Happiness For You

Happiness For You
24 Berkunjung ke perkebunan



Mereka akhirnya melakukan perjalanan ke Bandung. Erika juga ikut ke Bandung bersama mereka. Saat hari sudah menjelang siang, mereka akhirnya sampai. Agenda mereka pada hari pertama di sini adalah datang mengunjungi paman Rey di perkebunan.


Sebenarnya Paman Rey dan keluarganya tinggal di perkotaan. Tetapi Rey telah menelepon pamannya dan memberitahukan kalau ia akan datang ke Bandung dan ingin mengunjungi pamannya di perkebunan yang berada di wilayah pedesaan. Perkebunan itu adalah milik keluarga ibu dan pamannya. Tetapi sekarang kebun itu hanya dikelola sendiri oleh pamannya.


Erika melihat Rey yang duduk disampingnya masih dalam keadaan tertidur. Mereka pun menunggunya hingga bangun karena mereka tidak berani membangunkannya.


"Tumben sekali Bos tidurnya lama dan tidak terbangun saat kita sudah sampai." ucap Sato heran.


"Mungkin ia sangat kelelahan." jawab Ryo.


Setelah satu jam menunggu, Erika pun mengecek keadaan Rey dan mencoba membangunkannya.


"Rey.." panggil Erika pelan untuk membangunkannya. Tetapi Rey tidak bangun.


"Rey.." panggilnya lagi. Setelah beberapa kali Erika memanggilnya tetapi Rey tetap tidak bangun juga, Erika menjadi panik. Ia segera memanggil Ryo dan Sato untuk meminta bantuan mereka.


"Bos kalian tidak bangun juga walaupun aku sudah mencoba memanggil dan menggoyangkan tubuhnya berkali-kali. Aku takut, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya."


"Bos.."


"Bos..." panggil mereka bergantian.


"Ryo dan Sato, cepat naik ke mobil. Kurasa kita harus segera membawanya ke rumah sakit.." Teriak Erika dengan panik.


"Jangann.." seseorang menarik tangan Erika. "Aku baik-baik saja.." ucap Rey dengan suara lemah dan masih dengan mata yang terpejam. Rey akhirnya terbangun. Mungkin itu karena kegaduhan yang Erika perbuat.


"Ada apa Rey? Apakah badanmu terasa tak enak?" tanya Erika dengan perhatian.


Rey menggeleng. "Aku hanya sedikit kelelahan karena kurang tidur beberapa hari ini." jawab Rey berusaha membuka matanya yang masih terasa berat.


"Baiklah, kalau begitu kamu tidur lagi ya.. Maaf telah membuat kegaduhan."


Rey mengangguk. "Apakah kita sudah sampai di rumah pamanku?" tanyanya dengan mata yang sudah membuka lebar.


"Iya, tetapi kita tidak tahu yang mana tepatnya rumah pamanmu. Jadi kita berhenti dan menunggu dulu di sini."


"Rumah pamanku adalah yang bercat abu-abu. Kalian pergilah dulu ke sana, nanti aku akan menyusul kalian. Aku perlu merapihkan rambut dan pakaianku."


"Baiklah. Ayo.." jawab Erika dan mengajak mereka pergi.


Setelah mereka beranjak pergi, Rey mengeluarkan sebuah wadah berukuran kecil dari tasnya. Wadah itu berisi obat-obatan. Dia mengambil beberapa buah pil obat dan meminumnya. Lalu ia melihat ke kaca untuk memastikan kalau wajahnya sudah tampak lebih segar sambil merapihkan rambut dan bajunya. Kemudian ia turun dari mobil dan menyusul mereka.


Saat mereka tiba, terlihat paman sudah berdiri di depan rumahnya untuk menyambut tamunya yang datang.


"Paman.." Sapa Rey yang diikuti oleh mereka.


"Rey.. Selamat datang Rey.. Selamat datang juga bagi kalian." Balas Paman sambil juga menyambut mereka.


Rey lalu memperkenalkan Erika serta kedua anak buahnya sebagai temannya pada pamannya.


"Ayo silahkan masuk. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian." Ajak Paman.


"Baik Paman.."


Paman Rey bernama Aldi. Paman memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Alisha yang adalah ibu kandung dari Rey dan Kei. Mereka hanya dua bersaudara. Keluarga mereka tinggal di pedesaan dan memiliki perkebunan yang merupakan sumber kehidupan bagi mereka.


Alisha bertemu dengan ayah Rey saat ayahnya yang adalah orang Jepang sedang mengunjungi kota Bandung untuk urusan bisnisnya yang berhubungan dengan pariwisata dan perhotelan. Perusahaan milik keluarga ayah Rey akan mengembangkan bisnis perhotelan mereka di sana.


Setelah ibu Rey meninggal, Rey dirawat dan dibesarkan oleh pamannya dan tinggal di perkebunan ini. Akan tetapi karena istri dan anak pamannya lebih suka tinggal di perkotaan dan tidak begitu menyukai keberadaan Rey, jadi pamannya lebih sering meninggalkannya untuk kembali ke kota. Dan Rey tetap tinggal di perkebunan dengan ditemani oleh beberapa pelayan dan pekerja kebun. Selain itu, Rey terkadang tinggal di villa milik mendiang ibunya yang terletak di daerah sekitar puncak pegunungan.


Rey dan teman-temannya masuk ke dalam rumah dan makan siang bersama dengan paman sambil berbincang-bincang.


"Paman, apakah Tante Monica dan Marvin sedang berada di kota?" tanya Rey.


Tante Monica adalah istri dari paman Aldi dan Marvin adalah anak lelakinya. Marvin adalah satu-satunya sepupu yang Rey punya. Mereka memiliki usia yang seumuran hanya terpaut sekitar satu tahun dengan usia Rey yang lebih muda. Tetapi mereka tidak pernah akur dan sering bertengkar. Karena sikap Rey yang suka menyendiri dan dingin. Sedangkan Marvin adalah seorang anak yang ceria dan aktif sehingga lebih menyukai keramaian.


"Iya benar. Kamu tahu kan dari dulu mereka memang tidak suka tinggal di sini. Mereka lebih suka tinggal di perkotaan yang ramai dan hiruk pikuk. Berlainan denganku yang sudah terbiasa tinggal di perkebunan dari kecil sehingga lebih senang berada di sini. Tetapi paman terpaksa harus memilih untuk tinggal di perkotaan dan ikut bersama mereka." jawab paman dengan raut wajah yang dibuat nampak sedih dan


sedikit menderita.


"Hmm.. tapi sepertinya paman terlihat berbahagia dan menikmati kehidupan paman bersama keluarga paman di kota."


"Haha.. Apakah terlihat seperti itu? Padahal aku sudah berusaha menunjukkan wajah sedihku tadi." Paman kembali tertawa dengan gembira. Erika, Ryo dan Sato pun ikut tertawa mendengarnya.


Ternyata paman Rey sungguh berbeda dengan Rey. Pamannya orang yang terlihat santai dan suka membuat lelucon. Tidak seperti Rey yang selalu dingin dan berwajah serius. Ia bahkan tidak ikut tertawa bersama mereka. Dia hanya menggeleng-geleng dengan wajah yang tanpa senyum sedikitpun. Membuat Erika yang daritadi mengamatinya merasa kesal sendiri. Apakah pria dingin ini tidak bisa terlihat lebih santai dan menikmati hiburan yang ada.


Rey tahu keluarga pamannya yaitu istri dan anaknya tidak pernah menyukainya dan tidak menerima kehadirannya. Itulah mengapa saat ia sudah mencapai usia dewasa dan sudah mampu untuk hidup mandiri, Rey pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan menghidupi dirinya sendiri.


Setelah mereka selesai menyantap makan siang mereka, paman mengajak mereka berkeliling di area perkebunan. Ternyata seluruh tanah dan rumah yang ada di dalam pekarangan itu adalah milik keluarga ibu Rey dan pamannya. Mereka juga baru tahu kalau bangunan berbentuk rumah lainnya adalah gudang-gudang tempat penyimpanan hasil panen dan berbagai perlengkapan kebun.


Mereka lalu pergi ke area lahan perkebunan. Di sana ada berbagai banyak sayur dan buah-buahan yang sudah siap dipanen dan boleh mereka petik sesukanya. Rey sedang duduk di perkarangan rumah sambil mengamati mereka dari kejauhan. Erika dan kedua anak buahnya terlihat tertawa dengan gembira sambil memetik buah-buahan serta sayuran yang sudah siap dipanen. Paman lalu berjalan ke arahnya dan duduk disebelahnya.


"Apa kamu dalam keadaan baik? Sepertinya kamu terlihat kurusan dan sedikit pucat."


"Iya paman. Aku dalam keadaan baik."


"Bagaimana dengan paman?"


"Paman juga baik."


Mereka lalu saling diam sambil mengamati teman-teman yang sedang asik memetik di kebun.


"Erika mirip seperti ibumu saat kecil dulu. Keduanya memiliki sebuah senyuman yang manis dan selalu terlihat ceria. Sudah berapa lama kalian saling kenal?"


"Rey..." teriak Erika sambil melambai-lambaikan tangannya. "Lihat, sayur dan buah yang sudah kupetik." Erika memamerkan isi keranjangnya yang dipenuhi sayur dan buah stroberi. Kemudian ia pergi untuk melanjutkan kegiatannya. Sambil jalan Erika mengambil satu buah stroberi dari keranjangnya dan memakannya. Ia terlihat sangat senang dan menikmati rasa buah stroberi yang manis dan lembut itu.


"Belum lama." jawab Rey singkat menjawab pertanyaan paman tadi sebelum Erika memanggilnya.


"Dia benar-benar persis sama seperti ibumu. Ibumu juga sangat menyukai buah stroberi. Ketika masa panen, ibumu akan ikut membantu tetapi ia hanya akan memetik buah stroberi. Dan ia akan sambil memakan buah-buah stroberi itu." Tanpa sadar Rey juga ikut menyunggingkan bibirnya, tersenyum.


"Dia gadis yang baik. Paman senang disisimu ada seseorang yang seperti Erika yang menyayangi dan peduli padamu."


Rey kembali terdiam sambil terus memandangi Erika. Ekspresi diwajahnya begitu kompleks sehingga membuat paman yang melihatnya merasa bingung dan tak mengerti dengan apa yang sedang ia pikirkan.


"Rey.." panggil paman. "Ada apa?" tanya paman dengan perhatian.


"Tidak ada apa-apa paman."


"Tetapi daritadi aku perhatikan kamu terlihat gundah, seperti ada sesuatu hal rumit didalam pikiranmu. Katakan pada paman. Mungkin paman bisa membantumu."


"Paman, apakah selama ini paman pernah melakukan kontak dengan keluarga Takahiro?"


"Paman pernah mengirimimu ayahmu sebuah surat yang memberitahukan bahwa ibumu telah tiada."


Rey menatap pamannya dengan mata yang menggelap lalu lama kelamaan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Untuk apa paman memberitahukannya kepada orang itu?"


"Rey, bagaimanapun dia adalah ayahmu. Berbicaralah yang sopan tentangnya dan jangan menyebutnya dengan kasar seperti itu." Paman memarahi Rey.


"Seumur hidupku aku tidak akan pernah menganggap ia seperti itu. Tidak akan pernah."


"Tapi tanpanya kamu tidak akan pernah terlahir di dunia ini."


"Maka itu akan lebih baik bagiku. Tak pernah dilahirkan dan tak perlu merasakan penderitaan yang harus aku dan ibuku alami."


Paman mengangkat tangannya dan ingin menamparnya. Tetapi paman menahan tamparannya itu di udara.


"Rey, paman paham akan sakit hati dan betapa menderitanya kamu." Paman memegang pundak Rey dengan tangannya yang menggantung diudara. "Tetapi kita harus menghargai dan mensyukuri kehidupan yang telah diberikan ini. Apa kamu tahu bila ibumu mendengar ucapanmu ini maka ia pasti akan sangat merasa sedih dan bersalah. Bagaimana pun kamu adalah buah hatinya."


"Dan mengenai ayahmu, ayahmu berhak mendengar dan mengetahui kabar kepergian ibumu. Karena bagaimanapun paman percaya ayahmu sangat menyayangi dan mencintai ibumu hingga akhir hayatnya. Apa yang terjadi pada mereka hanyalah sebuah kesalahpahaman."


"Lalu bagaimana dengan dia? Apa paman juga pernah menghubunginya?"


"Dia siapa maksudmu?"


"Kakakku.."


"Kei Takahiro? Tidak pernah. Tapi ia pernah mendatangi rumahku di kota saat aku sedang tidak ada. Ia bertemu dengan istriku, tetapi istriku tidak mau meladeninya dan segera mengusirnya pergi."


"Apa yang ia lakukan di sana?"


"Apalagi? Tentu saja mencari adiknya, keluarganya satu-satunya yang masih ia miliki."


Paman kembali mendapati tatapan Rey yang berubah kelam. Dia seperti masih belum bisa melupakan perlakuan buruk kakeknya yang membuatnya sangat membenci seluruh anggota keluarga kakeknya, bahkan ayah dan kakaknya sendiri.


"Rey, apakah kamu masih tidak bisa memaafkan mendiang kakekmu dan membenci mereka termasuk kakakmu sendiri?" Seperti biasa, Rey tidak menjawab.


Paman kembali berbicara,


"Itu semua sudah masa lalu. Lupakan benci dan dendammu. Ingatlah, kakakmu hanyalah satu-satunya anggota keluarga terdekatmu yang tersisa." Paman menepuk bahu Rey untuk memberinya dukungan.


"Rey, ini stroberi untukmu. Makanlah. Rasanya manis dan segar." Tiba-tiba Erika sudah ada di depan mereka dan memberikan sebuah stroberi berwarna merah dan besar pada Rey.


Rey mengambilnya dan memakannya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Erika. Rey hanya mengangguk. Membuat Erika kesal dengan sikapnya yang cuek dan dingin.


"Jangan sedih Erika. Keponakanku memang begitu. Dia bukan orang yang dingin dan tak peduli, dia hanya tidak mudah untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan." tutur paman menghibur Erika.


"Heeh, iya paman. Apakah paman mau buah stroberinya?"


"Tidak, terima kasih. Paman sudah bosan dengan hanya melihatnya saja." tolak paman dengan sopan. Erika mengangguk dan mereka berdua tertawa.


"Duduklah." kata paman pada Erika. Erika duduk di kursi yang ada di depan mereka.


"Bagaimana apa kamu suka tinggal di sini?" tanya paman.


"Iya paman, disini aku merasa segar dan menenangkan. Bebas dari polusi dan kepenatan ibukota yang ramai."


"Kalau begitu, tinggallah lebih lama di sini."


Erika melirik ke arah Rey, lalu berkata "Ehm, sepertinya itu tergantung padanya.." jawab Erika pelan sambil menunjuk ke arah Rey.


"Tidak paman, aku ingin mengunjungi villa ibuku dan tinggal di sana. Tapi kalau kamu mau, kamu boleh tetap tinggal disini bersama Ryo dan Sato. Itu akan lebih baik bagiku agar aku bisa.."


"Rey..!" rajuk Erika seperti anak kecil yang sedang ngambek.


"Rey, jangan kasar begitu."


"Tapi aku lebih suka jika bisa sendirian.." Saat sedang berbicara, Erika memelototinya sehingga Rey menyadari kalau ia telah salah berbicara. Ia pun semakin mengecilkan suaranya dan hampir tak terdengar. Tetapi Erika masih dapat mendengarnya dan mendelik kesal kepadanya.


"Kapan kamu berencana untuk ke villa ibumu?" tanya paman.


"Besok pagi." jawabnya.


"Secepat itu? Baiklah, paman mengerti kamu pasti sudah sangat merindukannya."


Memang benar, Rey sudah sangat rindu akan ibunya. Bisa berada di tempat yang memiliki kenangan dengan ibunya adalah cara untuk mengatasi rasa rindunya itu.


***