Happiness For You

Happiness For You
14 Kau Adalah Milikku



Melihat Erika menangis, Rey langsung menatap dengan curiga dua orang sosok asing yang ada di dalam rumahnya. Suasana kemudian terasa mencekam karena udara yang mendingin.


"Bb..Bos.." Erika yang ketakutan melihat kehadiran bos nya dengan tatapan dingin yang mengerikan, segera menghentikan tangisannya dan mengusap airmatanya.


"Siapa mereka?" tanya Rey, masih dengan tatapan tajamnya kepada mereka.


"Erika, siapa pria ini? Mengapa kamu memanggilnya Bos?!" Kei pun ikut bertanya. Ia merasa aneh sekaligus marah saat mendengar Erika memanggil Rey dengan sebutan Bos. Kei turut membalas menatap Rey dengan tajam dan penuh aura permusuhan.


Namun Erika tidak mempedulikan pertanyaan Kei, dia hanya merespon pertanyaan bosnya.


"Mereka temanku, Bos. Maafkan kelancanganku membawa mereka masuk ke dalam rumahmu."


"Kalau begitu, kamu tahu kan apa yang seharusnya kamu perbuat terhadap teman-temanmu itu." Rey berjalan menuju sofa untuk duduk di sana.


"Erika, jawab aku! Siapa dia?" Kei kembali bertanya dengan kesal sambil menunjuk Rey dengan jari telunjuknya.


"Dia bosku." Dengan setengah terpaksa, Erika pun menjawabnya. "Kak Kei, kumohon..pergilah dari sini.."


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi kamu juga harus ikut pulang denganku.." Kei menarik lengan Erika untuk membawanya ikut serta pergi bersamanya.


"Tidak, aku tidak mau.." Erika menghentakkan tangannya hingga pegangan tangan Kei terlepas dari lengannya.


"Mengapa? Tidakkah kamu merindukan orangtuamu yang sangat merindukan dan mengkhawatirkan dirimu setiap harinya?!"


"Tentu saja aku merindukan mereka, tapi untuk sekarang ini aku belum mau pulang. Aku perlu waktu untuk menenangkan diriku."


"Apa maksudmu menenangkan diri? Apakah karena diriku?" Erika hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Kamu membutuhkan waktu bukan untuk menenangkan diri, melainkan karena kamu ingin menghindar dariku, kan? Sepertinya kamu benar-benar marah padaku.." Kei berkata lirih dan sedih.


Melihat ekspresi sedih yang terpampang di wajah Kei, Erika merasa bersalah. "Bukan begitu, aku hanya.."


Seketika ekspresi wajah Kei yang sedih berubah. Dengan tatapan nanar ia berkata, "Tapi walau begitu, aku tidak akan membiarkanmu tetap berada disini. Walaupun kamu marah hingga membenciku, aku harus membawamu pulang sekarang juga. Ayo, ikut aku.." Kei kembali menarik lengan Erika untuk membawanya pulang dengan paksa.


"Aww, sakit. Lepaskan aku.." Erika meringis kesakitan dan meronta minta dilepaskan.


"Lepaskan dia." Rey menggapai lengan Erika yang satunya lagi dan berusaha menariknya. Keduanya saling menarik lengan Erika dengan kuat agar Erika dapat berada disisi salah satu dari mereka. Kini, kedua pria yang sama-sama bertubuh tinggi dan tegap dengan wajah yang menawan, saling berdiri berhadap-hadapan dengan tatapan yang sama-sama tajam dan mendalam.


Sesaat ketika menatap wajah Rey, Kei merasakan suatu sensasi perasaan aneh didalam hatinya. Mata yang begitu besar, bulat dan sangat indah. Namun mata itu tampak sendu walaupun tatapannya saat ini memancarkan aura kegelapan yang menakutkan. Membuat Kei bertanya-tanya didalam hatinya siapa pria ini. Mengapa ia merasa tak asing dengan mata itu dan merasakan penuh kesedihan seperti ini. Lalu, bayangan wajah adiknya saat masih kecil dulu pun muncul.


"Aww.." Jeritan kesakitan Erika menyadarkan Kei dari lamunannya. Mereka berdua lalu melepaskan genggaman mereka dan tersadar bahwa mereka telah menyakiti Erika dengan cengkraman mereka yang sangat kuat dan kencang hingga membuat kedua pergelangan tangan Erika memerah.


"Maaf sayang, apakah sakit?" Kei mengusap-usap pergelangan tangan Erika dengan pelan dan lembut. Erika hanya menggeleng sambil melepaskan lengannya dari genggaman Kei. Berada begitu dekat ditengah-tengah kedua pria itu membuat Erika nampak canggung. Erika dapat merasakan dengan jelas aura yang dipancarkan masing-masing kedua pria itu karena begitu kuat dan sangat berlawanan. Yang satu memiliki aura penuh kewibawaan dan yang satunya lagi dipenuhi aura yang menakutkan. Begitu juga keduanya, mereka menyadari kenyataan itu.


Dengan memberanikan diri, Erika berjalan mundur untuk menjauh dari mereka dan memanggil Kei untuk berkata, "Kak Kei, maaf.. mari kita putus.."


Mendengar ucapan Erika yang mengajak putus, Kei merasa bagaikan tersambar petir. Perasaan didalam hatinya bercampur aduk antara rasa sedih, marah dan kecewa.


Memanfaatkan keadaan Kei yang sedang terkejut, dengan sigap Rey menarik Erika kearah belakang tubuhnya dan dengan sinis ia berkata, "Silahkan kamu pergi dari rumahku sekarang juga sebelum batas toleransiku habis."


Emosi dan amarah Kei semakin meletup. Dengan nafas yang memburu dan cepat, dia mengepalkan tangannya dan mengayunkannya kewajah Rey.


"Arrghhh.." Erika berteriak histeris. Beruntung, Rey yang cekatan berhasil menahan pukulan itu. Kei dengan penuh amarah menarik tangannya dan berusaha untuk melayangkan kembali pukulan kepada Rey.


"Hentikan..!" Disaat situasi semakin memanas, Erika berusaha menahan lengan Kei dan melerai keduanya agar tidak terjadi perkelahian diantara mereka.


Natalie pun datang mendekat untuk memegangi tubuh Kei dan menenangkannya. Namun tenaga Kei begitu kuat dan besar, ia pun menampik Natalie hingga tubuhnya terhempas. Kei tidak memedulikan Natalie, melainkan dia menarik tubuh Erika dan mencengkram bahunya dengan kencang.


Tanaka dan dua orang pria lainnya yang berbadan besar masuk ke dalam rumah dan berjalan mendekati Erika.


Rey hanya berdiri terdiam saat kedua pengawal dan asisten pribadi Kei datang dan menyeret Erika yang meronta-ronta.


Kei menatap Rey dan berjalan menghampirinya. "Kau pikir siapa dirimu hingga aku harus mendengarkanmu dan harus takut padamu hanya karena ini rumahmu? Apa kau tak tahu siapa diriku?" Kei bertanya dengan arogan.


"Aku tak tahu." Rey menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap memperhatikan Erika yang sedang meronta-ronta.


"Tapi satu hal yang kutahu tentangmu, bahwa kamu adalah seorang pria sombong yang hanya bisa menyelesaikan suatu masalah dengan kekerasan dan kekuasaanmu. Bahkan pada seorang wanita lemah yang adalah kekasihmu sendiri." Sesaat sebelum mengakhiri ucapannya, Rey mengalihkan pandangannya pada Kei dan menatap tajam kepadanya. Dia lalu menguraikan senyum sinisnya.


"Hati-hati dengan ucapanmu. Jika kamu merasa dirugikan karena kekacauan yang kami buat, maka kamu bisa pergi mencariku untuk meminta ganti rugi. Aku pasti akan membayarnya berapapun yang kau mau. Termasuk membayar segala kebutuhan Erika selama dia tinggal dirumahmu ini." Kei lalu berbalik badan dan pergi meninggalkannya.


Kemudian Kei berbalik lagi dan berkata, "Oh iya aku lupa memberitahumu. Dengarkan baik-baik, margaku adalah Takahiro. Dan namaku adalah Kei Takahiro. Datanglah ke kantorku untuk meminta kompensasimu."


Rey tersentak mendengarnya. Takahiro. Nama yang selama ini selalu diingatnya dan yang sangat dibencinya. Amarah dan rasa dendam berkecamuk di dalam hatinya.


"Takahiro? Sepertinya kamu sangat bangga dengan nama keluargamu dan kekayaan yang kamu miliki itu. Apa kamu pikir dengan kekayaan yang kamu miliki, kamu bisa menghina dan merendahkan orang lain seenaknya? Pantas saja kekasihmu kabur dan lebih rela untuk menjadi pelayan pribadiku! Bahkan mungkin ibu dan adikmu juga tak sudi menjadi bagian dari keluargamu yang angkuh itu." Selesai berbicara, Rey lalu berjalan pergi meninggalkan Kei untuk menghampiri Erika.


Deg!


Jantung Kei berdetak kencang mendengar ibu dan adiknya disebut dari mulut pria itu. Hingga Kei merasa dadanya sesak dan perih.


Rey menarik kedua pengawal yang menarik Erika dengan paksa dan memukuli mereka. Setelah itu, dia menggapai tubuh Erika dan membalikkan tubuhnya menghadapnya dan berkata, "Erika, aku tidak mengijinkanmu pergi dari sini. Mulai sekarang, kamu adalah milikku." Tanpa aba-aba, selesai berbicara Rey langsung mengecup bibir Erika.


Mendapat perlakuan secara tiba-tiba seperti itu, Erika terkesiap. Dia memukul-mukul bahu Rey dan meronta meminta dilepaskan. Namun Rey menahan tubuhnya dengan kencang dan semakin memperdalam memperdalam ciumannya.


"Brengsekk..!!" Kei segera menarik tubuh Rey dan menonjok wajahnya dengan kencang hingga tubuh Rey terhuyung dan hampir jatuh. Tonjokkan itu adalah ekspresi kemarahannya atas kelancangan Rey mencium kekasihnya di depan matanya.


Rey meringis kesakitan, tetapi dia masih bisa tersenyum sinis sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Kekasihmu?! Hahh.. Apa kamu lupa kalau dia sudah mengajakmu putus tadi."


Mendengar ucapannya itu, kemarahan Kei semakin bertambah. Dia kembali melayangkan sebuah tonjokan di wajah Rey.


"Arghh.." Erika berteriak kaget dan ketakutan. Kali ini pukulan yang Rey berikan lebih kencang hingga hidung Rey mengeluarkan darah segar berwarna merah.


"Bos!" Erika berteriak panik memanggil Rey dan memegangi tubuhnya yang terdorong dan menahannya agar tidak jatuh. Rey mengelap darah yang menetes keluar dari hidungnya dengan telapak tangannya. Rey merasakan pusing yang luar biasa, tubuhnya melemas dan ia pun tumbang.


"Bos..!" Erika kembali memanggilnya dengan panik dan penuh kecemasan. Erika lalu aduduk dan menaikkan kepala Rey dipangkuannya. Erika membantu mengusap darah yang terus mengalir keluar dari hidung Rey. Tetapi Rey menampik tangannya dan mengusap darahnya sendiri.


Melihat wajah Erika yang cemas dan ketakutan, Rey berusaha menenangkannya. Dengan lirih Rey berucap, "Aku tidak apa-apa.." Dia lalu memejamkan mata untuk menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan.


Melihat situasi semakin memanas hingga pemukulan yang Kei lakukan, Natalie menjadi takut dan khawatir. Ia segera menenangkan Kei dan mengajaknya pergi. "Kei, sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Kamu tidak mau kan masalah ini semakin rumit hingga dibawa ke pengadilan. Kamu bisa diuntut olehnya dan itu pasti akan memberikan dampak yang tidak baik bagimu dan bagi masa depanmu."


Kei terdiam. Ia menyadari apa yang Natalie katakan benar. Tetapi ia juga tidak rela pergi tanpa membawa kekasihnya ikut serta.


"Tanaka, bantu aku bawa bosmu pergi." Natalie dan Tanaka berjalan mengiringi Kei agar pergi meninggalkan rumah Rey serta meninggalkan Erika dan Rey yang sedang terluka.


Kei berjalan dengan lesu, sambil terus memandangi Erika yang sedang sibuk merawat Rey. Sedangkan Rey, walaupun tubuhnya sudah lemah dengan wajah pucat terus menatap Kei penuh kebencian dan dendam. Kei menyadari hal ini, hingga dia mengalihkan pandangannya kepada Rey dan sontak dia kembali merasa debaran jantungnya meningkat. Rasa sakit dan sedih kembali ia rasakan tanpa ia tahu apa penyebabnya mengapa ia memiliki perasaan seperti ini disaat melihat pria tersebut.


Setelah rombongan itu pergi, Rey tak sadarkan diri. Erika menjadi panik dan bingung, ia lalu segera menelepon anak buah Rey untuk meminta bantuan.


***