
Tempat yang Rey tuju itu adalah gudang yang terletak di sebelah rumah tempat Erika pernah disekap pada penculikan sebelum ini. Tanpa ragu Rey memasuki gudang tersebut. Di dalam gudang itu terlihat Erika yang sedang dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang terikat pada sebuah kursi kayu. Di sana juga sudah ada Kabuto yang melihatnya dengan tatapannya yang terlihat rakus seperti orang kelaparan yang telah lama menanti makanannya dan sekarang sudah tak sabar ingin segera menyantapnya. Bibirnya menyeringai senang dan sangat lebar yang terlihat mengerikan dan juga menyebalkan. Selain itu juga ada beberapa anak buah Kabuto yang mendampinginya.
Saat Rey sudah berada di dalamnya, Kabuto bertepuk tangan dengan meriah dan tertawa dengan suara tawa yang membahana. Sehingga membuat Erika terbangun perlahan-lahan.
"Huahaha ... Luar biasa! Inilah pahlawan tampan kita yang telah kita tunggu-tunggu kedatangannya."
Mendengar itu, Erika yang baru bangun langsung mengangkat wajahnya yang sedang tertunduk karena silau dan menoleh ke arah Rey.
"Emm ... mmm ... " Erika ingin berteriak memanggil-manggil nama Rey, tetapi karena mulutnya disumpal jadi suara teriakannya tidak terdengar dengan jelas. Ia pun menghentak-hentakkan kakinya berusaha membawa tubuhnya yang sedang terikat di kursi bergerak ke arah Rey.
Rey pun segera menghampiri Erika.
"Kabuto! Apa yang kamu lakukan padanya? Lepaskan dia!" Rey lalu menarik sapu tangan yang menyumpal mulut Erika dan melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Rey ... Mengapa kamu bisa ada disini juga? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Erika begitu sumpalan mulutnya dibuka. Dia juga langsung memegang wajah Rey dan menanyakan keadaannya.
"Jangan mengkhawatirkanku. Seharusnya akulah yang bertanya padamu, apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-"
"Ckckck ... Apa-apaan ini Rey. Sungguh pertemuan yang mengharukan sekali antara sepasang kekasih yang saling mencintai tetapi harus berpisah." ucap Kabuto dari arah belakang Rey sambil memandang mereka dengan wajah sedih dan terharu yang dibuat-buat. Namun sedetik kemudian wajahnya itu langsung berubah menjadi wajah penuh kemarahan dan menatap tajam ke arah Rey. "Apakah aku sudah mengijinkanmu untuk melepaskannya? Hah?!" Membuat tubuh Erika tersentak kaget mendengarnya.
Rey menengok kearah Kabuto yang sedang berdiri dibelakangnya dan membalas tatapannya dengan menatap tajam juga kepadanya.
"Ikatan itu menyakitinya." jawab Rey tidak peduli dengan kemarahan Kabuto.
"Bagus! Jadi kamu tidak takut dan masih berani untuk melawanku?" Rey menahan tangan Kabuto yang sudah melayang ke sisinya dan akan memukul kepalanya. Rey lalu bangkit berdiri untuk berbicara secara berhadapan dengan Kabuto.
"Aku tidak pernah takut kepada siapapun juga, apalagi denganmu yang hanya seorang pengecut dan hanya berani melawan orang yang lemah saja!"
"Hebat kamu! Mulutmu semakin kotor dan berani saja! Jadi apa kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan tadi saat ditelepon? Memohon padaku ...." gumamnya dengan geram dan dipenuhi kemarahan.
Rey teringat akan hal itu dan ia langsung menoleh ke arah Erika.
"Rey .... " Erika memanggilnya dengan lembut saat Rey menolehkan wajahnya kearahnya. Rey lalu kembali mendekati Erika dan duduk berjongkok disampingnya. Rey memejamkan matanya sebentar, kemudian ia berkata pada Erika, "Maafkan aku ...." Bukk. Rey terpaksa memukul pundak Erika dengan agak sedikit kuat untuk membuatnya pingsan lagi. "R-Rey ...." ucap Erika lemah sebelum ia jatuh pingsan.
Apa yang Rey lakukan cukup membuat Kabuto dan anak buahnya kebingungan.
"Hah?! Apa-apaan yang kamu lakukan itu?" tanya Kabuto keheranan.
"Jangan mempedulikannya, kamu hanya perlu mengurusiku! Sekarang, katakan apa maumu!" tanya Rey yang sudah berdiri lagi dan menatap dengan tatapan marah pada Kabuto. Rey benar-benar harus berusaha menahan amarahnya hingga urat-urat nadi di wajah dan lehernya menonjol.
Sebenarnya Rey sengaja membuat Erika pingsan karena ia tahu kalau Kabuto akan membuatnya babak belur dan menghabisinya. Sehingga Rey tidak mau wanita itu melihat dirinya yang sedang dipukuli dan kesakitan. Selain itu, Rey juga harus melakukan sesuatu yang mungkin akan menghancurkan harga dirinya untuk memohon pada pria jahanam yang ada didepannya itu.
Rey pun mengerti dan ia segera melakukannya. Ia berdiri di depan Kabuto dan menekuk lututnya untuk berada dalam posisi berlutut dihadapannya.
"Apa cuma ini yang bisa kamu lakukan untuk memohon padaku? Kamu tahu, selama ini dirimu sungguh angkuh dan besar kepala. Jangankan menegur, memandang kami saja tidak. Kamu bahkan tidak pernah menganggap kami para seniormu."
"Jadi hanya karena itu alasannya kamu menculiknya dan membuatku melakukan hal ini kepadamu? Berlutut dan memohon padamu hanya agar aku merendahkan diriku didepanmu?"
"Hahaha ..., " Saat ini Kabuto sedang tertawa tetapi sesaat kemudian ia langsung melotot dengan marah. "Tentu saja tidak! Aku juga menyimpan dendam padamu dan dendamku itu amatlah besar. Ini hanya sebagian kecil saja dari rasa kekesalanku kepadamu. Bahkan pertunjukkan kita yang sebenarnya masih belum dimulai." Kabuto mengangkat tangannya untuk memberi kode sebagai perintah bagi anak buahnya. Lalu anak buahnya yang sudah berdiri mengelilingi Rey dengan masing-masing orang memegangi tongkat pemukul, mulai memukulinya.
Baru mendapat tiga pukulan saja nafas Rey sudah pendek-pendek dan cepat. Dan ia juga sudah tampak kelelahan karena rasa sakit ditubuhnya. Tetapi dirinya masih kuat untuk bertahan dalam posisinya dengan tidak bergerak ataupun terjatuh. Kabuto pun mengangkat tangannya sebagai kode untuk berhenti. Lalu anak buahnya pun berhenti memukulinya. Rey lalu terbatuk. Kabuto pun menertawakan dirinya.
"Ckck ... tampangmu itu sungguh menyedihkan. Aku hampir melupakannya kalau kamu sedang sekarat karena penyakitmu itu. Baiklah, untuk sekarang cukup segini saja atau kalau tidak nantinya kita tidak bisa menikmati pertunjukkan yang lebih seru dan menegangkan." Lalu Kabuto kembali memberi aba-aba pada anak buahnya untuk membawa Erika pergi.
"Mau kamu apakan dia?" tanya Rey padanya ketika Rey melihat mereka akan membawa tubuh Erika.
"Aku akan membawanya ke tempat yang aman, sesuai janjiku. Kamu tunggulah di sini."
"Tidak, serahkan dia padaku. Bukankah aku sudah menepati janjiku dengan datang dan memohon kepadamu."
"Tapi aku tidak pernah berjanji untuk membebaskanmu setelah kamu datang dan memohon padaku."
"Aku tahu dan aku juga tidak mempedulikan kebebasanku. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia aman. Jadi biarkan aku sendiri yang melakukanya dan menjamin dia mendapatkan hal itu dariku."
Kabuto pun mengalah dan membiarkan Rey membawa Erika pulang ke rumahnya. Tetapi dengan syarat Rey harus dikawal oleh anak buahnya agar Rey tidak berbuat yang macam-macam dan mau kembali menyerahkan dirinya kepadanya.
Rey dan Erika beserta anak buah Kabuto telah sampai di rumahnya. Ia lalu membaringkan Erika di kamar tidurnya dan mengecup dahinya dengan lembut dan cepat. Lalu meninggalkan Erika sendirian di rumahnya dan kembali menyerahkan dirinya pada anak buah Kabuto untuk dibawa kembali ke gudang.
Alasan Rey membawanya ke rumahnya adalah karena ia ingin agar saat Erika sadar dirinya tidak panik dan ketakutan karena Erika telah sangat mengenal rumahnya dan sudah terbiasa tinggal di sana jadi ia tahu bahwa dirinya aman. Selain itu kunci rumahnya juga menggunakan kunci digital jadi orang tidak bisa sembarangan masuk ke rumahnya terutama bagi Kabuto dan para anak buahnya. Dan masih ada satu hal lagi. Rey tadi telah mengeset sebuah kode berupa pesan di hp nya. Erika pasti bisa menemukan hp nya dan membaca pesannya tersebut. Sehingga ia bisa mendapatkan bantuan untuk menolong dirinya.
***
Kei telah tiba kembali di depan rumah Rey. Ini sudah kedua kalinya ia mendatangi rumah Rey di hari ini. Ia memencet bel rumah Rey, tidak ada jawaban. Kemudian ia memencet belnya lagi beberapa kali tetapi tidak ada jawaban juga. Mobil pria itu yang biasanya parkir di halaman depan rumahnya juga tak terlihat. Kei bertanya bingung ke mana pria itu sedang pergi, apa mungkin benar bahwa pria itu membawa Erika pergi lagi. Tetapi kemana? Tubuh pria itu saja dalam keadaan lemah, sepertinya tidak mungkin ia bisa membawa Erika untuk kabur lagi.
Kemudian hp Kei berdering. Itu adalah panggilan dari ayah Erika yang meneleponnya untuk memberitahu bahwa penculik Erika tadi meneleponnya dan mengakui bahwa dia adalah Reyhan Wiriawan. Ayah Erika juga mengatakan bahwa pria itu ingin Kei yang datang menyelamatkan Erika. Dia lalu memberi tahunya lokasi tempat Erika sedang disekap. Penculik itu juga berpesan bahwa Kei harus datang sendirian dan tidak boleh membawa senjata atau perlengkapan apapun yang dapat dia gunakan untuk melindungi dirinya.
Di dalam kamar Rey, Erika sudah terbangun. Dari jendela kamar, ia dapat melihat sosok Kei yang sedang berjalan pergi dari rumah Rey. Erika berusaha berteriak memanggil-manggilnya namun Kei tidak mendengarnya. Erika lalu berusaha mengetok-ngetokkan jendela kamar Rey untuk menarik perhatian Kei, tetapi tetap saja tidak ada gunanya dan Kei telah pergi semakin jauh dengan mengendarai mobilnya.
Erika mulai menangis kencang dan merasa sangat ketakutan karena mendapati dirinya hanya seorang diri di rumah Rey. Apa yang terjadi dengan Rey saat ini? Mengapa hanya dirinya seorang saja yang saat ini berada di rumah Rey? Tidak mungkin kan kalau Rey yang sedang menculiknya saat ini. Jelas-jelas ia ingat kalau Rey datang untuk menyelamatkannya, walaupun sedetik kemudian ia agak sedikit meragukannya ketika mengingat kalau Rey telah membuatnya pingsan dengan memukul pundaknya saat itu. Tetapi Erika kembali menepis keraguannya dan merasa yakin kalau Rey bukan orang yang seperti itu. Dia tidak mungkin menyuliknya lalu membiarkannya yang sedang ia culik untuk berada di rumahnya seorang diri secara leluasa sepert ini.
Atau jangan-jangan ini hanya permainan si penculiknya yang sesungguhnya? Bahwa penculik itu sengaja menculiknya hanya untuk menjadikannya sebagai umpan saja agar Rey terpancing dan mendatangi mereka sehingga mereka bisa menangkap Rey. Dan Rey pun terpancing dengan datang menyelamatkannya dan membawanya ke tempat yang aman yaitu di rumahnya supaya dirinya merasa aman dan juga aman dari para penculik tersebut. Sepertinya memang benar seperti itu. Apakah itu berarti saat ini Rey yang sedang dalam keadaan berbahaya? Erika mulai panik dan ketakutan.
***