpnya saat berteriak sehingga pasti akan membuat lawan bicaranya yang sedang meneleponnya kaget. Tetapi ia berteriak di bawah bantalnya jadi orang rumahnya tidak dapat mendengarnya.


Benar saja, Rey sampai langsung melepas headsetnya. Untung saja ia tidak menggunakan pengeras suara, kalau tidak mungkin kakaknya saat ini sudah masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek apa yang sedang terjadi. Rey mengelus dadanya karena jantungnya sempat serasa seperti melonjak keluar.


Rey : "Agh ... Erika ... aku ... jantungku ...." ucap Rey berpura-pura kesakitan dengan suara yang semakin pelan dan menghilang.


Erika : "Rey ...! Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" Erika mulai merasa panik dan ketakutan. Ia lalu terisak. "Rey, berbicaralah. Maafkan aku-"


Rey : "Aku baik-baik saja, Erika. Aku hanya ingin membalas mengerjaimu."


Erika : "Hiks ... Kamu jahat, itu ga lucu Rey. Kamu tidak tahu betapa panik dan takutnya aku tadi ..."


Rey : "Maaf, aku tak bermaksud membuatmu panik dan takut. Maafkan aku."


Erika : "Iya, aku tidak marah. Tapi kamu janji, jangan melakukan hal seperti itu lagi ya."


Rey : "Iya, aku janji tidak akan membuatmu panik dan takut lagi. Hari sudah malam, ayo kita sudahi dulu percakapan kita. Jangan bersedih lagi, dan tidur yang nyenyak ya."


Erika : "Iya, selamat malam Rey."


Rey : "Selamat malam Erika. Besok, apakah aku boleh menjemputmu pulang dari kantor?"


Erika : Erika langsung tersenyum dengan sumringah. Tetapi ia berusaha menahan dan menutupi rasa senangnya dan berpura-pura biasa saja ketika menjawabnya. "Iya ... Selamat malam, Rey."


Setelahnya Rey langsung tertidur dengan pulas. Zzz ....


***


Sore ini Rey kembali datang ke kantor Erika tetapi kali ini ia datang untuk menjemputnya, bukan hanya untuk menunggu dan melihatnya secara sembunyi dibalik helmnya. Rey juga kembali menjadi pusat perhatian para pria maupun wanita. Hal itu dikarenakan motor sport dan wajah tampannya.


Erika telah keluar dari kantornya, tetapi begitu ia melihat penampakan Rey yang sedang menjadi pusat perhatian dan juga ada banyak teman-temannya di sana yang sedang berdiri menunggu jemputan mereka, Erika menjadi keder. Ia lalu berbalik arah untuk berjalan kembali ke dalam gedung kantornya.


"Erika!" Teriak Rey memanggilnya karena melihat Erika yang malah berbalik arah dan seperti ingin menghindar darinya.


Erika pun terpaksa membalikkan badannya kembali ke arah Rey dan memaksakan senyumnya sehingga terlihat kikuk. Ia lalu berjalan dengan buru-buru menghampiri Rey karena banyak mata yang saat ini sedang memandanginya dan ia menjadi benar-benar malu dan kikuk.


"Rey ... " panggil Erika saat sudah berada didekatnya dengan senyum kikuk dan tampak aneh. Lalu sesaat Erika akan mengambil helm yang disodorkan Rey padanya, Erika menyempatkan tangannya untuk memukul bahu Rey dengan pelan.


"Aww ..." teriak Rey mengaduh pelan. "Mengapa aku dipukul?"


"Mengapa kamu tadi berteriak memanggil namaku?"


"Mengapa juga kamu berbalik seperti ingin menghindar dariku? Apakah kamu malu karena pulang naik motor denganku?"


"Ya iyalah, aku malu. Lihat tuh, orang-orang pada ngeliatin."


"Jadi aku membuatmu malu karena aku malu-maluin?"


"Ckk ... bukan malu-maluin yang itu."


"Iya, iya aku tahu. Ya sudah, cuek sajalah. Lagian aku memang sengaja berteriak memanggilmu biar orang-orang pada tahu kalau kamu milikku." Erika memelototinya dan Rey membalas dengan tersenyum nakal padanya. "Ayo, pakai helmmu dan pegangan yang kencang padaku kalau kamu tidak mau terhempas jatuh kepelukanku dengan sangat kencang."


Erika pun menurutinya walaupun wajahnya memberengut kesal dengan kecuekan Rey itu.


"Kita mau ke mana?" Tanya Erika saat ditengah perjalanan.


"Pulang ke rumahmu, kan. Atau kamu mau pulang ke rumahku?"


"Tau akh." Jawabnya dengan kesal. Dan Rey benar-benar hanya mengantarkan Erika pulang ke rumahnya. Erika lalu turun dari motor Rey.


"Besok siang kamu makan di kantormu, kan?" Tanya Rey.


"Iya."


"Kalau begitu, apa boleh aku datang untuk makan siang bersamamu? Aku akan membuatkanmu bekal makan siangmu. Mumpung aku masih belum bekerja dan masih ada waktu luang di saat siang."


"Uhmm, maaf Rey bukannya aku tidak mau tapi ..."


"Baiklah, aku mengerti dengan keberatanmu itu. Kamu pasti merasa malu makan denganku."


"Rey, itu benar aku merasa malu tapi bukan malu karena kamu jelek atau bertampang buruk tapi aku malu karena orang-orang sekantor akan memandangi kita karena wajah dan penampilanmu itu menarik perhatian mereka. Dan orang-orang itu mengenalku dan juga aku kenal."


"Tetap saja, kan. Bagimu aku memalukan." Erika merasa gemas dengan kemarahan pria yang sedang berdiri di depannya itu. Ia lalu sedikit berjinjit ke arah Rey yang sedang duduk diatas motornya dan mengecup bibirnya dengan tiba-tiba. Rey langsung terkejut karena kecupannya yang tiba-tiba itu.


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama saja malam ini?"


"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin kita makan siang berdua di gedung kantormu. Seperti pasangan normal lainnya, yang bisa makan siang bersama di kantor." Sebenarnya Rey ingin membuat agar orang-orang di kantor Erika menyadari bahwa Erika sudah memiliki pasangan sehingga tidak ada pria lain di kantornya yang berusaha untuk mendekati atau mengejarnya.


"Baiklah, baiklah. Tapi kamu tidak perlu membawakanku bekal. Kita makan di kafe yang ada di kantorku saja. Ok?"


Rey memberinya seulas senyuman dan mengangguk.


"Ohh ya satu lagi, bisakah kamu membawa mobilmu saja? Motormu terlalu menarik perhatian."


"Mobilku telah kujual."


"Ahh? Untuk membeli motormu yang keren ini?"


"Ceritanya panjang sekali. Lain kali akan aku ceritakan."


"Baiklah."


"Erika ... kemarilah sebentar" panggil Rey.


"Ya?"


Ketika wajah Erika sudah mendekat, Rey lalu membalas mengecup bibirnya. Kemudian ia langsung memakai helmnya dan menghidupkan mesin motornya untuk melaju pergi.


"Bye Erika."


***